LOGIN
“Hemhhp, ahhh ... kamu wangi banget hari ini dek!” pujinya sembari mengendus pakaian yang dikenakan Tasya.
“Ya dong, ini berkat hadiah parfum dari Mas jadi aku bisa wangi terus kalau deket-deket sama Mas!”
“Bagus, kalau gini kan Mas jadi makin betah berduaan sama kamu!” ucapnya, sedang tangan kanannya berusaha mengusap rambut Tasya.
“Ekhmm, Mas anak-anak datang!”
Malikh segera menghempaskan tangannya.
“Ayo anak-anak habiskan sarapannya, nanti jangan sampai kalian kelaparan di kelas!” titah Tasya.
“Siap tante, makasi ya udah nyiapin sarapan kesukaan aku,” ucap Aira senang.
“Iya, sama-sama sayang! Nanti di sekolah yang pinter ya, Kakak Rafa juga,” pesannya.
“Siap lapan nam!”
Sementara itu pandangan Malikh terpatri dengan tingkah Tasya yang sangat keibuan, Tasya memang selalu memerhatikan lebih keponakannya itu semenjak Angel-Kakak kandungnya pergi menjadi tenaga kerja asing di negeri seberang, hampir semua pekerjaan rumah tangga Tasya yang mengurusnya, mulai dari pagi hingga ke petang ia selalu memastikan pekerjaannya selesai dengan baik termasuk melayani Malikh.
“Sayang! Kok kamu perhatian banget sih ke anak aku? Kamu capek ndak sini aku pijitin!” ucap Malikh mesra, sembari tangan kanannya melingkar di pinggang Tasya.
“Mas! Jangan sekarang, nanti Ibu lihat!” ucapnya ketakutan.
“Ibu lagi di belakang, kenapa kamu ketakutan begitu sih? Kan sudah biasa gini!”
“A-aku takut saja kalau Ibuk mergokin kita lagi, Ibuk bakalan ngelapor langsung ke Mbak Angel!” keluhnya.
Malikh mendengus, “Hah, ada benernya juga kamu ... tapi maaf dek Mas suka ndak tahan lihat kamu! Lagian sih, siapa suruh menggoda begitu!”
“Hushh Mas! Udahlah takut diliat Ibuk!” Tasya gelisah. Pasalnya Tasya pernah dipergoki bermesraan dengan Malikh oleh ibunya.
“Ya sudah iya, tapi nanti jangan lupa ya seperti biasanya!” pintanya.
“Iya Mas iya.”
Perasaan itu tumbuh begitu saja di antara mereka, seakan tak tahu arti benar pun salah hubungan terlarang pun terus terjalin seiring dinginnya kesepian semakin menyelimuti, mencari kehangatan lain saat yang lain pergi.
*
“Mas, urusan dengan Mbak Angel masih aman kan?”
“Aman dek, kamu tenang saja! Kamu aman sama Mas, dek ndak usah khawatir karena Mas sudah janji kan bakalan tetap sayang dan jagain kamu sampai kapan pun!”
“Tapi kalau semisal nanti Mbak Angel tahu bagaimana Mas?” tanyanya khawatir.
“Kok kamu akhir-akhir ini sering khawatir begitu dek? Kamu kenapa sebenarnya cerita ke Mas!”
“Aku takut Mas, hubungan kita sudah jauh sekali takut saja nanti tiba-tiba Mbak Angel tahu tentang semua ini, nanti ke depannya bakalan kayak bagaimana? Apalagi sekarang Ibuk selalu waspada dengan kita berdua,” keluhnya.
“Tasya, hubungan kita ini sudah bertahun-tahun loh, nyatanya sampai sekarang Mbakmu itu ndak pernah tahu kan, itu artinya masih aman-aman saja ... ayolah sayang jangan buat Mas ikutan khawatir juga!” bujuknya.
“Mas, apa ndak sebaiknya kita sudahi hubungan kita sampai di sini saja? Takut ke depannya semakin buruk.”
