تسجيل الدخولPOV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi
POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber
POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa
POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent
“Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka
“Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam
“Tolong titip anak saya!” Aku segera beranjak mengejar kelebat lelaki itu.Malik melangkah tergesa sambil menangkup kepalanya. Bajunya pun juga ada noda darah. Sepertinya, pukulanku tepat di sasaran. Namun, ini tidak sebanding dengan perlakuannya kepada Alya ku.“Malik! Berhenti kau!”Laki-laki itu
“Alya…?!”Gegas aku beranjak, tapi wanita itu keburu menaiki motor ojek.“Kejar ojek itu, Pak!”Beruntung taxi pesananku datang. Pandanganku tidak lepas dari wanita berambut merah itu. Meskipun berusaha mendekat, tetapi kami masih terhalang beberapa kendaraan lain.“Pokoknya ikuti. Jangan sampai lo
“Mas Malik itu sayang sama aku, Bu. Dia melakukan semuanya juga demi anak Ibu. Kenapa Ibu jadi perhitungan begini? Memangnya Ibu nggak mau aku bahagia?”Aku terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut anakku sendiri gara-gara laki-laki yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Putriku yang ku







