Share

Bab 3: Dua Janji

last update publish date: 2026-02-17 10:32:14

“Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.

Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.

Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.

Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.

“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.

Emily hanya diam menunggu.

“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.

Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.

Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.

“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada akhirnya.

Kalimat itu keluar dengan cepat seakan jika dia menundanya lagi akan tersangkut di tenggorokannya.

Ucapan itu membuat Dunia Emily yang hancur kini berubah menjadi abu. Ditatapnya Jasper lalu Madeline.

Emily berusaha mencari tanda-tanda kebohongan. Namun, yang ditemukan hanya wajah serius keduanya.

“Kami menemukanmu di depan pintu rumah kami saat kau masih sangat bayi, Em.”

Madeline yang berkata kali ini.

“Kau hanya terbungkus selimut,” ucap Jasper menimpali. Kemudian dia terdiam seakan mengingat kembali masa itu.

“Tidak ada sepucuk surat menyertaimu saat itu.” Madeline berkata pelan. “Kami yang tidak memiliki anak akhirnya memutuskan untuk membesarkanmu.”

Emily menatap keduanya dengan air mata menggenang.

“Lalu kenapa… kenapa kalian baru beritahu aku sekarang?” bisiknya dengan menahan isakan.

Hidupnya yang sudah dipenuhi janji-janji palsu dan kini ditambah kebohongan, membuat Emily tidak tahu harus berbuat apa.

“Marquess Montague akan menikahi seorang Fitzwilliam,” sahut Madeline. “Jika Marquess sampai tahu kau bukan Fitzwilliam, pernikahan bisa batal.”

Emily berusaha mencerna ucapan Madeline dengan memilih diam seraya menunduk.

“Kami akan hancur dan nasibmu akan lebih buruk lagi, Em.” Jasper berkata dengan putus asa. “Kau harus bersumpah, Emily. Jangan pernah memberitahukan ini pada Marquess atau pada siapa pun.”

Informasi yang diterimanya terasa begitu berat hingga Emily tiba-tiba saja sesak napas. Air mata perlahan jatuh di pipinya diam-diam.

Emily merasa bahwa dirinya bukan hanya dijual tetapi dipaksa hidup dalam kebohongan. Emily menghela napas pelan.

Dengan sisa tenaga yang dia punya, akhirnya mengangguk. “Aku berjanji.”

“Terima kasih, Em,” kata Jasper menghela napas lega.

“Satu lagi, Em,” ucap Madeline.

Kali ini nada bicaranya berubah tegas.

“Aku tahu kau sering menyelinap keluar dari rumah ini pada malam hari untuk mengikuti kelompok teater itu. Kegiatan rendahan macam itu harus kau hentikan. Kau akan menikahi Marquess.”

Emily membelalakkan mata. Teater menjadi satu-satunya tempat dia bisa menjadi orang lain.

Dia bisa melupakan sejenak kedua orang tuanya yang selalu berjudi dan egois dengan bekerja sebagai pemain teater. Teater adalah mimpinya.

“Itu sama saja mempermalukan Montague,” lanjut Madeline tajam. “Lupakan mimpimu. Tugasmu mulai dari sekarang menjadi Marchioness dan melayani suami. Kau mengerti?”

Emily tidak menjawab dan memilih untuk menunduk. Kebebasan terakhir yang dia punya terenggut sudah darinya.

“Hari sudah malam,” ucap Jasper lalu berdiri dari duduknya diikuti Madeline. “Kau harus tidur untuk persiapan besok. Jangan sampai terlambat bangun dan mempermalukan Marquess.”

Emily hanya diam. Bahkan setelah orang tuanya keluar dari kamarnya pun, dia masih diam menunduk. Namun, kali ini dengan air mata yang mengalir deras.

Keesokan paginya, Emily berdiri di depan altar di sebuah kapel yang sepi.

Tidak ada tamu, tidak ada musik, bahkan tidak ada bunga memenuhi kapel selain buket di tangannya yang diberikan oleh Madeline tadi ketika mereka berada di kereta.

Bunga itu pun dibeli Madeline secara mendadak ketika mereka melewati toko bunga yang sudah buka.

Seorang pria berdiri di samping Emily dalam balutan setelan gelap. Pria yang baru dikenalinya saat itu kini tegak berdiri dengan tatapan mata hijau yang mengintimidasi.

Tidak ada kata-kata yang keluar dari bibir sang Marquess walau sapaan ringan, membuat Emily ingin melarikan diri dari tempat itu.

Suara pendeta menggema di ruangan kapel yang kosong. Ketika tiba saatnya, pendeta itu menatap Emily.

“Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”

Bahkan Emily tidak menyimak saat Marquess yang kini dia ketahui bernama Lucien itu mengatakan kata ‘ya.’

Emily mengangkat kepala dari balik tudung. Dia menatap lurus pada pendeta yang berdiri di hadapannya.

Perlahan, beban rahasia tentang asal-usulnya dan mimpi yang hancur tiba-tiba membayangi ingatannya. Itu membuatnya terasa seperti tercekik.

Emily menelan ludah. Dia membuka mulutnya. Namun, tidak ada kata yang keluar. Kapel itu masih sepi. tidak ada satu orang pun yang datang kecuali kedua orang tuanya.

Suatu kesempatan baginya untuk melarikan diri dengan cara menendang sang Marquess lalu lari sekencangnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 133: Protokol yang Menyesakkan

    "Teater? Kenapa Lady Emmeline menanyakan tempat seperti itu di saat jadwal belajar Anda begitu padat?"Suara Margreth terdengar sedikit melengking karena terkejut. Wanita tau itu menghentikan gerakannya yang sedang merapikan gaun sutra yang terlihat kusut di bagian kaki Emily. Matanya yang sudah mulai mengeriput menatap Emily dengan tatapan tidak percaya, seolah-olah sang putri baru saja menanyakan sesuatu yang sangat tabu."Aku hanya bertanya, Margreth. Bukankah seni adalah bagian dari kehidupan bangsawan?" jawab Emily mencoba membela diri."Memang benar, Lady. Namun, teater rakyat di kota bukanlah tempat bagi seorang Putri Valoria," jelas Margreth sembari menghela napas panjang.Emily kembali menatap kejauhan. “Di Ashwood, para bangsawan datang dengan memakai penutup wajah, Margreth. Mereka tidak ingin citra baik itu rusak. Ada pula yang datang terang-terangan. Tetapi itu terbilang jarang.&rd

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 132: Transformasi Sang Putri

    "Kau boleh menggunakan semua fasilitas di kastil ini, Emmeline. Jangan ragu."Suara bariton Adrian terdengar memenuhi aula besar saat ia menuntun adiknya melewati deretan pilar marmer yang menjulang tinggi. Adrian menyadari betapa kaku langkah kaki Emily.Gadis itu masih berjalan dengan bahu yang merapat dan kepala tertunduk. Kebiasaan sebagai seorang pelayan dapur di mansion Montague seolah-olah telah mendarah daging dan sulit untuk dikikis dalam semalam."Terima kasih, Kak Adrian. Tapi rasanya... semuanya masih terlalu luas untukku," bisik Emily dengan nada canggung.Emily menatap lantai marmer yang begitu bersih hingga dia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Di Ashwood, dia terbiasa berjalan mepet ke dinding agar tidak menghalangi jalan para bangsawan atau Alice yang sering melintas dengan angkuh.Kini, ketika dia menjadi pusat perhatian para pelayan yang membungkuk hormat, Emily justru merasa ingin bersembunyi. Dia belum terbiasa dengan segala kemewahan itu walau dirinya perna

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 131: Pengungkapan Jati Diri (2)

    "Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 130: Pengungkapan Jati Diri (1)

    Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 129: Kepulangan

    “Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 128: Depresi Sang Marquess

    "Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 77: Kebebasan yang Menyakitkan

    “Kau pikir aku butuh izinmu untuk menghukummu?” geram Lucien dengan suara berat, rendah, dan mengancam.Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Lucien membungkuk. Tangannya yang besar dan kuat mencengkeram lengan atas Emily dengan kasar.Dia

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 76: Beban Dosa Warisan

    Saat Lucien berbalik, bermaksud mengakhiri pengakuan yang telah mengoyak kembali luka-luka masa lalunya, Emily bertindak di luar kendali.Dengan gerakan putus asa, tangan Emily yang gemetar melesat maju, jari-jarinya yang dingin berhasil mencengkeram ujung jas Lucien untuk me

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 70: Kehancuran Fitzwilliam

    “Di sinikah tempatnya?” bisiknya seraya mengerutkan hidung.Angin membawa bau pesing dan kayu lapuk menyapu wajah Lucien Montague saat turun dari kereta kuda hitamnya. Di depannya, berdiri sebuah bangunan tua bekas gudang tekstil di perbatasan distrik bawah Ashwood.Menurutnya, itu merupakan sebuah

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 60: Pertengkaran Hebat

    “Apa katamu?”Lucien Montague mematung. Matanya yang hijau zamrud, yang sebelumnya dipenuhi oleh kemurkaan, kini menyipit tajam menatap Emily.Urat di pelipisnya menonjol, dan tangannya yang bertumpu pada lututnya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.Sesaat, keheningan mencekam menyelimuti me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status