Share

Bab 3

Penulis: Astika Buana
last update Tanggal publikasi: 2026-04-21 11:55:56

“Tolong titip anak saya!” Aku segera beranjak mengejar kelebat lelaki itu.

Malik melangkah tergesa sambil menangkup kepalanya. Bajunya pun juga ada noda darah. Sepertinya, pukulanku tepat di sasaran. Namun, ini tidak sebanding dengan perlakuannya kepada Alya ku.

“Malik! Berhenti kau!”

Laki-laki itu menoleh sesaat. Matanya menunjukkan keterkejutan, kemudian dia mempecepat langkah.

"Hei! Jangan lari kau!"

Aku berlari, tetapi lelaki itu masuk ke dalam taxi yang kebetulan lewat. Tanganku terkepal dan menghentakkan kaki. Rasanya ingin terbang dan menangkapnya. Kemudian kucabik-cabik sampai tak tersisa.

"Huuf! Percuma kalau aku mengejarnya. Lebih baik fokus kepada Alya terlebih dahulu." Aku kembali. Mobil ambulan sudah tiba, dan Alya baru saja dimasukkan dengan tandu.

“Bu Sari ikut di ambulan atau__”

“Saya ikut,” jawabku langsung masuk dan duduk mendampingi Alya.

Anakku menatapku dengan wajah pucat dan bibir pecah berdarah. Mulutnya berdesis merintih.

Keheningan malam pun pecah. Sirine ambulan pun dibunyikan untuk mempercepat laju. 

"Ibu.... Sakit sekali." 

"Sabar, ya."

"Maaf. Alya sudah menyakiti ibu. Alya__"

"Ibu sudah memaafkan kamu sejak dulu, Sayang."

Genggamanku tidak terlepas dari tangannya. Aku terhenyak ketika rintihannya tidak terdengar lagi. Sorot matanya melemah dan wajah semakin pucat. 

Jantungku seakan terhenti saat mendengan gumaman penjaga. "Denyut nadinya melemah."

Beruntung tak lama kemudian sampai ke rumah sakit. Tim medis langsung memeriksa. Hasil pemeriksaan, Alya harus dioperasi segera. Ini bukan keguguran biasa. Kemungkinan rahimnya sobek. Dan, kalau tidak segera dibersihkan, organ tubuh akan keracunan yang mengancam jiwa.

“Tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan anak saya.”

Pintu ruang operasi tertutup dan lampu menyala pertanda operasi sedang berjalan. Aku bersimpuh di lantai sambil menyebut nama Tuhan untuk memohon pertolongannya.

“Bu. Bu Sari.”

Aku mendongak. Botol minuman mineral disodorkan kepadaku. “Bima? Kamu ikut ke sini?”

“Iya. Saya kan sudah janji menunggu ibu. Bu Sari harus kuat dan jaga kesehatan. Minum dulu.”

Pemuda itu membantuku berdiri, dan mengarahkanku untuk duduk di ruang tunggu. Aku meneguk minuman. Tenagaku seakan kembali pulih.

“Tadi karyawan café memberikan tas Bu Sari.”

“Oh, terima kasih.” Aku baru teringat kalau sedari tadi tidak membawa tas. Terakhir, benda inilah yang aku gunakan untuk menghajar laki-laki brengsek itu.

Aku beranjak ketika pintu ruang operasi terbuka. Dokter diikuti timnya keluar. Dia membuka masker saat aku menghadangnya. 

“Bagaimana anak saya, Dok? S-saya ibunya.”

“Tim dokter akan berusaha semaksimal mungkin. Saat ini yang paling dibutuhkan adalah waktu pemulihan. Kami mohon doa dari keluarga agar pasien segera melewati masa kritis ini."

“Anak saya kritis?”

Laki-laki itu tersenyum samar dan mengangguk, seakan mencoba menenangkan. "Kami menempatkan pasien di ruang ICU/intensif untuk pemantauan 24 jam penuh. Kami memantau tanda-tanda vitalnya dengan sangat ketat. Permisi."

Kedua tangan ini mengepal erat. Ingin rasanya merobek kesadaran seakan ini hanya sekadar mimpi. Kalau bisa memutar waktu, aku akan berusaha lebih keras lagi melindungi Alya dari laki-laki itu.

“Apa yang salah? Apa dosaku sampai Tuhan memberikan cobaan sebegitu besar?” runtukku dalam hati.

“Bu Sari, itu anak ibu dipindahkan.” Bima menunjuk perawat yang mendorong brankar. Gegas kami pun mengikutinya. Alya dipindahkan ke ruang ICU. Aku hanya bisa menatap dari pembatas kaca. Tubuhnya yang ditempel segala peralatan untuk memonitor alat vital.

Ingatanku kembali lima belas tahun yang lalu, sesaat sebelum ayahnya Alya tiada. Dia bertahan satu hari di ICU akibat luka parah karena diserang orang tidak dikenal. Saat itu Alya masih berusia empat tahun. 

 “Kamu pulang saja, Bima. Ini ongkosnya. Kalau kurang, kamu kasih nomor rekening biar saya transfer.” Aku menyodorkan amplop setoran dari toko yang masih berada di saku tas bagian dalam. Lagi-lagi pemuda itu menolak.

“Sesama tetangga kita saling membantu. Bu Sari jangan sungkan untuk menghubungi saya kalau butuh bantuan. Saya permisi dulu,” ucapnya sambil menulis nomor telpon di secarik kertas.

