Home / Zaman Kuno / Istri Gadai Marquess Kejam / Bab 1: Transaksi di Balik Segel

Share

Istri Gadai Marquess Kejam
Istri Gadai Marquess Kejam
Author: Celestial Soul

Bab 1: Transaksi di Balik Segel

last update publish date: 2026-02-17 10:31:13

“Permisi! Apakah ada orang?”

Suara berat seorang pria terdengar dari balik pintu depan, disertai ketukan tegas. Kali ini, nada suaranya terdengar lebih sopan daripada tamu-tamu tidak diundang yang datang sebelumnya.

Emily yang masih berdiri di koridor depan setelah mengusir penagih utang sebelumnya, menarik napas panjang.

Dirapikan rambut dan ujung gaunnya yang sedikit kusut. Dia harus terlihat anggun walau bahaya sedang mengintai di sekelilingnya.

“Ya? Mau cari orang tuaku?” Emily berkata seraya membuka pintu. “Mereka sedang tidak ada di rumah. Utang akan kami bayar—”

“Bukan, Nona,” sela pria yang berdiri di hadapannya. Nada bicaranya sopan.

Emily mendongak. Dia menyadari bahwa tamu kali ini berpakaian berbeda dengan para penagih utang.

Pria di hadapannya mengenakan seragam rapi layaknya seorang kurir resmi dari kediaman bangsawan. Wajah kurir itu terlihat letih. Namun, tatapannya jauh lebih ramah.

“Ada surat untuk Count dan Countess Fitzwilliam dari Marquess,” ucap kurir itu seraya merogoh tas selempang kulitnya.

Emily terkesiap mendengar itu.

“Mar-Marquess?” tanyanya gugup.

Emily mulai berpikir keras mengenai masalah apa lagi yang telah diperbuat kedua orang tuanya hingga seorang Marquess harus mengirimkan surat secara langsung.

Kurir itu mengangguk, lalu memberikan sebuah amplop tebal dengan segel lilin berwarna merah pada Emily.

“Berikan pada orang tuamu,”katanya. “Katakan pada mereka kalau ini sangat penting.”

Emily menerima surat itu dengan kedua tangan yang gemetar karena ini kali pertama keluarga Fitzwilliam yang sudah jatuh miskin menerima surat dari seorang Marquess.

Setelah kurir itu pergi, Emily menutup pintu dan bersandar di pintu dengan jantung berdegup. Dibolak-balik surat itu.

Dia  mengamati sampulnya yang hanya bertuliskan nama kedua orang tuanya dengan tulisan tangan. Ujung jarinya menyentuh segel lilin.

Dia ingin sekali membukanya. Namun, urung dilakukan.

“Ibu, Ayah!” panggilnya dengan suara meninggi agar terdengar hingga ke dapur.

Jasper dan Madeline keluar dengan langkah kaki kaku dan mata yang memindai ruang tamu. Mereka memastikan tidak ada orang asing di rumah mereka yang mulai buruk itu.

“Kenapa, Em?” tanya Madeline berbisik. “Ada apa sekarang? Siapa yang datang?”

“Ada surat,” jawab Emily seraya mengangkat amplop itu.

“Dari siapa?” Jasper bertanya dengan waspada.

“Dari Marquess,” balas Emily.

Madeline mendekat cepat dengan wajah memucat di siang hari yang cukup terik.

“Marquess katamu?” tanyanya.

Tanpa permisi, Madeline merampas surat dari tangan Emily.

Emily merosot ke lantai. Pikiran buruk mulai berkelebat di kepalanya. ‘Apakah kami akan dipenjara? Apakah rumah ini akan disita hari ini juga?’

Emily menatap wajah Madeline yang kini seputih kertas.

“Tidak mungkin,” bisik Madeline yang membuat Emily meremang.

“Jasper… ini dari Marquess… Montague,” bisik Madeline lagi.

Emily yang tidak paham hanya menatap kedua orang tuanya bingung, gugup, dan takut bercampur menjadi satu.

Jasper yang mendengar itu nyaris tersedak. Direbut surat itu lalu membukanya kasar dan membacanya.

“Mon—Montague,” desisnya dengan tatapan tidak percaya dan ngeri.

Isi surat itu termasuk singkat.

