تسجيل الدخولAku tidak menyangka Papa akan mengambil tindakan sejauh itu, mengingat betapa besarnya kasih sayang yang dulu ia curahkan untuk Diego dan istrinya.“Papa serius sudah menceraikannya?” tanyaku untuk memastikan.“Hm. Bahkan Papa sudah melakukan tes DNA, Samuel. Jika dia memang memiliki darahku, dia tidak mungkin sekeji itu. Bagaimana bisa ada monster yang tinggal di rumahku selama ini?” ujarnya lirih. Wajah tuanya tampak sangat layu, penuh dengan guratan penyesalan.Padahal, Papa pernah berkata ingin menghabiskan masa tuanya dengan tenang dan bahagia. Namun sekarang apa? Di masa senjanya, ia justru mendapatkan kejutan pahit yang menghancurkan hatinya.Papa memejamkan mata, mungkin sedang memutar kembali memori masa lalu yang kini terasa hambar. Aku menepuk pundak Papa pelan, mencoba menyalurkan kekuatan yang tersisa.“Papa istirahat saja, jangan keluar rumah dulu. Aku akan memperketat penjagaan Papa. Atau... Papa mau tin
“Samuel! Apa yang kamu lakukan pada adikmu?!”Aku langsung menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar suara Papa yang menggelegar. Sudah kuduga, Papa pasti akan langsung menghubungiku untuk menanyakan hal itu dengan nada menuduh.“Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan, Papa,” jawabku setenang mungkin.“Papa tidak pernah mengajarimu melakukan tindakan keji, Samuel! Dia itu adikmu. Meskipun adik tiri, darah kalian tetap mengalir dari sumber yang sama!”“Jadi, menurut Papa aku harus diam saja saat dia berusaha melecehkan istriku?” tanyaku dengan nada yang mulai meninggi.“Apa maksudmu, Samuel?! Diego tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Dia sedang sakit!”“Ya, di depan Papa dia memang terlihat sakit. Tapi di belakang? Papa tidak tahu apa-apa, kan? Papa juga harus lebih waspada dengan istri Papa itu. Bisa jadi mereka berdua punya rencana jahat yang selama ini
Pov Samuel.Aku mengizinkan Diego dan Mama datang ke rumah bukan tanpa alasan. Aku sengaja melakukannya agar bisa mengamati secara langsung apakah ada rencana busuk yang sedang mereka susun. Namun, awalnya aku tidak melihat hal yang mencurigakan, semuanya terlihat normal sampai aku merasa sangat terusik saat Diego meminta tidur bersama Emelia.Akhirnya, aku mengambil tindakan nekat. Aku berpura-pura pergi untuk perjalanan bisnis, padahal aku hanya ingin memancing Diego. Aku ingin melihat apakah saat aku tidak ada, dia akan berbuat nekat.Tanpa Emelia tahu, aku sebenarnya masih berada di dalam rumah. Aku kembali masuk dengan pakaian biasa agar tidak ada yang menyadarinya. Saat ini aku berada di ruang kerja, mengamati setiap gerak-gerik dari layar CCTV, menunggu saat yang tepat sejak Diego dan Mama tiba.“Akhirnya mereka datang juga,” gumamku dingin. Aku tahu ini berisiko, tapi jika tidak begini, aku tidak akan pernah tahu ja
Beberapa hari sejak kepulanganku dari rumah sakit, aku tidak lagi melihat kehadiran Diego. Entahlah, aku sendiri tidak ingin ambil pusing soal itu. Saat ini, fokusku teralih sepenuhnya pada Samuel yang katanya akan pergi melakukan perjalanan dinas singkat. Bibirku mengerucut cemberut, aku benar-benar tidak suka akan ditinggal, meskipun aku tahu ia pasti akan pulang. Aku hanya ingin bersamanya setiap hari, setiap detik.Ah, tapi aku tidak boleh egois. Samuel adalah pemimpin perusahaan besar dengan tanggung jawab yang luar biasa berat.“Jangan cemberut begitu. Besok aku langsung kembali, Emelia,” ujarnya saat menyadari perubahan raut wajahku yang mendung.“Tetap saja, malam ini aku tidak tidur bersamamu, Samuel. Aku akan kesepian,” jawabku dengan nada manja yang tak tertahankan.Tawa kecil lolos dari bibir Samuel. Suamiku itu sepertinya tidak benar-benar mengerti betapa beratnya bagiku untuk jauh darinya walau hanya semalam. Aku suda
Aku berharap semua itu hanyalah kecurigaanku belaka. Selama beberapa hari di rumah sakit, Diego memang selalu berkunjung. Ia tidak menunjukkan gelagat aneh, atau mungkin itu karena ada Samuel yang selalu menjagaku? Aku sendiri tidak mengerti. Samuel benar-benar tidak membiarkanku berdua saja dengan Diego. Bahkan saat Samuel harus pergi sebentar, aku dijaga ketat oleh beberapa pengawal perempuan.Hari ini aku sudah diperbolehkan pulang. Dan lihatlah, Diego bahkan ikut mengantarku. Sepanjang perjalanan tadi, ia bertingkah layaknya anak kecil pada umumnya yang menganggapku sebagai teman baru yang seru.“Kakak, apa aku boleh tinggal di rumah Kakak?” tanya Diego pada Samuel. Sebelum suamiku sempat menjawab, Diego kembali bersuara. “Atau, Kakak dan Kakak Ipar tinggal di rumah utama saja? Aku kesepian, Kak,” ujarnya dengan wajah polos yang dibuat sedemikian rupa.“Tidak bisa. Kami sudah menikah. Kamu main saja ke sini kalau m
Pov Emelia Aku sudah lama menduga bahwa aku bukanlah anak kandung mereka. Cara mereka memperlakukanku selama ini adalah bukti yang paling nyata.Kutatap dua orang yang selama ini kuanggap sebagai orang tua itu. Aku menunggu jawaban. Sebenarnya siapa aku? Dari mana aku berasal? Apakah aku sudah tidak punya orang tua kandung lagi? Apakah aku diambil dari panti asuhan, atau ada cerita lain di baliknya?“Jujurlah, siapa orang tuaku yang sebenarnya?” desakku sekali lagi.“Maafkan kami, Emelia. Dulu kami sudah lama tidak memiliki anak, jadi kami memutuskan untuk mengambilmu dari panti asuhan. Tapi ternyata, tidak lama setelah kehadiranmu, Ana mengandung Bianca. Kami sudah berusaha untuk berlaku adil,” ujar Pedro dengan suara rendah.“Adil?” Aku tersenyum getir mendengarnya. Tidak ada kata adil dalam ingatanku. Mulai dari pakaian, makanan, bahkan tempat tidur saja aku dan Bianca selalu dibedakan. Lantas, dari mana letak keadilannya?“Emelia, maafkan Ayah,” ujar Pedro pelan, tampak tidak ber







