共有

Bab 2: Keputusan Sepihak

last update 最終更新日: 2026-02-17 10:31:44

“Apa itu, Bu?”

Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.

“Kau akan menikah, Sayang!”

Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.

Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.

“Menikah?!” seru Emily.

Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.

Madeline mengangguk, “ya.”

“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.

“Ayo kita masuk.”

Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.

“Duduk dulu, Em,” kata Madeline lagi lalu mendudukkan Emily di kursi.

Emily bagaikan boneka saat didudukkan oleh Madeline. Dia tidak mengerti mengapa semua terjadi begitu cepat.

“Emily, dengar kami,” mulai Jasper dengan lembut. “Kau tentu tahu kalau kita sedang mengalami masalah sulit. Utang yang dimiliki begitu besar, Em.”

“Kami bisa kehilangan semuanya, Em.” Madeline menimpali. Wajahnya menatap lekat Emily. “Rumah ini, semua yang kita punya. Kita akan diusir ke jalanan kalau tidak segera melunasi utang.”

Emily menatap kedua orang tuanya bergantian. Dia tidak mengerti.

“Lalu, apa hubungannya antara utang dan pernikahan?” tanya Emily masih dipenuhi kebingungan.

Madeline memperbaiki letak duduknya. Dihadapkan tubuhnya pada Emily lalu mengulurkan tangan menggenggam kedua tangan Emily yang ada di pangkuan.

“Kau tentu tahu kalau Ibu dan Ayah mendatangi Marquess Montague. Nah, Marquess tawarkan bantuan,” ucap Madeline.

Dia mengatakan itu dengan mata penuh harap bahwa Emily akan mendengarkan sampai tuntas. Dia berusaha untuk meyakinkan Emily untuk menerima nantinya.

“Marquess pasti melunasi semua utang dan menjamin hidup kita,” ucap Jasper memulai. “Tetapi dia meminta satu hal, Emily. Sebagai syarat terpenuhi semuanya.”

Ucapan Jasper tersebut membuat Emily tidak perlu bertanya lebih lanjut. Dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan sebelumnya. Walau begitu, dia memilih diam.

“Hanya kau harapan kami, Sayang,” bujuk Madeline lalu meremas lembut tangan Emily. “Semua aset yang kita miliki tidak cukup untuk menutupi utang yang sangat besar.”

Emily menoleh pada Madeline lalu pada Jasper yang duduk di depannya.

“Lalu Marquess memintaku sebagai pelunasannya?”

Jasper dan Madeline mengangguk dengan wajah sedih yang dibuat-buat.

“Kami tidak ada pilihan lain, Em,” bisik Madeline. “Jika punya, akan kami berikan.”

Emily menunduk. Isi kepalanya terasa sangat penuh. Dia memikirkan harus menikahi pria yang tidak dikenalnya. Pria itu telah membuat orang tuanya ketakutan.

Namun, Emily memikirkan Ayah dan Ibunya nanti akan menjadi gelandangan jika dia menolak. Kemudian, ditatap kedua orang tuanya lagi. Bergantian.

“Aku tidak mengenal Marquess itu, Ayah, Ibu,” bisik Emily.

Emily berusaha menolak permintaan itu walau hasilnya pastilah tidak sesuai keinginannya.

“Nanti juga kau mengenalnya,” balas Jasper dengan tidak sabar. “Dia itu Marquess! Hidupmu terjamin, Em. Kau memang butuh apalagi?”

Emily tahu bahwa tidak ada lagi jalan keluar untuknya. Tatapan Jasper dan Madeline yang penuh harap sekaligus tekanan itu membuat Emily akhirnya menunduk.

“Aku setuju.”

Jika itu yang membuat mereka keluar dari jeratan utang dan hidup layak tanpa bayang-bayang judi lagi, maka Emily akan melakukannya.

“Terima kasih, Sayang.” Madeline berkata dengan senyum terkembang sementara Jasper menghela napas lega.

