แชร์

BAB 38 Neraka yang Terasa Aman

ผู้เขียน: Mutia Azwar
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-23 23:47:37
Di dalam mobil, kaca film hitam membatasi pandangan dari luar, tetapi bisikan-bisikan dari pertanyaan tajam para wartawan tadi masih melekat jelas di telinga Naura. Ia menunduk di kursi penumpang sambil memeluk dirinya sendiri, merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis.

Vanessa mengemudi dengan tenang sambil sesekali melirik Naura yang hanya terdiam, menyandarkan kepala pada jendela dingin di sampingnya.

“Ra?” panggil Vanessa pelan.

Naura tidak menjawab. Kepalanya terasa berat. Nyeri di peli
Mutia Azwar

Maaf ya guys, kalau udh semingguan ini gak update. laptopku baru banget selesai di service. semoga aku bisa terus update tiap hari yupp. jangan lupa follow dan vote cerita ini ya, agar aku terus semangat menulis cerita ini :). terimakasih.

| 4
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
brynolaa
lanjut kaa, kerenn bgt ceritanyaa. gak sabar nungguin jwban naura ke arka huhu...
goodnovel comment avatar
brynolaa
ya ampunn akhirnyaa update juga kak, gw sampe bolak balik babnya utk baca cerita ini dari kemaren” saking gabutnya anjir...🫵
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 132 Rindu Yang Memabukkan

    "Anda dilarang masuk. Ini perintah langsung dari Tuan Wijaya."Kata-kata pengawal di rumah sakit itu terus berputar di kepala Arka, bercampur dengan dentuman musik dari arah dance floor. Sudah dua hari sejak Naura dipindahkan ke Jakarta, dan selama itu pula Arka sama sekali tidak diizinkan melihat keadaan wanita tersebut. Keluarga Wijaya benar-benar menutup akses untuknya.Malam itu, Arka duduk di sofa kulit di lantai dua sebuah klub malam. Ia sengaja memilih tempat yang bising. Mungkin suara musik yang menghentak dapat mengalihkan rasa pusing sekaligus emosi yang memenuhi kepalanya. Kemeja biru yang dikenakannya sudah terbuka dua kancing teratas. Wajahnya tampak kusam akibat kelelahan dan frustrasi. Gelas kristal berisi alkohol berada di tangannya. Dalam sekali teguk, minuman itu tandas."Pelan-pelan, bro. Itu alkohol, bukan air putih," tegur Bagas sembari menuangkan minuman kembali ke gelas Arka. Ia sempat memperhatikan keramaian di bawah sebelum mengarahkan perhatian kepada sahabat

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 131 Kelemahan Sang Monster

    "Kenapa diam?" tanya Rafael menyeringai. Pria itu semakin mendekat.Rahang Arka mengeras. "Jangan memancing kesabaranku, Rafael!”"Aku tidak sedang memancingmu. Aku sedang menantangmu," potong Rafael cepat. Ia menatap Arka tanpa berkedip. "Lakukan saja. Telepon dewan komisaris sekarang. Bekukan rekening kami. Hancurkan bisnis keluarga Wijaya sampai tak tersisa satu sen pun. Biarkan kami jadi gelandangan di kota ini!"Vanessa yang berdiri di belakang Rafael meremas ujung dressnya. Tangannya gemetar. "Rafa, tolong... stop. Jangan bikin suasana makin panas," bisiknya lirih, hampir memohon.Namun Rafael tidak mempedulikan saran itu. Perhatiannya terkunci penuh pada Arka, pria yang selama ini selalu mengandalkan kekuasaan dan uang untuk menyudutkan keluarganya."Tapi sebelum kamu menekan tombol panggil di ponselmu itu, coba pakai otak jeniusmu untuk berpikir satu hal," lanjut Rafael. Senyum dinginnya makin lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. "Begitu kamu menghancurkan keluarga

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 130 Perlawanan Keluarga Wijaya

