로그인“Alya…?!”
Gegas aku beranjak, tapi wanita itu keburu menaiki motor ojek.
“Kejar ojek itu, Pak!”
Beruntung taxi pesananku datang. Pandanganku tidak lepas dari wanita berambut merah itu. Meskipun berusaha mendekat, tetapi kami masih terhalang beberapa kendaraan lain.
“Pokoknya ikuti. Jangan sampai lolos!”
“Siap.”
Kendaraan berhenti karena lampu merah. Mataku menajam memastikan wanita itu benar-benar Alya. Ingin keluar dari mobil tetapi terhalang kanan dan kiri motor. Dahiku mengernyit dalam menatap pada perut buncit wanita itu. Tangannya yang memegang tas kresek hitam sesekali mengusap perut.
“Dia hamil? Tapi kenapa dia berpakaian seperti itu? Jangan-jangan…. Ah tidak mungkin!” Kepalaku menggeleng mengusir prasangka. Senakal-nakalnya Alya tidak mungkin melakukan hal menjijikkan itu. Meskipun keuanganku tidak berlebih, tetapi aku selalu memberikan sekolah terbaik untuknya. Tidak peduli berapa pun biayanya. Bekal pendidikan yang kuberikan lebih dari cukup. Meskipun, akhirnya aku menyerah karena dia tidak mau kuliah.
“Bisa lebih dekat, Pak. Saya memastikan siapa wanita itu.”
“Oh, mau lihat wajahnya? Diklakson saja, Bu.”
“Boleh, Pak.”
Mobil menyalip kendaraan lain dan sekarang tepat di belakangnya. Memanfaatkan kesempatan, klakson pun dibunyikan panjang. Benar, wanita itu menoleh dengan wajah terlihat marah. Mulutnya melafalkan umpatan.
Seakan dunia berhenti berputar, wanita itu benar-benar Alya. Anakku yang selama ini aku banggakan. Belum sempat tersadar, ojek itu melaju lebih cepat mendahului kendaraan lainnya. Kemudian tidak tertangkap pandangan lagi.
“Kita putar arah saja, Pak,” ucapku sambil menyebutkan alamat rumah.
Mobil membelah malam menyisakan aku yang bersandar lemas sambil menatap keluar jendela.
Aku mamasuki rumah dengan lesu. Harapanku benar-benar tidak tersisa. Walaupun perlakukan Alya seperti itu, setiap doaku selalu menyebutkan kebahagiaannya. Akan tetapi melihat penampilannya, tidak menunjukkan dia baik-baik saja. Alya ku yang cantik dan polos hilang dibalik polesan make-up tebal dan baju yang menggoda.
“Apa yang terjadi kepadamu, Nak?”
Perut buncit, mengenakan baju bak pelac*r, dan menggunakan ojek. Dulu Alya dijemput Malik menggunakan motor balap yang katanya harganya ratusan juta. Itu yang selalu dijadikan pertanda kalau Malik adalah anak orang kaya. Namun, kenapa laki-laki itu tidak terlihat lagi?
“Aku harus mencari Alya! Tidak akan kubiarkan anakku di tangan lelaki bejat itu!”
**
Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku meninggalkan toko kue.
Semalam, informasi tentang Malik aku cari di kamar Alya. Mulai dari foto, sampai media sosial yang terhubung dengan Alya. Foto terakhir terlihat mereka berdua di café tempat aku memergoki Alya. Itu yang menjadi tempat awal pencarianku.
Dengan bantuan Pak Chef, aku dikenalkan dengan supervisor bar. Dia langsung mengenali Alya dan Malik dari foto yang aku tunjukkan.
“Jadi ini putri ibu?”
“Iya. Dia meninggalkan rumah untuk menikah dengan laki-laki ini.”
Supervisor itu menghela napas. Tatapannya terlihat penuh arti. “Ibu harus segera menyelamatkan putri ibu.”
“Ke-kenapa? Apa yang terjadi pada anak saya?”
Dia tidak menjelaskan secara gamblang. Hanya memberi tahu kalau Malik bukan orang baik dan Alya dalam bahaya.
“Saya tidak bisa membantu lebih, karena hanya itu yang saya tahu. Tetapi kalau mereka datang kembali, pertama yang saya lakukan adalah menghubungi Bu Sari.”
Tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu. Ini sudah dua hari dan tidak ada kabar apapun. Namun, saat aku akan beranjak tidur, ponsel yang aku set-up volume tertinggi pun berbunyi.
“Segera datang ke café, Bu! Putri ibu ada di sini bersama laki-laki itu.”
