LOGIN“Aeeee, ituuu ....”
“Tuh kan, Mas memang ndak bisa mutusin berarti Mas masih punya perasaan ke Mbak Angel!”
“Bukan begitu maksud Mas dek! Ckckk, ya sudah besok kamu bakalan tahu jawaban pastinya!” tegasnya, Malikh nampaknya sedang menghadapi dilema.
***
“Kalian mau ke mana?” tanya Surti-ibu Angel dan Tasya. Ia bingung melihat Tasya dan Malikh sudah kemas.
“Saya mau ngajak Tasya ke acara sekolah Rafa buk, hari ini ada pertunjukkan seni di sekolahnya dan orang tua murid diminta menghadiri acara,” jelasnya.
“Kamu ndak bisa sendiri ya?” tanyanya kembali.
“Ndak bisa bu, Malikh sudah janji mau ngajak Tasya ke sekolah kasian anak-anak!” tegasnya.
Sementara itu Tasya hanya berdiam diri.
“Ya sudah, kalian berdua jangan sampai macam-macam lagi di luar! Jangan hancurkan kepercayaan ibu ke kalian seperti sebelumnya,” pesannya penuh harap.
“I-iya bu,” jawabnya ragu. “Malikh berangkat dulu.”
“Memangnya ada acara apa Mas? Kok tumben aku ndak dikasi tahu sama Rafa?” Tasya kebingungan karena ia tak tahu menahu soal ini.
“A-e, nanti juga kamu tahu sendiri!” jawabnya. Malikh seakan menyembunyikan sesuatu.
Mobil mereka pun mendarat di depan sebuah bangunan mewah “CLARION”.
Tasya terbelalak, “Mas kita ngapaian ke sini?!!”
“A-eee, Mas ke sini cuma mau buktiin sayang Mas ke kamu! Kemarin kamu sendiri to yang minta kepastian?” jawabnya kikuk.
“Maksud Mas Malikh apa? I-ini kan hotel Mas!” Ia kebingungan.
“Ya ini pembuktian rasa sayang Mas ke kamu, karena kamu kan selama ini nuntut kepastian dari Mas ... tapi sebelum itu Mas minta maaf kalau harus dengan cara ini, jadi bagaimana dek mau kan?” tawarnya penuh harap.
Tasya berpikir keras. Ia pun mengangguk, mereka berdua menuruni mobil. Keduanya jalan dengan tergesa, mengenakan masker hitam harap-harap tidak ada yang mengenali wajah mereka.
“Mas sudah yakin?” Tasya masih ragu.
“Kamu percaya sama Mas, jangan takut! Mas janji bakalan tanggung jawab apa pun yang terjadi, kamu tunggu di sini dulu sebentar,” tegasnya meyakinkan. Ia menyuruh Tasya untuk menunggunya di pintu depan.
*
“Ini kunci kamarnya pak, silahkan dan terima kasih!”
“Makasi mbak!”
“Ayok dek.” Malikh tergesa-gesa, pandangannya liar, ia takut jika ada orang yang dikenal melihatnya, lelaki itu mencekal tangan Tasya segera menuju kamar.
“Sementara kita istirahat di sini ya dek, besok pagi kita pulang!” jelasnya.
“Mas, kalau Ibu curiga bagaimana? Ibu pasti bakalan nyariin kita dan memastikan semuanya ke Rafa ... jangan sampai hal ini sampai ke telinga Mbak Angel secepat ini! Aku ndak mau keadaannya semakin buruk Mas!” Rasa takut Tasya selalu menghantuinya, namun meskipun demikian ia tetap saja mengiyakan kemauan bejat Malikh untuk memenuhi nafsunya.
“Dek-dek! Kamu ini apa-apa takut, ini takut itu takut kalau kamu mau takut sekarang sudah ndak ada gunanya! Sudahlah kita jalani saja yang sudah terlanjur kita lakukan toh kamu juga suka kan? Mas begini karena terdesak, itu semua karena kemauan kamu meminta kepastian ya ini Mas berani mengambil jalan seperti ini itu tandanya rasa tanggung jawab Mas besar ke kamu ... Mas ndak mungkin ngecewain kamu!” Malikh terus mengeluarkan bujuk rayunya berharap semua kemauannya berjalan mulus.
Tasya tertunduk lesu, “I-iya Mas.”
Malikh menatap Tasya dalam, memerhatikan tubuh wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, ia menenggak udara kosong. Malikh berjalan menyusuri kasur, ia mendekap tubuh Tasya.
