LOGIN
Hujan baru saja berhenti. Diana menatap kosong ke luar jendela rumah sakit. Hanya kegelapan yang ia lihat. Sepi, sunyi, seolah tak ada kehidupan.
Diana menoleh, menatap tubuh ringkih ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Suara monitor kesehatan terus memancarkan bunyi bip pelan, memecah keheningan. Diana Aulia, gadis sembilan belas tahun yang baru saja merayakan hari kelulusannya. Bukannya bergembira, Diana justru diliputi kesedihan saat mendapati kondisi ayahnya yang semakin menurun. Dokter telah menjelaskan bahwa Pak Rendra, ayah Diana, mengidap penyakit gagal jantung kongestif. Penyakit yang membuat penderitanya tidak mampu memompa darah secara efektif, sehingga cairan menumpuk di paru-paru dan bagian tubuh lainnya. Dokter juga memberi tahu bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, terlebih kondisi Pak Rendra sudah berada di tahap akhir. Kemungkinan sembuh sangat tipis. Harapan hidup Pak Rendra hanya tinggal beberapa minggu, atau bahkan mungkin hanya hitungan hari. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah berdoa, berharap ada keajaiban. Baru saja Diana hendak merebahkan tubuhnya di sofa, suara ketukan pintu mengusik. Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapi menenteng tas hitam masuk ke dalam ruangan. “Selamat malam, Pak Rendra,” sapa pria itu sambil menunduk sopan, lalu melangkah mendekati ranjang. Rendra tersenyum kecil. “Terima kasih sudah datang ke sini, Herman. Diana, kemarilah, Nak.” Diana menghampiri ayahnya dan duduk di kursi di samping ranjang. Perlahan, tangannya mengelus tangan dingin Pak Rendra. “Perkenalkan, Diana. Ini Herman, notaris Pak Arman.” “Saya Diana Aulia,” ujar Diana sambil tersenyum dan mengangguk pelan. Diana tahu betul siapa Pak Arman. Beliau adalah atasan ayahnya yang meninggal beberapa bulan lalu. Diana sangat menghormatinya, karena hanya beliaulah yang sering membantu keluarga Diana saat berada dalam kesulitan. Herman membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map berisi surat wasiat Pak Arman. “Herman, biar saya saja yang menjelaskan pada Diana,” ujar Pak Rendra. Herman pun menyerahkan selembar kertas kepada Pak Rendra. “Diana, ini adalah surat wasiat dari Pak Arman. Kamu pasti tahu siapa beliau. Sebelum meninggal, Pak Arman ingin kamu menikah dengan Aksara, anak laki-lakinya.” Darah Diana seakan berhenti mengalir. Matanya melebar. “Apa? Menikah?” “Iya, Nak. Ini demi masa depanmu. Kamu tahu bagaimana kondisi Ayah saat ini. Ayah tidak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi besok, atau bahkan malam ini.” Diana menatap ayahnya dengan mata sendu. Hatinya berkecamuk, ingin menolak, ingin menentang permintaan itu. Namun di sisi lain, ia tak tega melihat kondisi ayahnya yang kian melemah. “Jangan bilang begitu, Ayah.” “Diana, kita hidup hanya berdua. Lihatlah, bahkan saat Ayah terbaring sekarat pun tak ada sanak saudara yang datang menjenguk. Ibumu? Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Siapa lagi yang bisa Ayah percaya?” Rendra menarik napas pelan. “Orang baik yang Ayah percaya telah tiada. Ini pilihan terakhir Ayah, Diana. Ayah tidak tahu harus menitipkanmu kepada siapa lagi selain Aksara.” “Tolong, Nak. Menikahlah dengan Aksara. Setidaknya, saat Ayah meninggal, kamu sudah berada di tangan yang tepat. Percayalah, Aksara adalah pria yang baik, bertanggung jawab, dan penyayang. Ayah tidak akan tenang jika kamu tidak bersamanya.” Diana menunduk dalam. “Tapi aku tidak mengenalnya, Ayah. Aku baru lulus SMA. Aku belum siap menjadi istri. Aku masih punya cita-cita. Aku ingin melanjutkan sekolah.” “Lalu Ayah harus bagaimana, Diana? Apa kamu tidak ingin membiarkan Ayah pergi dengan tenang?” Kalimat itu menusuk hingga ke relung hati Diana. Ia menggigit pelan bibirnya. Hatinya menolak, tetapi ia tak sanggup menyakiti ayahnya. “Bukan begitu, Ayah. Ayah tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bisa memasak, aku bisa bela diri. Ayah tidak perlu khawatir tentang hidupku. Apa pun bisa aku lakukan sendiri.” Diana menggeleng pelan. “Lagipula, kenapa Ayah pesimis? Aku yakin Ayah bisa sembuh. Kita akan menjalani hidup bersama lagi. Hanya aku dan Ayah.” Diana berusaha menahan air