LOGINPagi harinya, suasana rumah megah itu berubah mencekam. Dingin dan menusuk, seolah udara di dalam sana ikut membeku.
Kalila masih tertidur pulas di atas ranjang besar. Tubuh mungilnya terbungkus selimut tebal dengan jejak lelah yang amat jelas di wajah pucatnya. Sementara itu, Damian sudah berdiri di samping ranjang, merapikan kancing kemeja hitamnya dengan gerakan perlahan.
Tatapan matanya yang biasa datar kini berkilat penuh amarah yang menakutkan. Mengingat bagaimana Kalila disiksa oleh efek obat semalam—dan fakta bahwa gadis itu menyerahkan masa depannya—membuat darah Damian mendidih.
Rencana licik Bella dan Meliana bukan lagi sekadar permainan rumah tangga. Mereka sudah memancing monster yang salah.
Dengan langkah lebar, Damian menuruni anak tangga menuju ruang makan. Suara langkah sepatunya menggelegar, membuat Bibi Indri yang sedang menata meja langsung menunduk takut, tak berani menatap sang tuan rumah.
Di meja makan, Meliana dan Bella sedang duduk santai menikmati teh hangat. Bella tersenyum tipis melihat kedatangan Damian, mengira semuanya baik-baik.
BRAK!
Damian menggebrak meja makan dengan satu tangan. Gelas-gelas porselen terangkat dan terhempas, menumpahkan cairan teh ke atas meja. Bella tersentak kaget hingga hampir melompat, sementara Meliana membelalakkan mata tak percaya.
"Damian! Apa yang kau—"
"Siapa yang memberi kalian izin menyentuh milikku?" Suara bariton Damian menggelegar, memotong ucapan Meliana tanpa ampun. Urat di lehernya menegang.
Bella menelan ludah dengan susah payah. Wajahnya yang semula penuh percaya diri mendadak pucat. "D-Damian... aku tidak mengerti—"
"Jangan berakting bodoh di hadapanku, Bella!" Damian maju satu langkah, menatap Bella dengan tatapan tajam yang seolah bisa menguliti wanita itu. "Obat di dalam sup itu... kau pikir aku tidak tahu?"
Meliana berusaha menutupi kepanikan keponakannya. "Damian, jaga bicaramu! Bella hanya ingin memasakkan sup untukmu!"
"Memasakkan sup?" Damian tertawa sinis. Tawa dingin yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding. "Perhatian yang dirancang untuk membuatku menjamahnya di rumahku sendiri? Sayangnya, permainan murahanmu salah sasaran."
Damian menunduk, mencengkeram tepi meja dan menatap Bella dari jarak dekat.
"Kalila yang terkena jebakanmu. Dan semalam, dia resmi menjadi milikku sepenuhnya." Damian menekan setiap katanya dengan dingin. "Kau bukan hanya gagal, Bella. Kau baru saja membangunkan iblis di rumah ini."
Bella gemetar hebat. Rencananya hancur total, dan efeknya justru makin mengukuhkan posisi Kalila di samping Damian.
"Bibi Indri!" panggil Damian tanpa mengalihkan pandangan dari Bella.
"S-saya, Tuan..." sahut Bibi Indri cepat.
"Kemas seluruh barang wanita ini sekarang juga," perintah Damian mutlak. "Lemparkan dia keluar dari gerbang rumahku sebelum hitungan kesepuluh."
"Damian! Kau tidak bisa mengusir keponakanku seperti ini!" protes Meliana histeris.
Damian berbalik menatap ibu tirinya dengan mata merah penuh ancaman. "Ibu mau ikut keluar bersamanya? Jangan lupa, rumah ini dan seluruh aset keluarga ini ada di bawah kendaliku. Satu kata lagi... aku pastikan kartu kredit milikmu tidak akan bisa dipakai lagi."
Sekali lagi, ancaman itu bekerja instan. Meliana bungkam seketika dengan wajah membiru menahan malu dan amarah.
Bella yang tak sanggup lagi menahan rasa takut dan tekanan dari aura Damian langsung berdiri. Wanita itu menangis tersedu-sedu, berlari menggegas menuju kamarnya untuk membereskan barang-barangnya sebelum anak buah Damian benar-benar menyeretnya keluar secara kasar.
Damian menarik napas panjang, merapikan lengan kemejanya yang sedikit berantakan. Mengusir Bella belum menyurutkan amarahnya, tapi setidaknya ia sudah membersihkan satu parasit dari rumahnya.
Ia menoleh ke arah Bibi Indri yang masih berdiri gemetar.
"Panggil dokter pribadi datang ke kamar atas. Periksa kondisi Kalila dan siapkan makanan bernutrisi untuknya," perintah Damian dingin. "Jika terjadi sesuatu padanya, kau tahu konsekuensinya."
