Se connecter“Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.
Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.
Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.
Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.
“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.
Emily hanya diam menunggu.
“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.
Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.
Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.
“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada akhirnya.
Kalimat itu keluar dengan cepat seakan jika dia menundanya lagi akan tersangkut di tenggorokannya.
Ucapan itu membuat Dunia Emily yang hancur kini berubah menjadi abu. Ditatapnya Jasper lalu Madeline.
Emily berusaha mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, yang ditemukan hanya wajah serius keduanya.
“Kami menemukanmu di depan pintu rumah kami saat kau masih sangat bayi, Em.”
Madeline yang berkata kali ini.
“Kau hanya terbungkus selimut,” ucap Jasper menimpali. Kemudian dia terdiam seakan mengingat kembali masa itu.
“Tidak ada sepucuk surat menyertaimu saat itu.” Madeline berkata pelan. “Kami yang tidak memiliki anak akhirnya memutuskan untuk membesarkanmu.”
Emily menatap keduanya dengan air mata menggenang.
“Lalu kenapa… kenapa kalian baru beritahu aku sekarang?” bisiknya dengan menahan isakan.
Hidupnya yang sudah dipenuhi janji-janji palsu dan kini ditambah kebohongan, membuat Emily tidak tahu harus berbuat apa.
“Marquess Montague akan menikahi seorang Fitzwilliam,” sahut Madeline. “Jika Marquess sampai tahu kau bukan Fitzwilliam, pernikahan bisa batal.”
Emily berusaha mencerna ucapan Madeline dengan memilih diam seraya menunduk.
“Kami akan hancur dan nasibmu akan lebih buruk lagi, Em.” Jasper berkata dengan putus asa. “Kau harus bersumpah, Emily. Jangan pernah memberitahukan ini pada Marquess atau pada siapa pun.”
Informasi yang diterimanya terasa begitu berat hingga Emily tiba-tiba saja sesak napas. Air mata perlahan jatuh di pipinya diam-diam.
Emily merasa bahwa dirinya bukan hanya dijual tetapi dipaksa hidup dalam kebohongan. Emily menghela napas pelan.
Dengan sisa tenaga yang dia punya, akhirnya mengangguk. “Aku berjanji.”
“Terima kasih, Em,” kata Jasper menghela napas lega.
“Satu lagi, Em,” ucap Madeline.
Kali ini nada bicaranya berubah tegas.
“Aku tahu kau sering menyelinap keluar dari rumah ini pada malam hari untuk mengikuti kelompok teater itu. Kegiatan rendahan macam itu harus kau hentikan. Kau akan menikahi Marquess.”
Emily membelalakkan mata. Teater menjadi satu-satunya tempat dia bisa menjadi orang lain.
Dia bisa melupakan sejenak kedua orang tuanya yang selalu berjudi dan egois dengan bekerja sebagai pemain teater. Teater adalah mimpinya.
“Itu sama saja mempermalukan Montague,” lanjut Madeline tajam. “Lupakan mimpimu. Tugasmu mulai dari sekarang menjadi Marchioness dan melayani suami. Kau mengerti?”
Emily tidak menjawab dan memilih untuk menunduk. Kebebasan terakhir yang dia punya terenggut sudah darinya.
“Hari sudah malam,” ucap Jasper lalu berdiri dari duduknya diikuti Madeline. “Kau harus tidur untuk persiapan besok. Jangan sampai terlambat bangun dan mempermalukan Marquess.”
Emily hanya diam. Bahkan setelah orang tuanya keluar dari kamarnya pun, dia masih diam menunduk. Namun, kali ini dengan air mata yang mengalir deras.
Keesokan paginya, Emily berdiri di depan altar di sebuah kapel yang sepi.
Tidak ada tamu, tidak ada musik, bahkan tidak ada bunga memenuhi kapel selain buket di tangannya yang diberikan oleh Madeline tadi ketika mereka berada di kereta.
Bunga itu pun dibeli Madeline secara mendadak ketika mereka melewati toko bunga yang sudah buka.
Seorang pria berdiri di samping Emily dalam balutan setelan gelap. Pria yang baru dikenalinya saat itu kini tegak berdiri dengan tatapan mata hijau yang mengintimidasi.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir sang Marquess walau sapaan ringan, membuat Emily ingin melarikan diri dari tempat itu.
Suara pendeta menggema di ruangan kapel yang kosong. Ketika tiba saatnya, pendeta itu menatap Emily.
“Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”
Bahkan Emily tidak menyimak saat Marquess yang kini dia ketahui bernama Lucien itu mengatakan kata ‘ya.’
Emily mengangkat kepala dari balik tudung. Dia menatap lurus pada pendeta yang berdiri di hadapannya.
Perlahan, beban rahasia tentang asal-usulnya dan mimpi yang hancur tiba-tiba membayangi ingatannya. Itu membuatnya terasa seperti tercekik.
Emily menelan ludah. Dia membuka mulutnya. Namun, tidak ada kata yang keluar. Kapel itu masih sepi. tidak ada satu orang pun yang datang kecuali kedua orang tuanya.
Suatu kesempatan baginya untuk melarikan diri dengan cara menendang sang Marquess lalu lari sekencangnya.
“Ada lagi?” bisik Emily.Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. P
Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka menunduk dalam diam.Lucien melangkah dengan suara sepatu menggema di lantai batu granit lalu berhenti di tengah aula. Lucien berbalik menatap Emily yang membeku di ambang pintu.‘Apakah aku harus masuk?’ pikir Emily bingung melihat Lucien yang tidak menggandengnya atau menariknya untuk mendekat.Walau tidak diundang masuk, Emily melangkahkan kakinya menuju Lucien yang sudah berada di tengah aula. Para pelayan masih menunduk hormat.“Selamat datang di rumah barumu,” kata Lucien ketika Emily sudah berdiri beberapa langkah darinya. “Marchioness,” lanjutnya.Kali ini dengan berbisik seolah tidak ingin semua orang tahu mengenai statusnya yang sudah menjadi istri seorang Marquess.Emily mendengar Lu
“Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”Pendeta mengulangi sekali lagi janji suci itu. Emily menelan ludah susah payah. Kedua tangannya memegang erat buket bunga berukuran mini itu.Tatapan pendeta tersebut tidak menghakimi. Sebaliknya, menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis.Lucien hanya berdiri diam di samping Emily. Pria bertubuh tinggi tegap tersebut tidak bergerak.“Ya. Saya bersedia.”Akhirnya Emily mengatakan itu. Dia merasa tubuhnya terasa berat. Begitu pula napasnya. Emily ingin sekali pingsan tetapi seumur hidupnya, belum pernah terjadi.“Dengan kesaksian Tuhan ….” Pendeta berkata lagi, “dan orang-orang yang hadir di sini, saya nyatakan kau berdua sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing kau berdua dalam perjalanan hidup bersama.”Pendeta yang tidak Emily tahu namanya itu menatap Lucien yang berdiri di samping
“Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.Emily hanya diam menunggu.“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada a
“Apa itu, Bu?”Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.“Kau akan menikah, Sayang!”Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.“Menikah?!” seru Emily.Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.Madeline mengangguk, “ya.”“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.“Ayo kita masuk.”Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.“Duduk dulu, Em,” kata Madeline l
“Permisi! Apakah ada orang?”Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya







