Share

Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu
Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu
Author: Norwinda

Bab 01

Author: Norwinda
last update publish date: 2025-11-13 20:02:40

Tubuh Anya menegang melihat suaminya dengan bangga memperkenalkan seorang perempuan yang kini berdiri di samping suaminya sambil bergelayut manja.

“Dia siapa?” Suara Anya hampir tenggelam.

“Tentu saja calon istriku. Siapa lagi, kamu bisa melihat sendiri bagaimana mesranya kami sekarang,” balas Kevin dengan santainya dan membelai wajah perempuan itu.

“Apa Mas lupa kita masih suami istri dan Mas membawa perempuan lain ke rumah ini! Aku tidak terima!”

“Tidak ada yang bisa melarangku terutama kamu, Anya! Seharusnya kamu sadar diri, kamu wanita mandul yang tidak berguna. Jadi, wajar aku mencari perempuan lain untuk mengandung anakku.”

Tubuh Anya bergetar ia menatap kembali perempuan di samping suaminya.”Aku tidak mandul, Mas. Dokter bilang aku bisa hamil.”

“Kalaupun bisa hamil, kenapa sampai dua tahun tidak hamil? Itu menandakan kamu memang mandul, Anya. Tidak perlu mengelak.”

Kevin memilih pergi dengan kekasihnya dan masuk ke dalam kamar. Melihat itu Anya segera mengejar keduanya tapi sebelum ia mencegat, keduanya sudah masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.

“Mas! Buka pintunya, Mas!” Anya berteriak histeris diiringi dengan tangisan. Tapi Kevin tidak membukanya dan membiarkan Anya menangis tersedu-sedu di luar sana.

Kedua tangan Anya terkepal kuat, hatinya semakin sakit dan hancur ketika suara desahan dan lenguhan terdengar samar-samar di dalam sana.

“Kenapa kamu tega sekali padaku, Mas.”

Anya mencengkram kuat perutnya kalaupun ia memang tidak bisa hamil seharusnya suaminya tidak sejahat itu menjalin hubungan dengan perempuan lain. Ia juga punya perasaan, bukan keinginannya seperti ini. Ia juga menginginkan anak.

Tubuh Anya langsung jatuh meluruh ke lantai dan bersandar di depan pintu yang terus terdengar suara lenguhan keduanya, tanpa merasa bersalah dengan hubungan yang di mana Kevin masih berstatus suami Anya.

Pukul delapan pagi…

Kevin baru membuka pintu kamar dan tampak terkejut melihat Anya bersandar di pintu dan langsung jatuh tersungkur. Wajah perempuan itu terlihat pucat dengan mata yang bengkak, semalaman ia menangis dan tidak tidur sama sekali.

Semalaman Anya berada di depan kamar, menunggu suaminya keluar. Anya dengan susah payah berdiri dan mendongak menatap suaminya.

“Mas…” Anya menatap suaminya dengan suara sesegukan.

Kevin menatap jijik dan mendorong Anya yang hampir jatuh tersungkur.”Aku semakin muak melihatmu. Sudah jelek, mandul!”

“Tolong Mas, jangan seperti ini.” Anya menggenggam erat tangan Kevin, tapi laki-laki itu dengan cepat melepaskannya.

“Sebaiknya kamu siapkan dirimu. Aku akan segera menceraikanmu.”

Mendengar itu wajah pucat Anya langsung menegang.”Mas… tolong jangan ceraikan aku. Aku tidak mau, aku sangat mencintaimu, Mas.”

Anya langsung memeluk suaminya, menangis terisak-isak. Tetapi usaha yang ia lakukan tidak ada gunanya. Ia langsung di dorong hingga jatuh terjungkal.

“Dengar Anya, aku sudah sangat muak denganmu. Kamu tidak secantik dulu, jelek, mandul. Seharusnya aku tidak menikahimu. Kamu memang pantas aku ceraikan dan aku pun pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik darimu.”

Anya merangkak dan memeluk erat kaki suaminya, ia mendongak menatap penuh permohonan pada suaminya.”Mas aku tidak mau cerai. Sampai kapanpun aku tidak mau cerai.”

Meskipun begitu Anya tetap mendapatkan perlakuan yang sama, dikasari dan dihina habis-habisan oleh suaminya. Suasana rumah yang selalu sunyi dan tenang kini penuh kesedihan dan amarah yang tidak bisa direndam.