“Mas!” Sejenak suasana menjadi hening.
Tangan Malikh gegas menarik pakaian Tasya dan menanggalkannya.
“Kamu ndak usah takut, Mas ndak bakalan ninggalin kamu!” bisiknya pelan.
“Tunggu Mas!” hentinya.
“Kenapa?”
“Mas aku takut! Ini pertama kali kita ... eee hati-hati ya Mas!”
Malikh mengangguk sembari mengedipkan kedua matanya pelan. Malikh mulai merebahkan tubuhnya.
DRRTT! DRRRT! [Bunyi dering gawai]
“Si-siapa Mas?” tanyanya.
“Sudah kamu diam saja, ini Mas lagi fokus!”
DRRTT! DRRRT! [gawainya kembali berdering]
“Ckckk!” Malikh berdecak. “Siapa sih!” Malikh meradang karena kemesraannya tengah diganggu.
“Siapa sih Mas?” Tasya penasaran. Ia juga ikut tersulut emosi karena terganggu.
“Sialan! Angel vidio call!”
Sontak Tasya terbangun, “Duh, bagaimana ini Mas? Nanti kalau Mas ndak angkat telepon pasti Mbak Angel bakalan nelponin aku dan dia curiga!”
“Stsss! Kamu jangan panik begitu, tenang!” Ia gegas mengenakan pakaiannya dan merapikan penampilannya.
[Halo, sayang! Kamu apa kabar?] tanya Angel tersenyum lebar.
[Aku baik!] jawabnya datar.
[Mas, kamu lagi di mana?] tanya Angel penasaran, karena melihat sekeliling Malikh tampak asing. [“Kamu lagi ndak di rumah ya Mas?]
[Iya, aku lagi di hotel!] jawabnya tanpa rasa takut.
[Hotel? Ngapain Mas? Sama siapa?] tanyanya bertubi-tubi.
[Sama anak-anak dan keluarga, kenapa kamu tanya begitu kamu curiga sama Mas?]
[Aee, endak kok Mas. Aku kan cuma tanya saja, Mas kok begitu nanyanya?]
Malikh hanya melempar senyum kecut.
[Maafin aku Mas, aku ndak ada maksud nuduh kamu macem-macem ... ee kalau begitu anak-anak mana Mas? Aku mau lihat anak-anak, kangen banget sama mereka sudah lama ndak vidio call-an,] pintanya.
[Anak-anak lagi main sama Ibu dan Tasya, Mas lagi sendiri istirahat di kamar capek!] kilahnya.
[Ya sudah kalau begitu tolong bawain hp nya ke mereka sebentar, ya Mas.]
[Kamu ndak denger ya tadi Mas bilang apa? Mas capek!] tekannya dengan nada tinggi.
[Astagfirullahalazim Mas, aku kan cuma mau ngomong sama anak-anak aku kangen Mas, kalau misalnya Mas ndak bisa bawain ya sudah ndak papa ndak usah bentak-bentak begitu!]
[Ya siapa suruh ngeyel, sudah ya Mas mau lanjut istirahat lagi!]
[Tapi Mas, aku masih mau lama lihat kamu ... memangnya Mas ndak kangen sama istri Mas ini?]
Malikh terdiam, [Ka-kangen,] ucapnya kembali datar.
[Kok kayak biasa saja si Mas?] Angel merasa kecewa mendapatkan respon demikian.
“Ekhmmm.” Tasya berdeham, ia kesal karena menunggu terlalu lama.
[Suara siapa itu Mas?]
[Aeee, i-itu suaraku! Ekhmm-ekhmmm....]
[Kok suaranya beda begitu?]
[Apaan sih kamu, ya beda lah namanya juga orang lagi sakit tenggorokan!]
[Astaga kamu sakit Mas? Mas sudah periksa ke dokter?]
[Sudah-sudah, makanya kamu jangan banyakan nanyak ... Mas perlu istirahat lebih banyak lagi kata dokter, sudah ya kalau begitu, toh ndak ada yang penting-penting amat yang mau kita bahaskan?”]
[Hmm, ya sudah kalau begitu Mas, padahal aku masih kangen banget sama kamu apalagi sama anak-anak, cepet sembuh ya Mas. Assalamualaikum.]
[Ya, walaikumsalam ... eh sebentar....]
[Kenapa Mas?] tanyanya sumringah, ia mengira Malikh berubah pikiran untuk menemaninya.
[Transferan bulan ini jangan telat lagi ya! Kasian anak-anak kalau harus telat bayar uang sekolahnya lagi!] ucapnya tanpa rasa bersalah.
