Home / Fantasi / Ilmuwan Kultivasi / Chapter 17 Shadow Step

Share

Chapter 17 Shadow Step

Author: ChimungKing
last update publish date: 2026-06-04 22:52:49

Regas dan Reymond tidak ada pilihan selain mengakuinya, meski begitu mereka tetap ingin mencari keuntungan dari pelayan Aldi yang sudah menghajar orangnya. Namun niat mereka berdua segera ditarik setelah melihat senyum Aldi yang sangat mengintimidasi.

“Siapa sebenarnya rubah ini.” ucap Regas dalam hatinya yang masih tidak percaya salah satu tim elitnya kalah begitu mudah.

Reymond segera beradaptasi dengan situasi, meski ia punya kepercayaan diri melawan mereka tapi mundur adalah pilihan terbaik
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 17 Shadow Step

    Regas dan Reymond tidak ada pilihan selain mengakuinya, meski begitu mereka tetap ingin mencari keuntungan dari pelayan Aldi yang sudah menghajar orangnya. Namun niat mereka berdua segera ditarik setelah melihat senyum Aldi yang sangat mengintimidasi.“Siapa sebenarnya rubah ini.” ucap Regas dalam hatinya yang masih tidak percaya salah satu tim elitnya kalah begitu mudah.Reymond segera beradaptasi dengan situasi, meski ia punya kepercayaan diri melawan mereka tapi mundur adalah pilihan terbaik. Tangan kanannya diangkat, energi dalam tubuhnya bersirkulasi pelan dan menciptakan sebuah benang terang, benang itu langsung mengangkat tubuh orang-orangnya. “Sepertinya cukup sampai disini,” ujar Reymond.Regas juga langsung beradaptasi, ia tidak perlu mencampuri urusan Kota Gayam lagi. Niatnya hanya ingin melihat situasi tapi kekalahan Moralez membuat Regas harus menampakkan dirinya.Setelah semua orang meninggalkan tempat, tatapan Aldi langsung mengarah ke Moralez yang masih terbaring di t

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 16 Mengecewakan

    Moralez melompat mundur, ia terpaksa membuka segel kekuatannya. “Baiklah kau memaksaku!”Tubuhnya bertambah besar dan kulitnya berubah merah. Matanya menyala garang, menyerupai iblis yang ingin menelan semua musuhnya. Sekarang penampilannya sudah seperti iblis yang siap menghancurkan apa saja di depannya.Aldi melihat indikator di atas kepala Moralez berubah menjadi hitam yang artinya mereka akan menjadi musuh sampai mati. Hal yang membuatnya sedikit antusias karena kekuatan yang tercatat dalam sistem.[Moralez, Level : 31 (Bintang 4), Power : 1100 Keterampilan :---]Senyum tipis merekah di wajah Aldi, matanya berkilat penuh antusias. “Ini dia yang aku cari, majulah!” teriaknya sambil menancapkan pedangnya di tanah.Tepat setelah ia menyelesaikan katanya, pukulan keras langsung menghantam dadanya. Aldi diterbangkan hingga puluhan meter, meski begitu dia berhasil berhenti dengan kedua kakinya. Matanya langsung melihat ke arah musuh, itu adalah tatapan kecewa karena pukulan Moralez tera

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 15 Baron Moralez

    Xorn tertawa terbahak-bahak. “Seperti yang diharapkan dari rivalku. Sebagai pelayan apa kau tidak punya pikiran bergabung dengan kami?”Frank menggelengkan kepala. “Sebenarnya aku cukup terkejut saat melihatmu melakukan semua ini. Ah jika saja Tuan Faisal melihat ini, dia pasti akan sangat terpukul.”Sekali lagi Xorn tertawa. “Dia tidak akan tahu, semua dilakukan dengan baik. Jadi aku akan kembali ke sisinya tanpa ada sedikitpun kecurigaan.”Frank hanya bisa diam karena itu memang fakta, ia mendengar pembicaraan pasukan mereka. Faisal sudah dikondisikan supaya tidak bisa mendengar kejadian disini, ia disibukkan dengan pekerjaan sebagai walikota.“Baiklah-baiklah, jangan membuat ini berlarut-larut. Ayo hilangkan bukti yang bisa membawamu ke neraka ini!” ucap Frank dengan senyum lebar.10 anak mulai ketakutan saat Frank melepaskan Prana berwarna ungu kehitaman. Aura mencekam dan gelap itu seperti kematian yang sedang mengintai targetnya.Xorn mundur selangkah tapi langsung melawan tekan

