Share

Istri Kecilku
Istri Kecilku
Author: Sora moon

bab 1

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-01-21 16:10:21

Hujan baru saja berhenti. Diana menatap kosong ke luar jendela rumah sakit. Hanya kegelapan yang ia lihat. Sepi, sunyi, seolah tak ada kehidupan.

Diana menoleh, menatap tubuh ringkih ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang. Suara monitor kesehatan terus memancarkan bunyi bip pelan, memecah keheningan.

Diana Aulia, gadis sembilan belas tahun yang baru saja merayakan hari kelulusannya. Bukannya bergembira, Diana justru diliputi kesedihan saat mendapati kondisi ayahnya yang semakin menurun.

Dokter telah menjelaskan bahwa Pak Rendra, ayah Diana, mengidap penyakit gagal jantung kongestif. Penyakit yang membuat penderitanya tidak mampu memompa darah secara efektif, sehingga cairan menumpuk di paru-paru dan bagian tubuh lainnya.

Dokter juga memberi tahu bahwa penyakit ini tidak dapat disembuhkan, terlebih kondisi Pak Rendra sudah berada di tahap akhir. Kemungkinan sembuh sangat tipis.

Harapan hidup Pak Rendra hanya tinggal beberapa minggu, atau bahkan mungkin hanya hitungan hari. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah berdoa, berharap ada keajaiban.

Baru saja Diana hendak merebahkan tubuhnya di sofa, suara ketukan pintu mengusik. Tak lama kemudian, seorang pria berjas rapi menenteng tas hitam masuk ke dalam ruangan.

“Selamat malam, Pak Rendra,” sapa pria itu sambil menunduk sopan, lalu melangkah mendekati ranjang.

Rendra tersenyum kecil. “Terima kasih sudah datang ke sini, Herman. Diana, kemarilah, Nak.”

Diana menghampiri ayahnya dan duduk di kursi di samping ranjang. Perlahan, tangannya mengelus tangan dingin Pak Rendra.

“Perkenalkan, Diana. Ini Herman, notaris Pak Arman.”

“Saya Diana Aulia,” ujar Diana sambil tersenyum dan mengangguk pelan.

Diana tahu betul siapa Pak Arman. Beliau adalah atasan ayahnya yang meninggal beberapa bulan lalu. Diana sangat menghormatinya, karena hanya beliaulah yang sering membantu keluarga Diana saat berada dalam kesulitan.

Herman membuka tasnya, lalu mengeluarkan sebuah map berisi surat wasiat Pak Arman.

“Herman, biar saya saja yang menjelaskan pada Diana,” ujar Pak Rendra.

Herman pun menyerahkan selembar kertas kepada Pak Rendra.

“Diana, ini adalah surat wasiat dari Pak Arman. Kamu pasti tahu siapa beliau. Sebelum meninggal, Pak Arman ingin kamu menikah dengan Aksara, anak laki-lakinya.”

Darah Diana seakan berhenti mengalir. Matanya melebar. “Apa? Menikah?”

“Iya, Nak. Ini demi masa depanmu. Kamu tahu bagaimana kondisi Ayah saat ini. Ayah tidak tahu kapan ajal menjemput. Bisa jadi besok, atau bahkan malam ini.”

Diana menatap ayahnya dengan mata sendu. Hatinya berkecamuk, ingin menolak, ingin menentang permintaan itu. Namun di sisi lain, ia tak tega melihat kondisi ayahnya yang kian melemah.

“Jangan bilang begitu, Ayah.”

“Diana, kita hidup hanya berdua. Lihatlah, bahkan saat Ayah terbaring sekarat pun tak ada sanak saudara yang datang menjenguk. Ibumu? Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarga barunya. Siapa lagi yang bisa Ayah percaya?”

Rendra menarik napas pelan.

“Orang baik yang Ayah percaya telah tiada. Ini pilihan terakhir Ayah, Diana. Ayah tidak tahu harus menitipkanmu kepada siapa lagi selain Aksara.”

“Tolong, Nak. Menikahlah dengan Aksara. Setidaknya, saat Ayah meninggal, kamu sudah berada di tangan yang tepat. Percayalah, Aksara adalah pria yang baik, bertanggung jawab, dan penyayang. Ayah tidak akan tenang jika kamu tidak bersamanya.”

Diana menunduk dalam. “Tapi aku tidak mengenalnya, Ayah. Aku baru lulus SMA. Aku belum siap menjadi istri. Aku masih punya cita-cita. Aku ingin melanjutkan sekolah.”

“Lalu Ayah harus bagaimana, Diana? Apa kamu tidak ingin membiarkan Ayah pergi dengan tenang?”

Kalimat itu menusuk hingga ke relung hati Diana. Ia menggigit pelan bibirnya. Hatinya menolak, tetapi ia tak sanggup menyakiti ayahnya.

