LOGINLedakan itu mengguncang seluruh bangunan. Debu berjatuhan dari langit-langit. Lampu merah di sepanjang lorong berkedip cepat sebelum beberapa di antaranya padam. Abram dan Edwin masih berjongkok di balik sebuah meja besi ketika suara langkah kaki mulai terdengar dari arah gerbang.Langkah itu tidak terburu-buru. Justru terlalu teratur. Seolah orang-orang yang baru masuk itu sudah tahu persis ke mana mereka harus bergerak.“Apa itu orang-orangmu?” tanya Verin dari pengeras suara.“Tidak. Itu bukan kelompokku.” Jawabnya. Abram dan Edwin saling berpandangan.Suara tembakan kembali terdengar. Beberapa peluru menghantam pintu besi di sisi gudang. Dua orang yang berjaga di dekat gerbang langsung berlari mencari perlindungan.“Siapa mereka?” tanya Verin."Jangan-jangan mereka teman-temanmu. Jangan macam-macam kamu, Bram" Tuduh Verin.Nada suara Verin berubah drastis. Untuk pertama kalinya sejak percakapan mereka dimulai, terdengar ketakutan dalam suaranya."Aku tidak tahu siapa mereka." Jawa
Aku sudah tahu, Ini jebakan.” Kata Edwin pelan. "Apa?" Tanya Abram. "Berhenti ikut campur urusan kapak hitam... atau nyawa Pak Bima berakhir malam ini." Jawabnya membuat Abram naik pitam. Abram mengepalkan kedua tangannya. Rahangnya mengeras. Namun kali ini Abram tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada layar yang kini telah kembali gelap. “Ulangi,” katanya. Verin terdiam beberapa detik. “Berhenti ikut campur urusan Kapak Hitam. Hentikan penyelidikanmu. Tinggalkan semua yang berkaitan dengan Proyek Kabut. Jika kau melakukannya, Pak Bima tetap hidup.” “Dan kalau tidak?” “Nyawanya berakhir malam ini.” “Aku tidak akan percaya hanya dengan kata-katamu.” “Bagus. Berarti kau mulai belajar.” “Tunjukkan dia lagi.” “Tidak.” “Tunjukkan Pak Bima sekarang!” “Jangan berteriak padaku, Abram. Kau datang ke sini bukan untuk memberikan perintah.” Edwin kembali mendekat. Ia bisa melihat kemarahan Abram mulai berada di titik berbahaya. “Tenang,” bisiknya. Abram menarik napas
Edwin perlahan mendekat ke arah Abram yang mulai terpancing emosinya setelah terlibat perbincangan beberapa menit dengan Verin. Suasana menjadi semakin tegang, sebab perbincangan itu belum menemukan solusi di antar kedua belah pihak."Jangan terpancing. Dia sengaja membuatmu marah." Ucap Edwin. Dari tadi ia terus mengawasi Abram agar tidak terpancing oleh ucapan Verin."Aku tahu," jawab Abram singkat."Kalau tahu, kendalikan dirimu."Edwin paham betul dengan karakter Abram. Dia adalah orang yang baik dan tenang. Namun kematian Anita telah mengubah segalanya. Tidak menghilangkan kebaikannya, tetapi membuat karakternya lebih liar dan menggebu-gebu. Tidak merasa takut, berani mengambil resiko, agresif dan bertindak sangat nekat.Abram menarik napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada kamera di sudut ruangan. Orang yang sedang berbicara tidak terlihat batang hidungnya, hanya suaranya saja. Hal itulah yang membuat Abram emosi."Verin." Panggilnya dengan suara yang memecah kesunyian di d
Lampu kecil di ujung ruangan masih menyala. Beberapa sosok berdiri diam di belakangnya. Wajah mereka tidak terlihat jelas, hanya siluet tubuh yang membuat suasana gudang semakin mencekam. Abram tidak bergerak. Edwin berdiri beberapa langkah di belakangnya, matanya terus mengamati sekeliling.Kemudian suara R. Satria kembali terdengar dari pengeras suara."Tenang, Abram. Kalau aku ingin mencelakai kalian, percakapan ini tidak akan pernah dimulai." Ucap R. Satria. Abram menatap kamera yang berada di sudut ruangan."Berhenti bersembunyi.""Kau benar-benar tidak dapat ditebak. Pantas banyak yang menganggap dirimu sebagai ancaman.""Jadi kau juga mengawasiku.""Sudah cukup lama.""Sejak kapan?""Sejak kau mulai menyelidiki kematian Anita."Nama itu membuat Edwin langsung menoleh kepada Abram.bAbram mengepalkan tangannya."Jadi semua ini berhubungan dengan Anita?""Lebih dari yang kau bayangkan.""Kalau begitu keluarlah. Kita bicara langsung.""Belum.""Takut?""Bukan takut. Aku hanya tidak