matanya. Ia muak jika harus membicarakan kematian. Walaupun dokter berkata tak ada harapan, salahkah jika ia tetap optimis? “Jangan menyangkal kenyataan, Diana. Kamu tahu sendiri apa yang dokter katakan.” Diana semakin menunduk pilu, jemarinya mengeratkan genggaman pada tangan ayahnya. “Nona Diana,” Herman akhirnya berbicara, “wasiat ini sifatnya tidak memaksa. Namun percayalah, saat Pak Arman membuat wasiat ini, beliau sungguh berharap Anda bisa menikah dengan putranya.” “Wasiat ini bukan hanya untuk memenuhi janji persahabatan antara Pak Rendra dan Pak Arman. Pak Arman tahu betul bahwa Tuan Aksara adalah pria bertanggung jawab yang mampu menjaga Anda dengan baik.” Diana terdiam. Pikirannya riuh. Ia tak mengenal Aksara. Benarkah pria itu sebaik yang mereka katakan? Ataukah ia hanya pria yang tampak baik di luar, namun dingin dan tak berperasaan seperti tokoh-tokoh dalam novel yang sering ia baca? “Apa Ayah tidak bisa memberiku waktu? Untuk mengenal Aksara?” tanyanya pelan. “Waktu Ayah tidak lama lagi, Diana.” Rendra tersenyum lemah. Batuknya kembali pecah. Diana buru-buru mengambil segelas air dan memberikannya. Setelah beberapa teguk, ayahnya kembali berbicara. “Ayah tahu ini mendadak. Tapi Ayah ingin memastikan kamu berada di tangan yang tepat saat Ayah sudah tiada.” Air mata Diana menggenang. Hatinya penuh penolakan. Ia ingin melawan, tetapi bayangan hidup tanpa ayahnya terlalu menakutkan. Selama ini mereka hidup berdua. Ayahnya banting tulang demi memenuhi kebutuhan mereka. Di rumah, Ayah menjadi segalanya. Menggantikan peran Ibu yang telah pergi. Apa pun yang Diana inginkan selalu dipenuhi. Lalu sekarang, saat Ayah meminta satu hal terakhir, apakah ia tega menolaknya? “Kapan aku harus bertemu dengannya?” tanya Diana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar. “Besok.” “Percayalah, Nak. Kamu masih bisa melanjutkan studi setelah menikah. Aksara adalah dosen Universitas Indonesia. Dia bisa membimbingmu.” “Besok pulanglah dulu. Persiapkan dirimu. Berdandanlah yang cantik, kenakan pakaian terbaikmu. Dia akan datang ke sini bersama anaknya.” Diana terkejut. “Anaknya?” “Iya. Dia duda. Anaknya berusia tujuh tahun.” Dunia Diana seolah runtuh. Ia baru berusia sembilan belas tahun, baru lulus SMA, dan kini harus menikah dengan seorang duda yang memiliki anak berusia tujuh tahun. Dunia benar-benar seperti sedang mempermainkannya.Mobil Aksara berhenti di sebuah rumah dua lantai berwarna krem. Bangunannya tidak besar, namun terlihat sangat terawat. Rumah Aksara berada di dalam sebuah kluster di dekat UI. Diana keluar dari mobil mengikuti Aksara. Hari itu Caroline dan ibunya pulang lebih awal karena Caroline harus berangkat sekolah. Sedangkan Diana masih sibuk berbenah, menyiapkan barang-barang yang jumlahnya tidak sedikit. Maklum seorang gadis, pasti banyak keperluannya. “Ini rumahku. Maaf kalau kecil,” ucap Aksara singkat. Diana hanya terdiam, matanya tak berhenti melirik ke sana kemari. “Tidak, ini luas dan terlihat nyaman,” Diana sedikit tersenyum. Belum sempat mereka melangkah masuk seketika pintu depan terbuka. Seorang perempuan paruh baya muncul dengan senyum ramah. Pakaiannya sederhana, rambutnya tersanggul rapi. Dia tersenyum lebar menyambut Diana dan Aksara. “Mas Aksa sudah sampai,” ucap perempuan itu. “Ini pasti Ibu Diana, ya?” “Iya, Mbok,” jawab Aksara. “Ini istri saya.” Diana sedikit tersen
Pagi datang tanpa terasa. Aku terbangun dengan mata sembab, kepala berat, dan dada yang terasa kosong. Untuk sesaat aku lupa di mana aku berada. Apa yang terjadi kemarin, dan bagaimana semua berubah begitu cepat. Bau khas rumah sakit kembali menyeruak, menusuk hidungku. Lalu semuanya datang bagai kaset rusak. Aku duduk perlahan di tepi ranjang kecil yang diperuntukkan bagi keluarga pasien. Gaun pengantin sederhana yang kupakai tadi malam sudah berganti dengan gaun hitam. Suasana duka berkabung begitu terasa di ruangan kecil ini. Yang membuat dadaku begitu sakit saat teringat jika ayah sudah tiada. Sebentar lagi ayah dimakamkan. Beberapa perawat berlalu-lalang. Mereka berbincang pelan, seperti takut suara mereka melukai seseorang.Di sisi lain aku melihat Aksara yang terlelap duduk menyandar ke tembok. Wajahnya terlihat kelelahan. Kemeja putih dengan celana hitamnya masih ia gunakan. Dia yang ke sana kemari mengurus segalanya. Dari administrasi, sampai ikut mengurus jenazah aya
