مشاركة

Bab 7

مؤلف: VAD_27
last update تاريخ النشر: 2026-08-01 15:14:01

Evelyn tidak berhenti berdecak kagum melihat setiap ukiran mendetail dari ornamen kaca warna-warni di dinding, belum lagi bangunan istana yang megah dan terlihat premium.

Sampai pelayan menghantarkannya ke depan pintu raksasa yang menjulang tinggi ke langit.

Ada dua penjaga berseragam baja yang terlihat berat sambil mengancungkan tombak yang lebih tinggi dari kepala mereka, berdiri di sisi pintu.

Pintu itu terbuka menimbulkan suara gesekan nyaring yang menggetarkan dinding.

“RATU EVELYN MENGUNJUNGI RUANG TAHTA!” Penjaga memberitakan.

Degupan jantung Evelyn berdebar kencang, mentalnya menciut di tengah pintu itu sebelum langkahnya yang gemetar di bawa masuk.

Kenapa dia harus segugup ini?

Dia bukannya akan bertemu presiden pun.

Sampai langkah Evelyn terhenti, pundaknya merosot dengan mata berkilat kagum melihat ketujuh pria penyusup itu memakai pakaian hitam seperti jas dengan jubah kebesaran berwarna perak berbulu angsa putih yang bertengger agung di pundak mereka.

Belum lagi mahkota berlapis emas berhiaskan berbagai berlian bersarang di atas kepala mereka.

Evelyn meneguk ludah dengan lutut gemetar saat merasakan aura mendominasi ruangan yang seolah menyudutkannya.

Ini melebih presiden!

Evelyn bertemu tujuh Raja Iblis yang duduk di singgasana agung mereka masing-masing!

“Evelyn?!” Tanya Darianth berdiri dari tahtanya, keningnya berkerut menoleh ke arah Bram dan Agaras, seolah meminta penjelasan.

“Inilah tamu istimewa yang aku katakan sebelumnya! Kau tuli, ya? Barusan kan penjaga mengumumkan dengan keras.” Tukas Bram santai.

“Sudah aku bilang untuk sementara jangan bawa dia kesini.” Decak Darianth mengurut keningnya pusing.

Evelyn jadi mengerjap kaku mendengarnya, dia pikir mereka yang memanggil Evelyn, tapi sepertinya tidak semua tahu tentang kedatangan Evelyn.

“Kau membuat Evelyn kebingungan, diamlah! Jika sudah berada di sini, ya syukuri saja.” Tutur Lucian santai—pria berambut hijau tua gelap.

“Aku melarang karena pemerintah dunia memindahkan letak portal dimensi ke hutan terlarang. Butuh persiapan agar menjaga Evelyn aman saat sampai di sini.” Ujar Darianth menghela napas kasar.

“Jadi memang sengaja dipindahkan?” Tanya Agaras.

“Aku tidak tahu. Maaf.” Jawab Bram ringan sambil nyengir.

“Kau terlihat sangat cantik memakai gaun itu, Evelyn.” Puji Kaito tersenyum lebar.

Evelyn mengerjap kaku, tidak tahu harus membalas apa pada pria bermata merah itu.

“Eve me-memang cantik saat mengenakan apapun.” Ujar Raidne pelan dan gagap.

“Apalagi saat tidak mengenakan apapun.” Sahut Bram yang langsung mendapat pelototan tajam dari Evelyn.

“Awas kau, mesum!” Ancam Evelyn mengangkat kepalan tangannya membuat Bram terkekeh tanpa dosa.

“Jadi, kau sudah menerima kami semua sebagai suamimu?” Tanya Kaito tersenyum manis.

“Tidak sama sekali.” Jawab Evelyn lugas sambil mundur selangkah.

“Penolakan berarti.” Komentar Kaito menarik senyum sambil bersandar ke singgasana.