[Dengan ini mengundang Count dan Countess Fitzwilliam datang ke kantor Marquess untuk membicarakan masalah finansial yang macet. Tertanda: Marquess Montague]

“Ibu, Ayah, ada apa sebenarnya?” tanya Emily saat melihat ketakutan orang tuanya. “Apakah Marquess akan menyita rumah kita?”

Madeline menatap Emily lalu berkata, “Ayah dan Ibu akan berdiskusi. Kau pergilah ke dapur, Em. Makanlah lebih dulu.”

Suara Madeline yang mendadak lembut itu justru justru terasa janggal bagi Emily. Walau begitu Emily menurut meski ada rasa curiga.

Sisa hari itu dihabiskan Emily dengan penuh rasa penasaran sebab kedua orang tuanya tidak mengatakan apa pun mengenai Marquess.

Pagi hari berikutnya, sebuah kereta kuda sewaan membawa Jasper dan Madeline menuju pusat kota.

“Count dan Countess Fitzwilliam, silakan masuk. Kalian sudah ditunggu.”

Seorang wanita berambut hitam dengan wajah datar membuka pintu ganda. Madeline dan Jasper melangkah masuk ke dalam kantor Marquess.

Ruangan itu tidak besar. Namun, setiap inci dari interiornya berteriak tentang uang yang tidak terbatas.

Terdapat karpet beludru mahal, rak buku dari kayu langka, dan aroma tembakau memenuhi udara.

“Silakan duduk.”

Wanita itu menunjuk dua kursi mewah di depan meja besar lalu undur diri. Madeline menelan ludah, merasa begitu kecil di ruangan yang didominasi warna gelap dan atmosfer mengintimidasi.

Seorang pria bertubuh tinggi berdiri memunggungi mereka. Pria itu sedang menuangkan cairan ke dalam gelas kristal.

Saat pria itu berbalik, aura dominasi memenuhi ruangan. Wajahnya tampan tetapi dingin dengan mata hijau yang mampu mengetahui dosa siapa pun.

Jasper kemudian berdehem. Dia mencoba menetralkan kegugupannya dibawah tatapan Marquess.

“Terima kasih telah mengundang kami, Marquess,” ucapnya dengan suara terdengar menyedihkan.

Marquess Montague duduk di kursinya lalu menyesap minumannya perlahan. Dia sedang menilai. Tatapannya membuat keringat mengalir di punggung Jasper dan Madeline.

“Count,” ucap Marquess dengan suara bariton. “Kalian hanya datang berdua?”

“Y-ya, Marquess. Putri kami tidak bisa ikut,” jawab Jasper cepat.

Marquess meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi nyaring di atas meja marmer.

“Kalian sudah tahu kenapa kalian di sini?” tanyanya dingin.

Madeline mengangguk terlalu cepat.

“Kami akan usahakan membayar, Marquess! Beri kami waktu!” jawab Madeline dengan memohon.

Marquess menatap mereka datar. “Kalian bisa kalkulasikan berapa total utang kalian?”

Jasper gagap, otaknya mendadak buntu. “Itu… itu…”

Marquess membuka laci dan mengeluarkan tumpukan kertas. Didorongnya kertas itu ke hadapan mereka.

“Aku sudah mencatat semuanya,” katanya. “Aku sudah membeli semua utang kalian dari para kreditur lain. Sekarang, kalian hanya berutang padaku.”

Madeline gemetar mengambil kertas itu dengan tangannya. Matanya membelalak lalu diletakkan kembali kertas itu saat mengetahui jumlahnya.

“Aku tahu semua utang kalian. Aku tahu aset kalian,” ujar Marquess tenang. “Tanah, ladang, rumah… semuanya tidak cukup untuk menutup utang kalian bahkan seperempat dari angka di kertas ini.”

Jasper menunduk. Madeline bersandar lemas di kursinya. Harapan mereka gugur. Mereka mulai berpikir akan dipenjara, atau lebih buruk, menjadi gelandangan.

“Lalu kami harus bagaimana, Marquess?” tanya Madeline parau dan hampir menangis.

Marquess bangkit berdiri lalu berjalan perlahan mengitari meja.

“Aku akan membantu kalian,” ucapnya. “Dengan syarat. Tunjukkan aset lain yang bisa digadaikan.”