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 14 Bandit

    Prinsip Jiwa adalah teknik kultivasi yang masih bisa berkembang, Aldi akan terus memperbaikinya seiring berjalannya waktu. Teknik kultivasi kuno dipadukan dengan pengetahuan modern menciptakan aliran baru.Pemuda yang paling tua berdiri dan bertanya dengan ekspresi serius. “Tuan Muda, bagaimana dengan adik-adik kami?”“Mereka sudah menjadi bagian dari keluarga, bahkan jika kalian menolak dan ingin menjadi anggota biasa aku tidak memaksa.”Pemuda berumur 16 tahun itu langsung berlutut dan melakukan ritual sumpah darah. Jarinya digigit hingga darah mengucur, lalu ia mengusapkannya ke dahi.“Aku tidak akan pernah mengkhianati Tuan Muda Aldi.” Cahaya keemasan menerobos keluar dari tubuhnya. Sebuah benang terhubung antara dirinya dan Aldi yang berdiri tegak.“Aku menghargai keputusanmu. Kau yang paling tua jadi jangan memaksa kehendak adik-adikmu.” Aldi memberi peringatan.Sembilan pemuda lainnya mengangguk setuju, mereka tidak punya orang tua jadi lebih baik mengikuti Aldi Rahmat yang bis

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 13 Serikat Petualang

    Aldi duduk bersila menghadap matahari pagi yang begitu indah. “Bumi dulu pasti seindah ini.” Kenangan lama mulai muncul di pikirannya. Namun Aldi tidak mau ambil pusing dan fokus memperbaiki tubuhnya.Semua otot tubuhnya sudah mencapai puncaknya, ia hanya menemukan dorongan lebih untuk mendobrak penghalangnya. Prana miliknya tidak terlalu melimpah karena akar spiritualnya hanya tingkat Roh.Akar spiritual adalah pondasi awal setiap manusia di dunia ini berkultivasi. Ada 7 tingkat akar kultivasi yaitu Fana, Roh, Murni, Elemen, Raja, Surgawi, Kekacauan.Kakak ke-6 hingga ke-4 punya akar spiritual Elemen, mereka punya elemen api, angin, dan air. Kakak ketiga dan kedua punya akar spiritual Raja, dan Kakak sulungnya punya akar spiritual Surgawi seperti Duka Rahmat.

  • Ilmuwan Kultivasi   Chapter 12 Semangat Juang

    Gerard yang sudah tak sadarkan diri menyerang membabi buta. Ronald menangkis serangan dengan senyum lebar di bibirnya, meski beberapa serangan kecil menembus penjagaannya itu dapat diabaikan berkat Keterampilan Regenerasi.Grace melihat pertarungan gila itu, ia sudah sebulan berlatih dengan Ronald tapi tidak mengetahuinya. Perisai itu begitu kokoh layaknya sebuah tembok raksasa.Serangan Gerard mulai melemah sebelum dia memulihkan diri perisai penyok itu langsung menyodok wajahnya. Gerard langsung pingsan setelah terkena serangan.Ronald tersenyum di balik perisai, tubuhnya penuh darah yang mengalir tapi staminanya masih terjaga. “Pertarungan yang hebat, Kawan. Lain kali berusahalah lebih kuat.”Rossa, Rina, dan Rini melihat pertarungan hebat itu. Mereka tidak menyangka di balik penampilan konyol Ronald, ternyata tersimpan semangat juang yang begitu membara.Orang yang paling terkejut disini tentu saja Frank, setelah ia melihat pertarunga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status