LOGINEvelyn tidak berhenti berdecak kagum melihat setiap ukiran mendetail dari ornamen kaca warna-warni di dinding, belum lagi bangunan istana yang megah dan terlihat premium.
Sampai pelayan menghantarkannya ke depan pintu raksasa yang menjulang tinggi ke langit. Ada dua penjaga berseragam baja yang terlihat berat sambil mengancungkan tombak yang lebih tinggi dari kepala mereka, berdiri di sisi pintu. Pintu itu terbuka menimbulkan suara gesekan nyaring yang menggetarkan dinding. “RATU EVELYN MENGUNJUNGI RUANG TAHTA!” Penjaga memberitakan. Degupan jantung Evelyn berdebar kencang, mentalnya menciut di tengah pintu itu sebelum langkahnya yang gemetar di bawa masuk. Kenapa dia harus segugup ini? Dia bukannya akan bertemu presiden pun. Sampai langkah Evelyn terhenti, pundaknya merosot dengan mata berkilat kagum melihat ketujuh pria penyusup itu memakai pakaian hitam seperti jas dengan jubah kebesaran berwarna perak berbulu angsa putih yang bertengger agung di pundak mereka. Belum lagi mahkota berlapis emas berhiaskan berbagai berlian bersarang di atas kepala mereka. Evelyn meneguk ludah dengan lutut gemetar saat merasakan aura mendominasi ruangan yang seolah menyudutkannya. Ini melebih presiden! Evelyn bertemu tujuh Raja Iblis yang duduk di singgasana agung mereka masing-masing! “Evelyn?!” Tanya Darianth berdiri dari tahtanya, keningnya berkerut menoleh ke arah Bram dan Agaras, seolah meminta penjelasan. “Inilah tamu istimewa yang aku katakan sebelumnya! Kau tuli, ya? Barusan kan penjaga mengumumkan dengan keras.” Tukas Bram santai. “Sudah aku bilang untuk sementara jangan bawa dia kesini.” Decak Darianth mengurut keningnya pusing. Evelyn jadi mengerjap kaku mendengarnya, dia pikir mereka yang memanggil Evelyn, tapi sepertinya tidak semua tahu tentang kedatangan Evelyn. “Kau membuat Evelyn kebingungan, diamlah! Jika sudah berada di sini, ya syukuri saja.” Tutur Lucian santai—pria berambut hijau tua gelap. “Aku melarang karena pemerintah dunia memindahkan letak portal dimensi ke hutan terlarang. Butuh persiapan agar menjaga Evelyn aman saat sampai di sini.” Ujar Darianth menghela napas kasar. “Jadi memang sengaja dipindahkan?” Tanya Agaras. “Aku tidak tahu. Maaf.” Jawab Bram ringan sambil nyengir. “Kau terlihat sangat cantik memakai gaun itu, Evelyn.” Puji Kaito tersenyum lebar. Evelyn mengerjap kaku, tidak tahu harus membalas apa pada pria bermata merah itu. “Eve me-memang cantik saat mengenakan apapun.” Ujar Raidne pelan dan gagap. “Apalagi saat tidak mengenakan apapun.” Sahut Bram yang langsung mendapat pelototan tajam dari Evelyn. “Awas kau, mesum!” Ancam Evelyn mengangkat kepalan tangannya membuat Bram terkekeh tanpa dosa. “Jadi, kau sudah menerima kami semua sebagai suamimu?” Tanya Kaito tersenyum manis. “Tidak sama sekali.” Jawab Evelyn lugas sambil mundur selangkah. “Penolakan berarti.” Komentar Kaito menarik senyum sambil bersandar ke singgasana. “Kenapa harus panjang dan berbelit-belit? Bukankah bagus jika mendadak menjadi Ratu dan punya tujuh suami tampan seperti ini?” Tukas Lucian menunjuk wajahnya sendiri dengan percaya diri. “Hidupmu di dunia manusia sulit, bukan? Tidak akan ada yang