Pertanyaan itu membuat Madeline terkejut.

“Kami tidak punya yang lain lagi, Marquess! Hanya itu!” seru Jasper merasa mulai frustrasi.

Marquess berhenti tepat di depan mereka. ditatapnya lurus ke dalam mata mereka. “Kalian memilikinya, Count.”

“Maksud Anda?” tanya Madeline. Walau nadanya terkesan bingung, akan tetapi otaknya berputar cepat mencari celah.

“Kalian memang tidak menulisnya di kertas mana pun,” ujar Marquess memberi teka-teki. Kemudian kembali duduk di kursinya.“Jika kalian setuju, aku akan melunasi semua utang kalian.”

Ditatap Jasper dan Madeline dengan sorot tajam.

“Setiap koinnya,” lanjut Marques. “Bahkan aku akan memberikan tunjangan hidup bulanan agar kalian bisa kembali hidup layak seperti bangsawan.”

Tawaran itu menggiurkan. Keduanya saling berpandangan dan  sekejap saja sebuah pemahaman yang tidak terucap muncul di antara suami istri itu.

“Ah,” Madeline bersuara. Matanya mendadak berbinar. “Kami memang tidak memiliki harta benda lain, tetapi kami memiliki putri.”

Jasper mengangguk cepat. “Apakah bisa putri kami digadaikan untuk menggenapi utang-utang kami? Putri kami cantik. Dia bisa menjadi selir Anda, Marquess.”

Hening. Marquess memutar gelas kristalnya.

Jasper dan Madeline menahan napas sebab takut tawaran itu ditolak. Menjadikan putri seorang Count sebagai selir adalah penghinaan, tetapi mereka rela demi uang.

“Baik,” ucap Marquess.

Kelegaan memenuhi Jasper dan Madeline. Madeline mulai membayangkan gaun-gaun baru dan Jasper membayangkan kembali ke meja judi dengan tegak.

“Semua utang lunas,” lanjut Marquess yang membuat senyum mereka memudar. “Asalkan aku menikahi putri kalian.”

“Apa?” seru mereka bersamaan.

“Aku tidak butuh selir,” tegas Marquess. “Aku butuh istri. Itu tawaranku.”

Jasper dan Madeline ternganga. Menjadi mertua Marquess. Status sosial mereka akan melesat.

“Kami setuju!” seru Madeline terlalu cepat seraya menahan euphoria dan tanpa memikirkan keputusan Emily.

“Ini sebuah kehormatan!” tambah Jasper dengan senyum lebar.

Marquess Montague tidak tersenyum. Wajahnya seperti pebisnis yang baru saja menutup transaksi jual beli barang.

“Bagus. Syaratnya Pernikahan dilakukan tiga hari lagi,” ucapnya Marques lagi datar. “Tanpa pesta, tanpa pengumuman. Dan Emily akan tinggal bersamaku, masa depannya terjamin.”

Keduanya mengangguk tanpa berpikir. Asalkan utang mereka lunas, mereka setuju saja.

“Kami setuju, Marquess,” ucap Jasper, membungkuk hormat berulang kali.

Marquess mengangguk tanpa senyum.

“Kami permisi,” ucap Jasper lagi lalu menarik Madeline keluar dari ruangan itu.

Marquess menatap kepergian mereka dengan senyum yang penuh rencana.

Perjalanan pulang terasa berbeda. Ketakutan di dalam kereta kuda telah berganti dengan tawa keserakahan. Jasper dan Madeline merasa pemenang lotre.

Kereta berhenti di depan rumah. Di halaman depan, Emily sedang menyiram bunga mawar  seraya bersenandung pelan mencoba menghibur diri.

Emily menoleh saat mendengar suara roda kereta, lalu tersenyum lega melihat orang tuanya pulang selamat.

Jasper memberi kode pada Madeline.

Madeline turun dari kereta lalu menghampiri Emily dengan senyum lebar yang belum pernah dilihat seumur hidupnya.

