Startseite / Fantasi / Ibu yang Cerdik / 002 || Ayo Lari!

Teilen

002 || Ayo Lari!

last update Veröffentlichungsdatum: 17.03.2026 12:44:25

“Ayo lari Dion!”

Sarah menarik Dion yang mematung ketakutan saat melihat para preman itu berteriak ke arah mereka.

Kejar-kejaran pun tidak bisa terelakkan. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang penasaran, mereka menerobos kerumunan dengan panik. Bahkan beberapa kali mereka nyaris tertabrak mobil, baik Sarah maupun kelompok preman itu tidak berniat berhenti.

Kekesalan yang disertai makian para penduduk pun juga ikut mengiringi kekacauan mereka.

“Sialan! Apa sih yang dilakukan janda itu sampai bisa berbuat seenaknya begitu? Apa dia ingin mati?!”

“Padahal diam saja mengganggu, sekarang malah bertingkah di jalanan begitu!”

“Hei, apakah kalian tidak lihat dia dikejar beberapa orang yang terlihat seperti preman? Wajar saja dia menabrak kita karena lari-lari.”

“Oh, jadi kau mau membelanya?! Aku yakin para preman itu adalah rentenir. Sudah kubilang, wanita tanpa suami tapi memiliki anak itu bukanlah orang baik!”

Berbagai macam tuduhan dan makian dilontarkan oleh orang-orang yang bertetangga dengan Sarah.

Sarah terlalu pendiam dan tidak peduli pada sekitarnya, membuat banyak orang merasa tidak puas sekaligus menganggap dia sombong. Padahal Sarah hanya tidak mau mereka terlibat dengan kehidupannya saja.

Meski begitu, lontaran kata-kata mereka tidak mencapai telinganya. Sarah tidak pernah berniat berhenti lari dari pengejaran itu. Dia juga tidak peduli pada sekitarnya.

Bahkan ketika Dion mulai tidak bisa mengimbangi kecepatannya, Sarah menyeret Dion untuk terus bergerak. Mereka sedikit unggul karena jarak antara mereka dan para preman itu jauh.

“Sialan! Wanita itu terlalu cepat!”

“Apa yang kalian keluhkan, cepat tangkap mereka!”

Napas Sarah tidak beraturan. Meski preman itu sedikit kepayahan karena cara lari Sarah yang berbelok-belok, tapi Sarah pun tidak bisa menjamin bahwa staminanya tidak akan terkuras habis.

“Ibu … kapan kita berhenti?” tanya Dion dengan napas yang juga tak kalah berantakan, matanya pun menyipit nyaris tertutup.

“Kita akan mencapai terminal sebentar lagi, setelah itu langsung masuk kereta,” balas Sarah dengan suara terputus-putus.

Tujuannya tidak bukan lagi bus, melainkan kereta api.

Setelah menyeberang ke jalan utama yang lebar, baru lah Sarah mulai bersembunyi di sudut toko maupun gang. Dia berhasil meninggalkan para preman itu tanpa meninggalkan jejak.

Sarah kemudian duduk di gerbong kereta dengan keringat yang masih mengucur deras, lalu mengeluarkan ponsel mati dari tas-nya. Setelah menghidupkan ponsel itu, Sarah langsung menghubungi nomor yang paling dia kenal bahkan setelah sepuluh tahun pelariannya.

Panggilan itu tersambung setelah berbunyi sebentar, “Hei, kau kah itu?”

“Ini aku,” jawab Sarah masih mencoba mengatur napas.

“Ini sungguh dirimu?!” pekik Devan merasa tak percaya. Laki-laki itu pun merasa senang tak terbayang, “Wah, gila! Ternyata aku masih bisa–”

“Aku butuh bantuanmu sekarang,” potong Sarah saat Devan berbicara.

Mata Sarah melirik sekitarnya saat dia berbicara dengan tenang dan hati-hati , “Berikan aku tempat tinggal sementara ini. Aku akan menjelaskannya setelah semuanya kurasa aman.”

“Wah, apa yang terjadi denganmu?! Bukankah sudah sepuluh tahun kau menghilang? Seharusnya kau sudah aman sejak kepergianmu itu, kan?”

“Mungkin ada yang menemukanku saat ini. Jadi aku harus mencari tempat aman dulu,” ujar Sarah menjelaskan dengan singkat. “Aku berada di pinggir kota Silvina sekarang.”

“Baik, aku akan menyiapkan–”

Sarah mematikan sambungan telepon tanpa menunggu Devan berbicara. Dia juga langsung menonaktifkan ponsel itu dan melemparkannya ke dalam tas.

Sarah percaya, tanpa Devan menjelaskannya pun, rekan kerjanya dulu itu pasti bisa menyelesaikan masalah tempat tinggalnya dalam waktu dekat.