Gegas aku berganti pakaian sambil menatap pesanan taxi online yang tidak kunjung disambut. Jarum jam mendekati tengah malam, pasti jarang ada yang mau menerima pesananku.
“Permisi. Maaf, Mas ini putranya Bu Nunung?” Kuberanikan diri menghampiri laki-laki berjaket kulit yang memarkir motor di tetangga sebelah. Mereka lah yang membawaku ke rumah sakit saat tak sadarkan diri dulu.
Laki-laki itu, membuka helm kemudian mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Kenalkan saya Bima anaknya Bu Nunung. Ini Bu Sari yang ….”
“Iya. Bisa tolong antar saya? Ini penting sedangkan pesanan ojek tidak ada yang menerima.”
“Hmmm…?”
“Tolong. Saya mohon, Mas Bima. Berapapun biayanya saya bayar.”
Pemuda itu terdiam sejenak kemudian mengangguk. “Baik, Bu. Ini pakai helmnya.”
Dia mengernyit ketika aku menyebutkan alamat. Namun, kemudian melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata.
“Saya masuk. Mas Bima bisa tunggu atau pulang duluan boleh. Ini biayanya.”
Dia mendorong tanganku. “Saya tunggu saja, Bu. Biayanya nanti sekalian.”
Tanpa membuang waktu aku berlari. Supervisor café langsung menyambut yang mengarahkan ke ruangan di sebelah ujung. Aku berpapasan dengan lelaki yang terlihat kaya, diikuti dua pengawal. Telingaku menajam mendengar umpatan mereka.
“Kurang ajar! Katanya barangnya bagus, ternyata bunting! Jual mahal lagi!”
“Tapi kan cantik dan sexy, Bos.”
“Buat apa? Dia menolak yang aku suruh! Diraba dikit saja tidak mau!”
“Maaf, Bos.”
“Mana bisa maaf saja. Minta kembali pembayaran depositnya! Tambahkan biaya pesan kamar hotel yang tidak jadi. Mengecewakan! Cari yang lain! Sexy dan hot! Tapi jangan yang kampungan!”
Langkah aku percepat setelah sadar kalau mereka keluar dari ruangan yang disebutkan supervisor. Tubuhku bergetar saat suara mohon ampun terdengar. Kedua kaki ini beku di depan pintu yang terbuka sedikit.
“Jangan.... Jangan pukul aku, Mas.”
“Makanya nurut sama suami! Disuruh gitu saja tidak mau! Dasar wanita tidak berguna!”
"Mas, sadar aku istrimu!"
"Justru itu. Aku tahu seberapa liarnya kamu saat di ranjang. Dan itu sangat layak untuk diuangkan."
"Aku bukan pelacur!"
"Apa susahnya kamu melayani seperti biasanya, hah! Harus aku kasih obat perangsang dulu?"
"Aku tidak mau lagi!"
"Bantah saja!"
Bugh! Bugh! Bugh!
Suara pukulan terdengar disela rintihan. Dengan kekuatan yang tersisa, pintu aku dorong. Seketika mataku terbelalak melihat Alya meringkuk di lantai. Kedua tangannya melindungi kepala, sedangkan Malik melayangkan tendangan.
Vas bunga di sebelah pintu aku raih dan layangkan tepat di kepala laki-laki itu. Dia mengaduh sambil menangkup kepala. Seperti orang gelap mata, aku layangkan tas bertubi-tubi. Tidak peduli dengan isi yang berhamburan. Kegilaanku terhenti saat mendengar jeritan Alya yang kesakitan.
“Da-darah. Tolong! Tolong!” Dari kakinya mengalir darah segar. Aku memangku kepala Alya yang mulai lemah.
“I-ibu?” Mata Alya terbelalak. Pasti dia terkejut aku tiba-tiba ada di sini.
“Tenang, Alya. Ibu ada di sampingmu.”
“Maafkan Alya.” Aku mengangguk sambil mengusap tangannya yang terasa dingin. "Aduh! Sakit sekali." Tangan Alya membekap perut.
Supervisor beserta anak buahnya datang dan memberi pertolongan. “Tenang, Bu Sari. Ambulan segera datang.”
Pandanganku mengitari ke sekeliling. Tidak aku dapati si Malik itu. Dia harus mempertanggung jawabkan perlakuannya ini.
Sungguh, aku tidak terima!