[Oh itu, i-iya Mas.] Angel menarik senyumnya yang tadi.
[Bagus!] Malikh langsung mengakhiri telepon tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
“Lama banget sih Mas, aku capek tau nungguin!” protesnya.
“Maaf sayang, ayo kita lanjut!” Seketika nada suara Malikh berubah lembut kembali setelah tadi berbicara ditelpon dengan nada kaku dan datar.
“Aku harap setelah malam ini Mas ndak lupa dengan janji Mas ya!” tegas Tasya mengingatkan kembali.
“Iya Mas janji. Bagaimana dek kamu suka malam ini kan?” tangan kanan Malikh meraih pipi Tasya.
“Suka Mas, makasi!” Tasya tersenyum lebar.
“Makasi juga sayang, muachh.” Malikh mengecup kening Tasya dan kembali melanjutkan aktivitas mereka yang tertunda.
***
“Kalian habis dari mana?”
Bersambung ...
“Aku ndak butuh penjelasanmu lagi Mas, aku lagi ndak mau ribut soal itu ... kamu tahu sendiri kan aku baru saja kehilangan seorang ibu.”“Aku tahu Ngel, maafin aku ... aku ndak ada maksud buat nyakitin kamu, dia datang kembali ke sini tanpa sepengetahuan aku itu semua di luar kendali aku ... aku harap kamu bisa ngertiin semua ini.”“Tapi sebelumnya dia sempat ngubungin kamu kan, kenapa kamu ndak bilang ke aku Mas? Setidaknya semuanya ndak bakalan terjadi seperti ini, mungkin aku bisa jadi lebih siap ngadepinnya, kalau kayak tadi aku malu sama tetangga dan orang-orang sekitar sini. Aku ngerti itu karena aku ngehargain kamu, tapi perasaanku bagaimana kamu ndak bisa ngehargain aku dengan nyembunyiin itu semua.”“Iya aku salah, aku minta maaf atas semua itu tapi aku ngelakuin ini karena aku takut buat kamu jadi beban pikiran aku tahu kamu lagi berduka maka dari itu aku nyembunyiin hal ini dari kamu ... maafin aku yo, aku janji bakalan menyelesaikan masalah ini secepatnya,” yakinnya penuh
“Kenapa tiba-tiba perasaanku ndak enak begini yo? Perasaan ndak ada hal aneh yang terjadi, tapi kok aku jadi kepikiran Mas Erik terus.” Angel uring-uringan tanpa sebab, namun perasaannya terpaku pada lelaki yang baru saja menikah dengannya itu.“Apa aku cerita ke Angel sekarang yo? Emmm, tapi Angel lagi berduka kasihan kalau harus aku ceritakan hal begini sekarang, tapi kenapa dia tiba-tiba muncul lagi?”“Kamu kenapa Rik? Ngomong-ngomong tumben kamu mau nongkrong sama kita-kita lagi biasanya kamu lengket banget sama komputermu!” canda rekan kerjanya.“Ah, lagi pengen nikmati kebersamaan bersama kalian saja! Aku juga lagi banyak pikiran, jadi biar sekalian healing.”“Banyak pikiran? Penganten baru kok banyak pikiran!”“Mulai! Aku kan manusia jadi wajar bisa stress!”“Apa pernikahanmu ndak menyenangkan makanya jadi stress?”“Hus ngawur kamu! Kasihan Erik!”“Mana ada lah begitu! Aku sama istriku baik-baik saja, lagian ini bukan tentang masalah pernikahanku!”**“Erik! Ke luar
Berbalut pakaian serba hitam, ia melangkah perlahan ke pusara ibunya. Pencariannya akhirnya bermuara, setelah lelah menanyakan ke mana-mana lokasi pemakaman ibunya karena Angel tak memberi tahunya sama sekali.“Apa kabar Sya? Apa kamu puas sekarang?” tanya seseorang, yang datang membelakangi Tasya saat ia menangis di depan pusara ibunya.Tasya segera menyeka air matanya, “Kenapa pertanyaannya harus seperti itu Mbak? Aku juga anak Ibuk apa aku ndak pantas berduka?”“Berduka? Apa aku ndak salah dengar? Setelah semua yang kamu lakuin ke Ibuk dan aku selama ini kamu bilang dirimu berduka?”“Ya memang apa salahnya? Apa aku berduka ada ngerugiin Mbak? Jangan jadi orang sok suci dong Mbak, aku juga manusia dan punya perasaan!”“Sayang udah, kasihan Ibuk kalau kalian bertengkar di depan makamnya ... Tasya lebih baik kamu pulang sekarang jangan ganggu Mbakmu, dia masih sangat terpukul dengan kepulangan Ibuk.”“Kamu siapa? Aku ini anak kandungnya dan aku juga berhak untuk tetap di s
