Masuk"Mas... HP kamu bunyi."
Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal. Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting." "Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya. Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana. "Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!" Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya. "Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik dan napasnya yang memburu. "Tadi pagi pas di resto, pelayan nggak sengaja menumpahkan kopi ke jas dan kemeja luar aku. Septiana nawarin tumpangan ke kantor karena mobilku masih di bengkel. Aku buka kemeja luarku dan ditaruh di jok belakang mobil dia! Aku pakai kaos dalam sama kemeja cadangan dari kantor!" "Dan kamu nggak cerita soal itu ke aku?" Tisa tertawa sinis, dengan tawaan yang bercampur menyedihkan. "Kamu naik mobil dia, buka kemeja kamu di mobil dia, dan sekarang dia mau datang ke rumah ini buat nganterin kemeja itu? Kamu anggap aku apa di rumah ini, Mas?!" "Aku nggak minta dia datang ke sini, Tisa! Dia yang lancang kirim pesan kayak gitu! Aku sama sekali nggak ada niat—" Ting tong. Bel pintu depan berbunyi, disusul ketukan pelan yang teratur. Suasana kamar seketika membeku. Tisa menatap Damian dengan tatapan yang penuh kepedihan dan harga diri yang koyak. "Tamu kamu sudah datang," bisik Tisa dingin. "Tisa, kamu diam di sini. Biar aku yang temui dia dan usir dia," kata Damian tegas. Pria itu menyambar kemeja barunya, memakainya dengan buru-buru, lalu melangkah keluar kamar. Tetapi Tisa tidak tinggal diam. Ia merapikan pakaian tidurnya, menggantinya dengan baju santai yang rapi, lalu menyusul turun ke lantai bawah. Ia tidak akan membiarkan wanita mana pun menginjak-injak harga dirinya di rumahnya sendiri. Ketika Tisa sampai di tangga bagian bawah, Damian sudah membukakan pintu depan. Di ambang pintu, berdiri seorang wanita berambut hitam sebahu dengan mengenakan gaun yang anggun. Tangannya memegang sebuah kantong kertas belanjaan. "Hai, Damian," sapa Septiana dengan senyum manis tanpa rasa bersalah. "Sorry ya kalau aku mengganggu pagi-pagi. Ini kemeja kamu yang ketinggalan di jok belakang mobil aku tadi." "Septiana, ngapain kamu ke sini?!" suara Damian terdengar menahan amarah yang luar biasa. "Aku kan udah bilang kemeja itu simpan saja atau buang! Kamu nggak perlu datang ke rumahku!" Septiana memasang raut wajah polos yang dibuat-buat. "Lho, kok kamu malah marah? Tante Yuliani yang nyuruh aku ke sini kok. Tante bilang kamu butuh kemeja ini buat rapat nanti siang, sekalian Tante Yuliani minta aku nemenin kamu." "Nggak usah bawa-bawa Ibu!" bentak Damian. "Ada masalah apalagi ini?" Suara Tisa memotong perdebatan mereka. Ia melangkah maju, berdiri persis di samping Damian. Matanya menatap Septiana dari atas sampai bawah dengan dingin. Septiana sedikit terkejut melihat kehadiran Tisa, namun dengan cepat ia menguasai diri dan memasang senyum tipis yang merendahkan. "Oh, hai, Tisa. Kamu istrinya Damian, kan?" Septiana mengulurkan kantong kertas itu ke arah Tisa. "Ini kemeja Damian ketinggalan di mobilku tadi pagi pas kami sarapan bareng. Jangan salah paham ya, kami cuma bahas bisnis kok." Tisa tidak menerima kantong kertas itu. Tangannya tetap bersedekap di dada. "Mbak Septiana," panggil Tisa dengan suara yang sangat tenang namun menekan. "Mbak ini lulusan luar negeri, kan? Harusnya tahu etika. Menemui suami orang pagi-pagi ke rumahnya cuma buat mengantarkan kemeja itu bukan tindakan yang sopan. Apalagi Mbak sengaja kirim pesan memprovokasi ke HP suami saya." Senyum di wajah Septiana sedikit memudar. Matanya menajam. "Saya cuma niat baik mengembalikan barang milik Damian. Lagipula, Tante Yuliani yang minta saya datang ke sini." "Rumah ini milik saya dan Damian. Ibu Yuliani nggak punya hak mengatur siapa yang boleh datang ke rumah ini," balas Tisa tanpa ragu. "Kalau Mbak memang wanita terpelajar dari keluarga terpandang, harusnya Mbak punya harga diri buat nggak melayani permainan ibu mertua saya." "Tisa!" panggil Septiana, suaranya kini menyinarkan kekesalan. "Kamu nggak usah sok ngatur ya. Kamu tahu nggak kalau perusahaan Damian itu lagi butuh dana tambahan? Papa saya yang punya potensi besar buat menyelamatkan posisi Damian di kantor! Kamu cuma bikin beban Damian makin berat dengan sikap kekanak-kanakan kamu ini!" Damian terperanjat. "Septiana! Cukup!" Tisa menoleh perlahan ke arah Damian. "Krisis kantor kamu... ada hubungannya sama keluarga dia?" Damian menelan ludah dengan susah payah. "Tisa... aku cuma sempat bicarakan soal proyek itu sama papanya Septiana seminggu yang lalu..." Tisa tersenyum getir. Semua teka-teki kini terjawab sudah. Kenapa Ibu Yuliani terus menekannya, kenapa Damian selalu menahan diri, dan kenapa Septiana tiba-tiba muncul di antara mereka. Damian ternyata menyembunyikan masalah