Home / Zaman Kuno / Istri Gadai Marquess Kejam / Bab 5: Bukan Menjadi Marchioness Sejati

Share

Bab 5: Bukan Menjadi Marchioness Sejati

last update Last Updated: 2026-02-17 10:33:12

Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.

Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.

Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka menunduk dalam diam.

Lucien melangkah dengan suara sepatu menggema di lantai batu granit lalu berhenti di tengah aula. Lucien berbalik menatap Emily yang membeku di ambang pintu.

‘Apakah aku harus masuk?’ pikir Emily bingung melihat Lucien yang tidak menggandengnya atau menariknya untuk mendekat.

Walau tidak diundang masuk, Emily melangkahkan kakinya menuju Lucien yang sudah berada di tengah aula. Para pelayan masih menunduk hormat.

“Selamat datang di rumah barumu,” kata Lucien ketika Emily sudah berdiri beberapa langkah darinya. “Marchioness,” lanjutnya.

Kali ini dengan berbisik seolah tidak ingin semua orang tahu mengenai statusnya yang sudah menjadi istri seorang Marquess.

Emily mendengar Lucien memanggilnya ‘Marchioness’ seperti mengejek. Tidak ada kesungguhan dari suaranya.

Lucien mengambil satu langkah mendekat lagi.

“Jangan kau berpikir bahwa pernikahan ini nyata.  Ini hanya syarat bahwa utang keluarga Fitzwilliam sudah lunas.”

Ucapan Lucien bagaikan sembilu yang membuat Emily hanya bisa menatapnya. Emily  terlalu terkejut untuk bereaksi.

“Mrs. Gable,” panggil Lucien pada wanita tua yang tadi membuka pintu masuk utama. Postur tubuhnya kaku ketika maju satu langkah kemudian menunduk hormat. “Tunjukkan pada dia untuk letak kamarnya.”

“Baik, Milord,” jawab Gable dengan suara serak tanpa emosi. Dia lalu menoleh pada Emily. “Mari, Nyonya saya antar.”

Tidak ada panggilan ‘Marchioness’ atau ‘istriku’ yang dilontarkan oleh Lucien. Hanya ‘dia’. Walau begitu Emily tetap mengangguk sebagai jawabannya. Dia mengikuti langkah kaki Gable.

‘Pastilah kamar Lucien begitu besar,’ pikirnya. ‘Sebesar apa kamarnya?’

Namun, dia bingung saat Gable tidak membawanya menaiki tangga utama yang terlihat megah dan melengkung menuju lantai atas.

Gable membawa Emily menyusuri koridor samping yang sedikit lebih gelap. Dinding polos dan lantai batu menggantikan ruangan mewah yang dilihat Emily tadi.

Emily menyadari ke mana Gable akan membawanya.

‘Bukankah ini jalan menuju sayap pelayan?’ pikirnya heran.

Langkah Gable berhenti di depan pintu kayu di ujung koridor sayap pelayan itu. Ada cat yang sedikit mengelupas pada bagian sudut pintunya.

“Ini kamar Anda,” kata Gable lalu membuka pintu.

Emily mundur satu langkah saat melihat ruangan yang kecil itu. Ruangan itu tidak lebih besar dari kamarnya di kediaman Fitzwilliam.

‘Aku di sini?’ batinnya bingung.

Dia menatap Gable. Khawatir kepala pelayan itu salah memberikan kamar. Tetapi wajah wanita tua itu tidak menunjukkan kesalahan letak kamar sama sekali.

Dalam kamar itu ada sebuah ranjang ukuran satu orang dengan seprai tipis, sebuah lemari kayu berukuran kecil, meja sederhana, dan satu jendela kecil menghadap ke halaman belakang yang kotor.

‘Kamarku sendiri di rumah Fitzwilliam malah menghadap kebun belakang yang penuh tanaman. Lebih besar daripada ini.’

Emily berpikir sedih. Walau begitu, dia tidak akan menunjukkan kesedihannya. Dia pun pernah menjadi bangsawan sebelumnya. Sebelum jatuh miskin.

“Ada aturan yang diterapkan di sini,” lanjut Gable seolah sedang membaca daftar belanja. “Anda boleh memasukin sayap utama mansoin jika Marquess memanggil secara langsung.”

Emily diam. Dia tahu, ada aturan lain yang harus diikutinya.

