Share

Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris
Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris
Author: Zinnia Azalea

Prolog

Author: Zinnia Azalea
last update Last Updated: 2024-05-02 15:22:50

Seorang wanita dengan cekatan menata masakan buatannya di meja makan. Wanita itu bernama Sofia. Sofia membuat nasi goreng dengan telur ceplok. Wanita berusia 26 tahun itu harus berhemat agar uang bulanan yang diberikan suaminya cukup sampai gajian nanti.

Suaminya yang bernama Chaeril Prayoga atau yang kerap di sapa Eril keluar dengan setelan santai. Pria itu terlihat tampan. Ditambah postur tubuhnya yang tinggi membuat penampilannya kian mempesona. Sofia mengernyit heran menatap pakaian yang tak biasa dari suaminya. Biasanya sang suami akan mengenakan setelan formal karena ini masih hari kerja. Sofia menahan pertanyaannya saat Eril mendudukan dirinya di kursi makan yang ada di hadapannya.

"Telur lagi?" Eril berdecak kesal saat membuka tudung saji.

"Iya, Mas. Hanya nasi goreng dan telur saja. Uang belanjaku sisa seratus ribu lagi, Mas," jawab Sofia dengan jujur.

"Uang segitu banyak kok. Uang bulanan engga besar, tapi di tangan istri yang tepat bisa jadi makanan enak. Bisa bisulan aku kalau makan telur tiap hari," Eril menutup kembali tudung saji itu dengan kasar. Moodnya hancur berantakan gara-gara Sofia hanya bisa memasak telur dan telur.

"Ya sudah nanti aku belikan sayur, Mas. Jangan mencela makanan, Mas! Ayo dimakan!" Sofia mencoba bersabar, walau hatinya merasa sakit dengan ucapan sang suami. Uang yang diberikan Eril hanya satu juta saja perbulan. Itupun sudah termasuk token listrik, bayar kontrakan, dan air. Makanya Sofia harus memutar otak agar uang itu cukup untuk satu bulan.

"Aku tidak berselera. Aku makan di rumah ibu saja. Cepat kamu siap-siap!" Eril berdiri dari duduknya.

"Ke rumah ibu? Kamu tidak kerja, Mas?" Sofia tampak keberatan.

"Aku ambil cuti. Besok adalah pernikahan Mega, adikku. Kamu tidak lupa kan?" Tanya Eril dengan wajah masam.

"Aku ingat kok, Mas. Kenapa tidak besok saja kita ke rumah ibunya, Mas? Aku kan sudah memberikan kado pada Mega seminggu yang lalu," tanya Sofia hati-hati.

Sofia mengingat sikap ketus adik iparnya ketika dirinya datang ke klinik milik Mega. Adik iparnya itu memang bekerja sebagai seorang bidan dan kini sudah berstatus sebagai PNS. Sofia selalu mengalami kejadian tidak mengenakan bila mana ia berkunjung ke kediaman keluarga Eril. Ditambah sang suami seakan tidak berpihak padanya. Eril memang selalu membela keluarganya. Bagi Eril, keluarga adalah yang utama karena menurut Eril, dirinya bisa seperti saat ini karena asuhan dan jasa dari ibunya.

Eril tampak menghela nafasnya sebelum ia berbicara.

"Yang, ibu akan menilai kamu menantu yang buruk jika kamu datang saat hari H pernikahan Mega. Apalagi aku yang akan jadi wali saat Mega menikah," jelas Eril melunak. Ia tahu Sofia sangat tidak suka bila mana dirinya memaksa.

"Aku sudah kasih kado buat Mega Mas seminggu yang lalu," ulang Sofia sebagai bentuk penolakan.

"Bukan masalah kado. Tapi ini masalah kehadiran kita sebagai kakaknya Mega," jawab Eril dengan tegas.