“Kenapa harus panjang dan berbelit-belit? Bukankah bagus jika mendadak menjadi Ratu dan punya tujuh suami tampan seperti ini?” Tukas Lucian menunjuk wajahnya sendiri dengan percaya diri.

“Hidupmu di dunia manusia sulit, bukan? Tidak akan ada yang berani berbuat kasar dan menyulitkanmu di sini.” Lanjut Lucian membuat Evelyn mengepalkan tangannya.

“Maksudmu aku harus menerima hal gila ini begitu saja? Jangan harap. Aku tidak semenyedihkan itu. Jangan memandangku lemah, aku bisa bertahan sejauh ini dan aku akan bertahan di tahun-tahun selanjutnya meskipun takdirku sial. Kau tahu? Aku lebih menjalani hidup yang sulit itu daripada menerima tujuh pria asing menjadi suamiku.” Tukas Evelyn tajam membuat Lucian menipiskan bibirnya.

“Kalau begitu ayo kita kenalan. Jika kita sudah tidak asing, kau bisa menerima kita pelan-pelan, bukan?” Sahut Bram menaikan alisnya.

“Kau keras kepala seperti biasa.” Komentar Lucian menyeringai tipis.

“Jangan berbicara seolah kau sangat mengenalku.” Peringat Evelyn.

Bram jadi tersenyum segaris saat dia diabaikan.

“Tentu saja aku sangat mengenalmu, nona keras kepala. Tatapan mata tajam dan menusuk itu, aku tidak akan pernah melupakannya sama sekali. Meskipun sayang sekali kau melupakan ketampananku yang diatas rata-rata ini.” Tukas Lucian menyugar rambutnya ke belakang.

“Pe-periksa ketujuh jarimu.” Ujar Raidne pelan.

Evelyn jadi meregangkan semua jarinya.

“Kau menikah dengan kami tepat tiga tahun lalu. Namun karena sebuah peraturan dan banyak alasan lain, kau kehilangan ingatanmu dan melupakan kami semua. Kami baru bisa menemuimu tepat setelah umurmu 21 tahun.” Ujar Darianth tenang dan tegas.

Mata Evelyn melebar saat menemukan tato hitam berbentuk cincin yang melingkar di ketujuh jarinya. Tato itu berbeda bentuk di setiap jarinya.

“Kenapa harus umur 21 tahun?” Tanya Evelyn akhirnya.

“Karena kekuatan fisikmu baru kuat menerima kami di umur 21 tahun.” Jawab Darianth.

“Menerima untuk apa?” Tanya Evelyn mengangkat alis.

“Tentu saja hubungan suami istri, bodoh.” Sahut Bram membuat Evelyn shock.

“HAH?!”

“Apa semengejutkan itu? Memangnya manusia tidak melakukan hubungan suami-istri setelah menikah?” Tanya Kaito menarik sudut bibirnya.

“Ta-tapi, aku tidak mau melakukannya! Aku bahkan tidak mengakui kalian sebagai suamiku! Aku masih belum mengingat hari dimana aku menikahi kalian!” Tukas Evelyn menggeleng kuat.

Bram mendesah kecewa, “tapi kami sangat membutuhkannya, Evelyn sayang.”

“Hah? Kenapa? Memangnya hal seperti itu sangat dibutuhkan dalam jangka waktu dekat?” Tanya Evelyn tidak paham.

“Tentu saja, kami semua sudah menahannya selama tiga tahun untuk tidak menyentuh istri kami. Kau pikir kami kuat menunggu berapa tahun lagi? Satu hari saja rasanya sangat berat.” Ujar Agaras sambil menopang dagu.

Evelyn makin takut sampai termundur. Dia menggeleng pelan.

Melakukan hubungan suami-istri dengan ketujuh pria ini?

“Aku tidak mau!” Tolak Evelyn tegas.

“Ck.”

Bulu kudu Evelyn berdiri dengan tangan bergetar saat mendengar decakan dari arah singgasana paling ujung.

Pria berambut hitam legam dengan wajah bengis itu baru berdecak setelah diam lama dari awal.