Abram dan Edwin akhirnya meninggalkan rumah persembunyian. Sebelum masuk ke mobil, Abram sempat menoleh ke arah Guntur."Jangan melakukan apa pun sebelum kami memberi kabar.""Aku tahu." Guntur mengangguk."Dan kalau ada sesuatu yang mencurigakan, bawa dr. Maya pergi dari sini.""Jaga dirimu, Bram."Abram hanya mengangguk. Edwin masuk ke kursi pengemudi. Mesin kendaraan menyala, lalu perlahan meninggalkan halaman. Guntur berdiri di depan pintu sampai kendaraan itu menghilang di ujung jalan. Setelah itu ia kembali masuk. dr. Maya sudah duduk di depan laptop."Menurutmu mereka akan baik-baik saja?" tanyanya. Guntur menarik kursi dan duduk di sampingnya."Aku tidak tahu." Jawab Guntur. Jawaban itu membuat dr. Maya menoleh.Biasanya Guntur selalu memiliki jawaban untuk menenangkan orang lain. Namun kali ini tidak. Matanya justru tertuju pada layar laptop yang menampilkan posisi Abram dan Edwin. Sementara itu, mobil Abram terus melaju menuju kawasan pelabuhan.Jalan semakin sepi. Bangunan-
Hari ini mereka bangun agak siang. Beberapa hari selalu tidur larut karena menyelidiki informasi tentang projek kabut milik kapak hitam. Mereke kelelahan, terlebih Guntur yang malamnya terlibat kejar-kejaran hingga menyebabkan bajunya cedera dan diharuskan istirahat. Seperti biasa, dr. Maya sudah menyediakan beberapa gelas kopi yang siap diseruput di meja tamu. Dia belum berani kemana-mana, bahkan ke rumahnya sendiri. Ia masih diburu oleh kapak hitam karena memiliki informasi yang mereka harus lindungi. Namun mereka sudah terlambat. Informasi tentang proyek kabut sudah diketahui oleh Abram, Guntur dan Edwin. Kini mereka tinggal melakukan rencana agar dapat menghentikan pergerakan itu. "Aku masih kepikiran dengan orang yang ada di kampus." Ucap Abram. "R. Satria maksudmu?" Tanya Edwin. "Iya, aku kepikiran pak Bima. Aku khawatir terjadi hal yang tidak diinginkan padanya. Sebab orang itu melihatku ngobrol dengan pak Bima." "Lebih baik kamu hubungi dia, Bram." Suruh Edwin. "B
Abram melangkah dengan berat menuju kantor polisi. Sejak kematian Anita, kekasih yang dicintainya, hari-harinya terasa kosong. Rasa duka bercampur dengan amarah, membuatnya tak bisa tenang sebelum mengetahui siapa sebenarnya yang melakukan ini. Di meja penerimaan, seorang petugas polisi menyambutn
Tampak semua mata masih memasang rasa penasaran dengan informasi yang akan disampaikan oleh Elvira, sahabat Anita. Abram begitu antusias mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh Elvira. "Apa yang dia katakan?". Tanya Abram. "Dia bilang bahwa ada orang yang menaruh perasaan pada dia.
Setelah menemukan satu benda yang ia curigai milik pelaku, Abram langsung memasukkannya dalam kantong plastik berwarna hitam. Namun Abram tidak berhenti sampai di situ. Ia terus mencari petunjuk apapun yang dapat mengarahkan pada pelaku pemerkosaan dan pembunuhan kekasihnya, Anita. Tidak ada yang t
Berita kematian Anita menyebar dengan sangat cepat. Abram, yang merupakan kekasih Anita, seperti mendengar petir di siang bolong mengetahui kabar kematian wanita yang sangat dicintainya. Perasaan Abram sangat hancur, terluka seperti dihujam oleh senjata tajam dari belakang. Bagaimana tidak, malam







