LOGINPemandangan surga.
Itulah yang pertama kali terbesit di kepala Evelyn setelah keluar dari hutan terlarang. Berdiri tepat di atas bukit tinggi yang langsung menyuguhkan pemandangan seluruh Kerajaan Eldoria. Bibir Evelyn terbuka dengan mata berkilat kagum saat melihat bahwa istana Eldoria itu berdiri megah di kelilingi oleh lautan. Sedangkan pemukiman rakyatnya berjejer dari pantai terus melaju ke bagian pedalaman hutan. "Wah," Evalyn sampai kehilangan kata-kata. Hatinya berdebar, darahnya berdesir aneh. Perasaan nostalgia ini muncul, seperti saat Evalyn membuka buku dongeng, namun kini pemandangan surga itu tidak hanya ada di buku. Evelyn seolah menyelami buku dongeng. "Sudah aku duga kau masih suka pemandangan fantasi seperti ini. Aku pikir kau sudah tidak suka dongeng." Ledek Agaras membuat Evelyn memerah dengan bibir mengerucut, menyembunyikan kesal. "Aku kagum karena dunia manusia tidak seindah ini." Ujar Evelyn berkelit. "Sudah, jangan mengoceh melulu, ayo pulang ke istana." Tukas Bram menarik pundak Evelyn dan memeluknya erat. Evelyn sontak meronta dan mendorongnya namun terhenti saat gelombang efek teleportasi kembali menghantamnya. Tidak lama, dia berpindah tempat lagi. Kali ini Bram mendapat amukan berupa jambakan dan pukulan dari Evelyn karena berteleportasi seenaknya. "Aw! Aw! Padahal aku sudah memberitahumu tadi!" Tukas Bram sambil menjauhkan kening Evelyn. "Tetap saja aku yang kena efek sampingnya!" Amuk Evelyn. Agaras melipat tangan sambil menggeleng pelan melihat pertengkaran keduanya. "Alfa Agaras, anda bertranformasi lagi?" Agaras menemukan Beta Hemil menghampiri dan menyampirkan jas sepanjang mata kaki ke pundaknya. "Aku bertarung dengan serigala di hutan terlarang. Sepertinya itu Rogue." Ujar Agaras mengancingkan jasnya. Hemil mengernyit, "Rogue adalah serigala yang tidak memiliki kesadaran seperti werewolf. Pada dasarnya mereka hanya hewan buas tanpa akal. Kenapa anda pergi kesana, Alfa?" Agaras mengedikan dagu pada Evelyn dan Bram yang masih bertengkar membuat Hemil membelalakan matanya. "Alfa, a-apa itu ... Ratu Evelyn?" Tanya Hemil memastikan. Agaras mengangguk sambil tersenyum bangga. "Rasanya seperti kembali ke tahun-tahun sebelumnya melihat mereka berdua." Komentar Agaras. "Ratu Evelyn sudah kembali ke Istana, apa ini sudah umurnya? Apa benar Ratu hilang ingatan?" Tanya Hemil membuat Agaras berdehem mengiyakan. Evelyn jadi menoleh ke arah mereka sontak membuat Hemil langsung berlutut di depannya. "Salam, Ratu Evelyn. Selamat datang di Istana Eldoria. Saya Hemil, seorang Beta dari pack werewolf yang dipimpin suami anda." "Eh? A-aku kan bukan Ratu." Gumam Evelyn bingung. "Tentu saja anda adalah Ratu. Ketujuh suami anda adalah Raja." Jawab Hemil. Sontak Evelyn terperanjat, seolah disadarkan kembali, dia sekarang tengah berada di Istana Eldoria tempat tinggal ketujuh pria yang mengaku suaminya. Evelyn sontak memperhatikan sekeliling, dia berada di lorong istana berdinding tinggi menjulang ke langit yang terbuat dari marmer putih tulang yang nampak mewah. Terdapat celah-celah berlubang tanpa kaca di atas atap membuat cahaya matahari langsung masuk, Evelyn bahkan bisa melihat warna langit biru muda cerah di sana. "Hemil, tolong urus Ratu kita. Kau lihat penampakannya, bukan? Dia terlihat seperti rakyat dibanding Ratu." Ujar Agaras membuat Hemil mengangguk. Hemil memanggil