“Bukan begitu, Ayah. Ayah tenang saja. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku bisa memasak, aku bisa bela diri. Ayah tidak perlu khawatir tentang hidupku. Apa pun bisa aku lakukan sendiri.”

Diana menggeleng pelan.

“Lagipula, kenapa Ayah pesimis? Aku yakin Ayah bisa sembuh. Kita akan menjalani hidup bersama lagi. Hanya aku dan Ayah.”

Diana berusaha menahan air matanya. Ia muak jika harus membicarakan kematian. Walaupun dokter berkata tak ada harapan, salahkah jika ia tetap optimis?

“Jangan menyangkal kenyataan, Diana. Kamu tahu sendiri apa yang dokter katakan.”

Diana semakin menunduk pilu, jemarinya mengeratkan genggaman pada tangan ayahnya.

“Nona Diana,” Herman akhirnya berbicara, “wasiat ini sifatnya tidak memaksa. Namun percayalah, saat Pak Arman membuat wasiat ini, beliau sungguh berharap Anda bisa menikah dengan putranya.”

“Wasiat ini bukan hanya untuk memenuhi janji persahabatan antara Pak Rendra dan Pak Arman. Pak Arman tahu betul bahwa Tuan Aksara adalah pria bertanggung jawab yang mampu menjaga Anda dengan baik.”

Diana terdiam.

Pikirannya riuh.

Ia tak mengenal Aksara. Benarkah pria itu sebaik yang mereka katakan? Ataukah ia hanya pria yang tampak baik di luar, namun dingin dan tak berperasaan seperti tokoh-tokoh dalam novel yang sering ia baca?

“Apa Ayah tidak bisa memberiku waktu? Untuk mengenal Aksara?” tanyanya pelan.

“Waktu Ayah tidak lama lagi, Diana.”

Rendra tersenyum lemah. Batuknya kembali pecah. Diana buru-buru mengambil segelas air dan memberikannya. Setelah beberapa teguk, ayahnya kembali berbicara.

“Ayah tahu ini mendadak. Tapi Ayah ingin memastikan kamu berada di tangan yang tepat saat Ayah sudah tiada.”

Air mata Diana menggenang. Hatinya penuh penolakan. Ia ingin melawan, tetapi bayangan hidup tanpa ayahnya terlalu menakutkan.

Selama ini mereka hidup berdua. Ayahnya banting tulang demi memenuhi kebutuhan mereka. Di rumah, Ayah menjadi segalanya. Menggantikan peran Ibu yang telah pergi.

Apa pun yang Diana inginkan selalu dipenuhi. Lalu sekarang, saat Ayah meminta satu hal terakhir, apakah ia tega menolaknya?

“Kapan aku harus bertemu dengannya?” tanya Diana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

“Besok.”

“Percayalah, Nak. Kamu masih bisa melanjutkan studi setelah menikah. Aksara adalah dosen Universitas Indonesia. Dia bisa membimbingmu.”

“Besok pulanglah dulu. Persiapkan dirimu. Berdandanlah yang cantik, kenakan pakaian terbaikmu. Dia akan datang ke sini bersama anaknya.”

Diana terkejut. “Anaknya?”

“Iya. Dia duda. Anaknya berusia tujuh tahun.”

Dunia Diana seolah runtuh. Ia baru berusia sembilan belas tahun, baru lulus SMA, dan kini harus menikah dengan seorang duda yang memiliki anak berusia tujuh tahun.

Dunia benar-benar seperti sedang mempermainkannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecilku   bab 48

    Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen

  • Istri Kecilku   bab 47

    Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah

  • Istri Kecilku   bab 46

    Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara

  • Istri Kecilku   bab 45

    Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan

  • Istri Kecilku   bab 44

    Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r

  • Istri Kecilku   bab 43

    Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung

  • Istri Kecilku   bab 39

    ​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan silue

  • Istri Kecilku   bab 32

    ​Sabtu pagi di rumah Aksara selalu memiliki ritme yang berbeda. Tidak ada bunyi alarm yang menjerit pada pukul lima subuh, tidak ada kepanikan mencari kunci mobil, dan yang paling penting tidak ada Diana yang pontang panting karena terlambat. ​Diana terbangun karena cahaya matahari yang menerobos

  • Istri Kecilku   bab 28

    ​Pagi itu, Diana terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Mungkin karena semalam ia melihat Aksara tertawa begitu lepas saat menyantap "sup bayam cokelat" buatan Caroline, atau mungkin karena ia membayangkan Rendy yang malang sedang terkantuk-kantuk menghitung ribuan data di perpustakaan.

  • Istri Kecilku   bab 24

    Setelah ketegangan yang menyesakkan dada di koridor kampus, aroma harum masakan dari dapur rumah terasa seperti pelukan yang menenangkan bagi Diana. Sore itu, langit masih menyisakan rintik tipis di jendela, menciptakan melodi ritmis yang menenangkan. Diana melangkah masuk ke dalam rumah, meletakk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status