LOGIN"Saya akan cari Elsa! dan menyerahkannya pada kalian," Ibu memekik, suaranya parau oleh tangis yang tertahan. Membuat kedua penagih hutang itu berhenti mengacak-acak isi rumah. "Saya- saya akan memaksanya untuk menikah dengan Bram,"Ujar Ibu dengan suara yang terpotong karena takut dan kalut, dia berusaha mengiba agar para rentenir itu memberi kelonggaran,"... Saya mohon! saya akan lakukan apapun untuk dapatkan Elsa dan membawanya pada Bram. Saya- saya janji!" Sambungnya lagi dengan terbata. "Sayangnya Bos tidak memberi kami opsi lain. Segera kosongkan rumah ini, dan jangan harap kalian bisa hidup dengan tenang!" Ancam salah satunya, dia kembali melempar figura foto keluarga di atas dinding. Prang! Pecahan kaca berserakan, membuat Ibu tidak kuasa menahan tangisnya yang akhirnya pecah. kedua orang itu melenggang pergi, meninggalkan ibu yang menangis sembari mengepalkan tangan di atas lantai yang penuh serpihan barang hancur.
"... Mengenai Ibu kamu, Mas! Apa dia mau menerima aku lagi?" Landy bungkam, dia kembali terdiam sejenak. "Elsa! saya pikir, kita sudah sama-sama dewasa dan cukup paham dengan hidup kita sendiri. Ibu kamu, maupun Ibu saya, mereka enggak bisa lagi mengatur hidup kita seolah kita anak belasan tahun,"Sahut Landy pelan. Elsa sangat tahu apa artinya kalimat itu, Landy tidak bisa menjamin bahwa langkah mereka selanjutnya akan mudah. Dulu, orang tua Landy melarangnya menikah dengan Elsa karena statusnya sebagai pekerja malam. Hingga mereka harus menikah tanpa restu orang tua, sampai akhirnya mereka berpisah. Pandangan orang tua Landy atas dirinya tidak pernah berubah "Enggak perlu di pikirkan! sekarang lebih baik kamu istirahat ya. Saya akan antar kamu ke Hotel. Besok, kita akan datangi Bram dan kembalikan uang dia," Elsa mengangguk pelan, dia tidak ingin memberatkan kepalanya dengan segala pikiran buruk mengen
"Lalu, bagaimana dengan ibu ku, Mas?" Elsa berujar cemas, dia tidak ingin sang ibu terseret dalam kasusnya. Namun, sikapnya yang sejak awal keras kepala dan memaksa Elsa untuk menikah pasti akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri. Sebenarnya, Elsa menyadari, ibu adalah sumber masalah di hidupnya.Landy terdiam. Sejenak, dia menatap jalanan di depan dalam keheningan,"Jujur saja! sebenernya saya sudah muak dengan Ibu mu, Elsa! dia harus dapat balasan yang setimpal dan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi saat ini.""Mas, aku tahu Mamah sudah bersikap sangat buruk! tapi aku enggak tega melihat mamah hancur, apalagi harus berhadapan dengan polisi," Elsa mengiba, berusaha merayu Landy agar tidak membuat ibunya terseret terlalu dalam. "Elsa!" Landy berujar tegas,"Kamu pergi dari rumah, membawa koper! artinya kamu siap untuk meninggalkan semua masalah di belakang. Kita akan membuang semua masalah itu satu persatu, termasuk Mamah mu, dia sumb
Wanita itu menggigit bibirnya frustasi,”Mas, Bram meminta uangnya kembali malam ini,”Landy menatap Elsa dengan dahi berkerut,"Malam ini?" Tanya pria itu, berusaha menegaskan bahwa apa yang dia dengar itu benar. Elsa mengangguk,"Iya Mas, maafkan aku enggak kasih tahu kamu sejak awal. Bram datang ke rumah siang tadi, dia melamar ku dan Mamah mengiyakan permintaannya. Aku enggak bisa lakuin apa-apa kecuali menolak, aku benar-benar minta maaf, Mas!" Tutur Elsa penuh penyesalan. Landy menggeleng,"Enggak apa-apa, kamu sudah melakukan tindakan yang benar, kamu sudah berusaha semampu kamu, sayang! enggak perlu menyesal,"Ucap pria itu. Berusaha menenangkan perasaan Elsa yang berkecamuk. "Bram mengancam ku, Mas! jika uang itu enggak kembali malam ini. Dia akan membuat hidup ku enggak tenang," Sahut Elsa lagi, raut frustasi tergambar jelas di wajahnya. Landy mengangkat tangannya, menggenggam jemari Elsa di atas pangkuan wanita itu. Mengusapnya
"Kamu gak apa-apa?" Tanya pria itu khawatir sembari memegang bahu Elsa, membuat Adrian mengerutkan dahinya penuh tanya. Elsa tersenyum lega, dia tidak tahu di sebut apa kebetulan seperti ini. Mungkin Landy adalah penolong yang Tuhan kirimkan padanya dalam situasi ini, pria itu selalu datang tepat waktu dan dengan cara yang tidak dia duga. “Ini teman saya, Dok!” Elsa tersenyum lega, menatap Landy dengan binar cerah setelah perasaannya yang kacau sejak tadi, kedatangan Landy membuatnya bisa bernapas dengan tenang. Adrian menatap Landy penuh tanya, ada gurat tidak suka yang tergambar di wajahnya menatap pria itu yang kini tersenyum lebar padanya. “Perkenalkan, saya Landy!” Ujarnya sembari mengulurkan tangan. Setelah dia memastikan bahwa keadaan Elsa cukup aman. Adrian menerima uluran tangan itu dengan wajah datar. Pikiran buruknya berkata bahwa pria ini mungkin saja penyebab luka berulang di sekujur tubuh pasiennya. “Saya Adr
"Baik! Elsa akan pergi dari rumah ini,"Bruk!Ibu mendorong tubuh Elsa kuat-kuat, kemudian dia menyilangkan tangan di depan dada dengan wajah dingin,"Pergilah! Tunjukan kalau kamu bisa hidup di luar sana. Enggak akan ada yang bisa nerima kamu seperti kamu di terima di rumah ini, Elsa!" Tantang ibu dengan gigi bergemelatuk menahan kesal. Elsa bangkit dari lantai, wanita itu menggelengkan kepalanya sembari membulatkan tekad yang sejak lama tertanam di kepalanya, namun selalu saja dia kubur dalam-dalam karena rasa tanggungjawabnya pada keluarga ini. "Mamah benar-benar enggak peduli sama, Elsa! di rumah ini, enggak ada yang peduli sama keadaan ku. Yang kalian tahu hanya uang, tanpa uang yang ku hasilkan, aku bukan siapa-siapa di rumah ini," Lirihnya parau penuh kepedihan, suaranya seolah tercekat di tenggorokan, terpotong karena kenyataan yang akhirnya menamparnya lebih keras di banding setiap tamparan ibu. Ibu tidak bergeming, kekecewaann