“Jika tidak ada panggilan dari Marquess, Anda tidak diizinkan ke mansion sayap utama. Karena mansoin sayap utama itu termasuk ruang kerja, perpustakaan, dan juga seluruh lantai atas.”

Emily menelan ludah. Mendadak tenggorokan terasa sangat kering.

“Selanjutnya,” tambah Gable. “Makanan Anda ada di dapur. Anda boleh makan jika para pelayan senior sudah menyelesaikan makannya. Terakhir, tugas Anda tidak menimbulkan masalah apa pun karena Marquess tidak suka kalau diganggu.”

Emily berkedip mendengar penjelasan itu. Tangannya terkepal masih seraya menggenggam buket bunga mininya.

“Saya rasa … saya pikir ada ada kesalahan,” ucap Emily setengah berbisik pada Gable.

Emily yang seorang bangsawan sebelum jatuh miskin itu merasa dirinya begitu terhina. Dia ingin marah tetapi nalurinya sebagai bangsawan, menahan bibirnya untuk berteriak.

“Tidak ada yang salah.”

Suara itu bukan keluar dari Gable, melainkan dari Lucien yang berdiri tidak jauh dari kepala pelayan itu.

Gable menyingkir untuk memberikan Lucien ruangan bergerak. Kepala pelayan tersebut menunduk hormat kemudian berbalik pergi tanpa sepatah katapun pada Emily.

“Jadi ini .…”

Emily tidak menyelesaikan ucapannya. Dia terlalu terkejut dengan yang diterimanya. Gaun pernikahan murah yang dipakainya terasa begitu berat sekali, begitu pula dengan cincin pernikahan yang ada di jari manisnya.

“Kupikir aku akan—”

“Menempati kamar bersamaku? Begitu?” Lucien memotong ucapan Emily.

Emily diam. Dia tahu bahwa dirinya sebagai pelunas utang tetapi dia tidak menyangka bahwa hidupnya akan lebih buruk dibandingkan dengan di kediaman Fitzwilliam.

“Setidaknya—”

“Kamar ini lebih dari cukup.”

Lagi-lagi Lucien memotong ucapan Emily. Pria itu tidak ingin Emily mengucapkan sepatah katapun padanya.

Kemudian Lucien maju hingga jarak mereka hanya beberapa sentimeter saja. Pria itu berdiri menjulang di hadapan Emily.

“Satu lagi yang harus kau tahu, Marchioness,” ucap Lucien dengan mengatakan ‘Marchioness’ secara mengejek. “Hal yang harus kau ingat seumur hidupmu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 6: Sebuah Aturan Mutlak

    “Ada lagi?” bisik Emily.Jantung Emily berdegup. Jarak antara dirinya dan Lucien begitu dekat hingga dapat mencium aroma tembakau dari tubuh Marquess.Jika saling meencintai, pastilah ada kehangatan terjadi. Namun, ini tidak ada kehangatan sama sekali. Sikap Lucien yang dingin itu membuat Emily ingin mundur dua langkah.“Kuminta padamu untuk tidak jatuh cinta padaku.”Emily tertegun mendnegar kalimat yang meluncur begitu mulus tanpa ekspresi itu. Emily berusaha menatap ke dalam mata hijau Lucien.Tidak ada bercanda sama sekali. Emily hanya melihat keseriusan yang begitu dingin dan kejam. Emily menghela napas pelan.“Tidak perlu khawatir, Marquess,” balas Emily berusaha untuk tenang walau hatinya berkata lain.Diangkat dagunya untuk mempertahankan sisa harga dirinya yang sudah terinjak.“Aku tahu posisiku,” katanya lagi. “Aku di sini untuk pembayar utang orang tuaku. Aku tahu betul bahwa tidak akan mencari cinta dari Anda.”Penjelasan tenang Emily itu membuat Lucien menyipitkan mata. P

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 5: Bukan Menjadi Marchioness Sejati

    Akan tetapi, Lucien tidak melakukannya. Pria itu berjalan pelan meninggalkannya.Akhirnya Emily turun segera dari kereta itu lalu mengikuti langkah Lucien.Pintu utama yang berat dan besar terbuka. Seorang kepala pelayan tua berdiri di sana, di belakang para pelayan dengan berbaris rapi. Mereka menunduk dalam diam.Lucien melangkah dengan suara sepatu menggema di lantai batu granit lalu berhenti di tengah aula. Lucien berbalik menatap Emily yang membeku di ambang pintu.‘Apakah aku harus masuk?’ pikir Emily bingung melihat Lucien yang tidak menggandengnya atau menariknya untuk mendekat.Walau tidak diundang masuk, Emily melangkahkan kakinya menuju Lucien yang sudah berada di tengah aula. Para pelayan masih menunduk hormat.“Selamat datang di rumah barumu,” kata Lucien ketika Emily sudah berdiri beberapa langkah darinya. “Marchioness,” lanjutnya.Kali ini dengan berbisik seolah tidak ingin semua orang tahu mengenai statusnya yang sudah menjadi istri seorang Marquess.Emily mendengar Lu

