Share

2

Penulis: Pena Gabut77
last update Tanggal publikasi: 2026-09-13 21:40:18

"Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"

Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera.

"Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang.

"Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."

Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi sekarang juga atas tuduhan pemaksaan dan pencerobohan hak milik."

Kedua pria itu saling pandang dan mundur satu langkah.

"Kamu berani mengancam saya, Tisa?!" wajah Ibu Yuliani memerah menahan marah. "Kamu itu cuma menantu! Nggak ada hak kamu melarang saya! Damian itu anak saya, uang yang dia pakai buat beli rumah ini juga uang hasil jerih payah dia!"

"Lima puluh persen uang muka rumah ini masuk dari rekening bisnis saya, Bu. Sertifikatnya atas nama saya dan Mas Damian," jawab Tisa, suaranya tidak goyah sedikit pun. "Jadi stop berlagak seolah Ibu yang punya rumah ini."

"Kurang ajar kamu ya!" Ibu Yuliani menunjuk wajah Tisa. "Pantesan Damian pusing tiap hari! Punya istri kepala batu, nggak tahu diri! Harusnya kamu sadar posisi kamu. Tadi pagi Damian sarapan sama Septiana! Kamu tahu kan artinya apa? Pria sekelas Damian itu butuh wanita yang selevel sama dia, bukan wanita yang cuma bisa ngerogoh kantong suami demi bisnis baju tidurnya!"

Tisa memejamkan mata sejenak. Mendengar nama Septiana keluar langsung dari mulut mertuanya membuat dadanya terasa semakin sesak.

"Jadi Ibu yang suruh Septiana nemuin Mas Damian pagi ini?" tanya Tisa.

"Kalau iya kenapa?" Ibu Yuliani tersenyum sinis. "Septiana itu anak pengusaha ternama. Bapaknya punya relasi di mana-mana. Kalau Damian nikah sama dia, karir anak saya makin melonjak! Nggak seperti kamu, yang ada cuma menambah beban!"

Tepat saat itu, ponsel Tisa bergetar di genggamannya. Nama Damian tertera di layar. Tisa menggeser tombol hijau, lalu sengaja menekan tombol pengeras suara.

"Tisa! Kamu di mana? Aku lagi jalan pulang ke rumah—" suara Damian terdengar panik dari seberang telepon.

"Mas Damian," potong Tisa datar. "Ibu ada di depan rumah sekarang. Bawa orang buat naksir harga rumah kita."

Hening sejenak di seberang telepon, disusul suara klakson mobil yang dinyalakan kencang. "Apa?! Bu, Ibu ngapain di sana?!" teriak Damian lewat telepon.

Ibu Yuliani merebut ponsel dari tangan Tisa dan berteriak ke arah mikrofon. "Damian! Kamu pulang sekarang! Usir perempuan ini! Dia berani mengancam mau lapor polisi ke Ibu!"

"Ibu pulang sekarang! Jangan bikin masalah di sana! Damian lagi jalan ke rumah!" bentak Damian sebelum mematikan sambungan telepon secara sepihak.

Ibu Yuliani melempar pandangan benci pada Tisa, lalu beralih pada dua pria yang dibawanya. "Kalian tunggu di luar! Nanti setelah anak saya sampai, baru kita selesaikan!"

Tisa tidak melayani ucapan mertuanya. Ia melangkah masuk dan membiarkan pintu depan tetap terbuka sedikit. Kakinya terasa lemas saat menduduki sofa di ruang tamu.

Lima belas menit kemudian, suara deru mobil Damian terdengar berhenti mendadak di depan pagar. Pintu mobil dibanting keras. Damian berlari masuk ke dalam rumah dengan kemeja yang sedikit kusut dan napas terengah-engah.

"Bu! Ibu ngapain sih bawa orang ke sini?!" bentak Damian begitu melihat ibunya berdiri di teras.

"Damian! Kamu malah ngebentak Ibu?" Ibu Yuliani berkacak pinggang. "Ibu butuh uang seratus juta itu hari ini! Kalau kamu nggak punya uang cash, jual rumah ini! Toh kalian belum punya anak, buat apa rumah seluas ini?"

"Damian bilang enggak ya enggak, Bu!" suara Damian menggelegar di ruang tamu. "Rumah ini nggak akan dijual! Ibu tolong pulang sekarang. Jangan buat Damian makin pusing!"

