Home / Fantasi / Invasi Beast / Pelatihan Awal Pasukan Chaser

Share

Pelatihan Awal Pasukan Chaser

Author: Orang Ngetik
last update Last Updated: 2025-10-04 04:52:27

Setelah semua peserta pos C berkumpul, tes pertama dimulai. Peserta harus berlari sambil menggendong beban, yang beratnya ditambah tiap melewati garis tertentu.

Riyan bersusah payah, tapi berhasil mencapai garis akhir.

Tes kedua lebih rumit. Peserta melihat pola empat warna acak, lalu harus berputar beberapa kali sesuai instruksi. Setelah itu, mereka harus berlari ke garis yang tepat untuk mengambil warna dalam urutan yang benar.

Yang jatuh saat lari atau salah urutan, langsung gugur.

Giliran Riyan tiba. Kepalanya pusing karena putaran, tapi ia tetap fokus. Dengan langkah mantap, ia menyusun warna sesuai ingatannya.

Ia berhasil.

Kini, tinggal menunggu hasil akhir. Riyan dan Anton duduk bersama, menanti pengumuman. Keringat masih mengalir, tapi semangat mereka belum padam.

Beberapa prajurit membagikan kertas sambil menyebut nama masing-masing peserta agar tidak tertukar. Anton dan Riyan sudah menerima kertas mereka. Di balik kertas itu terdapat hasil tes kelulusan.

Jantung Riyan berdebar. Dengan tangan gemetar, ia membalik kertasnya.

Selamat, peserta LULUS!!!

Wajah Riyan langsung berseri-seri. Ia menoleh ke arah Anton, ingin membagikan kabar baik itu—dan mendapati ekspresi kegembiraan yang sama di wajah sahabatnya.

"Anton." "Riyan." Serempak.

"Aku... gua lolos!" Masih kompak.

"Loh, kamu juga?—eh, lu juga?" Mereka tertawa canggung.

"Hahaha, selamat ya." Anton mengulurkan tangan.

"Haha, kamu juga." Riyan menyambut hangat.

Sang Kopral kembali ke depan dan berbicara lantang.

"Bagi peserta yang lulus, kami ucapkan selamat. Jika Anda memilih jalur Guardian, mohon untuk tetap di tempat. Namun jika memilih Chaser, silakan menuju gedung di depan kalian. Nanti kalian akan dipandu. Untuk yang belum lolos, terima kasih atas partisipasinya. Jangan menyerah."

Peserta yang gagal mulai meninggalkan lapangan. Sementara yang lulus, bersiap menuju tahapan selanjutnya.

"Lu ikut mana, Yan?" tanya Anton.

"Jelas Chaser lah. Kalo kamu?"

"Chaser juga. Yok, bareng yang lain." Anton berjalan duluan, diikuti Riyan.

"Heh? Serius? Itu bahaya loh." Tanggap Riyan di belakangnya.

"Tapi gajinya lumayan." Jawab Anton tersenyum lebar.

"Ah, kamu mah gitu mulu mikirnya."

Mereka, bersama peserta Chaser lain, diarahkan ke sebuah aula besar. Di kiri, kanan, dan belakang aula terdapat rolling door berukuran raksasa. Semua peserta terpana melihat kemegahan tempat itu.

Seorang pria berseragam rapi maju ke depan.

"Selamat datang di Chaser. Saya Roger, Jenderal yang akan memimpin kalian dalam pelatihan pertama."

Mendadak semua rolling door terbuka. Aula berubah, tembok-tembok muncul dari lantai, membentuk area seperti labirin.

"Kalian akan dibagi menjadi tim berisi 10 orang. Tugas kalian sederhana."

Tiba-tiba, dari belakang Jenderal Roger, muncul sesosok monster musang yang langsung mengaum dan menerjangnya.

"Kalian hanya perlu membunuh monster yang sudah kami siapkan."

Jenderal Roger nampak tenang, ia membalikkan tubuhnya tepat saat sang monster hendak menerkamnya. Namun saat tubuh mereka bersentuhan, tubuh monster dan sang Jenderal saling menembus. Itu artinya monster itu hanya hologram dan tidak nyata.

