Beranda / Rumah Tangga / Istri 24 Bulan Tuan Muda / Bab 212 : Permintaan Maaf

Share

Bab 212 : Permintaan Maaf

Penulis: Fortunata
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 19:00:07

Kediaman utama Wiguna berubah menjadi medan perang di hari tersebut.

Deri, Darren, dan Roy—marah besar pada Sabrina.

Tak satu pun dari mereka menyangka, perempuan yang selama ini berdiri sebagai ibu dan istri, tega memperlakukan anak perempuan orang lain seperti itu.

Entah patut disebut beruntung atau tidak, Sabrina memang tak pernah memiliki anak perempuan.

“Hati-hati karma, kamu juga punya anak perempuan” atau “Gimana perasaanmu kalau anak perempuanmu diperlakukan seperti itu?”

Kedua kalimat nasihat di atas tidak akan berlaku untuk Sabrina.

Namun kini, lihatlah Brian.

Deri menelan nafas dalam. Jika karma memang benar adanya, mungkin inilah wujudnya.

Karma tidak selalu datang dengan bentuk yang sama.

Kadang ia hadir, menampar jauh lebih dalam—melalui orang yang paling disayangi.

Kini, meski permintaan maaf yang mereka bawa terasa egois—karena berangkat dari keputusasaan seorang ayah—Deri tahu ia sungguh-sungguh menyesal

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 214

    "Jadi Yan. Lo harus semangat buat sembuh! Dan... Diana juga udah gak gue izinin masuk. Ayo, Yan. Masih ada kesempatan rujuk sama Lita!"Brian hanya bisa tertawa dalam hati melihat kakaknya yang bersemangat. Bukankah harusnya Brian yang paling senang mendengar berita itu?"Lo juga harus cepet sembuh karena gue kangen sama cewek gue. Gue mau cepetan balik US. Oke? Jangan jahat-jahat sama kakak lo ini. Lo gak akan nemu kakak seganteng dan sebaik gue. Lo dan Roy adalah adik paling beruntung di dunia ini..."Dan Darren… terus mengoceh.Tentang hal-hal sepele, tentang masa depan, tentang betapa menyebalkannya Roy, sampai akhirnya perawat masuk dan memanggil Brian untuk sesi pemeriksaan berikutnya.***Hari ini, lagi-lagi, Citra berdiri di depan gedung Fort—dan lagi-lagi ditolak.“Maafkan kami, Bu Citra,” ujar satpam, “Ibu tidak diizinkan masuk.”Jujur saja satpam Fort sudah lelah menghadapi Citra.

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 213

    “Aku nggak ngerti sih apa yang ada di otaknya itu. Kok bisa ya orang nggak punya urat malu sama sekali.”Lalita sangat kesal sampai-sampai ia tak sadar melahap sandwich dengan potongan besar, nyaris tanpa jeda untuk mengunyah.Brian mengkhawatirkan Hadi. Bagaimanapun, Fuad dan Hadi bersahabat sangat dekat. Pasti lukanya masih membekas.“Aa… ka… mu… gi… ma… na….”Suara Brian terdengar sangat pelan, terputus-putus. Beberapa kali pun mencoba, Brian tetap tidak bisa melafalkan satu kata pun dengan jelas.Lalita yang berusaha untuk mendengar pun sama saja. Tidak bisa menangkap satu kata pun.Hanya saja, Lalita tidak ingin menyerah.“Hm?” Lalita menghentikan kunyahannya, lalu mendekatkan wajah ke arah Brian. “Kamu ngomong apa?”Brian kembali berusaha. Bibirnya bergerak perlahan, otot-otot wajahnya tampak tegang, setiap suku kata yang ia keluarkan terasa berat.Namun tetap saja, Lalita tak bisa mendengarnya.“P…a… pa…”Akhirnya, ia coba untuk menebak.“Papa?” Lalita mengernyit. “Maksud kamu…