Setelah dirasa tenang, baru saat itulah Sarah menoleh ke arah Dion yang duduk di sampingnya dengan kepala tertunduk.

“Apa kau takut?”

Dion melirik Sarah yang melontarkan pertanyaan itu, “Sedikit.”

Alis Sarah naik sedikit, “Hanya itu?”

“Waktu kecil ibu sudah sering pindah sampai usiaku 5 tahun. Jadi, kepindahan kali ini pun tidak terlalu membuatku takut,” jelas Dion.

“Aku hanya terkejut ada preman yang mengejar kita sebelumnya,” lanjut Dion dengan suara kecil.

Sarah memperhatikan putranya dalam diam. Sejak kecil, atau mungkin sudah dari bayi, Dion adalah anak yang pengertian. Tidak pernah sekali pun dia mengeluh tentang pilihannya. Dia bahkan tidak bertanya kenapa para preman itu mengejarnya, dia hanya terkejut sesaat seolah itu pasti terjadi.

“Kau tidak mau menanyakan sesuatu pada ibu?”

Dahi Dion berkerut dalam, “Aku bingung mau bertanya bagaimana.”

“Kalau begitu jangan tanyakan apapun,” kata Sarah seraya menghela napas.

“Istirahat lah sebentar. Setelah itu kita bisa mencapai tujuan dan bertemu dengan teman ibu.”

Dion tidak menjawab. Anak itu hanya mengangguk pelan, lalu memejamkan matanya untuk melepas lelah.

Sarah juga memejamkan matanya. Kilatan masa lalu berputar di kepalanya. Namun, itu hanya dia jadikan bunga tidur sementara, sebelum kenangan itu menjadi gelap tanpa bayangan yang tersisa.

Kereta akhirnya berhenti tepat saat Sarah membuka matanya. Dia kemudian membangunkan Dion lalu keluar dari kereta bersama.

Saat Sarah hendak mengambil langkah menjauh dari kereta, seorang pria penuh semangat melambaikan tangan ke arahnya dengan melompat-lompat heboh.

“Hei, aku di sini!”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Ibu yang Cerdik   007 || Kau Gila?!

    Dion mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya, “Ibu yakin aku bisa bersekolah seperti biasa?”Sarah bisa merasakan ketidaknyamanan dari nada suara Dion. Memiliki anak yang bisa berbagi perasaan khawatir seperti ini sungguh melegakan, tapi juga mengkhawatirkan. Tidak seharusnya anak sekecil itu berbicara penuh kekhawatiran seperti orang dewasa.Sarah duduk di sofa ruang tamu untuk melepas, lalu berkata, “Ibu sudah mengatakannya sebelumnya, kan?”“Pekerjaan ibu memang beresiko tinggi. Jadi, permintaan ibu pada klien sebelumnya itu bisa diterima. Keluarga mereka juga terkenal memegang kata-katanya, jadi kamu tidak perlu khawatir.”“Bukan itu yang kumaksud.”Dion menundukkan kepala, “Justru karena pekerjaan ibu beresiko, apakah nantinya kita akan mengalami hal seperti sebelumnya?”Sarah memandangi Dion yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk. Entah pahala apa yang dia miliki sebelumnya sampai bisa mendapatkan anak yang berbakti seperti ini. Dion sangat pengertian.Sarah menjadi me

  • Ibu yang Cerdik   006 || Terasa Familiar

    “Tolong maafkan kekasaran saya sebelumnya,” ujar Harris sambil membungkukkan badannya sedikit. Sikapnya itu bahkan mengejutkan sang asisten yang sudah lama bersamanya.“Saya seharusnya tidak bersikap picik seperti itu,” lanjutnya sambil menatap Sarah. “Jika berkenan, bolehkan saya mengetahui permintaan Anda lebih lanjut?”“Saya akan menyesuaikan isi kontraknya setelah ini sesuai kemampuan kami.”Sarah terdiam di tempatnya, agak terkejut karena Harris mau menurunkan egonya hanya untuk mempertahankannya. Padahal Sarah mengira Harris adalah orang yang sombong dan tidak mau mengalah. Namun, Sarah juga menyukai pendekatan yang seperti ini.Sarah bertingkah seolah mempertimbangkan tawaran itu, lalu menoleh ke arah Harris dengan senyum yang memperlihatkan kemenangannya tanpa terselebung. “Kalau begitu, kita bisa melanjutkannya.”Harris mengangguk dan mereka kembali duduk di tempat semula. Dalam hati Harris mengakui, Sarah memang pemenangnya di sini. Dia terlalu sibuk menikah Sarah sampai lu