“Emily, Sayang,” ucap Madeline meraih tangan putrinya. “Ayah dan Ibu punya kabar gembira yang akan mengubah hidup kita selamanya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 131: Pengungkapan Jati Diri (2)

    "Mereka bilang aku dibuang. Berarti itu tidak benar?"Suara Emily terdengar sangat lirih. Dia masih tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Tentang semua asal-usul dirinya. Ditatapnya kalung bulan sabit yang kini terasa sangat berat di telapak tangannya.Bayangan masa kecilnya di kediaman Fitzwilliam yang penuh dengan aroma asap rokok dan tumpukan kartu judi mendadak melintas di benaknya bagaikan mimpi buruk yang tidak berkesudahan."Itu tidak benar. Kau tidak dibuang oleh kami, Emmeline. Kau dirampas dari kami," ralat Adrian dengan nada suara yang bergetar menahan amarah.Emily tertawa pahit di sela isakannya. "Jasper selalu bilang aku adalah anugerah karena mereka tidak memiliki anak. Ternyata, aku hanyalah perhiasan yang dia curi agar bisa hidup mewah di Ashwood."Adrian terdiam. Alisnya berkerut memikirkan sesuatu. Ditatapnya Emily lalu menghela napas pelan.“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucapnya lirih.Emily menoleh. “Apa itu?”"Aku sengaja pergi ke Ashwood beberapa

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 130: Pengungkapan Jati Diri (1)

    Emily mengerutkan kening, bingung dengan maksud ucapan ksatria di hadapannya itu. "Maksud Anda? Aku hanyalah pelarian dari Ashwood yang berutang nyawa pada Anda. Tidak ada kemuliaan dalam sejarah hidupku."Adrian merasakan tusukan di dadanya mendengar rendah diri adiknya sendiri. Diletakkan tas kulit kecil yang dibawanya ke atas bangku batu di antara mereka. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Adrian mengeluarkan kotak kayu eboni berukir singa emas dan menyerahkannya kepada Emily."Apa ini, Tuan Adrian?" tanya Emily ragu sembari menerima kotak yang terasa berat itu.Adrian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke dalam mata Emily dengan sorot mata yang penuh dengan perlindungan dan kasih sayang."Emily... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang darah yang mengalir di tubuhmu," ucap Adrian dengan nada yang sangat serius."Siapa aku sebenarnya maksud Tuan?"&nb

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 129: Kepulangan

    “Ada di ruang bawah tanah, Milord.” Sterling segera menjawab agar Lucien tidak murka lebih lanjut.Beberapa saat kemudian, di ruang interogasi bawah tanah yang lembap, seorang pria bertubuh kurus dengan wajah penuh luka duduk terikat di kursi besi.Pria kurus itu gemetar hebat saat Lucien melangkah masuk dengan pedang yang sudah terhunus. Aura kematian terpancar dari sang Marquess."Katakan padaku dari mana kau mendapatkan anting-anting ini, Tikus Got?!" tanya Lucien sembari menghujamkan ujung pedangnya ke lantai, tepat di antara kedua kaki pria itu."Ampun, Marquess!” teriak perampok kurus itu dengan suara melengking ketakutan. “Saya menemukannya di hutan kabut! Ada seorang wanita yang terjebak di tengah lumpur malam itu!"Lucien melangkah maju lalu mencengkeram rahang pria itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang. "Apa yang kau lakukan padanya?! Jangan berani kau berbohong atau aku akan membedah perutmu hidup-hidup!"Pria itu memejamkan mata. Suaranya bergetar hebat saat m

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 128: Depresi Sang Marquess

    "Ke sel bawah tanah mansion Montague," perintah Lucien tanpa menoleh lagi. "Biarkan mereka membusuk di sana bersama kenangan busuk tentang keserakahan dan pengkhianatan mereka seumur hidup."Jasper dan Madeline menjerit histeris saat para prajurit menyeret mereka keluar dari gudang lembap tersebut dengan paksa. Mereka meronta-ronta, memohon ampunan yang sudah lama mati dari hati sang Marquess yang kini telah membeku.Lucien hanya berdiri diam menatap punggung Jasper dengan kebencian yang mendalam dan dendam yang akhirnya tuntas.Setelah gudang itu kembali sunyi, Lucien berjalan perlahan menuju kudanya yang sudah menunggu di luar. Hujan mulai turun kembali, membasahi wajahnya yang terasa panas oleh amarah yang tidak berujung dan penyesalan yang mulai merayap.Beberapa saat kemudian, Lucien sampai di mansionnya yang kini terasa sangat luas dan terlalu sepi. Dia melangkah melewati aula besar, namun kakinya seolah memiliki keinginan sendiri untuk menuju ke satu ruangan.Kemudian dia berhe