Sofia terlihat menimbang-nimbang. Saat batinnya bergejolak, tiba-tiba ingatan mengenai mas kawinnya terlintas di benaknya. Sofia memang berniat untuk menjual mas kawin pemberian dari suaminya untuk biaya USG dan sebagai uanh tabungan untuk lahiran nanti. Maklum Sofia saat ini sedang hamil dan kehamilannya sudah memasuki usia 7 bulan. Sofia harus memiliki tabungan alternatif karena suaminya sampai saat ini belum jua memberikan uang untuk biaya lahiran. Ya, Sofia sudah tahu pasti karena Eril memberikan uang sumbangan yang tak sedikit untuk pernikahan Mega.

"Baiklah, aku bersiap-siap terlebih dahulu, Mas," Sofia beranjak dan masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.

Setelah berdandan dengan rapi, Sofia dan Eril segera berangkat menuju rumah ibu mertuanya yang bernama Bu Laksmi. Rumah itu juga tempat diselenggarakannya hajatan pernikahan Mega, adik bungsu dari Eril.

Saat turun dari sepeda motor, semua ibu-ibu yang melihat Sofia menatap sinis. Sofia hanya tersenyum kecil. Entah apa yang diceritakan mertua pada tetangganya, hingga setiap Sofia berkunjung ke rumah ini, Sofia akan melihat pemandangan tetangga mertuanya yang selalu menatapnya dengan sinis.

"Akhirnya Sofia datang juga. Ke mana aja sih kamu, Sof? Mega adik kamu lho. Kita udah sibuk dari kemarin-kemarin siapin semuanya lho," Bu Laksmi langsung saja menyemprot Sofia dengan nada sindiran ketika menantunya itu baru saja menginjakan kakinya di teras rumahnya.

"Maaf, Bu. Kemarin aku mual dan tidak enak badan," Sofia menyalami Bu Laksmi dengan takjim. Walaupun hatinya merasa dongkol, namun ia berusaha untuk bersikap sopan.

"Bukan karena males ketemu sama kita kan, Kak?" Masa iya istri Kak Eril hadir pas acara resepsi doang," Mega keluar dari kamarnya, ia menatap Sofia dengan tatapan benci.

"Sudah. Sudah. Sofia kan sudah datang. Ayo kita langsung aja ke dapur, Sayang! Ibu-ibu lagi pada masak tuh," Eril menengahi perdebatan yang semakin panas.

Eril memang sangat tahu jika keluarganya sangat tidak menyukai Sofia. Keluarga Eril cenderung lebih menyukai wanita yang bekerja atau wanita karier. Mereka juga tidak menyukai keluarga Sofia yang rata-rata keluarganya hanya lulusan SMP. Mereka lebih suka mempunyai besan yang sarjana atau berpendidikan tinggi.

Sofia mencoba menguatkan hati, ia berjalan menuju ibu-ibu yang sedang asyik memotong sayuran. Seketika semua hening saat Sofia mendatangi tempat mereka.

"Apa ada yang bisa saya bantu ibu-ibu?" Tanya Sofia ramah, ia duduk lesehan seperti ibu-ibu lainnya.

"Potongin kentang aja, Neng Sofia!" Jawab Bu Tuti, selalu Bu RT dilingkungan itu.

"Baik," Sofia mengambil kantong plastik kentang dan mulai mengupasnya.

Setelah keheningan yang terjeda, ibu-ibu disana asyik mengobrol kembali. Semua tampak seru dengan obrolan masing-masing tanpa melibatkan Sofia. Wanita hamil itu merasa asing, hanya ia yang tak diajak bicara oleh orang-orang yang ada di iruangan itu. Sofia menguatkan hati, toh untuk sehari ini saja. Besok setelah resepsi, ia akan pulang ke kontrakannya.

Saat sore hari, semua ibu-ibu telah selesai dengan pekerjaan mereka. Begitu juga dengan sofia. Ia masuk ke dalam kamar saat Eril lajang dan merebahkan tubuhnya di kasur. Sofia merasa lelah sekali. Apalagi pekerjaan di dapur cukup menguras tenaganya.

"Cape ya, Sayang?" Eril memasuki kamar tanpa mengetuk pintu. Ia duduk di samping ranjang yang ditiduri Sofia.

