เข้าสู่ระบบSuara tangisan bayi yang baru saja terlahir seharusnya bisa membuat Alex merasa senang. Naasnya, bertepatan bayi itu lahir, Isabella tak sadarkan diri. Alex dilanda panik. Ia memekik, berusaha membangunkan istrinya. “Isabella bangun! Bangun, Sayang!” teriaknya dengan air mata yang sudah berderai membasahi pipinya yang sedikit berjambang. Ia menoleh tajam ke arah tabib dengan tatapan yang memicing tajam. “Lakukan sesuatu, Tabib!”Suara baritonnya yang menggelegar membuat semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut terkesiap. Perawat langsung membawa bayi itu dari sana untuk membersihkan bayi yang masih berlumur darah itu. Sarah mengekori wanita itu, mengawasinya dengan siap siaga. Begitupula dengan Mei Lin terus berada di sana mendampingi Isabella dengan perasaan sesak. Dengan tangan yang gemetar sang tabib segera memeriksa denyut nadi Isabella yang lemah. Seketika ia menghela napas panjang. Isabella masih bernapas meskipun lemah. “Yang Mulia, Nyonya kehilangan banyak darah.
“Yang Mulia, ada apa?” bisik dayang sang ratu tatkala melihat Cecilia diam termangu, menatap lama Sophia.Cecilia meneguk salivanya sebelum menjawab. “Aku harus memastikan sesuatu,” balasnya. Tatapannya kembali tertuju pada Sophia yang masih tampak lesu. Di samping ranjang, ibunya, Maria menyuapinya bubur. “Maaf, Yang Mulia. Ini sudah waktunya Sophia makan dan minum obat.” Ujar Maria meminta ijin. Sebuah kehormatan kedatangan sang ratu yang sudi menjenguk putrinya. Bahkan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. “Silakan, lanjutkan saja!” ucap Cecilia sembari meneguk minumannya kembali.Namun, tatapannya masih tertuju pada Sophia, mengamati gerak geriknya secara cermat. Barulah setelah gadis itu minum obat, Cecilia memberanikan diri berbicara. “Sophia. Bolehkah saya melihat bahumu? Saya hanya ingin memastikan luka. Jika tak kunjung sembuh. Istana akan mengirimkan tabib terbaik lagi untuk mengobatimu.”Sophia menatap Cecilia dengan sungkan. “Oh, boleh.”Gadis itu kemudian menyingkap a
“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris, tangannya mencengkeram kepalanya sendiri. Mendengar kabar tentang keluarganya, hatinya hancur berkeping-keping. Semua telah raib. Ia tidak memiliki apapun saat ini. Keluarga, suami dan harta serta harga dirinya sudah hilang. Bahkan, ia telah resmi menjadi buronan istana Ashmond! Bukan lagi putri mahkota. Pun, bukan lagi anak seorang Kepala Klan besar bernama Moreau. Helena mencengkram gaunnya dengan sorot mata yang gelap. Ia berdiri gemetar di tengah ruangan yang luluh lantak. Vas bunga, cermin hias, hingga perabotan kayu habis hancur berantakan di lantai. Perkamen maklumat kerajaan berstempel emas yang membawa kabar kematian ayahnya dan kehancuran klan Moreau lecek tercengkeram di tangannya.Napasnya memburu hebat, dadanya naik turun tak beraturan. Air mata kemurkaan dan rasa frustrasi yang membakar terus melintasi pipinya yang tirus dan pucat.“Bohong... ini semua bohong!” jerit Helena histeris seraya menyapu kasar barang-baran
“Bella,” panggil Alex bernada lembut. “Ah, apa Alex?” jawab Isabella bangun dari lamunannya. Alex menautkan jari jemarinya ke tangan istrinya. Senyum hangat masih terulas dari wajahnya. “Kau suka kan aku renovasi istana ini? Meski hanya beberapa bagian saja,”Isabella menghela napas panjang. Tatapannya mengitari semua sudut bangunan tersebut. “Aku suka. Nuansanya jadi beda dan lebih segar”Alex tersenyum penuh kelegaan. Akhirnya, ia bisa memboyong Isabella ke istana itu tanpa banyak drama. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak. Toh, istri pertamanya yang sudah bikin dosa padanya justru memilih melarikan diri dari istana. Sudah tidak ada lagi tempat untuknya baik istana apalagi … hatinya. Alex ingin memulai kehidupan barunya dengan istri satu-satunya. Tidak ada lagi istri kedua atau istri lainnya. Tiba-tiba langkah Isabella menghentikan langkah kakinya sesaat. “Kenapa kau lakukan ini? Aku rasa.. Istana sudah sangat indah sebelumnya.”Isabella tidak mempermasalahkan soal temp