Ibu Yuliani terperanjat. Ia menatap anaknya seolah tidak percaya. "Kamu... kamu mengusir Ibu demi perempuan ini?"

"Damian nggak usir Ibu, tapi Ibu udah kelewatan!" tegas Damian seraya menunjuk ke arah luar. "Tolong pulang, Bu. Sebelum Damian makin kehilangan rasa hormat sama Ibu."

Ibu Yuliani mengepalkan tangannya rapat-rapat. Matanya menatap Tisa dengan penuh kebencian dan dendam. "Bagus ya, Tisa. Kamu sudah racuni otak anak saya sampai dia berani membentak ibunya sendiri. Ingat ya Damian, kalau bisnis kamu hancur atau kamu butuh bantuan keluarga nanti, jangan pernah datang mengemis ke Ibu!"

Dengan langkah lebar dan napas memburu, Ibu Yuliani keluar dari rumah, memanggil dua pria yang dibawanya lalu pergi meninggalkan area perumahan itu.

Suasana ruang tamu seketika hening. Damian menyisir rambutnya ke belakang dengan jemarinya, mencoba menetralkan napasnya yang memburu. Ia membalikkan badan, menatap Tisa yang duduk terdiam di sofa.

"Tisa..." Damian melangkah mendekat. "Kamu nggak apa-apa?"

Tisa tidak menjawab. Ia hanya meraih ponselnya dari meja, membuka foto yang diterimanya tadi pagi, lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Damian.

Gerakan Damian terhenti. Matanya terpaku pada layar ponsel Tisa. Wajahnya seketika pucat.

"Tisa, ini... aku bisa jelaskan," kata Damian cepat, suaranya terdengar bergetar.

"Penjelasan apa lagi, Mas?" suara Tisa terdengar tercekik. "Kamu bilang pagi ini kamu berangkat lebih awal karena ada rapat mendadak di kantor. Tapi kamu malah sarapan sama Septiana di hotel?"

"Dia yang nungguin aku di sana, Tisa!" Damian bersimpuh di depan Tisa, mencoba meraih kedua tangan istrinya, tapi Tisa menepisnya kasar. "Demi Tuhan, aku nggak ada niat sarapan sama dia. Dia mendadak muncul dan ngebahas proyek investasi yang mau ditawarkan ayahnya ke kantorku. Aku cuma berbincang dengan dia sebentar!"

"Tapi kamu diam saja saat dia pegang tangan kamu?" Tisa menunjuk foto di layar. "Kamu nggak nolak, Mas! Kamu menikmati perhatian dari dia kan? Sementara di rumah ini, aku harus ngadepin ibu kamu yang tiap hari maki-maki aku!"

"Aku bingung, Tisa!" Damian memotong dengan suara frustasi. "Ibu terus menekan aku dari semalam! Septiana nawarin jalan keluar buat masalah keuangan kantor aku! Aku cuma mencoba cari solusi!"

"Solusi?" Tisa tersenyum getir, air matanya akhirnya menetes membasahi pipinya. "Solusi dengan cara nempel sama wanita yang dari dulu ibu mau buat gantikan aku? Kamu sadar nggak sih apa yang baru aja kamu perbuat?"

"Tisa, tolong. Aku cuma cinta sama kamu!"

Damian meraih bahu Tisa secara paksa, menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Damian mencium kepala Tisa berulang kali dengan nada panik. "Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Septiana. Aku cuma kebetulan ketemu dia."

"Lepasin, Mas..." Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh tenaganya, tapi lengan Damian yang kokoh malah makin erat melingkari tubuhnya.

"Nggak akan. Aku nggak akan lepasin kamu kalau kamu masih berpikiran kayak gitu," bisik Damian tepat di telinga Tisa.

Damian mendongakkan wajah Tisa, menatap langsung ke matanya. Sebelum Tisa sempat memprotes lagi, Damian mencium bibir Tisa dengan ciuman yang dalam dan sarat dengan keputusasaan.

Tisa berusaha memalingkan wajahnya, mencengkeram kemeja Damian untuk mendorongnya menjauh. Tapi Damian memegang belakang kepalanya, mengunci pergerakan Tisa. Damian menyusupkan tangannya ke balik pinggang Tisa, mengangkat tubuh wanita itu dari sofa dan membawanya naik ke lantai atas tanpa memutuskan ciuman mereka.

