Masuk“Apa itu, Bu?”
Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.
“Kau akan menikah, Sayang!”
Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.
Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.
“Menikah?!” seru Emily.
Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.
Madeline mengangguk, “ya.”
“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.
“Ayo kita masuk.”
Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.
“Duduk dulu, Em,” kata Madeline lagi lalu mendudukkan Emily di kursi.
Emily bagaikan boneka saat didudukkan oleh Madeline. Dia tidak mengerti mengapa semua terjadi begitu cepat.
“Emily, dengar kami,” mulai Jasper dengan lembut. “Kau tentu tahu kalau kita sedang mengalami masalah sulit. Utang yang dimiliki begitu besar, Em.”
“Kami bisa kehilangan semuanya, Em.” Madeline menimpali. Wajahnya menatap lekat Emily. “Rumah ini, semua yang kita punya. Kita akan diusir ke jalanan kalau tidak segera melunasi utang.”
Emily menatap kedua orang tuanya bergantian. Dia tidak mengerti.
“Lalu, apa hubungannya antara utang dan pernikahan?” tanya Emily masih dipenuhi kebingungan.
Madeline memperbaiki letak duduknya. Dihadapkan tubuhnya pada Emily lalu mengulurkan tangan menggenggam kedua tangan Emily yang ada di pangkuan.
“Kau tentu tahu kalau Ibu dan Ayah mendatangi Marquess Montague. Nah, Marquess tawarkan bantuan,” ucap Madeline.
Dia mengatakan itu dengan mata penuh harap bahwa Emily akan mendengarkan sampai tuntas. Dia berusaha untuk meyakinkan Emily untuk menerima nantinya.
“Marquess pasti melunasi semua utang dan menjamin hidup kita,” ucap Jasper memulai. “Tetapi dia meminta satu hal, Emily. Sebagai syarat terpenuhi semuanya.”
Ucapan Jasper tersebut membuat Emily tidak perlu bertanya lebih lanjut. Dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Walau begitu, dia memilih diam.
“Hanya kau harapan kami, Sayang,” bujuk Madeline lalu meremas lembut tangan Emily. “Semua aset yang kita miliki tidak cukup untuk menutupi utang yang sangat besar.”
Emily menoleh pada Madeline lalu pada Jasper yang duduk di depannya.
“Lalu Marquess memintaku sebagai pelunasannya?”
Jasper dan Madeline mengangguk dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
“Kami tidak ada pilihan lain, Em,” bisik Madeline. “Jika punya, akan kami berikan.”
Emily menunduk. Isi kepalanya terasa sangat penuh. Dia memikirkan harus menikahi pria yang tidak dikenalnya. Pria itu telah membuat orang tuanya ketakutan.
Namun, Emily memikirkan Ayah dan Ibunya nanti akan menjadi gelandangan jika dia menolak. Kemudian, ditatap kedua orang tuanya lagi. Bergantian.
“Aku tidak mengenal Marquess itu, Ayah, Ibu,” bisik Emily.
Emily berusaha menolak permintaan itu walau hasilnya pastilah tidak sesuai keinginannya.
“Nanti juga kau mengenalnya,” balas Jasper dengan tidak sabar. “Dia itu Marquess! Hidupmu terjamin, Em. Kau memang butuh apalagi?”
Emily tahu bahwa tidak ada lagi jalan keluar untuknya. Tatapan Jasper dan Madeline yang penuh harap sekaligus tekanan itu membuat Emily akhirnya menunduk.
“Aku setuju.”
Jika itu yang membuat mereka keluar dari jeratan utang dan hidup layak tanpa bayang-bayang judi lagi, maka Emily akan melakukannya.
“Terima kasih, Sayang.” Madeline berkata dengan senyum terkembang sementara Jasper menghela napas lega.
Dua hari berikutnya berjalan lambat bagi Emily. Orang tuanya memberitahukannya bahwa Marquess tidak ingin ada persiapan pernikahan.
Selain itu, tidak ada gaun yang dipilih begitu antusias bagi Emily bersama calon suami, membuatnya begitu aneh.
Emily hanya diberikan oleh Madeline sebuah gaun pengantin sederhana berwarna gading yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Menggunakan sepatu kulit biasa miliknya. Dan itu Emily lakukan tanpa protes sama sekali.
Malam sebelum hari pernikahannya, Emily sedang menatap ke luar jendela dari tempatnya duduk di tepi ranjang. Di langit, bulan bersinar menerangi jalan malam.
‘Besok, aku akan menjadi istri orang asing. Entah bagaimana hidupku besok,’ pikirnya.
Lalu Emily menghela napas pelan. Menurutnya, semua serba tiba-tiba.
“Bukan doa ini yang ingin terkabul, Tuhan,” bisiknya ketika dia teringat doa-doa yang selama ini dia panjatkan. “Aku ingin utang keluargaku lunas tetapi bukan dengan cara ini,” ucapnya lagi kemudian memejamkan mata.
Terdengar ketukan pintu lalu terbuka setelahnya. Madeline dan Jasper masuk dengan wajah serius. Mereka menutup pintu kamar Emily bersamaan.
Melihat itu membuat Emily memperbaiki duduknya. “Ada apa, Ayah? Ibu?”
“Em,” ucap Jasper berat. “Sebelum kau menjadi Marchioness, ada hal yang harus kau berjanji pada kami.”
"Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa
Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb
“Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m
"Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe
“Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem
“Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me
‘Apa?’ batin Emily terkejut.Semua pelayan menunduk hormat kecuali Emily lalu mengucapkan serempak, “Selamat datang, Nyonya Alice.”Mata Emily bertemu pandang dengan Lucien. Tanpa harus berkata dengan suara keras, Emily tahu yang diperintahkan Lucien walau hanya dengan tatapan mata.Dengan setenga
“Apa?” bisik Emily dengan mata nanar.Lucien sudah lama menghilang di balik pintu sayap utama mansion tetapi kata-katanya masih tertinggal dan terus menggema di telinga Emily.“Lucien memiliki wanita lain?” bisiknya lagi seolah tidak percaya pada pendengarannya.Emily terpaku di tempat. Tangannya t
“Ada lagi?” bisik Emily.Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ing
Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka men