Dua hari berikutnya berjalan lambat bagi Emily. Orang tuanya memberitahukannya bahwa Marquess tidak ingin ada persiapan pernikahan.

Selain itu, tidak ada gaun  yang dipilih begitu antusias bagi Emily bersama calon suami, membuatnya begitu aneh.

Emily hanya diberikan oleh Madeline sebuah gaun pengantin sederhana berwarna gading yang sedikit kebesaran di tubuhnya. Menggunakan sepatu kulit biasa miliknya. Dan itu Emily lakukan tanpa protes sama sekali.

Malam sebelum hari pernikahannya, Emily sedang menatap ke luar jendela dari tempatnya duduk di tepi ranjang. Di langit, bulan bersinar menerangi jalan malam.

‘Besok, aku akan menjadi istri orang asing. Entah bagaimana hidupku besok,’ pikirnya.

Lalu Emily menghela napas pelan. Menurutnya, semua serba tiba-tiba.

“Bukan doa ini yang ingin terkabul, Tuhan,” bisiknya ketika dia teringat doa-doa yang selama ini dia panjatkan. “Aku ingin utang keluargaku lunas tetapi bukan dengan cara ini,” ucapnya lagi kemudian memejamkan mata.

Terdengar ketukan pintu lalu terbuka setelahnya. Madeline dan Jasper masuk dengan wajah serius. Mereka menutup pintu kamar Emily bersamaan.

Melihat itu membuat Emily memperbaiki duduknya. “Ada apa, Ayah? Ibu?”

“Em,” ucap Jasper berat. “Sebelum kau menjadi Marchioness, ada hal yang harus kau berjanji pada kami.”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 6: Sebuah Aturan Mutlak

    “Ada lagi?” bisik Emily.Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. P

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 5: Bukan Menjadi Marchioness Sejati

    Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka menunduk dalam diam.Lucien melangkah dengan suara sepatu menggema di lantai batu granit lalu berhenti di tengah aula. Lucien berbalik menatap Emily yang membeku di ambang pintu.‘Apakah aku harus masuk?’ pikir Emily bingung melihat Lucien yang tidak menggandengnya atau menariknya untuk mendekat.Walau tidak diundang masuk, Emily melangkahkan kakinya menuju Lucien yang sudah berada di tengah aula. Para pelayan masih menunduk hormat.“Selamat datang di rumah barumu,” kata Lucien ketika Emily sudah berdiri beberapa langkah darinya. “Marchioness,” lanjutnya.Kali ini dengan berbisik seolah tidak ingin semua orang tahu mengenai statusnya yang sudah menjadi istri seorang Marquess.Emily mendengar Lu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 4: Pernikahan Tanpa Cinta

    “Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”Pendeta mengulangi sekali lagi janji suci itu. Emily menelan ludah susah payah. Kedua tangannya memegang erat buket bunga berukuran mini itu.Tatapan pendeta tersebut tidak menghakimi. Sebaliknya, menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis.Lucien hanya berdiri diam di samping Emily. Pria bertubuh tinggi tegap tersebut tidak bergerak.“Ya. Saya bersedia.”Akhirnya Emily mengatakan itu. Dia merasa tubuhnya terasa berat. Begitu pula napasnya. Emily ingin sekali pingsan tetapi seumur hidupnya, belum pernah terjadi.“Dengan kesaksian Tuhan ….” Pendeta berkata lagi, “dan orang-orang yang hadir di sini, saya nyatakan kau berdua sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing kau berdua dalam perjalanan hidup bersama.”Pendeta yang tidak Emily tahu namanya itu menatap Lucien yang berdiri di samping

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 3: Dua Janji

    “Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.Emily hanya diam menunggu.“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada a

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 2: Keputusan Sepihak

    “Apa itu, Bu?”Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.“Kau akan menikah, Sayang!”Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.“Menikah?!” seru Emily.Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.Madeline mengangguk, “ya.”“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.“Ayo kita masuk.”Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.“Duduk dulu, Em,” kata Madeline l

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 1: Transaksi di Balik Segel

    “Permisi! Apakah ada orang?”Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status