Masuk"Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.
Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?" Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga. "Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!" "Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!" Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi. *** Dua puluh menit kemudian, Tisa tiba di depan ruko dua lantai tempat toko dan gudang utamanya beroperasi. Sebuah truk engkel terparkir di depan pintu ruko yang sudah terbuka paksa. Tiga pria berbadan tegap tampak sibuk mengangkut kardus-kardus berisi produk gaun tidur dan inner wear merek milik Tisa ke atas bak truk. Sintia, pelayan tokonya, berdiri di pinggir jalan sambil menangis histeris dihalangi oleh seorang pria berjaket kulit hitam. "Lepaskan karyawan saya!" teriak Tisa begitu keluar dari mobil. Ia melangkah cepat menghampiri pria berjaket kulit tersebut. Pria itu menoleh dengan tatapan meremehkan. "Mbak ini pemilik toko ini?" "Saya Tisa Anggraeni, pemilik sah toko dan seluruh barang di gudang ini!" tegas Tisa, suaranya lantang membuat beberapa pedagang ruko sekitar mulai berkerumun menonton. "Atas dasar apa kalian merusak gembok dan mengangkut barang-barang saya?!" Pria berjaket kulit itu mengeluarkan selembar kertas kwitansi dari sakunya dan menyodorkannya ke wajah Tisa. "Kami cuma menjalankan perintah dari Ibu Yuliani. Di kertas ini tertera Mbak punya utang seratus juta atas nama jaminan barang-barang di toko ini." Tisa menyambar kertas itu, membaca tulisan tangan yang tertera di sana, lalu tertawa getir. "Ini surat utang bodong! Kertas ini cuma ditandatangani Ibu Yuliani sendiri tanpa ada tanda tangan saya! Kalian ini perampok!" "Kami nggak mau tahu," sahut pria itu dingin. "Ibu Yuliani bilang uang itu dipakai buat modal toko ini. Kalau Mbak mau barang ini balik, lunasi dulu uang seratus juta itu ke Ibu Yuliani." "Turunkan semua kardus itu sekarang!" Suara bentakan Damian terdengar dari arah belakang. Pria itu baru saja melompat keluar dari mobilnya dan berlari menghampiri mereka dengan napas terengah-engah. Pria berjaket kulit itu menaikkan sebelah alisnya. "Mas ini siapa?" "Saya Damian, anak Ibu Yuliani sekaligus suami Tisa!" Damian berdiri melintas di antara Tisa dan para pria tegap itu. "Siapa yang suruh kalian datang ke sini?! Hentikan semuanya sekarang!" "Lho, Pak Damian?" pria itu tampak ragu sejenak. "Ibu Yuliani sendiri yang datang ke rumah kami tadi pagi. Beliau kasih kwitansi ini dan suruh kami amankan barang-barang ini sebagai pelunasan." "Ibu saya salah! Nggak ada utang piutang di sini!" teriak Damian, “turunkan barang-barang istri saya atau saya panggil polisi!" "Nggak ada yang boleh turunkan barang satu pun!" Sebuah mobil berhenti tepat di belakang truk. Pintu belakang terbuka, dan Ibu Yuliani melangkah keluar dengan anggun. Di sebelahnya, Septiana turun sambil merapikan gaun mewahnya, menatap kerumunan itu dengan pandangan puas. Tisa mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Hadirnya Septiana di samping ibu mertuanya mengonfirmasi segala prasangka buruk di kepalanya. "Ibu!" Damian menghampiri ibunya dengan langkah lebar. "Apa-apaan ini?! Kenapa Ibu bawa preman ke toko Tisa?!" "Ibu cuma mengambil apa yang jadi hak anak Ibu!" jawab Ibu Yuliani santai, membetulkan letak selendangnya. "Uang yang kamu kasih ke Tisa selama dua tahun ini totalnya lebih dari seratus juta, Damian! Wanita ini pakai uang kamu buat beli stok baju tidur ini. Jadi wajar kalau Ibu sita barangnya buat ganti rugi uang kamu yang dibuang-buang!" "Uang Mas Damian tidak pernah masuk satu rupiah pun ke modal usaha saya!" potong Tisa, melangkah maju mendekati Ibu Yuliani tanpa rasa takut. "Seluruh modal usaha saya berasal dari pinjaman bank atas nama saya sendiri dan hasil penjualan dari nol! Saya punya seluruh rekening korannya!" "Halah, alasan!" ucap Ibu Yuliani sinis. "Kamu pikir saya bodoh? Perempuan dari keluarga biasa seperti kamu mana punya modal kalau bukan ngerogoh kantong anak saya? Septiana ini saksinya, dia tahu persis berapa biaya yang dibutuhkan buat buka bisnis." Septiana tersenyum tipis, ia melangkah menghampiri Tisa. "Tisa, sebaiknya kamu jangan emosi dulu. Tante Yuliani cuma mau mengamankan aset Damian. Kalau kamu memang bersih, kamu bisa buktikan secara hukum. Tapi untuk sementara, biarkan barang-barang ini disita dulu daripada kamu salah gunakan." "Kamu nggak usah ikut campur, Septiana!" bentak Damian keras. "Ini urusan keluarga saya! Kenapa kamu terus-terusan ada di sekitar Ibu saya?!" Septiana tampak kaget mendapati Damian membentaknya di depan umum, tetapi dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi kasihan. "Aku cuma bantu Tante Yuliani, Damian. Papaku juga sudah setuju membantu melunasi masalah keuangan kantor kamu kalau urusan barang ini selesai." Tisa menatap Damian, lalu beralih menatap Ibu Yuliani dan Septiana. Rasa muak yang teramat sangat menjalar di dadanya. "Mas Damian," panggil Tisa dengan suara yang mendadak sangat tenang. Damian menoleh cepat. "Tisa... aku akan suruh mereka hentikan ini." "Nggak perlu," kata Tisa datar. