로그인Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat.Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi.Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu."Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram."R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin."Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima.""Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin."Betul juga."A
Sekitar pukul satu dini hari, Guntur tiba kembali di rumah persembunyian. Abram yang sejak tadi mondar-mandir langsung menghampirinya. Ia terlihat panik melihat sahabatnya tampak menahan sakit."Kau terluka?""Hanya memar."Edwin segera membawa kotak P3K, sementara dr. Maya memeriksa bahu Guntur yang terjatuh akibat mengindari kejaran dari orang-orang yang tidak ia kenal di tempat tersebut.Ia tak menyangka akan ada orang-orang selain dirinya yang sedang mencari dan mengintai gudang itu."Untung tidak patah," ujar dr. Maya setelah selesai memeriksa."Istirahat beberapa hari seharusnya pulih." Imbuh dr. Maya."Aku tidak punya waktu untuk istirahat," jawab Guntur pelan.Ia kemudian mengeluarkan buku kecil dari saku jaket, meletakkannya di atas meja, lalu menceritakan semua yang dialaminya malam itu.Suasana ruangan menjadi hening ketika ia menyebut nama Paket Alpha dan rencana pemindahannya pada 9 Agustus pukul 02.00 WIB. Edwin langsung membuka laptop."Lihat ini."Beberapa menit kemudi
Malam kembali turun perlahan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang masih basah setelah hujan sore.Cuaca tahun ini memang tidak bisa diprediksi. Meskipun sudah musim panas, namun kadang hujan masih saja turun. Di rumah persembunyian, Abram, Edwin, dan dr. Maya masih sibuk menyusun kemungkinan rencana penyusupan ke PT Arunika Logistik Nusantara. Namun Guntur memiliki pemikiran lain."Aku keluar sebentar," ucapnya singkat sambil mengenakan jaket hitam. Abram menoleh."Mau ke mana?""Mencari jawaban.""Sendirian?" Tanya Abram mempertegas lagi. Guntur mengangguk."Kalau kita bergerak berempat, terlalu mencolok. Lagi pula, pekerjaanku dulu memang seperti ini."Abram terlihat ingin mencegahnya, tetapi akhirnya menghela napas. Ia hampir lupa bahwa pekerjaan memang seperti itu. Dari awal dia memang dibayar untuk memecahkan kasus berat ini.Namun seiring berjalannya waktu, kini ia tak meminta bayaran lagi dari Abram. Kali ini ia murni ing
Pagi berikutnya, langit masih diselimuti awan kelabu ketika keempatnya kembali berkumpul di ruang tamu. Aroma kopi hitam yang harus saja diracik oleh dr. Maya memenuhi ruangan, sementara laptop Edwin telah dipenuhi puluhan jendela berisi data dan peta digital."Aku mulai menelusuri PT Arunika Logistik Nusantara sejak tadi malam," kata Edwin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar."Hasilnya?" tanya Abram. Edwin menarik napas pelan."Perusahaan ini seperti sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian." Jawabnya sambil memperbesar tampilan sebuah peta."Alamat kantor pusat yang terdaftar berada di kawasan pergudangan pinggiran kota. Gudangnya kecil, jumlah pegawai resminya hanya belasan orang, dan omzet yang dilaporkan biasa saja." Imbuhnya."Tapi itu cuma kedok?" sela Guntur. Edwin mengangguk."Kalau hanya melihat dokumen resmi, semuanya tampak bersih. Namun ketika aku mencocokkan data pengiriman dengan catatan yang ada di dokumen Proyek Kabut, muncul pola yang aneh.""Pola apa?""Set
Hening yang menyelimuti ruang tamu terasa jauh lebih mencekam daripada suara hujan di luar. Tidak seorang pun berbicara. Mata mereka masih terpaku pada layar laptop yang memancarkan cahaya redup. Edwin akhirnya memecah kesunyian. "Ada halaman terakhir." Ucapnya. Abram segera mendekat. "Buka." Edwin menggulir dokumen hingga bagian paling bawah. Berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya yang dipenuhi penjelasan, halaman terakhir hanya berisi beberapa kalimat singkat. "STATUS PAKET ALPHA : TERPISAH MENJADI ENAM FRAGMEN. Lokasi setiap fragmen hanya diketahui Ketua dan Dewan Bayangan." "Enam fragmen..." gumam Guntur. "Berarti memang benar. Paket Alpha yang asli belum pernah disimpan utuh di satu tempat," lanjut Edwin. Abram mengusap wajahnya pelan. "Kalau begitu, file ini hanyalah petunjuk." "Ya. Ini seperti buku panduan yang menjelaskan isi Paket Alpha, bukan Paket Alpha itu sendiri." Kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu. Mereka semua mulia berpikir untuk mengambil langkah
Hujan belum juga reda. Suara rintiknya berpadu dengan dengungan kipas angin tua yang berputar lambat di sudut rumah persembunyian. Abram masih berdiri sambil memikirkan tentang proyek kabut yang dibangun oleh kelompok kapak hitam.Selama berbulan-bulan Abram masih belum menemukan pembunuh Anita. Namun dia menemukan sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang jauh lebih rumit dari perkiraan. Yang ia hadapi bukan kelompok biasa, namun kelompok besar yang misinya tidak main-main."Ada yang mengganjal," katanya pelan sambil menatap wajah Guntur. Guntur pun mengangkat kepala."Apa?""Kalau semua tahap sudah disiapkan bertahun-tahun, kenapa mereka belum bergerak?""Karena mereka masih menunggu sesuatu." Jawab Edwin.Lalu Abram mengingat kembali bahwa Prioritas utama adalah mengamankan Paket Alpha. Ia menatap Edwin."Menurutmu apa sebenarnya Paket Alpha?""Aku belum tahu." Edwin menggeleng."Tapi satu hal yang pasti. Paket itu jauh lebih penting daripada semua gudang dan seluruh safe house." Lanj
Keesokan harinya, Abram duduk di meja kerja kamarnya menatap berkas laporan itu untuk kesekian kalinya. Setiap kata di dalamnya terasa ganjil, seolah disusun terburu-buru. Keterangan saksi tak lengkap, hasil autopsi tertutup sebagian, dan laporan kronologi berubah dari versi pertama yang ia terima.
Keesokan harinya, Abram sudah berada di depan gudang yang dimaksud Agha. Gudang tua di pinggir kota itu tampak kumuh, berkarat, dan dikelilingi rumput liar. Hujan masih menetes dari atap seng yang bocor, menimbulkan suara gemericik yang bergema di dalam ruangan. Lampu gantung tua menjadi penerang.
Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan
Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn







