Share

bab 5

Author: Sora moon
last update publish date: 2026-01-21 18:14:59

Pagi datang tanpa terasa.

Aku terbangun dengan mata sembab, kepala berat, dan dada yang terasa kosong. Untuk sesaat aku lupa di mana aku berada. Apa yang terjadi kemarin, dan bagaimana semua berubah begitu cepat.

Bau khas rumah sakit kembali menyeruak, menusuk hidungku. Lalu semuanya datang bagai kaset rusak.

Aku duduk perlahan di tepi ranjang kecil yang diperuntukkan bagi keluarga pasien. Gaun pengantin sederhana yang kupakai tadi malam sudah berganti dengan gaun hitam.

Suasana duka berkabung begitu terasa di ruangan kecil ini.

Yang membuat dadaku begitu sakit saat teringat jika ayah sudah tiada.

Sebentar lagi ayah dimakamkan.

Beberapa perawat berlalu-lalang. Mereka berbincang pelan, seperti takut suara mereka melukai seseorang.

Di sisi lain aku melihat Aksara yang terlelap duduk menyandar ke tembok. Wajahnya terlihat kelelahan. Kemeja putih dengan celana hitamnya masih ia gunakan.

Dia yang ke sana kemari mengurus segalanya. Dari administrasi, sampai ikut mengurus jenazah ayah. Dari memandikan sampai menyolatkan, aku tidak ikut karena berhalangan.

Tidak sempat baginya beristirahat maupun membersihkan diri.

Ibu mertuaku sudah pulang membawa Caroline bersamanya. Bagaimanapun mereka butuh istirahat.

Sejenak aku berpikir bagaimana jika saat ini tidak ada sosok Aksara di sampingku. Apa yang nanti akan kulakukan.

Aksara terbangun, menatapku yang sedang melamun. Saat matanya bertemu denganku, ia langsung mendekat.

“Sabar dan ikhlas, ya. Kamu tidak sendirian, ada aku di sini,” suara khas bangun tidurnya mengalun lembut di telingaku. Entah mengapa suaranya begitu menenangkan untukku.

Tanganku terasa dingin saat ia menggenggamnya. Genggaman itu tidak erat, tetapi cukup untuk membuatku sedikit tenang.

Jenazah ayah dibawa keluar dari kamar dengan kain putih menutup seluruh tubuhnya. Aku berjalan di belakangnya, langkahku terasa ringan sekaligus berat.

Ringan karena ada Aksara di sampingku. Berat karena aku belum sepenuhnya siap ditinggalkan ayahku.

Di mobil jenazah, aku duduk diam. Tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena aku sudah ikhlas, melainkan karena aku tidak tahu harus menangis bagaimana lagi.

Di pemakaman, tanah masih basah oleh embun pagi. Beberapa orang berdiri berjarak, sebagian besar adalah staf rumah sakit dan beberapa tetangga yang datang setelah mendengar kabar duka. Tidak banyak, tetapi ada.

Ayah memang selalu hidup sederhana.

Aku berdiri paling dekat dengan liang lahat.

Tanganku mengepal saat kain penutup jenazah dibuka sebentar untuk terakhir kalinya. Wajah ayah terlihat damai, jauh lebih damai daripada saat ia terbaring dengan napas yang terengah.

“Yah…” suaraku nyaris tidak keluar.

Aku ingin mengatakan banyak hal. Tentang penyesalan, tentang rasa takut, tentang rindu yang bahkan belum sempat benar-benar kurasakan karena semuanya terlalu cepat.

Namun kata-kata itu hanya berputar di kepalaku, tidak pernah sampai ke bibir.

Tanah mulai ditimbunkan.

Setiap sekop yang dijatuhkan terdengar seperti ketukan keras di dadaku.

Satu.

Dua.

Tiga.

Aku tidak bergerak. Hingga tiba-tiba kakiku melemas. Aksara segera meraih bahuku, menopang tubuhku agar tidak jatuh.

“Tidak apa-apa,” bisiknya. “Pegang aku.”

Aku menuruti. Untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, aku benar-benar membiarkan diriku bersandar pada orang lain.

Dadaku naik turun, napasku pendek. Aku menunduk, membiarkan air mata jatuh ke tanah yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhir ayahku.

Setelah doa selesai, satu per satu orang mendekat, mengucapkan belasungkawa. Aku mengangguk, menjawab seperlunya.

Kami berlutut di depan makam ayahku. Air mataku masih mengalir, tetapi Aksara terus mendampingi, berusaha menenangkan.

Caroline berdiri di samping Aksara, ibu mertuaku mendampinginya. Tangannya berpegangan pada tangan neneknya.

“Ayah,” panggilnya pelan.

“Kakek tidur di sini?” tanyanya polos.

Kami terdiam sejenak. Aku memakluminya, dia masih kecil. Belum mengerti kematian.

“Iya, sekarang ini rumah kakek, jadi kakek tidur di sini,” Aksara berbicara pelan, menjelaskan dengan sangat hati-hati. Mungkin takut aku terluka jika salah kata.

“Allin boleh main ke rumah kakek lagi, tidak? Allin juga ingin main ke Oppa.” Oppa mungkin panggilan untuk Pak Arman. Aku terdiam, mengingat belum lama Aksara juga kehilangan ayahnya.

“Tentu boleh.”

Caroline mengangguk serius, lalu berpindah memelukku. Pelukan kecil itu membuat dadaku kembali sesak. Anak ini belum benar-benar mengerti apa itu kehilangan, tetapi entah bagaimana ia sudah belajar merasakan kesedihan.

Setelah pemakaman selesai, kami pulang ke rumah kecil yang selama ini kutinggali bersama ayah. Rumah itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Tidak ada suara batuk ayah, tidak ada langkah pelannya menuju dapur, tidak ada panggilan kecil yang biasanya terdengar menjelang magrib.

Aku berdiri di ruang tengah, menatap sofa tua yang menjadi tempat favorit ayah.

“Kamu istirahat saja, biar aku sama Mama yang menyiapkan semuanya,” kata Aksara.

Aku menggeleng. “Aku ingin di sini dulu.”

Ia tidak memaksa. Ia hanya duduk di dekat pintu, membiarkanku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Ibu Aksara membantu menyiapkan beberapa keperluan sederhana.

Semua bergerak tanpa banyak bicara.

Malam datang dengan cepat.

Aku duduk di kamar, memandangi lemari ayah yang masih rapi. Pakaian-pakaiannya tergantung seolah menunggu untuk dipakai kembali. Aku menarik satu kemeja, menempelkannya ke wajahku.

Bau ayah masih ada di sana.

Tangisku pecah lagi.

Aku menutup wajahku, bahuku bergetar. Tidak ada yang menyuruhku berhenti. Tidak ada yang mengatakan aku harus kuat. Aku hanya menangis, membiarkan diriku hancur sebentar.

Pintu diketuk pelan.

“Diana?” suara Aksara terdengar dari luar.

Aku tidak menjawab, tetapi pintu perlahan terbuka.

Ia berdiri di ambang pintu, ragu. “Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja.”

Aku tersenyum pahit. Tidak banyak kata yang terucap.

Ia mengangguk pelan, seolah sudah menduga. Aksara melangkah masuk, duduk di lantai tidak jauh dariku. Tidak mendekat, tidak juga menjauh.

“Besok kita pindah ke rumahku. Untuk sekarang kita menginap saja di sini. Kamu baru makan sekali, ibu sudah memasak untuk kita. Ayo kita makan.”

Aku menatapnya. Pria yang kini menjadi suamiku. Pria yang dipilih ayahku. Pria yang malam tadi berdiri di sampingku saat hidupku runtuh.

“Aku belum mau makan.”

“Ya sudah, saya ambilkan makanannya ke sini, ya.” Belum sempat aku menjawab, Aksara sudah pergi dari kamar. Jangankan untuk makan, rasanya menjalani hidup pun aku tak punya nafsu.

Aksara kembali dengan nampan penuh makanan. Aku jadi merindukan masakan ayahku. Walaupun kadang telur gosong, nasi goreng asin, tetapi tetap itu makanan yang paling aku suka.

Dia duduk di sampingku, menaruh nampan di atas nakas. Dia mengambil semangkuk nasi dengan lauknya, lalu menyodorkan satu sendok padaku.

“Aku tidak mau makan,” ucapku parau.

“Kamu harus makan. Saya tidak mau kamu sakit.”

“Biar aku sendiri yang melakukannya.”

Aku ingin meraih sendok itu, tetapi Aksara menjauhkannya.

“Kamu belum cukup tenaga. Biar aku saja.”

Pasrah, aku menerima suapan dari Aksara. Dia benar, aku belum cukup punya tenaga.

Aku hanya mampu makan lima suapan. Perutku terasa mual dan tenggorokanku sakit.