Sikap suaminya yang selalu dingin dan enggan menyentuhnya, menjawab semua keresahan Anya beberapa bulan ini. Tapi ia tidak menyangka suaminya akan selingkuh dan berniat menceraikan dirinya dengan mudahnya perkara ia tidak kunjung hamil.

Suara musik disko yang memekakkan telinga justru menjadi hiburan yang menyenangkan untuk para pengunjung yang ada di sana. Di tengah Euforia club yang semakin ramai oleh pengunjung, sosok Anya duduk termenung dengan tatapan kosong seperti mayat hidup.

Dalam kondisi yang kacau dan perasaan yang hancur ia datang ke tempat ini. Tempat yang dulu selalu ia datangi dan menjadi tempat yang sangat dilarang suaminya untuk ia datangi. Entahlah, ia hanya melampiaskan apa yang bisa dilakukan untuk melupakan semuanya meskipun hanya sesaat.

Ia langsung meminum wine yang langsung menyebar rasa pahit dalam mulutnya. Rasanya ia ingin muntah, tapi justru minuman ini membuatnya ingin meminumnya lebih banyak agar lebih jatuh dalam halusinasi yang membuat akalnya menipis.

Sambil meneguk setiap minuman itu ia menangis seperti orang gila. Suara tangisannya terendam oleh suara musik yang semakin keras.

Beberapa saat kemudian, ia mulai merasa mabuk dan kepala yang terasa pening. Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju toilet dengan langkah sempoyongan.

Namun, ia justru menabrak seseorang dan hampir jatuh bila sepasang tangan tidak menangkap tubuhnya.

Anya mendongak menatap laki-laki di hadapannya. Laki-laki berparas tampan dengan tubuh kokoh yang sempurna. Kedua tangannya mencengkram kemeja laki-laki itu.

“Lihatlah, aku hancur sekali. Aku mandul, apakah perempuan mandul tidak boleh dicintai dan mendapatkan kebahagiaannya?”

Anya menangkup wajah laki-laki itu yang tampak menegang sekaligus terkejut.”Apa wajahku sangat buruk , apa aku tidak secantik perempuan di luaran sana hingga pantas diselingkuhi suamiku?” Ia kembali merancau, mengeluarkan segala rasa sakit yang ia rasakan.

Laki-laki itu hendak membuka suara, tapi Anya tanpa ragu memeluknya dan tiba-tiba langsung pingsan. Tubuhnya hampir jatuh ke lantai dan laki-laki itu untuk kedua kalinya langsung menahan tubuh ringkih tersebut.

“Hey! Bangun!” Laki-laki itu menepuk-nepuk pipi Anya yang tak merespon sama sekali. Ia berdecih dan hendak meninggalkan perempuan itu di sini, karna ia pun tidak kenal dan tidak peduli.

Namun, antara pikiran dan hatinya saling bertolak belakang. Dengan enggan, laki-laki itu akhirnya menggendong perempuan tersebut dan membawanya ke kamar di lantai atas club. Niatnya sederhana, meletakkannya di tempat aman, lalu pergi.

Tapi rencana itu berantakan seketika. Begitu tubuh perempuan itu terbaring di atas kasur, matanya perlahan terbuka. Anya sadar. Tangannya refleks menahan lengan laki-laki itu, tepat sebelum tubuhnya nyaris jatuh menimpanya.

Laki-laki itu tertegun, jarak mereka kini begitu dekat, bibir keduanya hampir bersentuhan. Ia bisa merasakan hembusan napas Anya yang bercampur aroma alkohol.

"Bisakah kamu puaskan aku, biarkan aku merasakan milikmu. Suamiku sudah lama tidak menyentuhku.”

"Saya tidak akan menyentuhmu apalagi menanamkan benih saya di rahimmu. Apalagi pada perempuan bersuami.”

‎"Tolong, sekali saja lakukan ini.” Anya merengek dan mengalungkan tangannya di leher laki-laki itu.”Aku akan membayar mahal.”

“Aku mandul, mau beberapa kali pun kita berhubungan aku tidak akan hamil,” ucap Anya dengan suara yang tak jelas karna mabuk, tapi laki-laki itu bisa memahaminya.