  • Ibu yang Cerdik   005 || Pembahasan Kontrak

    Sarah duduk diam tanpa melirik sedikit pun ruang tamu yang akan menjadi saksi untuk mendapatkan kontraknya nanti. Dia lebih memilih untuk berpikir bagaimana cara untuk bisa mendapatkan kontrak dengan syarat tambahan yang nantinya akan dia ajukan.Melihat ibunya sebagai contoh, Dion juga diam di sampingnya. Hanya sesekali meminum minuman dan makanan yang tersaji di meja di depannya. Walaupun dia ingin sekali melihat sekeliling ruangan yang berada di lantai atas gedung tinggi.Ketika waktu terus mengalir tanpa tahu berapa lama, barulah Sarah mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Dua orang memakai jas datang ke arahnya.Ketika Sarah mendongak, matanya yang hitam langsung bertemu pandang dengan mata biru terang yang memikat. Untuk sesaat, Sarah nyaris kehilangan ketenangannya.“Halo, apakah ini Nona Sarah?” tanya Harris sambil mengulurkan tangan sebagai sambutan.Sarah berdiri dan meraih tangan yang terasa dingin itu, “Ya, ini saya. Senang bertemu dengan Anda.”“Senang bertemu deng

  • Ibu yang Cerdik   004 || Menarik

    “Jadi … mereka memburuku hanya karena itu?”“Kenapa kau terlihat tidak percaya begitu?” tanya Devan saat melihat ekspresi Sarah yang berlebihan.“Bukankah wajar jika mereka mencarimu saat tahu kau hidup dan hanya bersembunyi?”“Ya … tapi tetap saja,” kata Sarah masih belum sepenuhnya menerima fakta itu.Setelah mendapatkan tempat tinggal sendiri, Sarah bisa beraktivitas seperti biasanya. Dia juga mendapat informasi terkait alasan dia dicari oleh para preman itu.Alasan pertama jelas karena ingin membunuhnya agar kemampuannya tidak bisa lagi digunakan, apalagi dipelajari orang lain. Namun, dia juga bisa selamat karena ada beberapa orang masih membutuhkan kemampuannya. Sebab itulah pelariannya waktu itu tidak terlalu ekstrim.“Lalu bagaimana setelah kau tahu jika semuanya seperti ini?” tanya Devan sambil melirik Dion yang membaca buku usang di dekat Sarah.Devan masih belum menerima Dion di sisi temannya itu. Apalagi hidup Sarah sudah sulit untuk sendiri, malah melibatkan anak kecil la

  • Ibu yang Cerdik   003 || Sepuluh Tahun?!

    Sarah mendekati Devan yang tersenyum lebar ke arahnya. Saat jarak di antara mereka menipis, Sarah mulai mengerutkan kening saat menatap wajah Devan yang menampakkan mata panda yang parah.“Apa yang terjadi denganmu?”Pertanyaan Sarah itu membuat Devan sedikit tersedak. “Memangnya aku kenapa?”Saat dia bertanya, tangannya juga meraba wajah serta mencium bau badannya sendiri. “Aku tidak bau, kok,” katanya dengan bangga, mengira Sarah tidak nyaman dengan bau badannya.Dia bahkan menyodorkan ketiaknya ke arah Sarah. “Nih, coba cium! Aku sudah mandi tadi. Kau pasti tidak–”“Sudahlah, terserah kau saja,” potong Sarah dengan kesal.Berbicara dengan Devan memang harus mendetail, tapi dia terlalu malas untuk melakukannya.Devan mencebik tidak senang, “Kita sudah lama tidak bertemu, tapi kelakuanmu masih sama menyebalkan seperti dulu.”Masih dengan wajah cemberut, matanya tanpa sadar melirik seorang anak kecil di samping Sarah yang menatapnya dalam diam. Mata Devan berkedip penasaran dan curi

  • Ibu yang Cerdik   002 || Ayo Lari!

    “Ayo lari Dion!”Sarah menarik Dion yang mematung ketakutan saat melihat para preman itu berteriak ke arah mereka.Kejar-kejaran pun tidak bisa terelakkan. Tanpa mempedulikan tatapan orang-orang yang penasaran, mereka menerobos kerumunan dengan panik. Bahkan beberapa kali mereka nyaris tertabrak mobil, baik Sarah maupun kelompok preman itu tidak berniat berhenti.Kekesalan yang disertai makian para penduduk pun juga ikut mengiringi kekacauan mereka.“Sialan! Apa sih yang dilakukan janda itu sampai bisa berbuat seenaknya begitu? Apa dia ingin mati?!”“Padahal diam saja mengganggu, sekarang malah bertingkah di jalanan begitu!”“Hei, apakah kalian tidak lihat dia dikejar beberapa orang yang terlihat seperti preman? Wajar saja dia menabrak kita karena lari-lari.”“Oh, jadi kau mau membelanya?! Aku yakin para preman itu adalah rentenir. Sudah kubilang, wanita tanpa suami tapi memiliki anak itu bukanlah orang baik!”Berbagai macam tuduhan dan makian dilontarkan oleh orang-orang yang berteta

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status