Aksara tidak memaksa. Dia mungkin mengerti keadaanku saat ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Kecilku   bab 48

    Suasana tenang di cluster perumahan elit itu mendadak terusik bukan oleh wartawan TV, melainkan oleh kerumunan anak muda dengan jaket almamater dan motor matik yang parkir sembarangan. Di tangan mereka bukan kamera profesional, melainkan ponsel pintar yang siap merekam apa saja demi konten "spill" di TikTok dan akun gosip kampus.Aksara yang baru saja memundurkan BMW hitamnya terpaksa menginjak rem dalam-dalam. Di depan gerbang rumahnya, ada sekitar sepuluh orang yang berdiri dengan ponsel teracung."Eh, beneran itu rumahnya Pak Aksara!""Cepat rekam! Itu cewek di dalem pasti Diana!"Kilatan flash dari ponsel-ponsel itu menyambar kaca mobil yang gelap. Diana, yang duduk di kursi penumpang, langsung menarik hoodie-nya hingga menutupi wajah. Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan wartawan, ini jauh lebih ngeri: teman-teman seangkatannya sendiri yang haus validasi di media sosial."Mas... kok mereka tahu rumah kita? Ini kan cluster privat!" bisik Diana dengan suara gemetar.Aksara mencen

  • Istri Kecilku   bab 47

    Sisa ketegangan dari kedatangan Saskia masih menggantung tipis di udara, namun di dalam kamar Allin yang bernuansa merah muda, waktu seolah berjalan lebih lambat. Allin mengerjapkan matanya yang bulat, menguceknya pelan, lalu duduk tegak di atas tempat tidur. Ia mendengar suara gaduh di bawah tadi, tapi kantuknya jauh lebih berat. "Ayah?" panggil Allin lirih. Pintu kamar terbuka pelan. Aksara melangkah masuk, sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaos santai hitam. Di belakangnya, Diana mengekor dengan nampan berisi segelas susu hangat. "Anak pinter sudah bangun?" Aksara duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Allin yang sedikit berkeringat. Allin langsung merangkak ke pelukan Aksara, menyembunyikan wajahnya di dada bidang papanya. "Yah... tadi ada suara orang teriak ya? Allin takut." Aksara melirik Diana sekilas. Ada kilat kepedihan di matanya, namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis. "Enggak ada apa-apa, Sayang. Cuma orang salah alamat yang agak bingung cari jalan. Ayah

  • Istri Kecilku   bab 46

    Sore hari setelah kuliah selesai. rumah Aksara tampak Damai dan sunyi. Diana baru saja hendak menyeduh teh saat bel rumah berbunyi panjang. Tidak seperti biasanya, bunyi bel itu terdengar menuntut, tidak sabar, dan sedikit... lancang. Begitu pintu dibuka, dunia Diana seolah bergeser. Seorang wanita berdiri di sana. Rambutnya pirang abu-abu hasil salon mahal, riasannya tebal namun tak mampu menutupi gurat kelelahan di matanya. Ia mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk cuaca mendung Depok. "Siapa ya?" tanya Diana, instingnya langsung mengirim sinyal bahaya. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, menatap Diana dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan. "Jadi ini asisten baru Aksara? Atau... selera barunya yang masih bau kencur?" "Saya Diana, istri Mas Aksara," jawab Diana tegas, menekankan kata istri. Tawa wanita itu pecah. Cempreng dan palsu. "Istri? Oh, manis sekali. Aku Saskia. Ibu kandung Caroline. Minggir, aku mau ketemu anakku." "Mas Aksara

  • Istri Kecilku   bab 45

    Bau sisa hujan semalam masih menempel di selasar Fakultas Psikologi. Diana melangkah cepat, menarik kerah blus kura-kuranya setinggi mungkin. Sialan Aksara. Tanda di leher kirinya itu tidak bisa tertutup sempurna hanya dengan concealer seharga tiga ratus ribu. "Diana! Sini!" teriak Pitaloka dari pintu kelas 302. "Pak Aksara sudah di jalan. Lo telat dikit, habis!" Diana masuk, mengambil napas pendek, dan duduk di baris paling depan. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Tepat di bawah hidung podium dosen. Klik. Klik. Klik. Suara pantofel yang beradu dengan lantai marmer itu membuat seisi kelas mendadak senyap. Aksara Pratama masuk. Jas abu-abunya terpasang sempurna, dasi marun hasil simpul tangan Diana tadi pagi melingkar gagah. Wajahnya datar, kaku, dan seolah tidak pernah menyentuh kulit manusia dalam sepuluh tahun terakhir. Aksara meletakkan tas kulitnya. Matanya memindai ruangan. Ia tidak menatap Diana. Tatapannya justru jatuh pada Raka, mahasiswa yang duduk tepat di belakan