Pemuda itu berlalu, dan tersisa aku yang menatap tubuh Alya yang tidak kunjung ada pergerakan.

Semalaman aku merapalkan doa. Memohon kesempatan Alya untuk hidup. Apapun akan aku lakukan demi satu-satunya keluargaku ini. 

Supervisor café juga datang. Dia diutus Pak Victor-pemilik cafe untuk menyampaikan menanggung biaya rumah sakit Alya. Katanya, tidak ada persyaratan, hanya bentuk tanggung jawab dan keprihatinan.

Ini sudah dua hari, tetapi tidak ada tanda-tanda kesadaran pada Alya. Penasaran, aku mencari tahu tentang keadaan Alya sebenarnya. Masih teringat kisah orang yang dioperasi yang tidak sembuh, tetapi justri tidak sadar selamanya.

Mereka mengatakan robekan di rahim dan cairan yang keluar menyebabkan keracunan organ vital. Meskipun operasi berhasil dilakukan, tetapi pendarahan hebat  menyebabkan asupan oksigen kepada otak terganggu. Beruntung nyawa Alya masih bisa diselamatkan, meskipun tidak kunjung sadar.

“Jadi kapan kira-kira anak saya bisa sadar?”

“Ibu lebih bersabar dan terus berdoa, ya,” ucapnya sambil tersenyum dan mengangguk. Senyuman yang dimataku berarti usaha menyembunyikan kemungkinan yang begitu buruk. Penjelasannya mengartikan tidak ada perkiraan waktu yang tepat.

Ini tidak boleh dibiarkan saja. Aku harus membalas apa yang terjadi pada Alya. Enak saja usai menyiksa anak orang, dia melenggang bebas tanpa hukuman.

“Dia harus dipenjara!”

Berbekal laporan medis dan bukti foto, aku berangkat ke kantor polisi. Ini harapanku jalan menghukum lelaki itu. 

“Ini kasus KDRT. Kami terima berkasnya. Tunggu sebentar saya buatkan surat permintaan visum,” ucap petugas.

Dahiku mengernyit tidak mengerti. “Apa lagi, Pak? Bukankah ini sudah jelas. Ada saksi, ada rekaman CCTV, ada korban, dan pelakunya juga sudah jelas. Ini foto anak saya masih di ICU akibat dianiaya suaminya. Anak saya sedang koma, Pak. Dia hampir mati.”

“Iya, Bu. Surat ini nanti yang menjadi dasar dokter mengeluarkan laporan visum. Setelah itu kami akan proses kelanjutannya.”

“Hah?! Masih ada lagi? Tidak langsung ditangkap dan dihukum? Kalau begini pelakunya keburu kabur, Pak.”

“Maaf. Ini prosedurnya.”

"Tapi__"

"Sekali lagi maaf."

Aku menghela napas pasrah.  Pantas saja orang di luar sana lebih memilih menviralkan kasusnya. Katanya no viral no justice. Namun, aku mempunyai cara lain. Dalam hati aku tetapkan akan mencari jalan tercepat untuk mencari keadilan.

Mata dibalas mata. Kalau perlu, dibalas nyawa.

Ponsel aku buka. Nomor telpon yang aku blokir lima belas tahun lalu aku buka kembali. Demi Alya, akan aku lakukan segalanya. Meskipun harus kembali ke masa lalu.

[Aku butuh bantuan cepat. Cari informasi tentang orang ini. Maaf sudah mengabaikan kalian selama ini]  Aku kirim pesan beserta foto Malik dan informasi lainnya.

Hanya hitungan detik pesan pun berbalas.

[Senang mendengar Bu Bos dalam keadaan sehat]

[Siap laksanakan, Bu Bos]

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nisaaja Sabar
hebat jg 15 th di blokir nomor tetap aktif dan langsung membalas.
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 91. Malam Indah

    POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 90. Pengen Nangis

    POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 89. Nakalnya Alya

    POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 88. Hari jadi

    POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 86.  

    “Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 85. Lebih Dalam

    “Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 8

    Semalaman aku memikirkan langkah apa yang harus aku ambil. Malik sudah bermain kasar. Kalau aku tetap diam, bisa jadi dia akan lebih semena-mena. Semut yang kecil saja kalau diinjak akan menggigit balik. Iya, kan?"Ini kopinya, Bu. Kopi hitam tanpa gula. Dan ini pisang gorengnya. Masih panas." Ucapa

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 4

    “Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 2

    “Alya…?!”Gegas aku beranjak, tapi wanita itu keburu menaiki motor ojek.“Kejar ojek itu, Pak!”Beruntung taxi pesananku datang. Pandanganku tidak lepas dari wanita berambut merah itu. Meskipun berusaha mendekat, tetapi kami masih terhalang beberapa kendaraan lain.“Pokoknya ikuti. Jangan sampai lo

  • Ibu Terluka, Ibu Juga yang Menjaga   Bab 1

    “Mas Malik itu sayang sama aku, Bu. Dia melakukan semuanya juga demi anak Ibu. Kenapa Ibu jadi perhitungan begini? Memangnya Ibu nggak mau aku bahagia?”Aku terkejut mendengar ucapan itu keluar dari mulut anakku sendiri gara-gara laki-laki yang baru dikenalnya selama beberapa bulan. Putriku yang ku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status