Malam ini aku akad, dengan pria yang baru kukenal pagi tadi. Malam ini aku akad, dengan pria yang telah memiliki anak. Malam ini aku akad, sederhana. Hanya disaksikan oleh beberapa staf rumah sakit, Ibu Aksara yang sudah tidak muda lagi, dan ayahku yang terbaring lemah di atas ranjang. Malam ini aku akad, dengan hiasan sederhana dan baju pengantin sederhana. Malam ini aku akad. Aku duduk di samping Aksara dengan penghulu yang memegang tangan. Malam ini aku akad. Akad yang akan mengubah kehidupanku ke depannya. “Saya terima nikahnya Diana Aulia binti Bapak Rendra Hadiansyah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Suara Aksara mengalir mantap seperti seorang pria yang sudah siap memikul seluruh beban dunia. Untuk sesaat, aku menutup mata. Aku ingin meyakinkan diriku bahwa ini nyata. Bukan mimpi buruk, bukan halusinasi, bukan skenario tidak masuk akal yang tiba-tiba jatuh dari langit. “Bagaimana, para saksi? Sah?” “Sah,” jawab mereka serempak. “Alhamdulillah, sah.” Penghul
Setelah obrolan panjang, Diana merelakan dirinya menikah dengan Aksara. Kali ini ia benar-benar tidak akan menolak. Hatinya ia pasrahkan pada pria pilihan ayahnya. Diana berjalan pelan di samping Aksara. Entah mengapa, jantungnya sedikit berdebar. Ia belum pernah berhubungan dengan laki-laki sebelumnya. Bukan karena tidak laku. Wajahnya cantik, ia pintar dan baik. Hanya saja, ia tidak memiliki waktu dan tenaga untuk hubungan romansa. Berarti, setelah menikah, Aksara akan menjadi yang pertama dan terakhir bagi Diana. Udara koridor rumah sakit terasa dingin, tetapi telapak tangan Diana justru berkeringat. Ia menunduk, sesekali menatap punggung Aksara yang berjalan di depannya. Pria itu terlihat sangat dewasa dan berwibawa. Diana takut tidak bisa bersikap sepertinya. Mengingat usianya yang masih muda, belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, ia khawatir akan salah bersikap hingga membuat Aksara muak. Tidak. Diana menggeleng pelan dalam hati. Ia tidak boleh memikirkan apa
Keesokan paginya, Diana berdiri di depan cermin kamarnya, memandang pantulan dirinya dengan wajah muram. Rambutnya digelung rendah, menyisakan poni dan anak rambut yang menjuntai membingkai wajahnya. Diana mengenakan gaun sederhana berwarna krem. Meski bibirnya sedikit dipulas lipstik tipis, raut wajahnya tetap terlihat kusut. “Apakah aku benar-benar harus melakukan ini?” gumamnya pelan, meski ia tahu tak akan ada jawaban yang memuaskan hatinya. Sudah tidak ada pilihan lain. Diana menarik napas panjang sebelum keluar dari rumah menuju rumah sakit. Hari ini Diana akan bertemu dengan calon suaminya, juga calon anaknya. Jika boleh jujur, dadanya berdegup kencang. Ia gugup. Bayangan laki-laki brewokan masih menghantui pikirannya. Yang paling Diana khawatirkan adalah apa yang harus ia katakan saat bertemu anak Aksara. Bagaimanapun, Diana bukan tipe perempuan yang menyukai anak kecil. Ia juga tidak pandai basa-basi dengan anak-anak. Menurutnya, anak kecil terlalu merepotkan. Diana
Hujan baru saja berhenti. Diana menatap kosong ke luar jendela rumah sakit. Hanya kegelapan yang ia lihat. Sepi, sunyi, seolah tak ada kehidupan. Diana menoleh, menatap tubuh ringkih ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Suara monitor kesehatan terus memancarkan bunyi bip pelan, memecah keheningan. Diana Aulia, gadis sembilan belas tahun yang baru saja merayakan hari kelulusannya. Bukannya bergembira, Diana justru diliputi kesedihan saat mendapati kondisi ayahnya yang semakin menurun. Dokter telah menjelaskan bahwa Pak Rendra, ayah Diana, mengidap penyakit gagal jantung kongestif. Penyakit yang membuat penderitanya tidak mampu memompa darah secara efektif, sehingga cairan menumpuk di paru-paru dan bagian tubuh lainnya. Dokter juga memberi tahu bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, terlebih kondisi Pak Rendra sudah berada di tahap akhir. Kemungkinan sembuh sangat tipis. Harapan hidup Pak Rendra hanya tinggal beberapa minggu, atau bahkan mungkin hanya hitungan ha