Di dalam kamar yang tertutup rapat, Damian merebahkan Tisa ke atas kasur. Tatapan mata pria itu terlihat begitu pekat. Ia mengunci kedua tangan Tisa di atas kepala.

"Katakan kalau kamu percaya sama aku, Tisa," bisik Damian serak saat bibirnya berpindah menyusuri leher Tisa.

"Mas... jangan kayak gini..." Tisa menahan napasnya, mencoba mempertahankan sisa akal sehatnya di tengah sentuhan Damian yang makin memanas.

"Aku cuma punya kamu," gumam Damian, kembali mencium bibir Tisa dengan ketegangan yang membakar seluruh kemarahan di antara mereka menjadi luapan gairah yang tak terkendali.

“Ahhhh… Mas…. Tisa mendesah lirih.

Namun, tepat ketika Tisa mulai luluh dalam dekapan suaminya, getaran ponsel Damian tiba-tiba memecah keheningan.

Ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur itu bergetar. Sampai layar ponsel itu menyala dan sebuah nama muncul di sana.

Septiana.

Jantung Tisa seolah berhenti berdetak ketika matanya menangkap pesan yang baru saja masuk.

‘Makasih buat sarapannya pagi ini, Damian. Kemeja kamu yang ketinggalan di mobilku mau aku antarkan ke rumahmu sekarang?’

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   7

    Di sebuah ballroom hotel bintang lima di pusat kota, Tisa Anggraeni berdiri anggun mengenakan setelan blazer. Rambut panjangnya disanggul rapi, memancarkan aura pengusaha wanita yang tegas dan profesional.Di depannya, dua perwakilan investor dari perusahaan ritel internasional tersenyum puas setelah menandatangani berkas nota kesepahaman investasi senilai sepuluh miliar rupiah."Selamat, Miss Tisa," ujar Mr. Robert, perwakilan investor utama, sambil menjabat tangan Tisa dengan hangat. "Kami sangat mengagumi ketahanan dan kualitas desain produk Anda. Dana investasi tahap pertama sebesar tiga miliar rupiah akan langsung masuk ke rekening bisnis Anda sore ini untuk memulai pembangunan pabrik baru.""Terima kasih atas kepercayaannya, Mr. Robert. Saya pastikan brand kami tidak akan mengecewakan," jawab Tisa mantap dengan senyuman profesional.Sintia, pelayan toko Tisa yang ikut mendampingi di sebelah Tisa, tampak berkaca-kaca menahan haru. Siapa yang menyangka, hanya dalam hitungan dua pu

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   6

    "Kamu benar-benar membiarkan ibu membusuk di sel cuma gara-gara mempertahankan gengsi kamu, Damian?!" Suara Septiana terdengar di pelataran parkir kantor polisi yang mulai sepi. Tangannya mencengkeram lengan kemeja Damian, menahan langkah pria itu yang hendak masuk ke dalam mobil. Damian menghentikan langkahnya. Pria itu memutar badan perlahan dengan tatapan yang penuh amarah. "Lepaskan tangan kamu, Septiana." "Aku nggak akan lepaskan sebelum kamu sadar!" bentak Septiana tanpa rasa takut. "Tisa itu sudah buang kamu! Dia sudah daftarkan gugatan cerai online, dia laporkan Tante Yuliani ke polisi, dan dia sama sekali nggak peduli karier kamu hancur! Kenapa kamu masih ngarep wanita kayak gitu?!" "Yang bikin karirku hancur dan Ibuku masuk penjara itu kelakuan kamu dan Ibu sendiri!" teriak Damian keras. "Kalau kamu dan Ibu nggak mengacak-acak toko Tisa tadi siang, hal kayak gini nggak akan pernah terjadi!" Pengacara berjas yang berdiri di dekat mobil Septiana berdehem pelan, mencoba me

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   5

    "Tisa... ini apa?"Suara Damian bergetar hebat. Pria itu menyodorkan layar ponselnya tepat di depan mata Tisa, memperlihatkan pesan dari sekretarisnya.Tisa membaca tulisan di layar itu dengan kening berkerut. "Penggelapan uang kantor? Tanda tangan aku?" Tisa menatap Damian dengan pandangan tidak percaya. "Mas, kamu pikir aku pernah ikut campur urusan dokumen kantor kamu?""Tapi di sini tertulis nama toko kamu sebagai penerima transfer dana lima ratus juta itu, Tisa!" bentak Damian. Rasa panik melukai akal sehatnya. Di satu sisi ibunya sedang digiring polisi, di sisi lain karir yang ia bangun bertahun-tahun hancur dalam hitungan detik. "Rekening toko kamu yang dipakai!"Tisa tertawa, matanya menatap Damian tanpa kedipan. "Kamu menuduh aku, Mas? Kamu lebih percaya pesan singkat dari kantor kamu daripada istri kamu sendiri?""Aku nggak menuduh kamu!" suara Damian meninggi di tengah kerumunan pedagang pasar yang makin ramai menonton. "Tapi jelaskan ke aku kenapa bisa ada nama toko kamu d