“Eksekusi!” titah Alex dingin, tak memberi panggung lebih lama bagi musuhnya.Algojo menekan bahu Valentin hingga leher pria itu terbaring kaku di atas balok kayu. Sang algojo kemudian mengangkat kapak perak raksasa nan tajam tinggi-tinggi ke udara.Semua orang menahan napas. Semua kepala tertuju pada satu titik. Valentin Moreau.Isabella terdiam sesaat menatap pria tua itu. Matanya melebar seketika saat melihat tanda di pergelangan tangannya. Sebuah luka melintang. Teringat percakapannya dengan Ethan, anak arsitek pelabuhan Utama Royal Ashmond. Bahwa pria dengan luka di tangannya itu adalah orang yang sama berada di ruang kerja sang ayah. Pria itu memiliki salinan Blueprint Pelabuhan Royal Ashmond.“Tunggu, Alex,” suara Isabella terdengar dingin, membuat suaminya menoleh ke arahnya. “Ada apa Isabella?” tanya Alex singkat. Ia tidak bisa menunggu waktu lagi untuk mengeksekusi pria itu. “Tunggu!” teriak Isabella hingga semua mata menoleh ke arahnya. Isabella berjalan turun dari tribu
Satu minggu telah berlalu sejak gema ledakan di penjara bawah tanah Istana Ashmond memicu perburuan besar-besaran di seluruh penjuru negeri.Sejak maklumat sayembara berstempel emas disebarkan, atmosfer di perbatasan utara kian tegang. Namun, di saat pasukan Silver Eagle milik Pangeran Alex terfokus menyisiri aliran sungai bagian timur tempat Valentin menjatuhkan diri, Johan Dubois justru menggunakan taktik yang jauh lebih licik dan agresif.Hanya dalam kurun waktu tujuh hari, Johan mengerahkan seluruh prajurit privat klan Dubois dan memanfaatkan jaringan penyelundup bahan bangunan yang pernah bekerja sama dengan klan Moreau. Ia sangat yakin pria tua yang terluka seperti Valentin tidak akan sanggup berlari jauh, melainkan bersembunyi di tempat yang paling dekat dan tak terduga, bekas tambang batu kapur milik klan Dubois yang telah ditutup di perbatasan terluar.Malam itu, hujan deras mengguyur celah-celah tebing terjal perbatasan.Dengan jubah basah kuyup dan pedang terhunus, Johan me
Prang!Tanpa berpikir panjang, Alex membanting piala anggur ke lantai hingga pecah menjadi berkeping-keping. Ia juga menyapu berkas-berkas yang menumpuk di atas meja dengan sikunya hingga berhamburan ke segala arah. Wajahnya sudah terbakar oleh amarah yang tak bisa ia kendalikan. Para pengawal yan
Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat dan para petinggi kerajaan masih sibuk berdebat di balairung utama tentang ancaman dari pihak musuh, Isabella mendatangi lintasan pacuan kuda. Seorang prajurit yang tengah berpatroli terkesiap tatkala melihat sosok Isabella. “Yang Mulia, salam hormat.” Sap
“Pangeran Alex!”Teriakan histeris memenuhi arena lomba pacuan kuda Ashmond. Betapa tidak, sebuah anak panah melesat menuju titik buta Alex yang tengah melajukan kudanya begitu kencang di tikungan terakhir menuju garis final. Isabella sontak berdiri melihat pemandangan mengerikan itu. Ke dua lutut
Isabella tidak pernah menyangka jika ada dua pria yang sengaja meminta doa dan jimat keberuntungan darinya sebelum berlangsungnya acara pacuan kuda. Ke dua pria itu juga bukan sembarang pria. Mereka memiliki hubungan langsung dengan Alex Harrington. Satu pria adalah Noah Von Frederic, pengawal prib






