Share

5

Penulis: Pena Gabut77
last update Tanggal publikasi: 2026-09-14 15:05:09

"Tisa... ini apa?"

Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.

Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?"

"Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"

Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?"

"Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu di berkas audit kantor?!"

"Mana saya tahu!" potong Tisa keras. "Saya tidak pernah menandatangani dokumen apa pun terkait kantor kamu. Rekening bisnis saya terbuka, silakan periksa bersama polisi!"

Septiana yang berdiri tidak jauh dari mereka tiba-tiba menyela dengan nada prihatin yang dibuat-buat. "Tisa, kalau kamu memang kepepet butuh modal buat toko ini, harusnya kamu ngomong baik-baik sama Damian. Jangan jebak Damian sampai dia terancam masuk penjara begini."

Tisa menatap Septiana. Tatapan mata Tisa begitu tajam hingga Septiana refleks mundur setengah langkah. "Mbak Septiana," suara Tisa terdengar pelan tapi menusuk. "Tadi pagi kamu datang membawa dokumen kerja sama dari papa kamu. Sekarang tiba-tiba ada laporan penggelapan uang yang menyudutkan Damian dan bawa-bawa nama toko saya. Kamu pikir saya bodoh nggak bisa melihat benang merahnya?"

Wajah Septiana sedikit berubah, namun ia berusaha tetap tenang. "Maksud kamu apa? Papa saya niatnya bantu Damian! Tapi kalau ternyata toko kamu yang menampung uang gelap itu, ya Papa saya jelas nggak sudi investasi!"

"Damian! Tolong Ibu, Damian!" teriakan Ibu Yuliani memecah ketegangan.

Dua petugas polisi sedang memegang tangan Ibu Yuliani dan menuntunnya masuk ke dalam mobil patroli bersama pria berjaket kulit. Ibu Yuliani meronta-ronta, rambut sanggulnya mulai acak-acakan, air mata menetes merusak riasan tebal di wajahnya.

"Damian! Jangan biarkan polisi bawa Ibu! Kamu anak durhaka kalau biarkan Ibu dipenjara gara-gara perempuan ini!" jerit Ibu Yuliani dari pintu mobil polisi.

Damian melangkah panik mendekati mobil patroli. "Pak Polisi, tolong tunggu dulu! Ini ibu saya! Bisa kita bicarakan kekeluargaan?"

"Silakan bicara di kantor polisi, Pak," jawab petugas polisi itu tegas. "Laporan sudah dibuat dan ada bukti perusakan properti secara sengaja. Pak Damian juga silahkan datang untuk memberi keterangan."

Pintu mobil patroli ditutup rapat, lalu kendaraan itu bergerak meninggalkan area ruko disusul truk engkel yang menyita barang-barang Tisa sebagai barang bukti.

Damian hanya diam dan berdiri di pinggir jalan, memegang kepalanya dengan kedua tangan. Dunianya seperti runtuh bersamaan. Ibunya ditangkap polisi, jabatannya dicopot, dan nama istrinya terseret kasus hukum.

"Damian..." Septiana menyentuh lengan Damian dengan lembut. "Kamu tenang dulu. Papaku punya pengacara hebat. Papaku juga bisa ganti uang lima ratus juta itu ke kantor kamu sekarang juga supaya laporan kamu ditarik."

Damian mendongak, menatap Septiana dengan mata yang memerah. "Bisa? Papamu bisa bantu aku?"

"Itu mudah," bisik Septiana manis, matanya melirik sinis ke arah Tisa. "Tapi Papaku cuma mau bantu kalau kamu lepas dari masalah ini sepenuhnya... termasuk melepaskan wanita yang sudah menjebak kamu ini."

Tisa yang mendengar ucapan itu dari jarak beberapa meter hanya tersenyum getir. Ia berjalan mendekati mobilnya sendiri, tidak sudi lagi melihat sandiwara murahan di depannya.

"Tisa! Mau ke mana kamu?!" Damian berlari kencang dan mengejar Tisa. Pria itu menahan pintu mobil Tisa sebelum sempat ditutup.

"Aku mau ke kantor polisi. Menyelesaikan laporan perusakan toko dan membuktikan kalau tanda tangan di dokumen kantor kamu itu palsu," jawab Tisa datar tanpa menatap wajah suaminya.

"Tisa, tunggu dulu!" Damian mencengkeram lengan Tisa. "Kalau kamu ke kantor polisi sekarang dan perpanjang masalah ini, Ibu bakal makin terpojok! Lagi pula Septiana bisa bantu selesaikan masalah lima ratus juta di kantorku!"

Tisa menatap tangan Damian yang mencengkram tangannya, lalu mendongak menatap mata suaminya. Ada rasa kecewa yang mendalam merayapi dada Tisa.

"Mas Damian," bisik Tisa, suaranya bergetar menahan tangis. "Di saat ibu kamu merusak toko aku, kamu minta aku mengalah. Di saat nama aku difitnah dan dipakai buat memerah uang kamu, kamu lebih milih percaya sama bantuan wanita lain daripada berdiri membela aku."

"Aku cuma mau menyelamatkan ibu dan karir ku, Tisa!" bentak Damian.

