Share

Bab 3

Rasanya wajar bila Raina curiga.

Bagaimana bisa seorang pria asing yang tiba-tiba mengusiknya ini tahu masalah hidupnya sejauh ini? 

"Kamu tidak perlu tahu. Yang jelas, kamu hanya perlu menjawab mau jadi pacarku dan aku akan membantumu!" ucap Bayu kala merasa posisi keduanya sudah kembali berbalik.

"Tapi—”

"Kamu yakin siap kehilangan sekolah itu?" potong pria itu lagi.

Raina terdiam seribu bahasa.

Ia terlalu lemah saat membicarakan soal penggusuran sekolah.

Sementara itu, Bayu tampak tersenyum puas melihat Raina tampak tak berdaya.

"Aku tidak akan memaksa. Yang jelas, kamu bisa pikirkan baik-baik tawaranku!"

Bayu tersenyum. Ia lalu berbalik dan pergi dari kediaman Raina yang tampak memantung.

Perempuan itu kembali teringat pada penggusuran sekolah.

Ia pun kembali mencari cara agar anak didiknya tetap bisa menuntut ilmu di sana.

Sempat ia memikirkan tawaran Bayu. Hanya saja, Raina menganggap pria itu sedang membual.

Bayu tidak mungkin bisa mengembalikan sekolah padanya, kan? 

Meski kaya, tapi apa mungkin dia mengalahkan pengusaha yang bahkan masuk daftar 10 orang terkaya di Indonesia? 

Tring!

Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel menyadarkan Raina dari lamunan.

Meski dari nomor tak dikenal, tapi perempuan itu segera membacanya.

Dia tak ingin kejadian kemarin terulang.

[ Temui aku di alamat ini kalau kamu mau sertifikat ini kembali ke tanganmu.

-Bayu- ]

Bersamaan dengan itu, ada foto sertifikat tanah gedung sekolah berdiri.

Mata Raina sontak melebar sempurna. "Dia kok bisa punya sertifikat ini? Jadi dia serius akan mengembalikan sekolah padaku?"

Raina bergeming beberapa detik saking tak percaya dengan apa yang sedang disajikan saat ini.

Satu hal yang dipikirkan Raina, siapa Bayu sebenarnya?

Bayu mengetahui alamat rumahnya dengan mudah, lalu juga mendapatkan nomor ponselnya, yang lebih mencengangkan sertifikat tanah yang seharusnya berada di tangan pemilik Corp Group pun diperolehnya.

Raina merenungkan tawaran Bayu sepanjang malam.

Dia pun masih mencoba mencari opsi lain, berharap menemukan cara yang lebih baik tanpa harus menjadi kekasih sewaan Bayu.

 

Tanpa sadar, Raina terlelap. 

****

Tok tok tok!

Pagi-pagi sekali, suara ketukan pintu yang ramai membuat Raina terlonjak kaget.

"Siapa yang bikin keributan pagi-pagi gini?"

Baru hendak mengomel karena merasa sangat terganggu, terdengar suara anak kecil berbicara.

"Bu Nana! Bu Nana buka pintunya!"

"Bu Nana, sekolah kita … sekolah kita mau dihancurkan!"

Mata Raina melebar sempurna. Segera saja, ia lekas menghampiri pintu.

Tampak belasan anak-anak–perempuan, dan laki-laki–berdiri di depan.

Mereka mengadukan apa yang terjadi secara berebutan ….

"Banyak mobil truk di sekolah kita, Bu!"

"Orang-orang jahat itu melarang kita masuk ke sekolah …."

"Gerbang sekolah kita sudah roboh!"

Raina tampak bingung harus mendengar siapa terlebih dahulu.

Hanya saja, intinya satu: sekolah sedang dalam ancaman serius!

Raina pun mengangguk cepat. "Kita ke sana sekarang juga! Bu Nana tutup pintu dulu ya."

Perempuan itu pun kemudian mengunci pintu rumahnya. Setelahnya, dia segera berlari cepat bersama anak-anak menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, ucapan murid-muridnya terbukti.

Raina tampak begitu syok.

"Kalian tidak boleh menghancurkan sekolah kami! Aku akan melaporkan kalian semua!" pekiknya.

Alih-alih takut, seorang pria bertopi proyek yang merupakan mandor tim–tersenyum sinis. "Laporkan saja, kami punya surat perintah!" balasnya. 

"Tarman, buruan hidupkan mesin, kita bongkar bagian sini dulu!" Lelaki tersebut menambahkan titah.

"Abaikan dia, cukup dengarkan kataku!" balasnya tak peduli kepanikan Raina.

Para pekerja pun bekerja sesuai perintah. Mereka lekas menghidupkan mesin dan bersiap-siap melakukan pekerjaan.

Hanya saja, di kala alat berat dalam keadaan siaga di atas atap salah satu ruangan kelas, Raina kembali berteriak dengan panik ….

"Tunggu! Aku akan menerima tawaran itu!"

Semua orang menatapnya penuh tanda tanya, tampak tak mengerti dengan apa yang dikatakannya.

Raina lantas mengotak-atik layar ponselnya dan menghubungi Bayu. 

Beruntung panggilannya langsung dijawab.

“Halo–”

"Aku terima tawaranmu!" potong Raina cepat.

"Tawaran apa? Katakan dengan jelas!"

Merasa Bayu sedang mengerjainya, Raina begitu geram. Namun, ia tak berdaya karena tidak mungkin memarahi pria itu di saat-saat seperti ini.

"Aku mau jadi pacarmu!" tegasnya.

Terdengar tawa dari seberang. "Bagus!"

Tak lama, panggilan keduanya terputus. 

Hal ini jelas membuat Raina panik.

 

Hanya saja, tak lama, ponsel mandor di hadapannya berdering.

Entah dengan siapa pria itu berbicara dan apa yang dikatakan sang penelepon.

Yang jelas … setelah menutup telepon, sang mandor tiba-tiba berkata, "Hentikan pembongkaran, ini perintah atasan!"

Raina terbelalak sejenak sebelum menghela napas lega.

Namun, ia sadar ini adalah kelegaan semu karena masalah baru justru akan segera dimulai!

Walaupun belum seutuhnya memberikan sertifikat tanah, Bayu telah membantunya agar sekolah ini batal dibongkar.

Raina bukan seorang pengingkar janji.

Setelah pulang dari sekolah, ia berencana menemui Bayu di alamat yang dikirimkannya nanti. 

Akan tetapi, belum sempat dia mengunjungi Bayu, pria itu telah mengirimkan sang asisten ke rumah Raina untuk menjemput dirinya.

"Kalian …."

"Selamat sore, Mbak Raina. Perkenalkan saya Dom, Bayu yang mengirim saya ke mari," ucap pria kemayu itu dengan gaya khasnya.

"Bilang padanya, aku akan menemuinya sebentar lagi," balas Raina cepat.

"Oh, pergi sama kita saja, Mbak Raina."

"Tidak perlu. Kalian balik saja dulu, aku masih mau mandi."

Di kala Raina hendak melanjutkan langkah mendekati pintu rumahnya, Dom menggelengkan kepala ke arah 2 pria dekat mobil.

Kedua orang itu segera bergerak mengunci tangan Raina.

"Lepas! Apa-apaan kalian?"

"Maafkan kami, Mbak Raina. Ini perintah Pak Bayu. Mbak Raina harus ikut kami sekarang juga ke bridal!"

"Be-bridal? Mau ngapain ke Bridal?"

Bersambung ….

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status