"B-baik, Tuan. Segera dilaksanakan."
Damian memutar badannya dan kembali melangkah menaiki anak tangga menuju lantai atas. Langkah kakinya yang tenang berbunyi teratur di sepanjang lorong, membawa dirinya kembali ke depan pintu kamar utama.
Ceklek.
Damian mendorong pintu perlahan. Manik matanya langsung tertuju pada ranjang besar di tengah ruangan.
Di sana, Kalila rupanya sudah terbangun. Gadis itu duduk bersandarkan kepala ranjang, memeluk selimut tebal rapat-rapat hingga ke dada. Wajahnya pucat pasi, tatapannya kosong menatap lantai, dan air mata bening menetes tanpa suara membasahi pipinya yang penuh jejak semalam.
Tubuhnya gemetar saat mendengar derap langkah Damian yang makin mendekat, gadis itu beringsut mundur.
Damian menyadari gerakan Kalila, sepertinya gadis itu menyadari bahwa apa yang telah terjadi di antara mereka adalah sebuah kesalahan besar.
"Kau sengaja melakukan semua itu, kan?"
Tuduhan Kalila membuat Damian berdecih. "Aku? Atas dasar apa kau menuduhku seperti itu, Kalila?" tanya Damian dengan nada yang berubah menjadi dingin.
Kalila diam. Dia tak punya bukti apa-apa atas semua itu, Kalila hanya sedang bingung dengan apa yang semalam terjadi. Semua itu, membuatnya syok.
Damian yang tadinya hendak menanyakan keadaan gadis— yang sepenuhnya sudah menjadi wanitanya mengurungkan niat. Suasana hatinya berubah menjadi buruk, apa lagi tuduhan itu. Tak berdasar. Dirinya tak mau disalahkan. Lagi pula, Kalila yang memaksanya untuk 'menyembuhkan'. Kenapa jadi dirinya yang disalahkan di sini?
"Berpakaianlah, sebentar lagi ada yang datang," katanya sebelum berbalik dan keluar dari kamar, meninggalkan sosok Kalila seorang diri dengan hatinya yang remuk.
"Setelah berhasil mendapatkanku, seperti inikah sikapmu?" batin Kalila menangis.
Hari yang ditunggu-tunggu bagi sebagian orang tetapi paling Kalila hindari telah tiba, di mana dirinya sudah didandani dan memakai pakaian mewah, serta berkelas tak membuatnya langsung mendongakkan kepala. Dengan kepribadian milik Kalila, sebenarnya dia sangat jauh dari kriteria Lazuardi. Sayangnya, hanya wanita itu yang bisa membuat seorang Damian Lazuardi tertarik padanya. "Tidak perlu malu, mereka sedang memandang wajah cantik yang belum pernah mereka lihat," kata Damian mencoba menenangkan Kalila yang sudah gemetar lantaran menjadi pusat perhatian kala mereka tiba dan berjalan di sepanjang karpet merah. Kalila mencengkeram lipatan gaunnya lebih erat, merasai bahan kain sutra mahal itu terasa sangat asing di kulitnya. Komentar santai dari pria di sampingnya tak sedikit pun mengikis rasa cemas yang kini menghimpit dada. "Mereka tidak cuma memandang, Damian. Mereka sedang menghakimi," bisik Kalila lirih, berusaha menjaga agar gerakan bibirnya tak terlalu mencolok di bawah s
"Damian, aku tidak mengkhianatimu." Damian yang mendengar hal itu hanya diam tak merespon, tidak percaya dengan perkataan wanita yang ada di depannya. Wanita yang sudah menjadi ibu sambungnya belasan tahun. Tadinya ia sangat menghormatinya, walaupun Damian tahu bahwa wanita itu menikahi ayahnya karena harta keluarganya berlimpah. "Damian, sekali saja—" "Sekali saja aku memaafkanmu, kau akan mengulanginya, begitu?" Damian berkata sinis, sama sekali tidak tertipu dengan wajah memelasnya. "Lazuardi tidak akan memaafkan kesalahan." “Damian, kau tidak mengerti!” “Bagian mana yang tidak aku mengerti, Melia? Selama ini aku sudah menganggapmu sebagai keluarga, tapi ini balasanmu?” Damian menggertak wanita di hadapannya. “Itu bukan aku tapi Bella!” Lihat, dia mengakui sendiri. Itulah yang Damian tunggu-tunggu. “Itu dia! Kau lebih memilih untuk membantu saudaramu dibandingkan keselamatan keluarga Lazuardi yang mana kau menggunakan uangnya untuk keperluan hidupmu!” Damian marah.