***
POV Author“Alya bagaimana?” Sari menoleh ke arah Wira yang mengepas jas pesanan yang baru datang.Mereka sedang menyiapkan diri di villa. Gaun yang akan dikenakan Sari pun juga sudah siap. Warna biru tua berbahan satin, senada dengan kemeja yang nanti dikenakan suaminya.Wira mendekat ke istrinya yang sedang bersiap didandani oleh orang salon. “Tenang, Sayang. Alya bersama orangku.”“Lalu bagaimana nanti? Kita menggunakan baju bagus begini, sedangkan Alya__”“Semua sudah aku atur. Kamu tinggal terima beres. Okey?” Wira menunduk, mencium lembut kening istrinya sambil berbisik, “Pokoknya bumil tenang, yap. Jangan banyak kepikiran. Dibikin senang saja, biar dedek bayi ikutan bahagia.”Meskipun awalnya ragu, akhirnya Sari mengangguk juga. Tangan Wira mempersilakan perias untuk melanjutkan tugas.Saat Sari dirias, Wira memeriksa sekali lagi pesanan pakaian dan perlengkapannya. Dahinya berkerut saat mendapati sepatu yang akan dikenakan Sari.“Kenapa high hell?”“Ini ukuran dan model yang bi
POV Alya-Putri Sari Dalam hati aku menggerutu. Dia bilang lelaki normal, tetapi dia tidak tergoda sedikitpun. Bahkan sepanjang jalan ngomel.“Jangan ulangi lagi seperti itu. Apalagi kepala lelaki lain. Berbahaya.”Aku mendengkus. “Siapa juga. Aku begitu juga sama pacar sendiri.”“Meskipun begitu, status pacar itu bukan berarti aman. Lelaki itu gampang terpancing, jadi kamu harus memagari diri sendiri. Begitu juga sama teman laki-laki di kampus. Jaga jarak.”“Kenapa?”“Al, laki-laki itu dikasih senyuman saja menerima kalau itu undangan untuk dekat. Apalagi kalau kamu mepet-mepet dia. Otak laki-laki itu ngeres, tahu. Jangan sampai kamu dijadikan bahan imaginasi mereka.”“Tapi kan bukan aku yang salah, tetapi otak mereka yang konslet.”“Yah, kenyataannya di dunia banyak sekali lelaki yang seperti itu. Tidak mungkin kamu mengubah mereka. Yang bisa dilakukan jaga diri sendiri.”Senyumku mengembang. Kekasihku kali ini bukan lelaki seperti kebanyakan. Dia begitu menjagaku meskipun tidak ber
POV Alya-Putri Sari "Ibu mana, Mbak?” Pegawai toko kue yang aku colek terlihat terkejut. Dia menoleh dan menatap teman lainnya. Aku mengeryit mencium sesuatu yang aneh.“Oh, Bu Sari. Beliau sedang ada urusan penting. Katanya tidak boleh diganggu. Ini saja kami diperintahkan buka setengah hari,” sahut supervisor yang baru saja bergabung.“I-iya. Betul. Tadi Bu Sari bilang. Kami hanya buka sebentar karena ada pelanggan yang ambil pesanan,” timpal pegawai lainnya.Aku menghela napas, mengangguk, kemudian kembali ke rumah. Aku pikir ibu ada urusan penting karena ada pesanan di toko, ternyata entah kemana perginya. Apa mungkin bersama Papa Wira, ya?Pupus niatku pamer keberhasilan ini. Kembali aku memasukkan ponsel ke saku. Tidak lama, aku sudah tidak sabar lagi.“Lebih baik aku kirim pesan saja ke Ibu dan Papa Wira,” gumamku sambil mengeluarkan ponsel kembali.Tanganku menulis dengan senyum mengembang, tetapi kenapa air mata ini menetes dengan sendirinya? Huuft!Ada pesan dibalas. Harapa
POV Alya-Putri Sari "Ibu….” Pelan aku membuka pintu kamarnya. Melongokkan kepala mengamati ruangan yang lengang. Selimut di atas tempat tidur terlihat baru saja dipakai, tidak di posisi dilipat.“Ibu! Ibu!” Kali ini suaraku lebih keras. Tidak ada jawaban. Aku masuk dan merapatkan telinga ke pintu kamar mandi. Tidak ada tanda aktifitas. Kubuka pintu kamar mandi untuk memastikan. Tidak ada bekas lantai basah atau handuk kotor.Aku menatap layar ponsel yang menunjukkan pengumuman kemenanganku dalam lomba karya ilmiah. Keinginanku melihat binar di mata ibu pun pupus. Padahal aku berharap ini.Kali terakhir aku membanggakan ibu saat SMA kelas dua. Saat itu kenaikan kelas tiga dan aku mendapat nilai terbaik sekolah. Pengumunan di pesta perpisahan kakak kelas. Aku masih ingat, ibuku sampai tiga kali naik panggung mendampingiku karena ada dua kejuaraan yang menjadi prestasiku. Saat itu, senyum ibu mengembang sempurna. Binar matanya meluruhkan sorot lelah di hari biasanya.“Ibu ada urusan pent