"Lumayan, Mas," jawab Sofia pendek.

Eril melihat pergerakan perut Sofia. Dielusnya perut yang sudah semakin membuncit itu. "Kok Dedenya ga diem, Yang?" Tanya Eril penasaran.

"Kayanya lapar, Mas. Dari pagi tidak ada yang memberiku makan," Sofia berkata jujur.

Eril mengusap wajahnya. Hatinya merasa kesal kepada keluarganya. Harusnya mereka memikirkan Sofia yang tengah mengandung.

"Kalau begitu aku ambilkan makanan. Kamu tunggu di sini!" Eril mengusap rambut Sofia dan pergi menuju dapur.

"Iya," jawab Sofia pasrah, ia tak menolak karena memang perutnya sangat lapar. Tubuhnya pun terasa lemas.

Beberapa menit kemudian Eril kembali dengan membawa makanan yang ada di piring nya. Hanya ada mie goreng dan nasi. Bukankah tadi semua lauk sudah matang? Ah, lagi lagi Sofia merasa kecewa dengan sikap keluarga Eril. Sofia ingin berpikir positif, namun tetap saja tak bisa. Mengingat semua perlakuan keluarga Eril yang terlibat dengan jelas sangat tidak menyukainya. Padahal Sofia sebelum menikah mencoba mendekati mereka. Namun mereka begitu tertutup padanya. Semua keluarga Eril seperti menutup pintu untuk Sofia. Kala itu Sofia pikir sikap mereka dinhin karena dia belum menjadi bagian keluarga Eril. Namun setelah menikah pun mereka masih tetap sama. Dingin dan terkesan memusuhinya.

*****

Pagi harinya, terdengar adzan shubuh yang sangat merdu. Sofia segera bangun, ia menatap ke arah samping. Suaminya sudah tidak ada di sana, mungkin Eril sudah pergi bantu-bantu lagi. Akhirnya sofia turun dari ranjang berukuran king size itu. Ia mengambil air wudhu dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslimah.

Setelah shalat dan merapikan mukena dan sajadah, Sofia berjalan menuju tempat rias pengantin. Semua tampak bersuka cita dengan pernikahan Mega. Sofia melihat Mega sedang didandani dengan sangat apik. Semua anggota keluarga pun sudah memakai kebaya dan batik yang senada.

"Kebaya untuk Sofia mana, Bu?" Eril tiba-tiba datang, pria yang Sofia cintai itu sudah rapi dengan batik seragam berwarna biru langitnya.

"Untuk Sofia kayanya gak kebagian, Ril. Penjahitnya keburu sakit. Jadi, untuk Sofia kebayanya belum beres di jahit," jawab Laksmi tanpa menatap Eril dan Sofia, karena ia sedang sibuk di dandani oleh MUA

"Tapi, Bu, kasian Sofia! Masa dia beda sendiri sih, Bu?" Eril mulai tersulut emosinya, karena keluarganya tak menghargai Sofia dengan terang terangan seperti ini.

"Pake aja yang lain sih, Ril. Engga usah baperan gitu! Kalau belum selesai dijahit kan itu bukan kendali ibu," ketus Delia, kakak ipar dari Eril.

"Iya Kak gak usah baper deh! Ini pernikahan aku. Jangan bikin huru-hara deh!' Mega yang sudah memakai siger itu menatap penuh kebencian pada Sofia.

"Sudah sudah, aku pakai gamis saja, Mas. Lagi pula aku ini sedang hamil, tidak nyaman kalau pake kebaya!" Sofia tersenyum simpul, dadanya menghangat karena Eril membelanya.

"Nah gitu dong. Sofianya aja gak rewel, Ril. Kok kamu yang rewel?" Bu Laksmi memutar bola matanya malas.

"Ya sudah, Yang. Cepat mandi dan bersiap-siap ya!" Eril tersenyum pada wanita yang menemaninya selama dua tahun itu.