Zev.

Evelyn tidak berani menatapnya karena dia sadar bahwa sedari tadi pria itu tidak mengalihkan tatapan tajamnya dari Evelyn.

“Lalu bagaimana agar kau mau melakukannya?” Tanya Bram pasrah, dia sudah kebingungan saat Evelyn menolaknya.

“Pokoknya aku tidak mau melakukannya!” Tukas Evelyn sebelum terkesiap saat sekelabat bayangan hitam menghunus ke arah tubuhnya.

Membuat Evelyn terdorong mundur sebelum,

BRUGH!

Evelyn menjerit pelan saat punggungnya menghantam sesuatu yang lembut.

Ranjang!

Seseorang memindahkannya ke sini.

Sampai Evelyn menahan napas saat seseorang naik ke atas, mengurung tubuhnya.

Mata Evelyn membelalak saat pelakunya adalah Zev.

“Jangan membuat ini menjadi masalah besar.” Tukas Zev dingin dengan suara rendah.

Evelyn menahan napasnya saat kepala Zev mendekat ke telinganya dan berbisik di sana.

“Jika kau tidak mau, aku bisa melakukannya secara paksa.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 25

    Evelyn sontak bangkit berdiri dan menjauh, napasnya memburu dengan mata bergetar ketakutan. Keringat dingin bercucuran saat kilasan mimpi baru itu muncul lagi menguasai rasa takutnya. "Kau kenapa?" Tanya Lucian bingung. Tangannya hendak menggapai bahu Evelyn, ingin menenangkan namun dia tersentak saat Evelyn menepisnya dengan air mata turun membasahi pipinya. Mata hitam gelap yang tajam itu beradu dengan mata hazel terang yang teduh. Angin menerbangkan bunga-bunga beserta helaian rambut keduanya. "Ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Lucian menurunkan intonasi. Evelyn jadi meneguk ludah sebelum menggeleng pelan. Melihat Evelyn yang tidak sewaspada barusan membuat Lucian berani mendekat, dia menarik pakaian Evelyn dan menggunakannya untuk menghapus air matanya. "Ck, memangnya air mataku kotor sampai kau jijik menyentuhnya." Omel Evelyn kesal, ini sudah kedua kalin

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 24

    "Apa maksudmu? Rendi itu manusia ... Dimana kalian pernah bertemu?" Tanya Evelyn bingung. Evelyn jadi memutar otak sebelum terkejut, melotot menatap Lucian. "Jangan bilang ... Rendi bukan manusia?" Lucian menggeleng sambil menghela napas panjang, "imajinasimu tinggi sekali." "Bukan? Lalu dimana kau melihatnya? Dunia ini?" Tanya Evelyn menghampiri Lucian yang duduk di atas rumput pendek. "Tentu saja dunia manusia. Kau pikir aku tidak pernah pergi ke sana di masa lalu?" Tanya Lucian. Tangannya menempel ke atas rumput, ranting tipis dan kuat mencuat muncul dari sana—dahan itu saling melilit sebelum melengkung membentuk bulat. Evelyn ikut duduk di depannya, "dulu kau ke dunia manusia untuk bertemu siapa?" Lucian yang tengah memetik bunga di sampingnya jadi terhenti, dia menatap Evelyn sebelum kilasan masa lalu muncul di otaknya. ~~~ "Hah?