    Keesokan paginya, suasana di lantai VVIP Seonghwa Medical Center terasa jauh lebih tegang daripada hari-hari sebelumnya. Surya berdiri tegap di hadapan Arka. Mantel abu-abunya terkancing rapi, tetapi raut wajah pria paruh baya itu sangat dingin. Matanya yang biasa hangat kini terlihat datar dan tajam tanpa kompromi."Saya sudah mengatur semuanya, Arka," suara Surya memecah keheningan koridor. Nadanya penuh penekanan. "Ambulans dan tim medis pendamping sudah siap di bandara. Hari ini juga, Naura akan kami pindahkan ke Indonesia. Kami yang akan merawatnya langsung di sana."Arka yang menyandarkan punggungnya pada dinding langsung melepaskan lipatan tangannya. Alisnya bertaut tajam."Tidak bisa, Ayah," potong Arka tegas. "Kondisi Naura belum stabil sepenuhnya untuk perjalanan udara sejauh itu. Itu sangat beresiko. Menahannya di Seonghwa adalah keputusan paling aman. Fasilitas di sini jauh lebih lengkap."Surya maju selangkah. Bayangan tubuhnya jatuh di hadapan Arka, membawa aura intimida

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 129 Aku Tidak Akan Melepaskannya

    Angin malam di rooftop Seonghwa Medical Center berhembus kencang. Udara dingin Seoul menusuk hingga ke tulang, tetapi tak satu pun dari kedua pria yang berdiri di sana menghiraukannya. Rafael berdiri membelakangi Arka. Mantel hitam panjangnya berkibar diterpa angin. Kedua tangannya terselip di dalam saku, sementara hembusan napasnya berubah menjadi kabut putih di udara. Dadanya terasa begitu sesak. Beberapa langkah di belakangnya, Arka menyandarkan punggung pada pagar besi yang dingin. Pandangannya lurus mengarah ke bentangan Kota Seoul yang dipenuhi gemerlap lampu jalan."Jelaskan padaku," suara Rafael terdengar sangat dingin, memecah keheningan. "Tanpa ada satu pun kebohongan yang sudah kamu karang sebelumnya. Aku mau dengar versi aslinya sekarang."Arka tidak langsung menjawab. Ia mengambil bungkus rokok dari saku kemejanya, menyalakan sebatang dengan pemantik, kemudian menghembuskan asapnya perlahan ke udara malam."Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Rafael," sahut Arka datar.

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 128 Kekecewaan Keluarga Wijaya

    Sudah seminggu Naura terbaring di ruang ICU VVIP Seonghwa Medical Center tanpa menunjukkan tanda-tanda akan bangun. Udara Seoul yang dingin menusuk terasa makin menyiksa di koridor rumah sakit yang sunyi itu. Aroma antiseptik yang menyengat seolah menyatu dengan keheningan yang mencekam, menusuk hingga ke tulang.Arka berdiri di balik kaca tebal. Kemeja mewahnya tampak kusut, kancing atasnya terbuka, dan lingkaran hitam kini menghiasi matanya yang tampak sangat lelah dan memerah. Pria itu menolak beranjak sedikit pun sejak malam mengerikan di tebing Incheon. Ponsel di saku celananya bergetar lagi. Nama Mama Jeslyn terpampang di layar.Selama enam hari ini, Arka terus mengabaikan panggilan itu. Ia mencoba mengulur waktu, berharap Naura akan membuka matanya dan ia bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi melihat kondisi wanita itu yang tak kunjung membaik di hari ketujuh, Arka sadar ia tidak bisa terus menghindar. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Arka menggeser layar dan mengangkat

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 127 Rahasia Crystal

    Keesokan paginya, Seoul masih diselimuti langit kelabu. Hujan yang mengguyur kota sepanjang malam telah berhenti, meninggalkan jalanan yang basah dan udara dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, di lantai VVIP Seonghwa Medical Center, waktu seakan kehilangan maknanya.Sudah lebih dari dua puluh empat jam sejak Naura dibawa ke ruang operasi. Arka masih berada di sana. Ia duduk di kursi yang sama di depan ruang ICU. Ia bahkan belum benar-benar memejamkan mata dari kemarin. Tatapannya terus tertuju pada sosok perempuan di balik kaca. Naura masih belum sadar. Selang infus terpasang pada tangannya. Beberapa kabel monitor menempel di tubuhnya, sementara mesin ventilator membantu menjaga pernapasannya. Wajahnya terlihat begitu pucat hingga membuat dada Arka terasa sesak setiap kali melihatnya.Pintu ICU terbuka. Seorang dokter senior keluar sambil membawa catatan di tangannya. Arka langsung berdiri.“Dokter, bagaimana keadaan tunangan saya?”“Untuk saat ini, tanda-tanda vital Nona Naur

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 5 Air Mata Sang Angel of the Catwalk

    Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 4 Kontrak Dengan Iblis

    Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 3 Cinta Palsu di Depan Dunia

    Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 2 Ancaman Pertama Sang Monster

    “Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status