Sofia mengangguk, ia berjalan menuju kamar Eril. Hatinya merasa pedih, mengapa Eril tak mengikutinya dan mengganti bajunya dengan warna yang senada dengan sofia? Padahal Eril tahu Sofia membawa batik couple mereka. Lagi-lagi hatinya terluka atas sikap Eril dan keluarganya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Akhir Yang Bahagia

    Sofia dan Reynard tertawa melihat tingkah anak kembar mereka. Ya, Sofia dan Reynard memang dianugerahi anak kembar sepasang. Mereka menamakan bayi kembar mereka Khanza dan Kenzi. "Kenzi, anak Papa!" Reynard memangku Kenzi yang sudah bisa berjalan. Sedangkan Sofia memangku Khanza di gendongannya. "Jangan terlalu cape ya, Sayang! Kita kan sudah menyewa baby sitter," Reynard mengelus wajah sang istri dengan lembut. Pria itu membenarkan anak rambut Sofia yang berantakan. "Iya, Sayang," Sofia mengambil tangan Reynard dan menciumnya lembut, membuat dada Reynard menghangat. "Mesra-mesraan terus! Di depan anak juga gas," celetuk seseorang yang berjalan di belakang mereka. "Kakek," seru Sofia melihat kakeknya, Hartanto datang bersama dengan kedua orang tuanya. "Ayah, ibu, kenapa kalian tidak bilang mau ke mari?" Tanya Sofia dengan wajah berbinar. "Masa mau ke rumah anak harus bilang dulu?" Canda Rahman yang kemudian terduduk di samping anak dan menantunya. "Bukan begitu, Yah. K

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kehidupan Lain

    "Alhamdulillah sah!" Ucap dua orang saksi diikuti tepuk tangan dari para keluarga yang hadir."Alhamdulillah," seru Rizal dan Nareswari bersamaan saat mereka sudah sah menjadi suami istri.Nareswari mencium tangan Rizal dengan takzim. Rizal mencium kening Nares dengan lembut, membuat suasana semakin ramai. Para tamu menggoda sepasang pengantin baru itu. Pernikahan mereka dilangsungkan di sebuah gedung yang megah. Rizal ingin Nareswari merasakan pernikahan impiannya. Begitu akad telah selesai, MC segera membaca rundown acara. Acara selanjutnya adalah sungkeman.Orang tua Nareswari, Bu Laksmi dan Dicky sebagai kakak tertua Rizal yang menggantikan sang ayah duduk di kursi. Nareswari dan Rizal bergantian melakukan sungkem kepada orang tua mereka. Saat tiba sungkem kepada sang ibu, air mata Rizal tak bisa terbendung. Begitu pun dengan Bu Laksmi. Wanita beranak empat itu menangis tersedu, menyesal untuk semua kesalahan yang pernah ia perbuat."Maafkan ibu, Nak!" Bu Laksmi memeluk Rizal den

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kepergian Lily

    Lily yang pingsan dibawa ke rumah sakit karena tak kunjung ada tanda-tanda sadar. Warga desa pun mendatangi Jamal dan Tika selaku kedua orang tua Lily. Awalnya pasangan suami istri itu menolak, tapi makian warga desa akhirnya membuat mereka mau tak mau datang ke rumah sakit dan mengurus segalanya. Setidaknya Jamal tak ingin namanya semakin buruk di mata warga desa. Besar harapannya ia bisa mencalonkan diri sebagai kepala desa lagi. Maka dari itu, ia harus memperbaiki citranya."Pasien kami pindahkan ke ruang ICU. Kankernya sudah masuk stadium 4 karena sudah menyebar ke organ lain," jelas dokter pada Jamal dan Tika."Kanker?" Tika tampang sangat terkejut."Ya, Kanker Sarkoma kaposi, kanker yang biasanya di idap oleh orang yang mengidap H*V," ucapnya."Astagfirullah!!" Jamal bagaikan disambar petir mendengar penyakit yang diderita anaknya.Ada rasa jijik yang menjalar saat mengetahui penyakit yang di derita sang putri. Jamal adalah orang yang awam akan kesehatan. Yang ia tahu penyakit i