“Aku takut.” Tanganku memegang erat tangan Mas Wira.“Aku disini, Sar. Apa yang ditakutkan? Hmm?” Kedua tangannya menangkup pipiku.Menatap binar di matanya semakin tebal ketakutanku. Iya kalau ini benar? Kalau tidak? Bukankah hanya menuai penyesalan. Sesaat setelah mendengar ucapanku tadi, dia langsung pergi sendiri ke apotek. Satu kresek dia membeli test kehamilan dengan berbagai merk.Saat Mas Wira pergi aku mencoba mencari tahu. Ada kemungkinan aku hamil, tetapi ada kemungkinan besar tidak datang bulan karena aku menopause.Ya, menopause yang menandakan waktuku menjadi wanita sesungguhnya sudah berakhir.“Mas… bagaimana kalau ini bukan karena kehamilan?”Suamiku tersenyum lebar. “Tidak mungkin, Sar. Wanita itu tidak mendapatkan periode bulanan ya karena hamil. Alasan apa lagi? Kamu sehat dan baik-baik saja.”Aku menggeleng. “Kalau ini karena aku sudah menopause bagaimana?”Lagi-lagi suamiku tersenyum dan menggeleng. “Tidak, Sar. Wanita menopause itu gairahnya menurun. Sedangkan ka
“Mas Wira, ada yang kurang.” Aku menatap suamiku yang sedang konsentrasi mengemudi. Barusan dia menjemputku di café. Fitri pun pulang segera, katanya dia juga akan mempersiapkan kejutan untuk Alya.“Apa?”“Bima.”“Dia?” tanya Mas Wira sambil menoleh sebentar, kemudian kembali tertuju pada jalanan. Hari ini jalan begitu macet.“Iya. Maksudku, aku ingin bicara dengannya. Kamu suruh penjemput pengganti Alya.”“Sekarang?”“Iya, Mas. Masak lebaran. Kita tunggu di villa saja supaya bisa leluasa bicara. Aku sebagai ibunya Alya ingin memastikan bagaimana perasaannya kepada Alya. Aku harus mengoreknya lebih dalam.”Mobil pun bertambah kecepatan saat ada celah untuk mendahului. Mas Wira mengirim anak buahnya seperti yang aku ucapkan. Kemudian dia menelpon Bima secara langsung, mengatakan kalau ada tugas untuk keluar kota.“Sekarang, Bima. Ini urgent!” Aku yang di sampingnya berusaha tidak berbuat suara.“Siap, Bos. Lapor pengganti saya juga sudah sampai.” Suara Bima terdengar.“Sebelum berkema
Kesabaranku tidak berbanding lurus dengan proses hukum. Meskipun sudah dijelaskan kebebasan Malik dalam pengawasan, aku tetap tidak terima. Enak saja anakku masih belum sadar di rumah sakit, tapi dia sudah menghirup udara bebas.“Sabar, Sari. Ikuti prosesnya dan belajarlah bersabar,” bisik hatinya
Aku menggenggam tangan Alya yang masih di posisi semua. Belum ada kemajuan, tetapi tidak ada penurunan kondisi. Sama.“Tuhan, aku memang bukan orang sempurna, tetapi aku selalu berusaha tidak merugikan orang lain. Yang aku minta satu, berilah kesempatan aku bersama dengan anakku dalam kesehatan dan
“Haruskah aku kembali ke masa lalu?” Aku menggeleng sambil menghela napas, kemudian mengambil cangkir meneruskan niatku menyeduh kopi.”Ini keputusan sulit setelah aku menemukan kedamaian seperti orang normal.” Aku terhenyak dari lamunan. Air di atas kompor sudah mendidih. Tuangan pertama ke dalam
~ JANGAN COBA-COBA MENCARIKU. KECUALI SIAP HIDUPMU HANCUR SEPERTI TOKOMU SEKARANG. CAMKAN! ~ Pesan ancaman tanpa inisial. Meskipun begitu, aku tahu siapa dia. Pasti si brengsek Malik. Pandanganku mengitari ke sekeliling. Kue yang semula tertata rapi sekarang berantakan bercampur dengan serpihan k