“Mana Kalila?” Bibi Indri hanya tersenyum tipis merespons pertanyaan itu. Tuan Damian sudah mewanti-wanti agar Kalila tak ditemui oleh Nyonya Meliana. Karena itulah, begitu sang nyonya rumah tiba, Bibi Indri bergegas meminta Kalila mengunci diri di kamar. “Maaf, Nyonya. Tuan Damian memerintahkan agar Nona Kalila tetap di kamar dan tidak menerima tamu siapa pun,” tutur Bibi Indri penuh hati-hati. Wajah Meliana seketika mengeras. Matanya memicing tajam, menatap Bibi Indri dengan kilat kemarahan yang tak lagi disembunyikan. “Kamu sadar sedang bicara dengan siapa, Indri?” Suara Meliana terdengar dingin dan penuh penekanan. “Sejak kapan seorang pelayan berani menghalangi saya di rumah ini?” Bibi Indri makin menundukkan kepala. Jemarinya bertaut erat di depan tubuh, bergetar menahan ketegangan. “Maafkan saya, Nyonya. Tapi saya hanya menjalankan perintah Tuan Damian. Tuan menegaskan tidak ada pertemuan—termasuk dengan Nyonya.” Dengkus sinis terdengar dari bibir Meliana. Tanp
Setelah makan malam berlangsung, Kalila duduk di sofa kamarnya memainkan game di ponsel yang memang disediakan oleh Damian. Pria itu sendiri belum juga kembali ke kamar, sepertinya banyak pekerjaan karena pria itu sempat menerima beberapa pesan yang membuat wajahnya berubah. Kalila mendengus saat karakter di permainan yang ia mainkan mati begitu saja, sudah beberapa kali ia mencoba di tingkat ini. Sayangnya, ia belum juga berhasil menaklukkannya. Ceklek. “Kau belum tidur?” Kalila menoleh, mendapati Damian sudah berada di dalam kamar mereka. “Aku belum mengantuk,” katanya. Damian mengangguk mengerti, kemudian berjalan menuju toilet tanpa kata. Di sisi lain, Kalila masih penasaran dengan level game yang ia mainkan. Tak lama kemudian, Damian muncul kembali dengan pakaian yang sudah berganti menjadi piyama tidurnya. "Minggu depan ada acara, kau harus ikut." Kalila yang mendengar hal itu langsung menegakkan tubuhnya, menaruh ponsel di atas meja dan mendekat ke arah Damian. "A
Kalila tersentak, terkejut mendengar suara bariton milik Damian. Wanita itu langsung menoleh, dan tak tahu harus berbicara apa. Karena memang Damian menegurnya secara langsung, untungnya dia tidak membahas apa pun setelah ini."Ayo duduk, ini sebentar lagi matang."Damian menuntun Kalila duduk di kursi, menunggu koki memasak daging untuk mereka. Pria itu menyandarkan punggungnya, memperhatikan gerak-gerik Kalila yang tampak antusias menunggu daging selesai dipanggang. Sisa aroma udara dingin kantor dan kepalanya yang sempat tegang akibat laporan keuangan mendadak menguap begitu saja, digantikan oleh aroma daging panggang dan wangi harum dari wanita di sampingnya."Kau terlihat senang sekali malam ini," gumam Damian, matanya memperhatikan bagaimana mata Kalila tak lepas dari potongan Wagyu A5 yang sedang dibolak-balik oleh Koki Thomas di atas panggangan."Tentu saja senang! Dagingnya terlihat enak sekali, dan di rumah sebesar ini... rasanya aneh kalau tidak memanfaatkan taman seluas
Mata Damian menyipit menatap lembaran kertas yang terhampar di atas meja kerjanya. Ruang kerja lantai teratas gedung Lazuardi Group miliknya terasa begitu dingin, ditunjang oleh pemandangan malam kota yang berkilat di balik dinding kaca tebal. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak tertuju pada keindahan gemerlap kota.Di hadapannya, laporan keuangan terakhir menunjukkan kejanggalan yang terstruktur rapi. Ada selisih angka yang disamarkan dengan sangat halus—langkah taktis dari orang dalam yang mencoba bermain-main di area kekuasaannya."Siapa yang memegang otorisasi transaksi ini?" suara Damian terdengar rendah, memecah hening dengan ketenangan yang justru mematikan.Di depan meja, manajer keuangan utama dan dua staf senior berdiri dengan tubuh kaku. Keringat dingin jelas meluncur di pelipis sang manajer. Aura menindas yang dipancarkan Damian bukan jenis aura gertakan—pria itu memegang kendali penuh atas hidup dan karier mereka dalam satu jentikan jari."K-kami sedang menelusuri