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menekan nomor darurat. "Saya sudah telepon kantor polisi sepuluh menit lalu saat saya masih di jalan." Ibu Yuliani tertawa meremehkan. "Kamu gertak saya? Polisi nggak akan urusin masalah internal keluarga!" "Ini bukan masalah keluarga, Bu Yuliani," balas Tisa tajam. "Ini tindak pidana pasal 363 dan pasal 368 tentang pencurian dengan pemberatan dan pemerasan secara bersama-sama. Dan ruko ini dilengkapi lima kamera CCTV yang merekam dari awal saat orang-orang suruhan Ibu membongkar gembok toko saya secara paksa." Tepat pada saat itu, suara sirine mobil polisi terdengar dari ujung jalan. Dua mobil patroli polisi berhenti tepat mengurung truk engkel dan sedan milik Ibu Yuliani. Empat petugas berseragam lengkap melangkah turun dari mobil. Wajah Ibu Yuliani seketika berubah pucat. Pria berjaket kulit dan anak buahnya seketika panik dan mundur mendekati truk. "Ada laporan perusakan dan penjarahan di toko ini?" tanya salah satu petugas polisi yang melangkah mendekat. "Saya pelapornya, Pak," Tisa melangkah maju, menyerahkan kartu identitas dan sertifikat kepemilikan ruko serta bukti rekaman CCTV dari ponselnya. "Orang-orang ini merusak gembok toko saya dan mengangkut barang-barang dagangan saya tanpa izin atas perintah wanita itu." Tisa menunjuk lurus ke arah Ibu Yuliani. "Pak Polisi! Jangan dengarkan dia!" Ibu Yuliani panik, suaranya meninggi. "Saya ini ibu mertuanya! Ini cuma masalah uang keluarga!" "Ibu mertua atau bukan, tidak ada hak hukum untuk membongkar paksa properti milik orang lain," kata petugas polisi itu tegas. Ia menoleh ke arah anak buahnya. "Tahan truk itu dan amankan semua orang yang terlibat pengangkutan barang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan." "Damian! Bicaralah! Tolong Ibu!" jerit Ibu Yuliani sambil memegang lengan anak laki-lakinya dengan panik. "Kamu tega lihat Ibu kamu ditangkap polisi karena perempuan ini?!" Damian terdiam. Matanya bergantian menatap ibunya yang ketakutan dan Tisa yang berdiri tegak tanpa keraguan sedikit pun. "Tisa..." suara Damian bergetar, memohon. "Tolong batalkan laporannya. Ini Ibu aku, Tisa... Kalau Ibu ditahan, nama baik keluargaku hancur." Tisa menatap Damian dengan tatapan dingin, seolah pria di depannya adalah orang asing yang tak pernah ia kenal. "Nama baik keluarga kamu lebih penting daripada harga diri dan usaha yang aku bangun mati-matian, Mas?" tanya Tisa pelan namun menusuk. "Kamu selalu suruh aku mengalah. Tapi kali ini, aku nggak akan mundur satu langkah pun." Tisa berbalik menghampiri petugas polisi. "Pak, saya siap ikut ke kantor polisi sekarang untuk membuat laporan resmi." "Tisa!" teriak Damian seraya melangkah hendak mengejar Tisa. Namun sebelum Damian sempat menyentuh lengan Tisa, Septiana mendadak menahan bahu Damian dari belakang dengan wajah panik. "Damian, jangan mengejar dia dulu!" bisik Septiana cepat, suaranya bergetar. "Lihat HP kamu sekarang! Sekretaris kamu dari kantor baru saja kirim pesan!" Damian mengernyit, menarik ponsel dari saku celananya dengan tangan gemetar. Ia membuka pesan dari sekretarisnya. Sebuah dokumen digital terlampir di layar ponsel Damian, disusul pesan bertuliskan: "Pak Damian, direksi utama baru saja menggelar rapat darurat. Jabatan Bapak sebagai Manajer Keuangan resmi dinonaktifkan mulai hari ini atas dugaan penggelapan dana kantor sebesar lima ratus juta rupiah... dan dokumen pengajuannya bertanda tangan atas nama istri Bapak, Tisa Anggraeni.”Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu
"Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me
"Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d
"Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***
"Mas... HP kamu bunyi."Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal.Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting.""Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya.Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana."Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!"Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya."Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik da
"Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera."Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang."Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi se