“Baiklah bila kamu yang memintanya lebih dulu. Jadi, jangan menyesal!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (4)
goodnovel comment avatar
Norwinda
Waalaikumsalam, baik kak...
goodnovel comment avatar
solehatun rayhan
assalamualaikum aku mampir Thor simpan di perpus
goodnovel comment avatar
Norwinda
Terima kasih sudah mampir...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 86

    Mobil sedan putih yang dikendarai Rayden melaju perlahan begitu memasuki pekarangan sebuah rumah. Dari balik kaca jendela, Anya melihat banyak anak-anak kecil berlarian dan bermain di halaman.Keningnya berkerut. Matanya menyipit, berusaha memastikan apa yang sedang dilihatnya. Namun, beberapa detik kemudian, raut wajahnya berubah menjadi terkejut.Perlahan, Anya mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar dan menoleh kepada Rayden.“Kita ke panti?”“Iya. Sudah lama, kan, kamu tidak ke sini. Karna tempat ini masih satu kota jadi kita sekalian mampir ke sini.”Anya perlahan tersenyum haru.”Terima kasih ya, Mas.”“Sama-sama. Nikmati waktumu bersama mereka sekalian memperlihatkan bayi kita.”Anya mengangguk. Tanpa bisa menahan diri ia langsung memeluk Rayden yang langsung membalas dan mengusap lembut punggungnya.Mobil sedan putih itu mulai dikerumuni anak-anak yang tampak penasaran. Begitu pintu mobil terbuka beberapa raut wajah anak-anak di sana terlihat kegirangan.“Tante Anya! Tan

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 85

    Setelah keributan antara ibu dan anak itu. William dan beberapa anggota keluarga lainnya segera melerai pertengkaran itu dan meminta agar Rayden lebih tenang.Mereka tak menyalahkan siapapun saat ini. Karena yang harus mereka lakukan adalah menenangkan suasana agar tidak semakin pelik masalah diantara keduanya.“Rayden, kendalikan emosimu. Om tahu, Mamamu salah dan Om akui itu. Tapi dengan kamu mengamuk dengan emosi yang tidak terkendali, yang ada masalahnya akan semakin runyam,” ucap William menasehati.Rayden mengembuskan napas berat.”Aku sudah sangat-sangat kecewa dengan sikap Mama, Om. Dan sekarang Mama melakukan hal yang kejam pada Anya dan anakku. Siapa lagi yang akan bertindak kecuali aku.”“Andai Aca tidak memberitahuku, apa yakin Anya dan anakku akan baik-baik saja dan mungkin….” Rayden tampak tak sanggup untuk melanjutkannya.“Om paham, Rayden. Kalau Om diposisimu, mungkin Om akan melakukan hal yang serupa. Tapi kamu jangan lupa, Mamamu itu akan semakin menjadi-jadi bila kam

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 84

    Malam semakin larut dan dengkuran halus terdengar samar di kamar hotel yang diliputi keheningan itu. Namun, sesekali suara lenguhan bayi terdengar.Rayden menepuk lembut paha putranya ketika akan terjaga dan tangan yang lain ia biarkan direbahi Anya. Perempuan itu tidur di sampingnya sambil memeluk erat dirinya, setelah satu jam lebih menangis.Tidak bisa ia lakukan dan membiarkan Anya meluapkan semuanya. Ia tahu betul bagaimana kehidupan Anya yang tidak mudah. Dan wajar sekali perempuan itu mereka sangat terluka perasaannya.Alis Anya mengerut, pelukannya pada Rayden sedikit mengendur.Perempuan itu membuka matanya yang terasa berat dan perih.“Kenapa bangun?” tanya Rayden melihat perempuan itu terjaga.“Ravyan mana?” Suaranya serak dan hampir hilang.“Dia ada disampingku. Sedang tidur. Kamu lanjut tidurnya.”“Tapi… Mas tidak tidur? Apa Ravyan rewel?”“Dia tidak rewel. Kamu tenang saja.”Anya melirik tangan laki-laki itu yang ia rebahi. Sontak ia langsung bangun.”Maaf, Mas.”“Tidak p

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 83

    “Kita kembali ke villa?” tanya William sambil melirik ke belakang di mana Rayden sibuk menggendong bayinya dan membiarkan Anya untuk tenang.Perempuan itu tak banyak bicara hanya diam, namun isak tangis tak bisa disembunyikan oleh perempuan itu.“Kita tidak perlu ke villa, cukup antarkan kami ke hotel Paman,” balas Rayden.William mengangguk dan menambah kecepatan mobilnya di tengah hujan yang sedikit mereda.“Kemarilah, Anya.”Rayden meraih bahu perempuan itu dengan lembut, lalu menariknya hingga bersandar di dadanya. Ia memeluk Anya erat, membiarkannya meluapkan tangis yang sejak tadi berusaha ditahan.“Tenang... kamu sudah aman. Aku di sini.”Suara Anya bergetar di sela isaknya. “Aku takut... aku tidak bisa melindungi Ravyan.”Rayden mengusap punggungnya perlahan, berusaha menenangkan perempuan yang gemetar dalam pelukannya.“Jangan berpikir seperti itu. Ravyan baik-baik saja.”Ia kemudian mengecup lembut kening Anya, seakan ingin menghapus seluruh ketakutan yang memenuhi hati pere

