LOGINPagi datang tanpa terasa.
Aku terbangun dengan mata sembab, kepala berat, dan dada yang terasa kosong. Untuk sesaat aku lupa di mana aku berada. Apa yang terjadi kemarin, dan bagaimana semua berubah begitu cepat. Bau khas rumah sakit kembali menyeruak, menusuk hidungku. Lalu semuanya datang bagai kaset rusak. Aku duduk perlahan di tepi ranjang kecil yang diperuntukkan bagi keluarga pasien. Gaun pengantin sederhana yang kupakai tadi malam sudah berganti dengan gaun hitam. Suasana duka berkabung begitu terasa di ruangan kecil ini. Yang membuat dadaku begitu sakit saat teringat jika ayah sudah tiada. Sebentar lagi ayah dimakamkan. Beberapa perawat berlalu-lalang. Mereka berbincang pelan, seperti takut suara mereka melukai seseorang. Di sisi lain aku melihat Aksara yang terlelap duduk menyandar ke tembok. Wajahnya terlihat kelelahan. Kemeja putih dengan celana hitamnya masih ia gunakan. Dia yang ke sana kemari mengurus segalanya. Dari administrasi, sampai ikut mengurus jenazah ayah. Dari memandikan sampai menyolatkan, aku tidak ikut karena berhalangan. Tidak sempat baginya beristirahat maupun membersihkan diri. Ibu mertuaku sudah pulang membawa Caroline bersamanya. Bagaimanapun mereka butuh istirahat. Sejenak aku berpikir bagaimana jika saat ini tidak ada sosok Aksara di sampingku. Apa yang nanti akan kulakukan. Aksara terbangun, menatapku yang sedang melamun. Saat matanya bertemu denganku, ia langsung mendekat. “Sabar dan ikhlas, ya. Kamu tidak sendirian, ada aku di sini,” suara khas bangun tidurnya mengalun lembut di telingaku. Entah mengapa suaranya begitu menenangkan untukku. Tanganku terasa dingin saat ia menggenggamnya. Genggaman itu tidak erat, tetapi cukup untuk membuatku sedikit tenang. Jenazah ayah dibawa keluar dari kamar dengan kain putih menutup seluruh tubuhnya. Aku berjalan di belakangnya, langkahku terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena ada Aksara di sampingku. Berat karena aku belum sepenuhnya siap ditinggalkan ayahku. Di mobil jenazah, aku duduk diam. Tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena aku sudah ikhlas, melainkan karena aku tidak tahu harus menangis bagaimana lagi. Di pemakaman, tanah masih basah oleh embun pagi. Beberapa orang berdiri berjarak, sebagian besar adalah staf rumah sakit dan beberapa tetangga yang datang setelah mendengar kabar duka. Tidak banyak, tetapi ada. Ayah memang selalu hidup sederhana. Aku berdiri paling dekat dengan liang lahat. Tanganku mengepal saat kain penutup jenazah dibuka sebentar untuk terakhir kalinya. Wajah ayah terlihat damai, jauh lebih damai daripada saat ia terbaring dengan napas yang terengah. “Yah…” suaraku nyaris tidak keluar. Aku ingin mengatakan banyak hal. Tentang penyesalan, tentang rasa takut, tentang rindu yang bahkan belum sempat benar-benar kurasakan karena semuanya terlalu cepat. Namun kata-kata itu hanya berputar di kepalaku, tidak pernah sampai ke bibir. Tanah mulai ditimbunkan. Setiap sekop yang dijatuhkan terdengar seperti ketukan keras di dadaku. Satu. Dua. Tiga. Aku tidak bergerak. Hingga tiba-tiba kakiku melemas. Aksara segera meraih bahuku, menopang tubuhku agar tidak jatuh. “Tidak apa-apa,” bisiknya. “Pegang aku.” Aku menuruti. Untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, aku benar-benar membiarkan diriku bersandar pada orang lain. Dadaku naik turun, napasku pendek. Aku menunduk, membiarkan air mata jatuh ke tanah yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir ayahku. Setelah doa selesai, satu per satu orang mendekat, mengucapkan belasungkawa. Aku mengangguk, menjawab seperlunya. Kami berlutut di depan makam ayahku. Air mataku masih mengalir, tetapi Aksara terus mendampingi, berusaha menenangkan. Caroline berdiri di samping Aksara, ibu mertuaku mendampinginya. Tangannya berpegangan pada tangan neneknya. “Ayah,” panggilnya pelan. “Kakek tidur di sini?” tanyanya polos. Kami terdiam sejenak. Aku memakluminya, dia masih kecil. Belum mengerti kematian. “Iya, sekarang ini rumah kakek, jadi kakek tidur di sini,” Aksara berbicara pelan, menjelaskan dengan sangat hati-hati. Mungkin takut aku terluka jika salah kata. “Allin boleh main ke rumah kakek lagi, tidak? Allin juga ingin main ke Oppa.” Oppa mungkin panggilan untuk Pak Arman. Aku terdiam, mengingat belum lama Aksara juga kehilangan ayahnya. “Tentu boleh.” Caroline mengangguk serius, lalu berpindah memelukku. Pelukan kecil itu membuat dadaku kembali sesak. Anak ini belum benar-benar mengerti apa itu kehilangan, tetapi entah bagaimana ia sudah belajar merasakan kesedihan. Setelah pemakaman selesai, kami pulang ke rumah kecil yang selama ini kutinggali bersama ayah. Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara batuk ayah, tidak ada langkah pelannya menuju dapur, tidak ada panggilan kecil yang biasanya terdengar menjelang magrib. Aku berdiri di ruang tengah, menatap sofa tua yang menjadi tempat favorit ayah. “Kamu istirahat saja, biar aku sama Mama yang menyiapkan semuanya,” kata Aksara. Aku menggeleng. “Aku ingin di sini dulu.” Ia tidak memaksa. Ia hanya duduk di dekat pintu, membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ibu Aksara membantu menyiapkan beberapa keperluan sederhana. Semua bergerak tanpa banyak bicara. Malam datang dengan cepat. Aku duduk di kamar, memandangi lemari ayah yang masih rapi. Pakaian-pakaiannya tergantung seolah menunggu untuk dipakai kembali. Aku menarik satu kemeja, menempelkannya ke wajahku. Bau ayah masih ada di sana. Tangisku pecah lagi. Aku menutup wajahku, bahuku bergetar. Tidak ada yang menyuruhku berhenti. Tidak ada yang mengatakan aku harus kuat. Aku hanya menangis, membiarkan diriku hancur sebentar. Pintu diketuk pelan. “Diana?” suara Aksara terdengar dari luar. Aku tidak menjawab, tetapi pintu perlahan terbuka. Ia berdiri di ambang pintu, ragu. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.” Aku tersenyum pahit. Tidak banyak kata yang terucap. Ia mengangguk pelan, seolah sudah menduga. Aksara melangkah masuk, duduk di lantai tidak jauh dariku. Tidak mendekat, tidak juga menjauh. “Besok kita pindah ke rumahku. Untuk sekarang kita menginap saja di sini. Kamu baru makan sekali, ibu sudah memasak untuk kita. Ayo kita makan.” Aku menatapnya. Pria yang kini menjadi suamiku. Pria yang dipilih ayahku. Pria yang malam tadi berdiri di sampingku saat hidupku runtuh. “Aku belum mau makan.” “Ya sudah, saya ambilkan makanannya ke sini, ya.” Belum sempat aku menjawab, Aksara sudah pergi dari kamar. Jangankan untuk makan, rasanya menjalani hidup pun aku tak punya nafsu. Aksara kembali dengan nampan penuh makanan. Aku jadi merindukan masakan ayahku. Walaupun kadang telur gosong, nasi goreng asin, tetapi tetap itu makanan yang paling aku suka. Dia duduk di sampingku, menaruh nampan di atas nakas. Dia mengambil semangkuk nasi dengan lauknya, lalu menyodorkan satu sendok padaku. “Aku tidak mau makan,” ucapku parau. “Kamu harus makan. Saya tidak mau kamu sakit.” “Biar aku sendiri yang melakukannya.” Aku ingin meraih sendok itu, tetapi Aksara menjauhkannya. “Kamu belum cukup tenaga. Biar aku saja.” Pasrah, aku menerima suapan dari Aksara. Dia benar, aku belum cukup punya tenaga. Aku hanya mampu makan lima suapan. Perutku terasa mual dan tenggorokanku sakit. Aksara tidak memaksa. Dia mungkin mengerti keadaanku saat ini.Sore itu, Jakarta Selatan lagi mendung-mendungnya, tapi suasana di dalam toko buku besar kawasan Kemang ini justru terasa hangat dan tenang. Aksara sengaja memilih tempat ini karena jauh dari jangkauan mahasiswa-mahasiswa psikologi yang biasanya nongkrong di Depok. Ia ingin menjadi laki-laki biasa sejenak, bukan profesor yang setiap langkahnya dipantau ribuan mata. Aksara berjalan santai dengan tangan kiri yang masuk ke saku celana chino-nya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Diana dengan erat. Diana sendiri tampak segar dengan sweater oversized warna krem yang dipadukan dengan celana jins, rambutnya dicepol asal yang justru bikin leher jenjangnya terekspos jelas. "Mas, serius deh... Mas ngajak kencan ke toko buku itu sebenernya mau refreshing atau mau nyiksa aku buat baca referensi baru?" goda Diana sambil menarik-narik tangan Aksara menuju lorong Novel Fiksi. Aksara terkekeh, suara baritonnya terdengar seksi di antara kesunyian rak buku. Ia menarik Diana mendekat,