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 127: Hukuman untuk Pengkhianat

    “Pelayan! Pastikan Alice mengemasi barangnya dan cepat pergi dari mansion ini!”Teriakan Lucien yang menggema itu membuat para pelayan serta merta masuk ke dalam kamar tersebut.“Prajurit! Awasi Alice! Pastikan dia keluar dari mansion ini sekarang juga!Setelah meneriakkan itu, Lucien berjalan cepat keluar dari kamar itu. Dia mengabaikan Sterling dan juru tulis lainnya yang tergopoh-gopoh mengikutinya.“Tuan, apa rencana Anda selanjutnya?” tanya Sterling mensejajari langkah Lucien yang lebar.“Aku ingin ke suatu tempat, Tuan Sterling,” sahut Lucien lalu segera berjalan cepat dan Sterling hanya menganggukkan kepalanya.Dengan kemarahan yang memuncak, Lucien keluar dari mansion itu lalu segera menaiki kudanya yang masih ada di depan mansion.Dipacu kudanya dengan cepat tanpa memedulikan para pengawal dan prajuritnya yang tampak kebingungan melihat majikannya yang sangat murka. Mereka hanya mengikuti Lucien tanpa berani berspekulasiLucien berkuda menuju suatu tempat kumuh. Perjalanan mem

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 126: Pencabutan Gelar

    “Kau dan orang tuamu benar-benar lintah!” maki Lucien kasar.Dari sudut matanya, dia melihat Duke Harrington yang mencoba untuk kabur melalui pintu balkon yang terbuka ketika pengawal lengah."Kau mau lari ke mana, Harrington? Seorang Duke biasanya melangkah dengan dagu terangkat, bukan merangkak seperti tikus got yang ketahuan mencuri keju!"Suara bariton Lucien memotong langkah Duke Harrington.Lucien kini berdiri tegak di tengah ruangan. Tatapannya tidak lagi tertuju pada Alice, melainkan pada pria yang telah mengotori kehormatan rumah tangganya."Montague, jaga bicaramu! Aku adalah seorang Duke, pangkatku jauh di atas Marquess sepertimu!" raung Harrington sembari mencoba menggertak meski lututnya bergetar.Lucien tertawa sangat meremehkan dan dingin. Dia melangkah maju dengan gerakan yang tenang namun mematikan, memperpendek jarak di antara me

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 75: Akhir Keluarga Montague

    “Apa yang terjadi pada mereka, Lucien?”Suasana kamar utama mansion itu mendadak berubah menjadi sangat dingin, seolah-olah seluruh kehangatan dari perapian telah disedot habis oleh kepedihan yang memancar dari sosok Lucien Montague.Lucien masih membuang muka. Rahangnya terkatup keras, otot-otot d

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 73: Dongeng Berdarah

    “Lucien, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan orang tuaku?” Emily bertanya lagi ketika Lucien diam. Emily mengatakan itu dengan suara bergetar dan penuh kebingungan.Lucien Montague tidak langsung menjawab. Dia memilih untuk berdiri di dekat jendela seraya menatap Emily dengan senyuman tipis

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 72: Dendam yang Lunas

    “Apa?” Emily berbisik tidak percaya pada ucapan Lucien. “Kau benar-benar ….”Tangisan Emily pecah. Dia tidak sanggp menyelesaikan ucapannya. Suara isakannya terdengar pilu, sebuah perpaduan antara rasa sakit fisik yang dialaminya dan kehancuran batin.Gambaran ayah dan ibu angkatnya yang berlutut d

  • Istri Gadai Marquess Kejam   Bab 71: Vonis sang Marquess

    “Lucien datang,” bisik Emily.Langkah kaki Lucien yang tenang terdengar menggema di sepanjang lorong sepi sayap utama mansion. Suara itu adalah satu-satunya penanda kedatangannya.Namun, bagi Emily, suara itu terdengar seperti detak jantung kematian yang semakin mendekat. Kemudian, pintu kamar utam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status