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 82

    Anya melangkah menyusuri jalanan yang lengang sambil berusaha menahan isak tangisnya. Bayi Ravyan dipeluk erat di dadanya. Tangisan sang buah hati tak kunjung reda, seakan merasakan kepedihan yang sedang menghimpitnya.Ia terus berjalan tanpa tujuan. Tempat ini begitu asing baginya. Ia bahkan tidak tahu sedang berada di mana. Namun, ia sadar, menangis sekeras apa pun tidak akan mengubah keadaan.Langit mulai menggelap, sementara udara sore kian menusuk kulit. Anya refleks mengeratkan pelukannya, berusaha menghangatkan tubuh mungil Ravyan. Hatinya semakin diliputi kepanikan saat teringat seluruh pakaian dan perlengkapan bayinya masih tertinggal di dalam mobil yang telah membawanya pergi.Kalaupun ada, setidaknya bisa menghangatkan tubuh putranya. Ia tak masalah dirinya kedinginan.Langkah Anya akhirnya terhenti di sebuah bangunan sederhana yang menyerupai pendopo di tepi jalan. Tempat itu tampaknya memang disediakan sebagai area singgah bagi para pengendara yang ingin beristirahat.Den

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 81

    Pada akhirnya, Anya memilih ikut bersama Arum. Di dalam mobil Alphard itu juga sudah ada beberapa anggota keluarga lain yang tampaknya datang terlambat, sehingga mereka bergabung dalam rombongan Arum.Anya menunduk menatap bayinya yang terlelap pulas di dalam gendongannya. Syukurlah, si kecil tetap tenang sepanjang perjalanan. Ia tidak menangis ataupun rewel, membuat Anya bisa sedikit bernapas lega di tengah suasana yang terasa canggung.Perlahan matanya melirik semua orang yang diam membisu. Mereka seakan sudah kelelahan hingga tidak bicara apapun.Matanya beralih melihat perempuan yang menyetir dengan Arum yang duduk di samping. Perempuan itu terlihat tertutup dengan jaket dan masker yang menutupi hampir seluruh wajahnya.Perjalanan telah berlangsung lebih dari satu jam lebih. Setelah melewati jalan tol menuju Bandung, mobil akhirnya keluar dan melanjutkan perjalanan di jalan raya seperti biasa.Namun, tak lama kemudian suasana mulai berubah. Mobil memasuki kawasan yang diapit hutan

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 06

    “Mas Kevin.” Suara Anya terdengar lirih dan hampir tak terdengar. Senyuman getir terbit di bibirnya yang pucat.“Aku datang ke sini bukan untuk pulang,” ucap Kevin sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Ia meletakkan map di tangannya ke meja.“Kamu harus tanda tangani surat cerai ini agar perceraia

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 05

    Kelopak mata perempuan itu perlahan terbuka, samar-samar ia melihat bayangan dua orang yang tengah memperhatikannya. Begitu matanya terbuka sempurna, ia terkejut melihat dua laki-laki yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Salah satunya laki-laki yang terakhir kali bersamanya di lift sampai

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 04

    Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Anya datang lebih pagi ke perusahaan besar yang ada di pusat kota. Ia melangkah memasuki area perusahaan dan di sana ia melihat Ayu sudah menunggu dirinya.Ia tersenyum dan semakin mempercepat langkahnya.“Aku kira kamu akan datang lebih lambat dariku,” ucap

  • Istri Mandulmu, Hamil Anak Bosmu   Bab 03

    Satu bulan kemudian…Anya dibuat gelisah dan semakin digantung oleh suaminya sendiri yang jarang pulang ke rumah, bahkan suaminya sudah menghentikan kiriman uang ke rekeningnya. Bagaimana bisa ia memenuhi kebutuhannya bila suaminya sendiri hilang entah ke mana.Untuk kesekian kalinya ia menelpon su

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status