berani berbuat kasar dan menyulitkanmu di sini.” Lanjut Lucian membuat Evelyn mengepalkan tangannya. “Maksudmu aku harus menerima hal gila ini begitu saja? Jangan harap. Aku tidak semenyedihkan itu. Jangan memandangku lemah, aku bisa bertahan sejauh ini dan aku akan bertahan di tahun-tahun selanjutnya meskipun takdirku sial. Kau tahu? Aku lebih menjalani hidup yang sulit itu daripada menerima tujuh pria asing menjadi suamiku.” Tukas Evelyn tajam membuat Lucian menipiskan bibirnya. “Kalau begitu ayo kita kenalan. Jika kita sudah tidak asing, kau bisa menerima kita pelan-pelan, bukan?” Sahut Bram menaikan alisnya. “Kau keras kepala seperti biasa.” Komentar Lucian menyeringai tipis. “Jangan berbicara seolah kau sangat mengenalku.” Peringat Evelyn. Bram jadi tersenyum segaris saat dia diabaikan. “Tentu saja aku sangat mengenalmu, nona keras kepala. Tatapan mata tajam dan menusuk itu, aku tidak akan pernah melupakannya sama sekali. Meskipun sayang sekali kau melupakan ketampananku yang diatas rata-rata ini.” Tukas Lucian menyugar rambutnya ke belakang. “Pe-periksa ketujuh jarimu.” Ujar Raidne pelan. Evelyn jadi meregangkan semua jarinya. “Kau menikah dengan kami tepat tiga tahun lalu. Namun karena sebuah peraturan dan banyak alasan lain, kau kehilangan ingatanmu dan melupakan kami semua. Kami baru bisa menemuimu tepat setelah umurmu 21 tahun.” Ujar Darianth tenang dan tegas. Mata Evelyn melebar saat menemukan tato hitam berbentuk cincin yang melingkar di ketujuh jarinya. Tato itu berbeda bentuk di setiap jarinya. “Kenapa harus umur 21 tahun?” Tanya Evelyn akhirnya. “Karena kekuatan fisikmu baru kuat menerima kami di umur 21 tahun.” Jawab Darianth. “Menerima untuk apa?” Tanya Evelyn mengangkat alis. “Tentu saja hubungan suami istri, bodoh.” Sahut Bram membuat Evelyn shock. “HAH?!” “Apa semengejutkan itu? Memangnya manusia tidak melakukan hubungan suami-istri setelah menikah?” Tanya Kaito menarik sudut bibirnya. “Ta-tapi, aku tidak mau melakukannya! Aku bahkan tidak mengakui kalian sebagai suamiku! Aku masih belum mengingat hari dimana aku menikahi kalian!” Tukas Evelyn menggeleng kuat. Bram mendesah kecewa, “tapi kami sangat membutuhkannya, Evelyn sayang.” “Hah? Kenapa? Memangnya hal seperti itu sangat dibutuhkan dalam jangka waktu dekat?” Tanya Evelyn tidak paham. “Tentu saja, kami semua sudah menahannya selama tiga tahun untuk tidak menyentuh istri kami. Kau pikir kami kuat menunggu berapa tahun lagi? Satu hari saja rasanya sangat berat.” Ujar Agaras sambil menopang dagu. Evelyn makin takut sampai termundur. Dia menggeleng pelan. Melakukan hubungan suami-istri dengan ketujuh pria ini? “Aku tidak mau!” Tolak Evelyn tegas. “Ck.” Bulu kudu Evelyn berdiri dengan tangan bergetar saat mendengar decakan dari arah singgasana paling ujung. Pria berambut hitam legam dengan wajah bengis itu baru berdecak setelah diam lama dari awal. Zev. Evelyn tidak berani menatapnya karena dia sadar bahwa sedari tadi pria itu tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari Evelyn. “Lalu bagaimana agar kau mau melakukannya?” Tanya Bram pasrah, dia sudah kebingungan saat Evelyn menolaknya. “Pokoknya aku tidak