MasukDi sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu
"Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me
"Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d
"Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***
"Mas... HP kamu bunyi."Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal.Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting.""Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya.Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana."Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!"Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya."Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik da
"Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera."Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang."Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi se