"Dengan cara mengorbankan aku?" Tisa menepis tangan Damian dengan hentakan kuat. "Terima kasih, Mas. Hari ini aku benar-benar sadar... di mata kamu, aku cuma pelampiasan gairah di kamar saat kamu butuh pelarian. Di luar kamar, aku bukan siapa-siapa buat kamu."

"Tisa, jangan bicara sembarangan!" Damian mencoba meraih tubuh Tisa lagi, menarik pinggang istrinya secara paksa untuk mendekat. Emosi dan rasa takut kehilangan membuat gerakan Damian makin kasar. "Kamu istri aku! Kamu nggak boleh pergi sebelum kita beresin ini!"

"Lepasin aku, Damian!"

Tisa menyikut dada Damian dengan kencang hingga cengkraman pria itu terlepas. Tisa langsung masuk ke dalam mobil, mengunci seluruh pintu dari dalam.

Damian menggedor kaca mobil Tisa dengan keras dari luar. "Tisa! Buka pintunya! Tisa!"

Tisa menginjak pedal gas mobilnya dan meninggalkan Damian yang berdiri lemas di pinggir jalan bersama Septiana. Air mata Tisa akhirnya menetes deras membasahi pipinya sepanjang perjalanan menuju kantor polisi. Cinta lima tahun yang ia bangun bersama Damian kini remuk tak berbekas hari ini.

***

Satu jam kemudian, di Polsek kawasan pusat kota. Tisa selesai memberikan keterangan pada penyidik terkait kasus pembongkaran tokonya. Sintia, pelayan tokonya, duduk mendampingi sambil memegang berkas-berkas asli kepemilikan usaha. Saat Tisa keluar dari ruang penyidikan, ia melihat Damian baru saja tiba bersama seorang pria paruh baya berjas rapi yang diduga adalah pengacara yang dibawa oleh Septiana. Ibu Yuliani sendiri duduk di kursi pemeriksaan dengan wajah muram dan menangis.

"Tisa," Damian langsung menghampiri Tisa begitu melihat istrinya keluar. "Pengacara ini sudah siapkan surat perdamaian. Kamu tinggal tanda tangan buat cabut laporan perusakan toko, dan nanti masalah uang lima ratus juta di kantor aku bakal dibereskan sama keluarga Septiana."

Tisa berhenti melangkah. Ia menatap surat di tangan pengacara itu, lalu menatap Damian. "Aku nggak akan cabut laporan itu," kata Tisa tegas.

"Tisa! Ibu bisa ditahan kalau kamu nggak cabut laporannya!" teriak Damian di koridor kantor polisi, membuat beberapa petugas menoleh.

"Ibu kamu memang harus belajar konsekuensi dari perbuatannya, Mas," jawab Tisa tanpa ragu. "Dan soal dokumen lima ratus juta itu... aku baru saja minta pihak kepolisian buat sekalian mengusut kasus pemalsuan tanda tangan dan penipuan atas nama toko saya."

Wajah pengacara di samping Damian mendadak berubah tegang. Septiana yang baru masuk dari pintu depan kantor polisi juga langsung menghentikan langkahnya.

"Tisa, kamu gila ya?!" bentak Damian. "Kamu mau menghancurkan aku sekalian?!"

"Bukan aku yang menghancurkan kamu, Mas. Tapi kebodohanmu sendiri yang mau dimanfaatkan ibu kamu dan Septiana.” Tisa melangkah mendekati Damian, "nanti malam, kunci rumah akan aku titipkan di satpam kompleks. Seluruh barang-barang aku sudah aku angkat dari rumah itu."

"Tisa..." suara Damian mendadak serak, ada kilat kepanikan yang teramat sangat di matanya saat menyadari Tisa benar-benar bermaksud mengakhiri semuanya. Pria itu menyambar kedua jemari Tisa, menggenggamnya erat-erat. "Jangan kayak gini... Tolong. Kita pulang ke rumah, kita bicarakan baik-baik di kamar. Aku mohon..."

"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan, Mas," Tisa menarik tangannya dari genggaman Damian hingga terlepas sepenuhnya. "Aku sudah daftarkan gugatan cerai secara online sejam yang lalu."

Pernyataan Tisa membuat ruangan itu mendadak hening. Damian membeku di tempatnya, menatap Tisa dengan pandangan tak percaya.

Tepat saat Tisa hendak berbalik melangkah keluar dari kantor polisi, ponselnya di dalam tas bergetar. Sebuah notifikasi email masuk dari investor asing yang selama tiga bulan ini mengincar rancangan gaun tidur milik Tisa.

Tisa membuka surel tersebut. Isi pesannya singkat namun mengubah jalan hidupnya:

"Selamat Malam Miss Tisa Anggraeni. Kami telah meninjau portofolio bisnis dan hasil audit independen merek Anda. Perusahaan kami resmi menyetujui suntikan dana investasi sebesar sepuluh miliar rupiah untuk ekspansi brand Anda ke tingkat internasional. Rapat penandatanganan kontrak akan diadakan besok pagi."

Tisa mematikan layar ponselnya, menarik napas panjang, lalu melangkah keluar kantor polisi tanpa berpaling sedikitpun ke arah Damian yang berdiri hancur di belakangnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   7

    Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   6

    "Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   5

    "Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   4

    "Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   3

    "Mas... HP kamu bunyi."Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal.Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting.""Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya.Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana."Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!"Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya."Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik da

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   2

    "Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera."Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang."Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status