“APA? Kok mendadak sih dek? Kok kamu tiba-tiba jadi gini, kamu sudah bosan sama Mas yo?”
“Bukan begitu Mas tapi memangnya Mas sudah benar-benar ndak punya perasaan lagi sama Mbak Angel?”
“Dek, kita kan sudah berkali-kali ngomongin masalah hubungan kita ini, menurut Mas hubungan kita ndak salah kok! Mas suka sama kamu begitu juga sebaliknya memang apa salahnya kita sama-sama cinta kok ... terus masalah mengakhiri hubungan ini dari awal sudah terlambat dek hubungan kita sudah terlanjur terjalin sampai sejauh ini dan satu lagi yang Mas ingin tegaskan ke kamu, kalau Mas ndak mau mengakhiri hubungan ini karena Mas ndak mau kehilangan kamu, Mas sayang banget sama kamu dek!” jelasnya.
“Tapi Mas ....”
“Tapi apa? Kamu kan sudah tahu sendiri Mas sudah pernah coba buat menghilangkan perasaan ini ke kamu tapi semakin Mas berusaha keras buat menghilangkannya, cinta Mas semakin besar ke kamu dek! Jangan dek ya, Mas sayang banget sama kamu.”
“Terus bagaimana dengan Mbak Angel? Dia kan masih jadi istri sahnya Mas Malikh.”
“Oh jadi itu masalahnya, kamu cemburu ya dek? Sayang dengerin Mas, Mas itu sayangnya cuma ke kamu ... kamu kan tahu sendiri Angel sudah bertahun-tahun di rantauan, Mas sudah berasa ndak punya istri tapi ... untung saja di sini ada kamu yang mengobati rasa kehilangan Mas, ada kamu Mas berasa diurusin sama istri, coba kamu pikir bagaimana caranya Mas ndak sayang ke kamu setelah semua ini?”
“Terus hubungan kita ini disebut apa Mas? Aku capek ngerasa was-was terus kayak gini, aku butuh kepastian dari Mas!” tegasnya.
“Sayang dengerin Mas, Mas janji akan mendiskusikan hubungan kita dengan Angel! Kamu kan adiknya dia to? Pasti dia bakalan mengerti tentang kondisi kita, lagian jadi madu dengan saudara sendiri sepertinya ndak buruk-buruk amat!”
“Jadi maksud Mas ... Mas tetap mau mempertahankan hubungan Mas dengan Mbak Angel terus tetap nikahin aku juga? Mas, kamu gila ya! Mana mau seorang istri dimadu apalagi dengan saudara kandung sendiri, Mbak Angel ndak mungkin setuju begitu saja.”
“Dek, Mas minta tolong ke kamu jangan pernah lagi buat Mas tertekan kayak gini ... jujur untuk saat ini kondisinya masih sulit kasi Mas waktu untuk membuktikan semuanya ke kamu!” tegasnya.
“Sampai kapan aku nunggu Mas? Dari dulu juga Mas selalu bilang kayak begitu tapi sampai sekarang masih begini-begini saja!”
Malikh mendengus, “Hah, Mas janji ini bakalan menjadi omongan Mas yang terakhir kalinya setelah ini kamu ndak perlu khawatir lagi tentang hubungan kita kedepannya!” yakinnya.
Mata Tasya berbinar, “Janji ya Mas?”
“Iya Mas janji sayang!” ucapnya, sembari mencium kening Tasya.
Tasya seakan kehilangan seluruh rasa malunya, ia bahkan tak segan meminta sebuah janji ke suami kakak kandungnya sendiri. Tasya seperti tak punya pilihan lelaki lain, seluruh hatinya telah dipenuhi oleh buaian mulut Malikh yang manis seperti janji-janjinya. Malikh yang sangat butuh seseorang untuk mengusir rasa sepinya tentu saja Tasya akan menjadi santapan yang empuk untuk dirinya yang haus akan kasih sayang dari seorang pasangan.“Tapi....”
“Tapi apa dek, kamu masih ragu sama Mas?”