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 23

    Rendi membanting pintu, menarik dasi yang terasa mencekik dan bergegas menuju lantai tiga menggunakan lift. Dia membuka dua kancing teratas kemeja dan pergelangan tangan. Keluar dari lift, Rendi masuk ke dalam satu-satunya ruangan di sana. "Hai, honey." Sapa wanita rambut pendek sebahu. Rendi langsung menenggak wine yang ada di meja kerja si wanita. "Ada masalah?" Napas Rendi memburu sebelum berdecak. "Aku ketahuan, Virda. Evelyn tahu!" Tukas Rendi gusar. "Apa dia tahu pacarmu itu aku?" Tanya Virda, nada bicaranya tenang. Seolah tidak terganggu. Rendi menggeleng, Virda menarik lengannya lembut dengan senyuman sensual yang menggoda, membuat Rendi mendekat dan duduk di kursi kerjanya. "Lalu apa yang dia tahu?" Tanya Virda duduk di pangkuan Rendi. Tangannya bergerak memijat bahu Rendi yang tegang. Berusaha membuatnya tenang

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 22

    "Aku tidak bisa menggunakannya." Ujar Evelyn menutup kopernya. Lucian berdecak gemas, "jangan keras kepala. Jika kau tidak mau, aku akan merusak kertas ini sekarang juga dengan kekuatanku." Lucian berdecih saat Evelyn lekas memeluk kopernya erat. "Dasar munafik." Sungut Lucian menggeleng pelan. Evelyn hanya memajukan bibir bawahnya, "sayang jika dirusak. Lagipula ini sudah jelas untukku, kan. Kau tidak mengerti, aku hanya terkejut. Selama bekerja, belum pernah aku memegang uang dua digit." "Tentu saja aku tidak mengerti. Karena aku adalah Raja yang terbiasa bergelimang harta." Ujar Lucian menyugar rambutnya sombong membuat Evelyn mengumpat dalam hati. "Dan kau adalah istri Raja. Jangan bersikap seperti rakyat jelata, sayang." Tukas Lucian. "Tidak masalah meskipun aku belum sepenuhnya mengakui kalian sebagai suamiku?" Evelyn memastikan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 21

    Evelyn melirik Rendi yang fokus menyetir, ia menoleh ke kursi belakang dimana Lucian duduk. Pria hijau itu menaikan alisnya sok tampan yang dibalas wajah garang Evelyn. Tidak tahu apa yang Lucian lakukan, tapi Rendi tidak bisa melihat keberadaannya. Evelyn tidak begitu mengerti kenapa, tapi katanya mahluk supranatural seperti Lucian sulit di rasakan apalagi dilihat jelas oleh manusia. Kecuali manusia yang punya kepekaan tinggi terhadap hal supranatural. Sedangkan kondisi Evelyn adalah pengecualian karena dia terikat hubungan suami-istri yang membuatnya bisa melihat dan merasakan kehadiran mereka dengan jelas. Meskipun ada bagian dari diri Evelyn yang tidak mengakui hubungan suami-istri itu, tapi dia tidak banyak bicara. "Eh," gumam Rendi dan Evelyn waktu jari mereka bersentuhan saat akan menekan layar. "Kau ingin memutar lagu?" Tanya Rendi mempersilahkan.

  • Istri 7 Raja Iblis   Bab 20

    "Kau terlihat cantik sekali, Evelyn." Ujar Rendi menyampirkan anak rambut ke belakang telinga. Evelyn jadi tersenyum dengan wajah memerah sebelum menyuapinya kue. Keduanya duduk di atas karpet polkadot merah putih yang di gelar di pinggir danau. "Pencarian rumahmu berjalan lancar?" Tanya Rendi duduk santai, menikmati piknik mereka. "Bagaimana jika aku tinggal di rumahmu saja? Bukankah itu lebih mudah?" Tanya Evelyn. "Eh?" Tanya Rendi terkejut sebelum berdehem. "Tidak bisa, Evelyn. Kita kan belum menikah, nanti tetangga bertanggapan jelek. Namamu jadi buruk." "Lalu kenapa kau tidak mengajak aku menikah? Kita sudah berpacaran tiga tahun tapi kau sekalipun tidak pernah membicarakan tentang pernikahan." Tukas Evelyn membuat Rendi gelagapan. "Karirku masih stuck, aku juga masih punya cicilan mobil, kenapa harus buru-buru?" Tanya Rendi. Evelyn mengerut dengan raut wajah menurun, "meman

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status