  • Istri Kecilku   bab 44

    Alarm digital di nakas baru saja menunjukkan pukul 05.30 WIB. Cahaya fajar Jakarta yang abu-abu mengintip malu-malu di balik gorden blackout. Aksara sudah terjaga, posisi telentang dengan lengan kanan menyangga kepala, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang sudah melanglang buana ke materi kuliah jam delapan nanti. Namun, lamunannya buyar saat merasakan pergerakan di sampingnya. Diana tidak bangun untuk mandi seperti biasanya. Gadis itu justru merangkak naik, menindih perut rata Aksara, dan duduk tegak di sana dengan piama satin tipis yang talinya nyaris melorot. Aksara tersentak. Alisnya terangkat satu. "Diana? Tumben. Biasanya aku harus pakai pengeras suara buat bangunin kamu." "Mas terlalu banyak mikir," gumam Diana. Ia menunduk, ujung rambutnya yang berantakan menyapu dada bidang Aksara. Jemarinya yang lentik mulai menelusuri garis rahang suaminya yang tegas. "Berhenti jadi profesor sejenak. Tatap aku." Aksara terkekeh rendah, tangannya otomatis hinggap di pinggang r

  • Istri Kecilku   bab 43

    Hujan di luar semakin menggila, mengubah aspal Jakarta menjadi cermin hitam yang memantulkan kerlip lampu kota yang buram. Di dalam mobil, uap tipis mulai menyelimuti kaca, mengisolasi Aksara dan Diana dalam sebuah gelembung kedap suara yang hanya berisi deru mesin halus dan aroma musk yang kian pekat. Aksara tidak segera memacu mobilnya. Tangannya masih bertengger di tengkuk Diana, jempolnya mengusap garis rahang istrinya dengan ritme yang menghipnotis. Ada kilat di matanya—jenis kilat yang tidak pernah ia tunjukkan di depan podium kuliah. Itu bukan tatapan seorang akademisi yang sedang mengobservasi subjek; itu adalah tatapan seorang pria yang sedang kelaparan. "Mas... jalan, nanti Allin nunggu kelamaan," bisik Diana. Suaranya serak, usahanya untuk bersikap logis digagalkan oleh sentuhan Aksara yang mulai turun ke tulang selangkanya. "Mbok Ratni sudah kirim pesan. Allin ketiduran habis makan sore," sahut Aksara rendah. Suaranya seperti gesekan cello yang berat, bergetar langsung

  • Istri Kecilku   bab 39

    ​Hujan di luar jendela kamar utama kediaman Aksara seolah tidak punya niat untuk reda. Suara rintik yang menghantam kaca menciptakan ritme statis yang justru membuat suasana di dalam ruangan terasa berkali-kali lipat lebih privat. Lampu tidur di sudut kamar yang berpijar kekuningan memberikan silue

  • Istri Kecilku   bab 14

    ​Laman situs pengumuman SIMAK UI yang menampilkan kotak hijau bertuliskan "SELAMAT! ANDA DITERIMA" rasanya baru kemarin Diana tatap dengan tangan gemetar dan derai air mata bahagia.Namun hari ini, euforia itu harus berhadapan langsung dengan realitas fisik. Diana berdiri tegak, membiarkan tubuhny

  • Istri Kecilku   Bab 13

    ​Langit Depok pagi ini tampak abu-abu, seolah ikut merasakan ketegangan yang menyelimuti hati Diana. Hari ini adalah hari penentuan. Ujian SIMAK UI—gerbang utama yang harus ia lewati untuk bisa mengenakan jaket kuning kebanggaan—sudah di depan mata. ​Di meja makan, Diana hanya mengaduk-aduk bubu

  • Istri Kecilku   bab 6

    Mobil Aksara berhenti di sebuah rumah dua lantai berwarna krem. Bangunannya tidak besar, namun terlihat sangat terawat. Rumah Aksara berada di dalam sebuah kluster di dekat UI. Diana keluar dari mobil mengikuti Aksara. Hari itu Caroline dan ibunya pulang lebih awal karena Caroline harus berangkat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status