“Tapi, saat ini yang aku butuhin bukan janji Mas tapi kepastian! Aku capek gini terus, sekarang gini saja ... seandainya Mas cuma punya dua pilihan Mas pilih aku atau Mbak Angel?!”
Bersambung ...
“Jangan macem-macem kamu Tasya! Ini kalau salah bertindak aku yang jadi taruhannya, ini kamu sudah pikirin mateng-mateng belum?”“Sudah ikutin saja Mas! Main rapi makanya, kalau memang Mas ragu mau ngelakuin yang ini ya sudah kalau begitu Mas pergi kerja sekarang! Jadi Mas mau pilih yang mana?” tawarnya.“Hah, iya-iya!”***“Ini kok ndak ada yang ngangkat telpon sih!”“Bagaimana Nduk? Sudah ada yang ngangkat?”“Belum ada Buk, biar Angel saja lah kalau begitu yang ke sana langsung dari pada nungguin mereka nelpon yang ada aku makin khawatir di rumah!”“Ya sudah kalau begitu kamu hati-hati di jalan.”“Iya Buk, Rafa aku ajak yo Buk biar Aira mau pulang.”“Iya, kamu ajak anak hati-hati yo jangan terlalu banyak pikiran di jalan bahaya!”*“Buk, kenapa Tante Tasya bisa nikah dengan Ayah?” tanya Rafa tiba-tiba.“Rafa, maaf Ibuk ndak bisa jelasin lebih banyak ke kamu ... nanti kalau kamu sudah cukup umur Ibuk pasti bakalan cerita semuanya ke kamu, yang pasti intinya sekarang kamu sudah tahu t
“Mas bangun Mas!”“Ekhhh, masih ngantuk!!!”“Mas memangnya sudah ndak mau uang lagi yo?”“Hah uang?” Malikh sontak terbangun dari tidur lelapnya. “Di mana ada uang?”“Makanya bangun dulu, nanti aku jelaskan!”“Iya-iya!” Malikh pun bangun tanpa keterpaksaan perkara uang.“Nah, jadi gini Mas! Aira sudah menawarkan janji ke Angel untuk menginap di sini jadi waktu Aira menginap aku pengen Mas ngelakuin sesuatu!”“Maksudmu? Apa hubungannya uang dengan Aira, makin hari makin aneh saja kamu yo!”“Nah itu yang kamu ndak ngerti Mas! Kalau kita bisa menguasai Aira itu artinya Angel juga bisa kita kuasai dan dia bisa berada di bawah kendali kita!”“Oh, jadi maksudmu ini to yang kemarin! Mas kan sudah bilang ke kamu to kalau Mas ndak mau ikut-ikutan lagi! Kalau misalnya kita kalah lagi tamat riwayat kita dan berakhir jadi gelandangan luntang-lantung di jalan tahu ndak!”“Iya tapi Mas tenang dulu, kali ini beda! Kita punya umpan yang bagus, kita buat Aira makin betah tinggal di sini jadi dari kond
“Kapan Tante Tasya bilang begitu?”“Waktu di rumah Bapak tadi Buk,” jawabnya polos. “Apa maksud Tasya menjelaskan hal itu pada Aira?” Angel pun bertanya-tanya dan merasa curiga ada maksud dibaliknya.“Bagaimana Nduk, Malikh ada di rumah?”“Ada Buk, ya dia seperti biasalah di rumah saja memangnya dia mau ke mana lagi!”“Kamu bener juga, ya yang penting sekarang Aira keinginannya sudah keturutan.”“Iya sih Buk, tapi aku kok khawatir yo habis pulang dari sana? Aku ndak tahu kenapa seperti merasa ada hal buruk yang bakal mereka lakukan lagi!”“Sudah, kamu ndak usah gelisah begitu! Kasihan anak-anak, Ibuk ndak mau Rafa dan Aira jadi kepikiran ... tapi kalau kamu ada merasa cemas lagi cerita saja ke Ibuk yo jangan dipendam-pendam.”“Iyo Buk, makasi ya.”***“Nyari siapa buk?”“Ini buk, saya mau nyari anak saya namanya Aira Zulaikha.”“Ow, kelas berapa ya buk?”“Kelas tiga buk, sudah pulang ya? Soalnya, biasanya anak saya pasti nunggu di pos satpam sini sekarang kok tumben jam segini belum