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 4: Pernikahan Tanpa Cinta

    “Apakah Anda, Emily Fitzwilliam bersedia menerima Lucien Montague sebagai suami Anda? untuk mendampinginya dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, hingga maut memisahkan?”Pendeta mengulangi sekali lagi janji suci itu. Emily menelan ludah susah payah. Kedua tangannya memegang erat buket bunga berukuran mini itu.Tatapan pendeta tersebut tidak menghakimi. Sebaliknya, menunggu dengan sabar seraya tersenyum tipis.Lucien hanya berdiri diam di samping Emily. Pria bertubuh tinggi tegap tersebut tidak bergerak.“Ya. Saya bersedia.”Akhirnya Emily mengatakan itu. Dia merasa tubuhnya terasa berat. Begitu pula napasnya. Emily ingin sekali pingsan tetapi seumur hidupnya, belum pernah terjadi.“Dengan kesaksian Tuhan ….” Pendeta berkata lagi, “dan orang-orang yang hadir di sini, saya nyatakan kau berdua sebagai suami istri. Semoga Tuhan selalu menyertai dan membimbing kau berdua dalam perjalanan hidup bersama.”Pendeta yang tidak Emily tahu namanya itu menatap Lucien yang berdiri di samping

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 3: Dua Janji

    “Apa itu, Ayah?” tanya Emily pelan.Dia tidak terkejut sama sekali. Hidupnya yang akhir-akhir ini penuh kejutan membuatnya mulai terbiasa.Jasper menarik napas dalam. Dia melirik Madeline untuk menghindari tatapan Emily dan mencari dukungan pada istrinya.Madeline yang melihat Jasper menatapnya itu mengangguk. Seolah memberi kekuatan untuk mengatakan sesuatu yang mereka simpan selama Emily hidup.“Emily,” ucap Jasper lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap wajah putinya itu. “Ada hal penting yang harus kau tahu sebelum menyandang nama Montague.Emily hanya diam menunggu.“Sesuatu yang kami simpan sejak kau masih bayi,” tambah Jasper berat seolah tidak ingin mengatakannya.Emily tetap diam. Menurutnya, tidak ada lagi yang dapat membuat dirinya lebih hancur daripada sekarang. Pernikahan tanpa cinta membuatnya hancur berkeping-keping.Mereka melangkah masuk lalu duduk di sisi kanan dan kiri Emily. Keduanya terdiam sesaat.“Kau… kau bukan anak kandung kami, Emily,” kata Jasper pada a

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 2: Keputusan Sepihak

    “Apa itu, Bu?”Senyum Emily terbit mendengar ucapan Madeline. Dia bersyukur karena doanya terkabulkan. Apa pun yang diberikan Marquess pada keluarganya, dia akan berterima kasih nanti.“Kau akan menikah, Sayang!”Madeline berkata dengan suara sedikit keras lalu segera menutup mulutnya. Kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan.Memastikan tidak ada orang yang mendengar. Dia mendadak lupa pada perjanjian yang disepakati dengan Marquess.“Menikah?!” seru Emily.Penyiram tananman yang ada di genggamannya jatuh ke tanah. Air yang menampungnya keluar membasahi gaun berwarna kuning pucatnya pada bagian bawah.Madeline mengangguk, “ya.”“Dengan siapa, Bu? Apa aku mengenalnya? Kenapa tiba-tiba?” tanyanya. Dia tidak menyangka kedatangan orang tuanya dari tempat Marquess akan berakhir seperti itu.“Ayo kita masuk.”Madeline kemudian menarik tangan Emily masuk ke dalam rumah. Jasper sedang duduk menunggu di ruang tamu dengan wajah serius bagi Emily yang melihatnya.“Duduk dulu, Em,” kata Madeline l

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 1: Transaksi di Balik Segel

    “Permisi! Apakah ada orang?”Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status