"Tenang. Semua monster ini hanyalah simulasi. Aman seratus persen. Tapi untuk masuk ke dunia simulasi, kalian juga harus bergabung secara virtual."

Sepuluh kursi muncul dari lantai, masing-masing dilengkapi helm besar yang tersambung kabel. Sebuah garis sinar memisahkan area peserta dengan zona simulasi.

"Ada yang mau coba duluan? Tenang, ini cuma pelatihan awal untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan awal kalian. Jadi gagal juga nggak apa-apa."

Peserta saling tatap tidak berani maju terlebih dahulu. Tapi Riyan melangkah mantap.

"Oy, mau kemana?" Anton menahan bahunya.

"Mau coba. Ayo!" Jawab Riyan lalu meneruskan langkahnya.

"Tunggu dulu, liat yang lain..." Namun Anton ikut melangkah juga.

Aksi Riyan menular. Peserta lain pun menyusul. Terbentuklah satu tim pertama berisi 10 orang.

Mereka duduk dan mengenakan helm.

"Pejamkan mata, rasakan tarikan di kepala kalian..." ucap Jenderal Roger.

Benar saja. Kepala terasa seperti ditarik, lalu semua menjadi hening.

"Mata kalian boleh dibuka."

Saat membuka mata, mereka terkejut. Kini mereka berada di balik garis sinar tadi, dan sinar itu berubah menjadi dinding kaca di mata mereka. Tubuh asli mereka tampak duduk diam seperti tertidur.

"Ini adalah teknologi simulasi 3D. Kalian hanya akan bertarung dengan jiwa. Tubuh kalian tetap aman."

"Silakan ambil senjata di rak pinggir ruangan!" seru Jenderal Roger.

Para peserta mendekati rak yang dimaksud. Namun yang ada hanyalah gagang pedang. Mereka bingung dengan benda yang sudah mereka pegang.

Jenderal Roger hanya tersenyum, sengaja membiarkan mereka mencari tahu sendiri.

"Gimana cara pakenya?" tanya Anton.

"Aku juga nggak tau. Eh, itu apaan?" Riyan melihat papan berisi dibawah rak yang kemungkinan berisi panduan menggunakan benda itu.

Mereka membaca bersama, dan benar itu adalah panduan menggunakan alat yang mereka pegang. Untuk mengaktifkan pedang yang disebut lightsaber, gagangnya harus disentakkan seperti menebas. Mereka mencobanya,

ZRAKK!

Bilah cahaya biru keluar dari ujung gagang.

"HAHAHA! Bisa, Yan!" teriak Anton semangat.

"Iya!" Riyan ikut senyum.

"Eh, gimana tadi?" tanya peserta lain.

"Begini caranya." Riyan membantu mengaktifkan lightsaber peserta itu.

Semua tampak sudah siap, Jenderal Roger tanpa basa-basi menekan tombol disampingnya.

"KROOKKK!!"

Seekor monster yang merupakan katak raksasa terbentuk. Para peserta panik dan langsung berpencar.

"Di unit Chaser, monster disebut beast," jelas Roger.

Beast itu mengayunkan lidah panjangnya.

WUSSH!

Dua peserta terkena serangan dan langsung menghilang dari simulasi.

"Beast dibagi jadi lima level. Ini beast level 4. Harusnya nggak terlalu bahaya. Tapi buat pemula seperti kalian, ya kita kasih yang ringan dulu."

Beast itu menghancurkan tembok dan menimpa peserta yang bersembunyi. Dua lagi hilang. Empat orang mencoba menyerangnya dari berbagai sisi, tapi si katak justru menikam satu orang dengan lidahnya dan menariknya masuk.

Di balik tembok, Riyan dan Anton mengintai.

"Ayo, kita harus gerak!" ajak Riyan.

"Lu yakin?" Anton ragu.

"Daripada diem?"

Mereka kembali mengintai saat si katak menginjak orang yang sudah ia seruduk.

"Oke. Kamu kiri, aku kanan. Gak tau juga ngapain sih, tapi ya udah." Riyan membuat rencana.

"Gas!"

Mereka melesat. Beast menyerang Riyan lebih dulu, ia menembakkan lidahnya, tapi Riyan berhasil menghindar dan menebas lidahnya.