pelayan, Evelyn terkejut karena para wanita berseragam putih dengan penutup kepala kain hitam yang diikat ke bawah dagu datang dan langsung berlutut di hadapannya. "Hormat kami kepada Ratu Evelyn." Ujar mereka kompak. "Kalian semua bahkan tahu namaku, ha?" Gumam Evelyn bingung harus merespon kaget dengan ekspresi bagaimana lagi. "Eh, aku akan dibawa kemana?" Tanya Evelyn saat mereka menyeret kedua lengannya lembut. "Istirahatlah, Evelyn. Kita akan bertemu di Ruang Tahta setelah pikiranmu sedikit lebih jernih." Ujar Agaras tersenyum lebar sambil mengacak puncak kepala Evelyn. Evelyn tidak berkata apapun lagi, dia jadi menoleh menemukan Agaras dan Hemil yang mengobrol dengan Bram yang melambai padanya. Evelyn dibawa ke pemandian air panas yang lantainya terbuat dari granit, dia tidak berhenti berdecak kagum saat berendam karena pemandangannya langsung mengarah ke lautan luas di bawahnya. Di belakangnya berkelap-kelip lampu yang digantung dengan hiasan kaca berwarna-warni. Dia sudah menolak namun para pelayan tetap memandikan tubuhnya membuat Evelyn malu sendiri. Padahal mereka propesional. Evelyn dipakaikan gaun berwarna putih berpotongan lurus dengan hiasan rantai membelit pinggang. Tidak lupa ada beberapa lapisan brukat bertabur perak di roknya. Sementara potongan atasnya memperlihatkan tulang selangka, leher dan belahan dadanya yang mulus dengan lengan pendek. "Gaunnya simple tapi terlihat sangat mewah." Komentar Evelyn melihat pantulan cermin di depannya. Rambut hitam legam sepunggung miliknya dikepang satu, setiap helai rambutnya diberi hiasan berkilap dan terakhir hiasan emas berbentuk ranting dan daun di puncak kepalanya. Evelyn sampai menganga tidak percaya, dirinya yang biasa tampil seadanya bisa seanggun dan secantik ini jika didandani oleh barang mewah. "Huh, uang memang segalanya." Komentar Evelyn. Tidak lama, jamuan berbagai makanan mewah yang Evelyn tidak tahu namanya disajikan ke ruangan. Tentu saja Evelyn menikmatinya karena perutnya jelas keroncongan, dia belum menyentuh makanan apapun hari ini. Jujur, ini makanan terlezat yang pernah Evelyn cicipi. Tentu saja rasanya akan selangit jika dibandingkan dengan ceplok telor yang biasa dia santap sehari-hari. Baru setelah makan, para pelayan berdiri di setiap sudut kamar dan berjejer di sisi pintu, seolah memberi Evelyn ruang sendiri. Evelyn melangkah keluar kamar, ada balkon kecil dan tempat duduk yang terbuat dari batu pualam putih untuk muatan satu orang. "Bahkan kursi saja mewah." Gumam Evelyn duduk dan menyandarkan punggungnya. Hembusan napas panjang keluar dari bibir, seolah ini adalah waktu istirahat yang sangat dia inginkan di hidupnya. Ruang sendiri untuknya mencerna semua yang terjadi. Tentu saja, sampai detik ini Evelyn masih tidak mengakui bahwa dia adalah istri ketujuh Raja Kerajaan super mewah ini. Tapi yang dapat dia proses saat ini adalah bahwa dunia fantasi di dongeng yang dia sukai saat remaja itu nyata. Ternyata itu bukan hanya cerita. "Manusia serigala, teleportasi dan dunia supranatural itu nyata." Gumam Evelyn. "Agaras adalah manusia serigala ... Apa si mesum Bram juga manusia serigala?" Gumam Evelyn sambil memejamkan matanya, rasanya dia lelah sekali. Apa Raja yang lain juga mahluk serupa? Evelyn jadi penasaran. "Cih, mereka bahkan tidak mengenalkan diri dengan benar." Gerutu Evelyn. Kantuk menyerangnya, rasanya nyaman diterpa angin lembut dan sejuknya kursi yang dia duduki. "Maaf mengganggu istirahat anda, Ratu. Ketujuh Yang Mulia Raja memanggil anda ke ruang tahta." Mata Evelyn sontak terbuka mendengar seruan pelayan. Tanpa sadar jantungnya berdegup kencang, jadi ini saatnya bertemu ketujuh pria itu ... Lagi."Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu
Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin
"Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"
"Raidne! Ohok-ohok ... A-apa yang kau lakukan?!" Jerit Evelyn terbatuk perih saat cekikan tangan Raidne semakin menguat. Membuat tenggorokannya tertekan dan kesulita mengambil nafas. Evelyn melotot dan meronta saat cekikan Raidne seolah ingin mematahkan tulang lehernya. Suara tawa melengking dari hantu laut itu kembali memenuhi atmosfer, seolah menertawakannya yang tengah sekarat. Jemari Evelyn mencoba mencengkram sekitarnya, dia meraup pasir dan melemparkannya ke mata Raidne namun yang terjadi adalah Evelyn lebih terkejut saat Raidne tetap membuka matanya meskipun memerah karena pasir. Ini gila! "Bunuh! bunuh!" Desis Raidne dengan gigi menggertak. Evelyn kembali meronta, meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda apapun yang bisa dia gunakan. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, membuat Siren ini menderita sebelum kemudian membunuhnya untuk menyusulmu!" Desis Raidne menyeringai dengan netra melotot dan diakhiri
"Hahh, akhirnya selesai juga." Gumam Bram merenggangkan badan dan pinggangnya, berdiri di pelataran Rumah sakit."Anda tidak perlu memaksakan diri, Yang Mulia." Ujar Yul di sampingnya."Aku tidak, namun jika tidak melihat langsung kondisi para korban yang terluka, aku sama sekali tidak bisa tenang." Ujar Bram.Yul jadi mengulum senyum di wajahnya yang renta, "anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.""Tentu saja. Sekarang, ayo mulai bekerja. Aku harus cepat menyelesaikannya karena ada istriku yang cerewet tengah menungguku." Ujar Bram tersenyum geli saat wajah kesal Evelyn terbayang di kepalanya."Anda pasti menyelesaikannya dengan cepat.""Tentu saja! Rakyat percaya padaku karena aku bijak, berhati mulia dan baik hati. Apalagi aku sangat populer karena ketampananku." Tukas Bram sambil menyeringai bangga."Lalu, apakah dengan itu semua Ratu Evelyn sudah menyukai anda kembali, Yang Mulia?" Tanya Yul sontak membuat Bram terbatuk karena ucapannya tepat s
"Raidne, ada apa?" Tanya Evelyn bingung saat dia ditarik untuk berlari menjauh dari pantai.Tapi Evelyn tidak mendapatkan jawaban apapun saat Raidne terus berlari dengan wajah panik. Seolah secepat mungkin ingin membawa Evelyn pergi dari sana.Nafas Evelyn memburu saat langkah mereka terhenti di depan gua sebelumnya, kali ini dengan tangga menanjak."Ah!" Tukas Evelyn terkejut saat tubuhnya diangkat ke pundak. Raidne memanggulnya seperti sekarung beras sebelum menaiki tangga gua dengan sangat cepat.Raidne tidak bisa mendapatkan risiko kaki Evelyn yang tergellincir jatuh di tangga seperti sebelumnya. Dia juga tidak tega jika harus menarik Evelyn tertatih-tatih ditangga.Cukup lama sampai keduanya berhasil keluar dari gua. Evelyn pikir Raidne akan langsung menurunkannya namun ternyata tidak, dia lanjut berlari sambil terus menggendongnya melewati hutan sebelumnya.Kening Evelyn mengernyit dengan mata membelalak saat langit yang sebelumnya cerah mendadak g







