LOGIN"Pak Elric?" ujar Nolan tanpa sadar. Pandangan mata Nolan langsung memgarah ke arah datangnya Elric. Elric berjalan dengan langkah tegas menuju ke arah Lala. "Bapak?" Lala tertegun. Dia tidak menyangka suami rahasianya itu akan datang ke mall ini. 'Ngapain Pak Elric ke sini? Gila apa, kok bisa keremu di tempat begini,' batin Lala. Nampak di tangan Elric jas yang terlipat rapi. Dia berjalan sambil menyaku tangan kanannya. Sorot matanya tajam bak elang yang menatap mangsa. "Kau di sini, La?" ujar Elric dengan suara pelan namun lantang. Sorot mata itu seolah bertanya apa yang kau lakukan dengan pria ini di sini. Lala berusaha membuang pandang. Dia menghindari tatapan Elric. "Bapak nonton film juga?" tanya Nolan. Dia menggandeng tangan Lala. Bola mata Lala langsung melebar ketika mengetahui hal itu. Tangan Lala hendak melepaskan gandengan itu. "Saya juga punya kehidupan. Apa urusanmu menanyakan hal itu?" jawab Elric dengan nada sinis. Nolan terlihat tidak s
"Hah?" Lala terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut Nolan. Wajah Lala nampak sedikit pucat mendengar pernyataan Nolan. "Nggak, kok ini cuma orang iseng kan gue masih single," ujar Lala. Tangan Lala berusaha membalikkan handphone itu. Saat dibalikkan, handphone itu masih menunjukkan panggilan dari nomor Elric. "Kamu dari tadi celingak-celinguk. Emang ada apa? Ada yang mencurigakan ya?" tanya Nolan. Mata Nolan ikut menatap ke arah penjuru restoran. Dia mengikuti ke mana arah mata Lala memandang. "Nggak ada apa-apa, tenang aja. Aku cuma sedikit gelisah karena asam lambungnya kumat." kilah Lala. Nampak pria botak yang seolah berjalan ke arah Lala. Lala mengenali pria itu. Itu pria yang mengikutinya sedari tadi. 'Apa mereka suruhan, Pak Rino? Jangan-jangan aku mau diculik' batin Lala. Nolan menangkap sinyal di mata Lala yang memberi tanda, seolah ketakutan. Netra itu memperhatikan pria botak yang baru saja lewat. "Kamu kenal dia?" tanya Nolan dengan mimik w
"Hah? Apa?" Sedotan yang di mulut Lala berasa menusuk ke langit-langit mulut. Dia langsung terbatuk-batuk, akibat tersendak soda. 'Kenapa Nolan bisa berpikiran seorang diri itu? Apa dia sudah tahu rahasia aku?' batin Lala. "Lo kenapa, La?" tanya Nolan. Dia langsung menghadap ke arah Lala. Lala hanya tersenyum sambil tisu dari tas selempangnya. Sisa soda itu diseka dengan tisu. "Gue nggak apa-apa, cuma agak kaget. Ada adegan berdarah." kilah Lala. "Oh, begitu? Gue kira, kenapa-napa." Nolan masih memperhatikan Lala. "Gue masih single ya, belum punya pacar, apalagi suami. Bercanda lo nggak lucu." tegur Lala. "Wah, ikan di perairan yang besar, iya. Gue kagum sama ide sutradaranya." Lala sengaja mengalihkan ke topik lain. Tatapan Nolan masih berusaha dihindari. Lala berusaha bersikap senormal mungkin sambil memakan popcorn. "Kenapa lo tanya kayak gitu? Gak mungkin, kan, lo naksir gue?" canda Lala. Nolan hanya tertawa kecil. Dia langsung menatap ke layar bioskop samb
"Sorry, gue kesel. Baru baca chat dari keluarga jauh. Seenaknya minta diutangin."elak Lala. "Ada apa, Laa? Apa yang kau khawatirkan? Nolan menatap ke arah Lala dengan tatapan khawatir. Lala berusaha mengalihkan pandangannya. Namun, ujung matanya menatap ke arah orang mencurigakan itu. Dua orang itu berpakaian merah, dan satu lagi berpakaian kemeja hitam. Keduanya memakai kacamata hitam. Badan kedua pria itu tegap dan kekar. Keduanya makan nasi goreng dengan santai saat Lala menatapnya. 'Tak salah lagi, dua orang ini suruhan Pak Elric. Siapa lagi yang bisa membuat hal seperti ini selain si pria dingin itu?' batin Lala. "Permisi, Kak." seorang pelayan lelaki mengantarkan pesanan Lala dan Nolan. Ada dua gelas jus stroberi dan dua buah cupcake dengan topping krim berwarna putih. "Apakah pesanannya sudah lengkap dan sesuai, Kak?" Nolan nampak memandangi makanan dan minuman yang baru saja diturunkan dari nampan oleh pelayan. "Sudah, Kak." kata Lala. Tanpa ragu dia mengambi