mau melakukannya!” Tukas Evelyn sebelum terkesiap saat sekelabat bayangan hitam menghunus ke arah tubuhnya. Membuat Evelyn terdorong mundur sebelum, BRUGH! Evelyn menjerit pelan saat punggungnya menghantam sesuatu yang lembut. Ranjang! Seseorang memindahkannya ke sini. Sampai Evelyn menahan napas saat seseorang naik ke atas, mengurung tubuhnya. Mata Evelyn membelalak saat pelakunya adalah Zev. “Jangan membuat ini menjadi masalah besar.” Tukas Zev dingin dengan suara rendah. Evelyn menahan napasnya saat kepala Zev mendekat ke telinganya dan berbisik di sana. “Jika kau tidak mau, aku bisa melakukannya secara paksa.”"Kau akan pergi ke mana?" Tanya Salim menghentikan langkah Raidne keluar ruangan."Pa-pantai."Blam!Pintu ditutup meninggalkan Salim yang masih terjerat dokumen di meja kerjanya. Salim jadi menghela nafas, dia tidak berhak menghentikan karena pekerjaan Raidne sudah tuntas.Hanya saja ada yang menganggu benak Salim."Sepertinya dia ke pantai untuk menghindar dari Ratu." Simpul Salim menggeleng pelan.Raidne adalah orang yang cerdas, buktinya dia selalu menjadi orang tercepat menyelesaikan tugas Kerajaan. Karena itu pula dia bisa menjadi Raja.Kelemahannya adalah di ketakutan dan keraguannya sendiri.Jika saja Raidne tidak berpikir berlebihan bahwa semuanya akan berakhir buruk mungkin dia tidak perlu menyimpan rahasia pada Ratu."Mungkin." Gumam Salim.Dia sendiri jadi meragu saat mengingat masa lalu dimana terjadi masalah besar yang melibatkan Raidne dan Evelyn.Hari itu Salim menyuruhnya tenang dan berhenti memprediksi semua akhir bu
Langkah Darianth terhenti saat pintu utama Istana terbuka. Penjaga memberitakan kedatangan Evelyn dan Raidne.Kebetulan sekali."Makan malam sudah siap, mari-," ucapan Darianth terhenti dengan netra melebar.Keningnya mengernyit melihat keadaan keduanya yang kacau. Pakaian Evelyn robek dan memakai jubah Raidne asal sedangkan kondisi Raidne lebih parah. Tubuhnya berlumuran darah, hidungnya patah dan wajahnya babak belur.Keduanya bergeming dengan raut wajah tidak terbaca, apalagi mereka berdiri dengan jarak."Apa yang terjadi?" Tanya Darianth.Hening.Tidak ada jawaban dari keduanya sampai Darianth tersentak. Ujung jarinya terhenti beberapa senti di depan leher evelyn yang terluka. Ada bekas cekikan di sana."Sebenarnya apa yang-," ucapan Darianth terhenti saat Raidne melewatinya.Beranjak pergi tanpa mengatakan apapun. Darianth jadi menoleh pada Evelyn yang menunduk sambil mengusap lengannya. Raut wajahnya tidak terbaca. Kenin
"Raidne tidak mungkin seorang pembunuh. Aku tidak akan tetipu." Ujar Evelyn menggeleng kuat dengan jantung berdegup kencang.Dalam artian buruk.Tapi dia akan tetap mempercayai Raidne."Aku tidak tahu apa hubunganmu dengannya, tapi terlihat bahwa pria ini menaruh kasih sayang dan cinta besar untukmu namun sepertinya itu hanya perasaan sepihak, ya?" Tanya Raidne membuat Evelyn tersentak."Kau ... Sama sekali tidak tahu apapun soal pria ini. Sedari awal kau hanya menumbuhkan kepercayaan tanpa tahu bagaimana karakter asli san masa lalunya."Evelyn jadi meneguk ludah dengan jantung mencelos, yang dikatakan hantu itu benar adanya."Kalau begitu, haruskah aku ceritakan bagaimana sifat Siren yang sebenarnya?" Tanyanya membuat Evelyn jadi bimbang.Haruskah Evelyn mendengarkannya karena sejujurnya dia sangat penasaran apalagi Raidne terlihat menghindar dan menyembunyikan sesuatu darinya."Kau sepertinya penasaran. Baiklah, akan aku ceritakan padamu-,"