“Eh buk, sudah denger ndak berita tentang buk Surti?”“Belum, memangnya kenapa to?”“Katanya buk Surti meninggal!”“Ah masak to, tenanan?”“Iyo beneran, aku lo dikasi tahu sama teman dari kampung sebelah!”“Inalilahi. Kasihan yo padahal katanya anaknya si Angel baru saja menikah loh!”“Yak ampun, kasihan sekali.”“Tapi kok tadi aku lihat Tasya biasa-biasa saja to? Bahkan dia masih kerja di tempat itu dengan santainya!” Pembicaraan mulai menghangat.“Loh dia kan anak durhaka! Mana mungkin dia bisa tahu kalau ibuknya sudah meninggal meskipun tahu pun pasti dia ndak punya rasa apa-apa, dia kan selama ini sudah durhaka sama ibuknya sendiri!”“Ehhh, stsss itu orangnya lewat!”Tasya lewat dengan tatapan tajam, “Kalian pasti lagi ngomongin aku yo? Dasar kurang kerjaan!” pekiknya.“Heh dasar anak durhaka! Kita lagi ngomongin ibuk kamu tahu ndak!”“Ibuk aku? Ngapain kamu ngurusin hidup Ibukku, lebih ndak punya kerjaan lagi kalau begitu!”“Heh mana ada ibukmu hidup? Ibukmu itu sudah mati tahu n
“Apa?” Angel sontak terkejut, ia gegas membangunkan Erik yang tengah lelap tertidur. “Mas, bangun Mas!”“Kenapa? Ada apa Ngel? Ini masih jam enam pagi, kamu ndak nyaman lagi tidurnya?” Erik terbangun dalam keadaan panik.“Ibuk Mas, Ibuk!” “Tenang Ngel, Ibuk kenapa?”“Kita harus ke sana sekarang!” Erik yang larut dalam ketidaktahuan pun ikut panik dan gegas mengikuti kemauan istrinya, mereka bersiap pergi menengok keadaan Surti.“Kamu tenang Ngel, coba cerita dulu Ibuk kenapa?”“Aku ndak tahu mau ngomong apa Mas aku juga bingung, aku mau ketemu Ibuk sekarang!” Kepanikan mengikuti perjalanan mereka, Angel tampak kosong entah apa yang menghantui perasaannya ia tak henti-hentinya memanjatkan doa sementara itu Erik berusaha tenang agar istrinya tak tambah panik.“Ngel kita sudah sampai, ayok pelan-pelan.” Erik memapah Angel karena badannya sedikit lemas. “Assalamualaikum Ibuk, Mbah di mana Nak?” Rafa dan Aira terdiam, mata mereka berdua terlihat semba
“Mas, aku ke Ibuk.”Erik tertegun, ia mematung sejenak, “Kamu manggil aku apa tadi?”“Mas?” jawabnya pelan.Erik menutup mulutnya, seakan ia tak menyangka hal ini terjadi, “Kamu udah bisa manggil aku Mas?”Angel mengangguk, “Bagaimana? Cocok ndak aku manggil kamu Mas?”Erik tersenyum lebar, “Senang sekali, ini yang aku tunggu-tunggu!” balasnya semangat.“Syukurlah, kalau begitu aku nengok Ibuk dulu yo.”“Aku anterin ya, sekalian berangkat kerja.”“Iya, Mas.”*“Bagaimana Buk? Sudah mendingan, kata dokter apa?” Raut muka khawatir Angel sangat tampak, hingga tak bisa disembunyikan sedikit pun.“Ibuk ndak sakit Nduk!” tegasnya pelan.“Ndak sakit? Tumben Ibuk nelpon aku kayak penting sekali, tak kiro Ibuk sakit! Terus Ibuk kenapa nelpon aku sampai ngomong begitu?” Angel penasaran.“Ndak papa, Ibuk cuman kangen sama kamu!”“Tapi kan Angel tiap hari ke sini Buk, anak-anak juga tinggal di sini kan jadi ndak mungkin aku lupain kalian sampai Ibuk khawatir kayak tadi! Ibu sebenarnya kenapa, co