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   4

    "Tahan mereka, Sintia! Jangan biarkan satu kardus pun keluar dari gudang!" teriak Tisa ke ponselnya.Damian yang berdiri di atas anak tangga langsung tersentak. "Tisa! Ada apa? Siapa yang ke gudang kamu?"Tisa tidak sudi menjawab. Ia menyambar kunci mobil dari saku celananya, menurunkan koper besarnya dengan cepat, lalu melangkah menuruni tangga."Tisa, tunggu!" Damian mengejar dari belakang, menyenggol lengan Tisa di dekat pintu depan. "Aku ikut! Biar aku yang selesaikan kalau ini ulah Ibu!""Nggak usah sok pahlawan, Mas!" bentak Tisa sambil membalikkan badan di teras. "Ibu kamu sudah bertindak seperti preman! Kalau sampai ada barangku yang hilang atau rusak, aku nggak cuma laporkan orang-orang itu, tapi ibu kamu juga!"Tanpa menunggu tanggapan Damian, Tisa masuk ke dalam mobilnya, menancap gas kencang, dan membelah jalanan kompleks menuju kawasan pusat grosir. Damian mengumpat pelan, menyambar kunci mobilnya sendiri, lalu menyusul di belakang mobil Tisa dengan kecepatan tinggi.***

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   3

    "Mas... HP kamu bunyi."Suara Tisa tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak menatap layar ponsel yang menyala di dekat bantal.Damian yang masih menempelkan bibirnya di leher Tisa berusaha mengabaikannya. "Biarin aja, Tisa. Nggak penting.""Nggak penting kamu bilang?!" Tisa mendorong dada Damian dengan seluruh sisa tenaganya.Karena dorongan mendadak itu, Damian terdorong ke samping. Tisa langsung menyambar ponsel tersebut sebelum Damian sempat meraihnya. Jemari Tisa gemetar hebat saat membaca kalimat yang tertera di sana."Kemeja kamu ketinggalan di mobil Septiana?" Tisa menatap Damian dengan pandangan hampa. Airmata yang sempat tertahan kini menetes tanpa bisa dibendung. "Kamu bilang tadi pagi cuma kebetulan ketemu di resto? Kenapa kemeja kamu bisa ada di mobil dia, Mas?!"Wajah Damian seketika pucat pasi. Pria itu langsung duduk tegak, mencoba menyambar ponselnya, tapi Tisa dengan cepat menjauhkannya."Tisa, dengarkan aku dulu!" Damian memegang kedua bahu Tisa, suaranya panik da

  • Ibu Mertua yang Gila Harta   2

    "Buka pintunya, Tisa! Jangan pura-pura tuli kamu di dalam!"Gedoran di pintu depan makin keras, membuat kaca jendela bergetar. Tisa menarik napas panjang, menekan rasa panas di dadanya, lalu berjalan menuruni tangga. Saat ia membuka pintu, Ibu Yuliani sudah berdiri di sana bersama dua orang pria berseragam rapi yang memegang buku catatan dan kamera."Ibu mau apa bawa orang-orang ini ke rumah saya?" tanya Tisa dengan suara yang tenang."Rumah kamu?" Ibu Yuliani tertawa keras, sengaja melirik ke arah tetangga sebelah yang mulai menengok dari balik pagar. "Ini rumah anak saya! Masuk, Pak. Foto semua sudut ruangan. Biar tahu berapa harga pasaran rumah ini kalau mau dijual cepat."Dua pria itu ragu-ragu hendak melangkah, tetapi Tisa langsung menghadang di ambang pintu. "Berhenti di situ," tegur Tisa tegas, matanya menatap tajam kedua pria itu. "Saya pemilik sah rumah ini bersama suami saya. Kalau Bapak-bapak melangkah satu langkah saja masuk ke dalam tanpa izin saya, saya panggil polisi se

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status