Lobi Fakultas Psikologi pagi itu terasa lebih berisik dari biasanya. Kabar bahwa Pak Aksara Pratama—dosen paling perfeksionis se-universitas—datang dengan napas tersengal-sengal dan penampilan yang sedikit "berantakan" menyebar lebih cepat daripada pengumuman nilai ujian akhir. Di dalam Ruang Kuliah A, Aksara berdiri di balik podium kayu jati yang kokoh. Ia mencoba mengatur napasnya, membuka laptop dengan gerakan cepat yang tetap diusahakan terlihat elegan. Namun, ia merasa ada yang aneh. Mahasiswa di barisan depan, yang biasanya menunduk khusyuk mencatat setiap kata mutiaranya, kini justru saling lirik dan menahan senyum. Aksara berdeham, suara baritonnya menggema lewat pengeras suara. "Selamat pagi semuanya. Maaf saya terlambat lima menit karena ada kendala... teknis di rumah. Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai Psikologi Kognitif." Seorang mahasiswa cowok di baris tengah, yang memang terkenal berani, mengangkat tangan. "Anu, Pak... maaf memotong. Tapi sepertinya 'kendala
Cahaya matahari pagi menyelinap dengan kurang ajar melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat, menghujam tepat ke kelopak mata Diana. Ia mengerang, mencoba menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi wajahnya, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang hangat, padat, dan berotot. Diana membuka mata satu senti. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah rahang tegas Aksara yang masih terlelap dengan posisi memeluk pinggangnya posesif. Suara napas Aksara yang teratur adalah melodi paling menenangkan, tapi ketenangan itu pecah seketika saat mata Diana melirik jam beker di atas nakas. 07.15 WIB. "MAS AKSARA! BANGUN!" teriak Diana sambil meloncat duduk, membuat kasur pegas mereka berguncang hebat. Aksara tersentak, matanya terbuka lebar karena terkejut. "Ada apa? Gempa? Kebakaran?" tanya Aksara dengan suara serak-serak basah khas bangun tidur yang biasanya terdengar seksi, tapi kali ini terdengar seperti lonceng kematian bagi jadwal kuliah. "Gempa apanya! Mas ada kelas jam
Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan siluet hangat, menyamarkan sisa-sisa ketegangan yang biasanya mereka bawa dari koridor kampus yang kaku.Aksara baru saja keluar dari kamar mandi. Uap hangat masih mengikuti langkah kakinya. Ia hanya mengenakan celana kain panjang berwarna abu-abu gelap, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara dingin dari pendingin ruangan. Rambutnya yang biasanya tertata klimis ala dosen berwibawa, kini basah dan berantakan—sebuah pemandangan yang kalau sampai bocor ke grup WhatsApp mahasiswi, pasti bakal bikin server kampus down seketika.Di atas tempat tidur besar mereka, Diana tampak tidak terganggu. Ia sedang dalam posisi tengkurap, mengenakan piama satin tipis berwarna marun yang talinya sesekali
Entah bisikan setan darimana tiba-tiba saja Diana ingin berlajar menyetir mobil. Maka di sinilah mereka berada parkiran sepi yang sangat luas.Aksara Pratama, sang dosen psikologi yang biasanya mampu mengendalikan emosi ratusan mahasiswa dengan satu tatapan dingin, kini tampak berkeringat dingin. Di sampingnya, Diana duduk di kursi pengemudi dengan wajah tegang, kedua tangannya mencengkeram lingkar kemudi seolah-olah sedang memegang bom yang siap meledak. "Mas... beneran nih? Kalau aku nabrak tiang listrik itu gimana?" bisik Diana, matanya melotot menatap tiang beton di kejauhan. Aksara mengembuskan napas panjang, mencoba mempraktikkan teknik pernapasan dalam yang biasa ia ajarkan untuk mengatasi kecemasan. "Diana, tiang itu jaraknya lima puluh meter. Mobil ini tidak akan melompat ke sana kecuali kamu menginjak gas full. Sekarang, injak koplingnya perlahan." "Kopling yang mana? Kiri atau tengah?" tanya Diana panik. "Kiri, Sayang. Yang paling kiri. Tengah itu rem," jawab Aksar
Hari Selasa pagi di Fakultas Psikologi tidak pernah terasa seaneh ini bagi Diana. Jika biasanya ia turun dari ojek online di gerbang belakang dengan gerakan gesit layaknya agen rahasia yang takut tertangkap basah, hari ini pemandangannya berubah total. Mobil sedan hitam Aksara berhenti tepat di depan lobi utama—titik paling ramai di mana mahasiswa berkumpul untuk sekadar menyesap kopi atau menyalin tugas teman. Aksara mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Diana yang masih mematung sambil memeluk tas ranselnya. "Kenapa? Masih mau menunggu sampai gedung ini sepi?" goda Aksara dengan senyum miring yang sangat menyebalkan sekaligus tampan. "Mas... beneran nih? Semua orang melihat ke sini, lho," bisik Diana, matanya melirik ke arah kaca jendela yang transparan. Di luar, Pitaloka sudah melambai-lambai dengan heboh seperti sedang menyambut kedatangan delegasi luar negeri. Tanpa menjawab, Aksara keluar dari mobil. Ia berjalan memutar dengan langkah tegap, membuka pintu di sisi Diana,







