Home / Lainnya / Ikrar Dendam / Bab 40 - Menemui Eriko

Share

Bab 40 - Menemui Eriko

Author: Faiz Achmad
last update publish date: 2026-05-28 23:24:23

Keesokan paginya, setelah memastikan kondisi Edwin cukup stabil, Abram memutuskan meninggalkan klinik untuk sementara. Ia harus mencari jawaban atas isi map yang ditemukan di gudang senjata Kapak Hitam.

Satu-satunya orang yang terlintas di pikirannya adalah Eriko, kakak Anita. Mungkin ada sesuatu yang belum pernah diceritakan Anita kepada siapa pun. Dengan mengendarai motor yang ia pinjam di klinik, Abram menuju rumah Eriko. Lelaki itu tampak terkejut ketika melihatnya datang pagi-pagi.

"Abram,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ikrar Dendam    Bab 69 - Misi penyelamatan

    Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-

  • Ikrar Dendam    Bab 68 - Pak Bima diculik

    Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B

  • Ikrar Dendam    Bab 67 - Sentinel Consulting Group

    Sekitar pukul satu dini hari, Guntur tiba kembali di rumah persembunyian. Abram yang sejak tadi mondar-mandir langsung menghampirinya. Ia terlihat panik melihat sahabatnya tampak menahan sakit."Kau terluka?""Hanya memar."Edwin segera membawa kotak P3K, sementara dr. Maya memeriksa bahu Guntur yang terjatuh akibat mengindari kejaran dari orang-orang yang tidak ia kenal di tempat tersebut.Ia tak menyangka akan ada orang-orang selain dirinya yang sedang mencari dan mengintai gudang itu."Untung tidak patah," ujar dr. Maya setelah selesai memeriksa."Istirahat beberapa hari seharusnya pulih." Imbuh dr. Maya."Aku tidak punya waktu untuk istirahat," jawab Guntur pelan.Ia kemudian mengeluarkan buku kecil dari saku jaket, meletakkannya di atas meja, lalu menceritakan semua yang dialaminya malam itu.Suasana ruangan menjadi hening ketika ia menyebut nama Paket Alpha dan rencana pemindahannya pada 9 Agustus pukul 02.00 WIB. Edwin langsung membuka laptop."Lihat ini."Beberapa menit kemudi

  • Ikrar Dendam    Bab 65 - Mencari Jawaban

    Malam kembali turun perlahan. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya kekuningan di jalanan yang masih basah setelah hujan sore.Cuaca tahun ini memang tidak bisa diprediksi. Meskipun sudah musim panas, namun kadang hujan masih saja turun. Di rumah persembunyian, Abram, Edwin, dan dr. Maya masih sibuk menyusun kemungkinan rencana penyusupan ke PT Arunika Logistik Nusantara. Namun Guntur memiliki pemikiran lain."Aku keluar sebentar," ucapnya singkat sambil mengenakan jaket hitam. Abram menoleh."Mau ke mana?""Mencari jawaban.""Sendirian?" Tanya Abram mempertegas lagi. Guntur mengangguk."Kalau kita bergerak berempat, terlalu mencolok. Lagi pula, pekerjaanku dulu memang seperti ini."Abram terlihat ingin mencegahnya, tetapi akhirnya menghela napas. Ia hampir lupa bahwa pekerjaan memang seperti itu. Dari awal dia memang dibayar untuk memecahkan kasus berat ini.Namun seiring berjalannya waktu, kini ia tak meminta bayaran lagi dari Abram. Kali ini ia murni ing

  • Ikrar Dendam    Bab 64 - Lokasi PT. Arunika Logistik Nusantara

    Pagi berikutnya, langit masih diselimuti awan kelabu ketika keempatnya kembali berkumpul di ruang tamu. Aroma kopi hitam yang harus saja diracik oleh dr. Maya memenuhi ruangan, sementara laptop Edwin telah dipenuhi puluhan jendela berisi data dan peta digital."Aku mulai menelusuri PT Arunika Logistik Nusantara sejak tadi malam," kata Edwin tanpa mengalihkan pandangannya dari layar."Hasilnya?" tanya Abram. Edwin menarik napas pelan."Perusahaan ini seperti sengaja dibuat agar tidak menarik perhatian." Jawabnya sambil memperbesar tampilan sebuah peta."Alamat kantor pusat yang terdaftar berada di kawasan pergudangan pinggiran kota. Gudangnya kecil, jumlah pegawai resminya hanya belasan orang, dan omzet yang dilaporkan biasa saja." Imbuhnya."Tapi itu cuma kedok?" sela Guntur. Edwin mengangguk."Kalau hanya melihat dokumen resmi, semuanya tampak bersih. Namun ketika aku mencocokkan data pengiriman dengan catatan yang ada di dokumen Proyek Kabut, muncul pola yang aneh.""Pola apa?""Set

  • Ikrar Dendam    Bab 63 - Enam Fragmen

    Hening yang menyelimuti ruang tamu terasa jauh lebih mencekam daripada suara hujan di luar. Tidak seorang pun berbicara. Mata mereka masih terpaku pada layar laptop yang memancarkan cahaya redup. Edwin akhirnya memecah kesunyian. "Ada halaman terakhir." Ucapnya. Abram segera mendekat. "Buka." Edwin menggulir dokumen hingga bagian paling bawah. Berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya yang dipenuhi penjelasan, halaman terakhir hanya berisi beberapa kalimat singkat. "STATUS PAKET ALPHA : TERPISAH MENJADI ENAM FRAGMEN. Lokasi setiap fragmen hanya diketahui Ketua dan Dewan Bayangan." "Enam fragmen..." gumam Guntur. "Berarti memang benar. Paket Alpha yang asli belum pernah disimpan utuh di satu tempat," lanjut Edwin. Abram mengusap wajahnya pelan. "Kalau begitu, file ini hanyalah petunjuk." "Ya. Ini seperti buku panduan yang menjelaskan isi Paket Alpha, bukan Paket Alpha itu sendiri." Kesunyian kembali menyelimuti ruangan itu. Mereka semua mulia berpikir untuk mengambil langkah

  • Ikrar Dendam    Bab 2 - Menemukan Petunjuk

    Setelah menemukan satu benda yang ia curigai milik pelaku, Abram langsung memasukkannya dalam kantong plastik berwarna hitam. Namun Abram tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari petunjuk apapun yang dapat mengarahkan pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan kekasihnya, Anita. Tidak ada yang t

  • Ikrar Dendam    Bab 5 - Menyewa Penyelidik

    Di sebuah saung yang terletak di salah satu kampus di kota Gresik, Agha sudah duduk bersama Hendrik dan beberapa temannya. Dia ingin menepati janjinya pada Abram untuk menyelidiki kecurigaan Abram padanya. Dari saku depan kemejanya, ia mengambil satu bungkus rokok dan mengambilnya. Lalu dinyalakan

  • Ikrar Dendam    Bab 4 - Kembali ke Kantor Polisi

    Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn

  • Ikrar Dendam    Bab 3 - Informasi dari Elvira

    Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status