Beast mengaum marah. Anton menyerang dari samping, beast menyeruduknya dan membuat Anton terlempar. Sang monster melompat, hendak menimpa tubuh Anton yang terjatuh. Namun

DUGG!

Riyan menahan kaki sang beast.

"CEPET!!! Aku tahan!" teriak Riyan.

Anton bangkit, menghunus lightsaber, lalu menusuk kepala monster itu.

SKRIIINGGG!

Monster itu mengerang dan akhirnya menghilang.

"Hah... hah... kamu nggak apa-apa?" tanya Riyan dengan nafas tersengal.

"Kok gua? Kan elu yang kerja keras... Makasih ya."

Mereka saling menggenggam tangan, lalu tertawa kecil. Para peserta dan penonton bertepuk tangan. Bahkan dua peserta yang mereka selamatkan ikut bertepuk tangan penuh kagum.

Pak Roger tersenyum melihat aksi mereka. Tapi ia belum puas. Ia menekan tombol lagi, dia

m-diam.

Kali ini muncul sesosok beast baru: tubuh harimau, namun kepala dan ekornya adalah hiu.

Monster itu mengaum, suara beratnya menggema:

"ROAAARRR..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Invasi Beast   Ketika Beast dan Vessel Bersatu

    Sementara itu, tubuh Riyan masih tergeletak di sisi lain jembatan. *Riyan! Woy! Bangun!* teriak Ariel dalam hati. Namun tak ada respon. Tubuh Riyan dikerubungi beast yang hendak memisahkan Ariel darinya. Salah satu beast mencengkeram tubuhnya, siap membelah. *BANGUN WOY!!!* Namun masih tanpa belasan. *Karena lu gak bangun, terpaksa gua ambil alih!* Mata Riyan terbuka. Ia memegang tangan beast itu dan membantingnya. "GRRRAAAA!!" Teriakan beast menggema. Riyan berhasil bebas. Seekor beast menyerang dari belakang, namun ia menghindar dan segera menghubungi semua orang lewat whisp. "Halo!" "Riyan!? Lu gak apa-apa?" tanya Anton sambil menebas beast. "I-Ini Riyan!?" Mila terkejut, sampai-sampai kena pukul Thyss. "Bukan. Ini gua, Ariel." "Keadaan Riyan gimana!?"

  • Invasi Beast   Pertempuran di Jembatan

    Hari pun berganti. Riyan bersama tim khusus tengah menjalani latihan fisik sebagai bagian dari kewajiban rutin mereka. Seperti biasa, Duta berlatih angkat beban di Forge room, ditemani oleh Pak Roger, Albert, dan Wawan.Sementara itu, Anton dan Rizal sedang berlatih kelincahan di Arena Orion. Di tempat yang sama, Riyan membantu melatih Mila meningkatkan refleks dan kecepatan geraknya.Tak lama kemudian, ponsel Pak Roger berdering. Ia menurunkan barbel dan menjawab panggilan itu."Halo?" sapanya singkat. "Baik, kami akan segera ke sana. Jangan ambil tindakan apa pun sebelum ada perintah. Amankan lokasi.""Siapa, Pak?" tanya Wawan penasaran."Tim umum. Mereka lihat vessel yang kemarin." jawab Pak Roger. Lalu ia menoleh ke Albert. "Bert! Panggil yang lainnya. Suruh ke sini sekarang!""Yess! Oke, Pak." Albert dengan senang hati menghentikan latihannya, dan segera menuju Orion Arena.Beberapa saat kemudian, seluruh tim khusus

  • Invasi Beast   Beast di Tubuh Manusia

    Mila menelusuri keramaian, mencari gadis yang mereka curigai. Namun karena semua orang berjalan ke arah yang sama dengannya, Mila kesulitan melihat wajahnya. Ia lalu mencoba mengingat baju gadis itu, warna, bentuk, dan coraknya.Beberapa saat kemudian, ia melihat seseorang yang mengenakan pakaian yang sama dengan bayangannya. Dengan cepat, Mila menyusul dan menyentuh bahunya dari belakang.Sang gadis menoleh."Ada apa?" Tanyanya."Jawab jujur. Kamu vessel, kan?"Gadis itu terkekeh kecil."Langsung nembak, ya? Biasanya orang basa-basi dulu kan?""Aku gak suka buang waktu. Kalo kamu gak jawab, aku anggap iya."Sang gadis memutar matanya. "...Terserah kamu.""Temenku bisa ngerasain aura beast dari kamu. Jelaskan, siapa kamu sebenarnya?"Sang gadis terdiam. "Kalau iya... terus kenapa? Mau tangkep aku?" Ucapnya menatap tajam."Serahkan diri kamu ke Chaser. Kami bisa bantu kamu.""N