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu, Nolan?" Lala berusaha menghindari tatapan Nolan. Matanya tak bisa menyembunyikan jika dia tak nyaman dengan pertanyaan. Kruk di tangan Lala tiba-tiba mendadak. Pertanyaan itu tidak disangka akan muncul dari mulut Nolan. "Aku pikir kau punya hubungan khusus dengan beliau. Kalian terlihat dekat." Nolan berusaha menatap Lala, namun Lala masih saja membuang pandang. 'Apa aku terlihat sangat mencolok?' batin Lala. Dia berusaha memikirkan cara agar tidak dicurigai Nolan. Suasana hening sejenak. Lala menyebut sepatah kata pun. Dia masih bimbang harus berkata apa. "Memangnya perilaku seperti apa yang membuatku terlihat spesial?" Lala memberanikan diri bertanya pada Nolan. Nolan nampak berpikir sejenak. Dirinya terlihat bimbang. "Pak Elric menegur kita. Aku tidak nyaman dengan hal itu." Nolan memegang bahu Lala. Gerakan Lala terhenti sejenak. Dia mendongak dan menatap Nolan. Tanpa disadari, ujung bibir Lala digigit tanpa disadari.
"Halo," Lala menjawab telepon dari Nolan. Telepon itu masuk tepat saat mobil taksi berhenti di depan lobi mall yang megah. Atap tinggil menjulang. Deretan nama brand kelas atas terpampang di halaman luar bangunan mall itu. Nuansa kekunigan nan elegan mendominasi bangun mall itu. "Kamu udah sampai belum, La?" terdengar suara Nolan. Suara yang lembut dan manis. Hati kecil Lala tersentuh, tanpa sadar dia tersenyum. "Gimana kalo gue jemput ke situ?" "Gue udah sampe di depan lobi mall. Loe dimana?" sahut Lala. Pintu mobil taksi itu terbuka dari dalam. Lala sudah membayar biaya taksi dengan cashless. Kaki Lala melangkah keluar dengan hati-hati. Telapak kaki itu mendarah tepat di atas lantai marmer hitam. "Ya udah gue jalan ke situ. Tungguin gue, ya." suara hangat Nolan kembali terdengar. "Iya, gue tunggu." ujar Lala. Sambungan telepon itu terputus. Kaki Lala kembali melangkah menuju ke area dalam mall. Netra Lala tak berkedip beberapa detik. Arsitektur mall itu b
"Ibu!" Lala langsung tertegun. Suara itu amat dia kenali. Itu suara Murinah. Elric menekan tombol speaker di di samping ponselnya. Mata Lala menyipit. "Bapak pake suara palsu dari kecerdasan buatan ya? Nggak usah bohong!" celetuk Lala penuh curiga. "Kenapa kau bisa-bisanya berpikir seperti
"Ehm...." ujar Lala lirih. Sentuhan tangan Elric terasa hangat di dahinya. Matanya yang terpejam menjadi ingin terbuka, untuk memastikan siapa yang datang. Elric masih membiarkan tangan kanan itu berada di atas dahi Lala. "AC-nya tidak terasa. Apa dia selalu tidur dengan keadaan seperti ini?" M
"Siapa diriku?" Lala mengulang pertanyaan Elric. Mata Lala dan mata Elric saling beradu pandang. Tatapan dingin dari mata Elric seolah mengikis keberanian Lala. Pandangan itu teralihkan. "Saya Lala, mahasiswi bimbingan Bapak. Siapa lagi?" sahut Lala. Lala sengaja mengalihkan perhatian dengan
“Gue pulang aja kali ya?” ujar Lala. Matanya kembali menatap aplikasi chat itu. Tak ada balasan dari Elric. Pesan itu berhasil terkirim namun belum terbaca.“Gue nggak bawa apa pun lagi,” Lala berusaha membuka isi tas gendongnya.Di tas itu hanya ada tumbler berisi air putih. Kantong-kantong di t