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Kabar Yang Mengejutkan

    Daffa yang benar-benar sedang di puncak emosi memutuskan untuk datang ke apartemen Delia, wanita yang pernah menjadi selingkuhannya sekaligus mantan kakak iparnya. Sebelum pergi, pria itu terlebih dahulu membeli senjata tajam yang biasa dipakai untuk mengupas buah. Entah untuk apa. Pikirnya ia harus membuat Delia hancur sama seperti dirinya.Sesampainya di depan apartemen Delia. Pria itu langsung menekan bel dengan tak sabar. Delia yang baru saja kembali dari Sumba setelah menyusul Rizal segera membuka pintu apartemen setelah ia tahu jika yang datang adalah Daffa. "Ada apa, Hah?" Tanya Delia saat pintu terbuka. Matanya terlihat sangat bengkak karena menangisi Rizal yang ternyata sudah mendapat pengganti dirinya.Daffa langsung mendorong tubuh Delia. Ia menutup pintu dengan cepat. "Apa-apaan kamu, Hah?" Delia masih tak gentar.Wanita itu mendorong Daffa dengan sekuat tenaga."Kurang ajar kau, Delia!" Daffa mendorong tubuh Delia lagi hingga terjerembab."Aku ngelakuin apa sih?" Tanya

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Berusaha Merebut

    Eril menatap putrinya Renata yang kini sudah mulai bisa berjalan. Saat ini ia dan Renata memang tinggal kembali bersama Bu Laksmi. Eril tak punya pilihan, ia tak tahu harus menitipkan Renata di mana kecuali pada ibunya. "Nih Ril pisang gorengnya," Bu Laksmi menyimpan sepiring pisang goreng di sisi putranya. "Makasih ya, Bu. Maaf ya Eril repotin ibu," ucap Eril dengan halus. Setahun berjalan hubungan ibu dan anak itu memang kembali membaik. "Engga. Ibu senang ngurus Renata. Dia anak yang baik, engga kaya ibunya," ucap Bu Laksmi dengan penuh benci ketika mengingat Lily. "Andai saja ya Bu ibunya Renata itu Sofia," Eril berandai andai. "Iya, Renata pasti sangat bahagia punya ibu yang baik seperti Sofia. Ini semua salah kita. Ibu berharap Sofia selalu bahagia. Sudah cukup dulu kita menzolimi dia," ucap Bu Laksmi dengan sedih. "Aku yang menelantarkan, Sofia. Dia berhak bahagia tapi hati aku masih belum ikhlas, Bu," Eril berkata dengan tatapan Nanar. "Sudahlah, cepat kamu ma

  • Istri Lusuhku Ternyata Sang Pewaris   Hukum Tabur Tuai

    Mega menatap dirinya di cermin. Ia meraba perutnya yang datar. Ia memang mengalami keguguran karena KDRT yang dilakukan Daffa padanya. "Bayiku!" Mega meraung. Apalagi vonis dokter membuat dirinya semakin frustasi. Bagaimana tidak, dokter memvonis dirinya akan sulit untuk mengandung lagi. Mega menatap gugatan cerai yang Daffa layangkan padanya. Orang tua Daffa juga sudah berulang kali datang untuk memaksa Mega menanda tangani gugatan cerai itu. Mega masih gamang. Akalnya belum sepenuhnya jernih. Profesi Daffa masih membuat dirinya maju mundur untuk bercerai, padahal Daffa sudah membuat Mega kehilangan janinnya. "Sudah tanda tangan saja, Mega. Apa yang kamu harapkan sekarang, Nak?" Bu Laksmi masuk ke dalam kamar sang putri bungsu. "Tapi Bu, setelah bercerai, apa aku akan mendapatkan pria seperti Daffa lagi?" Isak Mega. Ia menangis tergugu. Hatinya menolak bahtera rumah tangganya harus kandas dengan Daffa. "Apa yang kamu harapkan, Nak? Kamu berharap mati di tangannya?" Bu Laksmi m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status