"Raidne! Ohok-ohok ... A-apa yang kau lakukan?!" Jerit Evelyn terbatuk perih saat cekikan tangan Raidne semakin menguat. Membuat tenggorokannya tertekan dan kesulita mengambil nafas. Evelyn melotot dan meronta saat cekikan Raidne seolah ingin mematahkan tulang lehernya. Suara tawa melengking dari hantu laut itu kembali memenuhi atmosfer, seolah menertawakannya yang tengah sekarat. Jemari Evelyn mencoba mencengkram sekitarnya, dia meraup pasir dan melemparkannya ke mata Raidne namun yang terjadi adalah Evelyn lebih terkejut saat Raidne tetap membuka matanya meskipun memerah karena pasir. Ini gila! "Bunuh! bunuh!" Desis Raidne dengan gigi menggertak. Evelyn kembali meronta, meraba-raba sekitarnya untuk mencari benda apapun yang bisa dia gunakan. "Aku akan membunuhmu terlebih dahulu, membuat Siren ini menderita sebelum kemudian membunuhnya untuk menyusulmu!" Desis Raidne menyeringai dengan netra melotot dan diakhiri
"Hahh, akhirnya selesai juga." Gumam Bram merenggangkan badan dan pinggangnya, berdiri di pelataran Rumah sakit."Anda tidak perlu memaksakan diri, Yang Mulia." Ujar Yul di sampingnya."Aku tidak, namun jika tidak melihat langsung kondisi para korban yang terluka, aku sama sekali tidak bisa tenang." Ujar Bram.Yul jadi mengulum senyum di wajahnya yang renta, "anda sungguh berhati mulia, Yang Mulia.""Tentu saja. Sekarang, ayo mulai bekerja. Aku harus cepat menyelesaikannya karena ada istriku yang cerewet tengah menungguku." Ujar Bram tersenyum geli saat wajah kesal Evelyn terbayang di kepalanya."Anda pasti menyelesaikannya dengan cepat.""Tentu saja! Rakyat percaya padaku karena aku bijak, berhati mulia dan baik hati. Apalagi aku sangat populer karena ketampananku." Tukas Bram sambil menyeringai bangga."Lalu, apakah dengan itu semua Ratu Evelyn sudah menyukai anda kembali, Yang Mulia?" Tanya Yul sontak membuat Bram terbatuk karena ucapannya tepat s
"Raidne, ada apa?" Tanya Evelyn bingung saat dia ditarik untuk berlari menjauh dari pantai.Tapi Evelyn tidak mendapatkan jawaban apapun saat Raidne terus berlari dengan wajah panik. Seolah secepat mungkin ingin membawa Evelyn pergi dari sana.Nafas Evelyn memburu saat langkah mereka terhenti di depan gua sebelumnya, kali ini dengan tangga menanjak."Ah!" Tukas Evelyn terkejut saat tubuhnya diangkat ke pundak. Raidne memanggulnya seperti sekarung beras sebelum menaiki tangga gua dengan sangat cepat.Raidne tidak bisa mendapatkan risiko kaki Evelyn yang tergellincir jatuh di tangga seperti sebelumnya. Dia juga tidak tega jika harus menarik Evelyn tertatih-tatih ditangga.Cukup lama sampai keduanya berhasil keluar dari gua. Evelyn pikir Raidne akan langsung menurunkannya namun ternyata tidak, dia lanjut berlari sambil terus menggendongnya melewati hutan sebelumnya.Kening Evelyn mengernyit dengan mata membelalak saat langit yang sebelumnya cerah mendadak g