  • Invasi Beast   Besi yang Mengalir, Rasa yang Tertinggal

    Keesokan harinya.Riyan mengajak Mila makan siang di sebuah warung makan yang tak jauh dari markas."Tumben kita makan di luar. Jadi bingung besok balesnya gimana," ucap Mila sambil tersenyum ceria.Bersamaan dengan itu, makanan yang mereka pesan datang dibawa oleh pramusaji."Makasih," ujar Mila sopan."Kamu berhasil masuk Chaser aja udah lebih dari cukup," balas Riyan sambil mendekatkan piring ke hadapannya."Tuh kan, susah. Tapi tenang, kamu tunggu aja," sahut Mila santai."Siap! Aku tunggu. Yok makan dulu." Riyan langsung menyendok makanannya."Oke!"Mereka menyantap makanan dengan lahap, sesekali terdengar bunyi sendok bertemu piring. Suasana warung cukup tenang meski ada beberapa pengunjung lain.Tiba-tiba—DEG!!Sebuah gelombang hawa menyeruak di dada Riyan. Hawa yang asing... dan familier di saat bersamaan. Ia berhenti mengunyah, menoleh ke kanan dan kiri, menelusuri s

  • Invasi Beast   Tenang di Sini, Berdarah di Sana

    Mila melangkah masuk ke dalam gedung dengan monumen besar bertuliskan 'PRIORITY'. Ia sampai di depan lift, menunggu dengan sabar di lantai dasar. Begitu pintu lift terbuka, ia segera masuk dan menekan tombol lantai 4 ke ruang yang sering dijadikan tempat berkumpul tim khusus. Lift bergerak perlahan, menapaki satu per satu lantai. Mila bersandar pada dinding logam dingin, menatap samar pantulan wajahnya di pintu lift. *Aku mulai aja kali ya? Jadi..... aku mau gabung ke pasukan Chaser,* gumamnya dalam hati sambil membuka kamera ponsel untuk berkaca. *Kalian gak salah dengar. Aku mau jadi anggota tim khusus. Soalnya, mereka tuh yang pertama turun tangan waktu ada bahaya. Lama-lama aku tertarik juga. Sayang kan, punya kekuatan tapi gak banyak manfaatnya. Jadi… aku mau masuk!* Lift berhenti. Pintu terbuka perlahan, dan suara gaduh dari ruang Komando langsung terdengar. Mila menarik napas panjang, menegakkan bahu, lalu melangkah keluar. *Tapi… hari ini rasanya semuanya beda.* Ia

  • Invasi Beast   Penghubung Dua Dunia

    Mila, sini bentar!” panggilnya kepada Mila yang berada di dekat pintu bungker. “Pemeriksaan mayatnya udah selesai, kan, Pak?!” jawab Mila, masih cemas. “Udah kok. Santai aja!” Dengan langkah hati-hati, Mila mendekat. Wajahnya tetap tegang. “Tujuan kalian Bapak ajak ke sini itu sebenarnya untuk mencari tahu fungsi gapura itu. Kalau soal mayat, itu ‘bonus’ dari Tuhan,” ujar Pak Roger enteng. “Eee… kenapa harus kami, Pak?” tanya Riyan. “Karena menurut saya, gapura itu hanya bisa digunakan oleh beast. Dan beast di pihak kita cuma kalian.” Ia lalu menambahkan, “Atau Ariel tahu sesuatu, Riyan?” “Aku pernah tanya, Pak. Katanya dia cuma liat, belum pernah pakai.” “Ohh… begitu. Baiklah, langsung aja kalian coba.” Pak Roger membawa mereka ke depan g

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status