keuangan perusahaannya dan diam-diam membuka pintu untuk keluarga Septiana masuk ke dalam kehidupan mereka. "Jadi ini alasannya kamu selalu minta aku mengerti?" suara Tisa bergetar hebat. "Kamu menahan aku di rumah ini, kamu pakai gairah kamu di kamar cuma buat menutup-nutupi kalau kamu lagi bergantung sama keluarga wanita ini?" "Nggak gitu, Tisa! Aku belum terima bantuan apapun dari papanya!" tegar Damian mencoba memegang tangan Tisa, tapi Tisa mundur jauh. Septiana tersenyum puas melihat keretakan di antara mereka. Dari dalam tasnya, Septiana mengeluarkan sebuah map dokumen berwarna biru dan menyerahkannya pada Damian. "Ini dokumen kerja sama yang diminta Tante Yuliani tadi pagi, Damian. Papa udah tanda tangan," kata Septiana dengan nada kemenangan. "Suntikan dana dua milyar buat divisi kamu. Tapi Papa kasih satu syarat di lembar terakhir... kamu harus selesaikan dulu masalah domestik kamu sama wanita yang nggak selevel ini." Damian membeku menatap dokumen di tangan Septiana. Tisa menatap dokumen itu, lalu beralih menatap wajah suaminya yang terdiam tanpa kata. Tidak ada penolakan tegas dari mulut Damian saat Septiana terang-terangan menyebutnya "tidak selevel". Hati Tisa hancur sepenuhnya. Semua rasa sabar dan cintanya selama ini menguap tanpa sisa. Tisa melangkah mundur. "Mas... kamu ambil dokumen itu?" "Tisa, aku..." Damian terbata-bata, tangannya menggantung di udara. "Ambil saja, Mas," potong Tisa dengan suara yang sangat dingin dan mantap. "Ambil dokumen itu, dan ambil wanita pilihan ibu kamu." Tanpa menunggu balasan dari Damian maupun Septiana, Tisa berbalik dan berjalan cepat menuju kamar atas. "Tisa! Tisa, tunggu!" teriak Damian seraya melempar kantong kertas dan dokumen di tangan Septiana ke lantai teras. Pria itu berlari kencang menyusul istrinya ke lantai atas. Septiana terkejut melihat reaksi Damian yang melempar dokumen bernilai miliaran rupiah itu begitu saja. "Damian! Kamu gila ya?!" Di dalam kamar, Tisa menarik koper besarnya dari samping lemari. Dengan tangan gemetar namun gerakan yang cepat, ia mulai memasukkan baju-baju, dokumen pribadi, dan perhiasan hasil keringatnya sendiri ke dalam koper. Damian menerobos masuk ke dalam kamar, napasnya memburu. Pria itu langsung menyambar tangan Tisa yang sedang melipat baju. "Kamu mau ngapain, Tisa?! Kamu nggak boleh pergi!" seru Damian panik. Matanya memerah, cengkeramannya di pergelangan tangan Tisa sangat kuat. "Lepasin aku, Damian!" bentak Tisa, menatap Damian tepat di matanya dengan kilatan amarah. "Aku bukan barang simpanan kamu yang bisa kamu sentuh di kamar setelah kamu membiarkan harga diri aku diinjak-injak di luar!" "Aku nggak bakal ambil uang papanya Septiana! Aku bakal tolak! Tolong jangan pergi! Aku bisa gila kalau kamu keluar dari rumah ini!" Damian memeluk tubuh Tisa secara paksa, mengecup bahu dan leher Tisa dan mencoba menggunakan sentuhan fisiknya seperti biasa untuk menahan Tisa. Tapi kali ini, Tisa sama sekali tidak terpengaruh. "Sentuh aku sekali lagi, Damian..." suara Tisa begitu berbisik namun sedikit tajam"...dan aku pastikan besok pagi surat gugatan cerai kita sampai di meja kantor kamu." Damian membeku. Tangannya perlahan terlepas dari tubuh Tisa saat melihat kesungguhan yang teramat dingin di mata istrinya. Tisa menutup kopernya, menarik resletingnya dengan keras, lalu menegakkan badannya. "Pernikahan ini selesai sampai di sini, Mas." Tisa menyeret kopernya melangkah keluar dari kamar. Namun saat ia baru tiba di anak tangga pertama menuju lantai bawah, ponselnya yang ada di saku celananya bergetar. Sebuah panggilan telepon dari karyawan tokonya di pusat grosir. Tisa mengangkatnya dengan napas terengah-engah. "Halo, Mbak Tisa!" suara manajernya terdengar sangat panik dan menangis dari seberang telepon. "Mbak! Toko dan gudang utama kita di pasar grosir diserbu puluhan orang! Mereka ngaku-ngaku utusan Ibu Yuliani dan akan menyita seluruh stok baju tidur kita! Mereka bilang Mbak Tisa punya utang seratus juta ke Ibu Yuliani!”Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu
"Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me
"Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d
"Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***
"Mas... HP kamu bunyi."Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal.Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting.""Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya.Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana."Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!"Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya."Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik da
"Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera."Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang."Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi se