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 212 : Permintaan Maaf

    Kediaman utama Wiguna berubah menjadi medan perang di hari tersebut. Deri, Darren, dan Roy—marah besar pada Sabrina.Tak satu pun dari mereka menyangka, perempuan yang selama ini berdiri sebagai ibu dan istri, tega memperlakukan anak perempuan orang lain seperti itu.Entah patut disebut beruntung atau tidak, Sabrina memang tak pernah memiliki anak perempuan.“Hati-hati karma, kamu juga punya anak perempuan” atau “Gimana perasaanmu kalau anak perempuanmu diperlakukan seperti itu?” Kedua kalimat nasihat di atas tidak akan berlaku untuk Sabrina.Namun kini, lihatlah Brian.Deri menelan nafas dalam. Jika karma memang benar adanya, mungkin inilah wujudnya. Karma tidak selalu datang dengan bentuk yang sama. Kadang ia hadir, menampar jauh lebih dalam—melalui orang yang paling disayangi.Kini, meski permintaan maaf yang mereka bawa terasa egois—karena berangkat dari keputusasaan seorang ayah—Deri tahu ia sungguh-sungguh menyesal

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 211 : Alasan

    [K... Kenapa? Kan lo lagi non... ton... drama, Lit?]Lalita terdiam cukup lama. Di seberang sana, Fauza bisa mendengar tarikan nafas yang terdengar ragu—seolah Lalita sedang menimbang antara bercerita atau tidak.[Lit, apa ada masalah? Lo… bisa kok cerita sama gue…]Beberapa menit kembali berlalu. Semua orang sedang menunggu dengan cemas.[Za… tapi lo janji jangan kasih tahu Dex, Nico, Rio, ataupun kakak-kakaknya Brian ya…]Fauza refleks menelan salivanya. Tangannya yang memegang ponsel sedikit bergetar. Ia bahkan tak berani menoleh ke arah mereka semua yang sejak tadi menunggu dengan nafas tertahan.[Iya, Lit. Janji. Emangnya ada apa?]Lita, maafin gue…teriak Fauza dalam hati.[Papa gak izinin.]Jantung Fauza langsung terasa jatuh. I… Ini alesannya serius.

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 210

    “Makasih ya, Lit… kamu udah mau jenguk Brian di tengah kesibukan kamu,” ucap Roy pelan.Dalam hati, Roy berharap setidaknya Brian terbangun. Berharap ada satu momen saja di mana adiknya bisa melihat Lalita datang untuknya.“Iya kak… kalau gitu Lita pulang dulu ya.”Roy hanya mengangguk.***Benar saja.Begitu Lalita sampai di rumah, Hadi sudah menunggunya di ruang tengah. Duduk tegak, tangan bersedekap, wajah datar.Lalita menatap ayahnya malas.“Kenapa, pa? Papa mau ngomel lagi?” tanya Lalita asal.“Percuma ngomelin kamu,” jawab Hadi singkat. “Toh kamu udah pergi. Tapi mulai sekarang, nggak boleh lagi. Pokoknya nggak boleh.”“Iya pa, iyaaa… next Lita nggak pergi,” sahut Lalita cepat, setengah menyerah.Hadi menghela napas. “Gimana keadaan Brian?”Lalita terdiam sejenak, lalu duduk di sofa dengan bahu merosot.“Entahlah, pa. Tadi Lita datang pas dia udah tidur. Kondisinya sesuai yang kak Roy ceritain siang tadi. Brian mute… enggak ngomong.”Ia menelan ludah, suaranya mulai berat.“Kel

  • Istri 24 Bulan Tuan Muda   Bab 209 : Kedatangan

    “Kak Roy? Kakak ada apa ke sini?” ucap Lalita begitu melihat dengan jelas wajah pria yang mendekati mereka.“Halo, Lita…” Roy tersenyum tipis. “Kakak memang sengaja mau ketemu kamu. Kebetulan banget kamu lagi di café ini. Tadinya kakak mau naik ke kantor kamu dan bikin janji dulu.”Roy ramah seperti biasa. Namun, Lalita merasakan sesuatu yang mengganjal di balik kedatangannya hari ini.Meski begitu, mereka berdua tampak kikuk. Seingat Roy mereka memang tidak pernah mengobrol berdua saja. Jadi, cukup aneh rasanya harus berbincang berdua hari ini.Menyadari udara di sekitar mereka berubah, Fina dan Olivia segera pamit dengan alasan kembali ke kantor. Lalita hanya sempat melambaikan tangan kecil sebelum kembali fokus pada Roy.“Silakan, kak. Duduk,” ucap Lalita canggung, menyadari Roy masih berdiri meski kursi di depannya kosong.Begitu pesanan datang dan suasana sedikit lebih tenang, Roy mulai berbicara. Perlahan, pria itu menjelaskan kondisi Brian yang kembali menurun—tentang pingsan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status