“Mas Rafa, Ira kangen sama Bapak ... Bapak ke mana yo?”“Bapak kan tinggal sama Tante Tasya di rumah kita yang dulu, Ira kangen sekali yo sama Bapak?”“Hek’e Mas.” Sungguh malang nasib kedua bocah itu, di usia mereka yang sangat belia harus merasakan pahitnya perpisahan kedua orang tua mereka akibatnya mereka sendiri pun bingung dengan keadaan yang sedang terjadi.“Loh, kalian kok masih di sini? Ibuk panggil dari tadi buat makan kok ndak ada yang ke luar to ini?”“Anu, ini Buk, Ira kangen katanya sama Bapak! Kira-kira Bapak masih ndak yo tinggal di rumah kita Buk?” tanyanya sedikit ragu.Angel terdiam, ia bingung harus bereaksi seperti apa.“Sudah-sudah, kalian jangan buat Ibuk kalian pusing! Mending sekarang kalian makan, kasian Ibukmu sudah capek-capek masak ndak ada yang mau makan!” sela Surti memecah ketegangan. Semuanya makan di ruang makan, tetapi dengan ekspresi canggung.“Kenapa to kalian ini murung dari tadi? Ndak enak yo makanan Ibuk?”“Enak kok Buk,
“Pak Kades saya mohon jangan pak! Tolong hentikan mereka!” Tasya dan Malikh sudah terpojok.“Malikh! Saya sudah katakan bahwa saya ndak bisa membendung kemarahan mereka, saya pun kecewa berat dengan kelakuanmu selama ini!”Malikh menelan udara kosong, ia mencoba mencari akal. Malikh lantas melirik ke arah Tasya, sepertinya ia menemukan ide untuk menghalau masa yang sedang mengamuk itu.“Oke, saya minta maaf ... tapi kali ini saya mohon dengan kalian semua tolong kasihani saya! Lihat, lihat Tasya perutnya sudah besar sekali sebentar lagi dia bakalan melahirkan, kalau kalian mengusir kami dari sini kami mau tinggal di mana dengan kondisi begini? Kalian tega lihat seorang ibu hamil terlantar?”“Pak Kades jangan dengarkan mereka, perbuatan mereka sudah lebih keji dari ini!”“Iya betul itu pak Kades, kami sudah benar-benar muak dengan kelakuan mereka dan jujur kami juga merasa terganggu mereka setiap hari ribut terus sampai terdengar satu desa! Apa pak Kades mau mempertahankan
“Mas! Kenapa kamu babak belur begini?” Tasya keheranan melihat wajah Malikh sudah dihinggapi lebam di mana-mana.“Setsshh, orang lagi sakit bukannya di suruh masuk dulu malah ditanya-tanya!” jawabnya meradang.Tasya menyeka wajah Malikh dengan kain yang sudah dibasahi dengan air hangat.“Ini lah akibatnya kalau Mas ndak pernah omongan istrimu Mas! Kamu celaka karena pergi tanpa restu istrimu!”“Justru aku begini karena kamu! Coba saja kamu ndak banyak nuntut dan lebih sabar, pasti aku ndak bakalan nekat minjem uang ke bos keparat itu!”“Jadi Mas babak belur begini karena minjem uang? Astaga Mas malu-maluin! Sudah ndak dapet uang, mana babak belur lagi! Coba aja Mas kerja bener-bener pasti kita sudah dapet uang dari dulu, dari pada ngambil kerjaan sia-sia begini malah nyari penyakit!”“Ya mau bagaimana lagi? Jalan kita sudah buntu, mau usaha bagaimana pun terima saja kenyataannya kalau kita itu sekarang miskin!”“Itu semua ada sebabnya, karena Mas sendiri yang memilih kita miskin! Mas







