LOGINAlis laki-laki itu berkerut, tidak mengerti dengan keberanian perempuan di depannya. Namun, sebelum ia memulainya, bibir lembut itu tiba-tiba menyentuh bibirnya lebih dulu. Seketika darahnya berdesir, sensasi panas menjalar cepat ke seluruh tubuhnya.
Ia terdiam, menahan gejolak yang mulai menguasai dirinya. Ada pergulatan di matanya antara menolak dan menjauh. Tapi pada akhirnya, godaan itu terlalu kuat. Ia menunduk, membalas kecupan itu dengan dalam, sementara Anya memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang membayangkan suaminya, lah, yang saat ini tengah mencumbu dan mengecupi lehernya. Kedua tangan Anya langsung membuka kancing laki-laki itu yang sibuk mencumbu dadanya. Ada rasa bahagia dalam benaknya seakan ia termakan mentah-mentah dengan halusinasinya sendiri. Ia terlalu merindukan sentuhan suaminya dan kenikmatan seperti ini. Sampai suara desahan keras tidak bisa Anya rendam ketika milik laki-laki itu menembus liangnya, besar dan sangat sesak dalam tubuhnya. Rasanya Anya ingin menangis, ukurannya jauh lebih besar dan membuat miliknya terasa sangat perih menerima benda keras yang menggasak masuk ke dalam dengan sempurna. Malam panjang mereka lalui dengan peluh dan gairah yang membakar keduanya. Beberapa kali keduanya melepaskan kenikmatan yang menciptakan desahan dan geraman panjang di ruangan yang menjadi saksi bisu hubungan terlarang ini. Pukul enam pagi, matahari pagi tidak sepenuhnya menampakkan dirinya. Di atas ranjang yang tampak berantakan dan terlihat dua orang yang tak saling kenal itu tidur di sana. Mata Anya perlahan terbuka dan pandangannya langsung mengarah pada laki-laki yang tidur menghadap ke arahnya. Untuk sesaat ia mengamati wajah laki-laki berparas tampan dengan alis tegas itu. Ia mengulum rapat bibirnya sambil mengeratkan selimut di tubuh. Ingatannya langsung berputar pada kejadian semalam, ia tidak benar-benar lupa dengan apa yang terjadi. Untuk sesaat Anya diam di kasur itu, hatinya yang terlalu hancur membuatnya tanpa sadar melakukan hubungan terlarang dengan laki-laki lain. Meskipun suaminya sendiri dengan terang-terangan berhubungan dengan perempuan lain. Perlahan Anya bangun dari tempat tidurnya tanpa sedikitpun menciptakan suara, ia tak ingin membangunkan laki-laki itu. Terlalu malu untuk saling berpandangan apalagi berbicara. Ia mengambil pakaiannya yang teronggok di lantai. Desahan kecil keluar dari bibirnya melihat bajunya robek. Entah sekasar apa laki-laki itu membuka pakaiannya. Karna tidak ada pilihan lain ia mengambil kemeja laki-laki itu lalu menggunakannya. Tidak mungkin ia pulang dengan pakaian sobek. Meskipun begitu, Anya sedikit bernapas lega melihat tasnya ada di kamar ini dan langsung memeriksanya. Tangannya dengan cepat mengeluarkan dompet yang ada di sana dan meletakkan beberapa lembar uang di atas meja. Matanya kembali melirik laki-laki asing yang ia yakini hanya gigolo. “Semoga uang ini cukup.” Setelahnya Anya buru-buru pergi dari tempat itu sambil mengenakan kemeja kebesaran laki-laki itu. Sesaat kemudian laki-laki itu terbangun dari tidurnya. Mata berwarna grey green itu tampak menggelap di ruangan yang cahayanya remang-remang. Ia melirik samping kasurnya sudah kosong, sontak ia langsung bangun dan menatap sekitar mencari-cari perempuan yang semalam bersamanya. Tatapannya terhenti pada beberapa lembar uang yang diletakkan di atas meja. Ia mendesis dan merampas uang itu lalu meremasnya. “Apa dia mengira aku benar-benar laki-laki pemuas?” Entah mengapa hatinya merasa tertohok. Ia pun bangkit dari kasur dan begitu mencari kemejanya tidak ada, hanya tersisa celana dan baju sobek wanita itu. Ia menghela napas panjang, jemarinya mengusap wajahnya yang terasa kusut dan berat. Sudah lama ia tidak menyentuh tubuh perempuan mana pun, dan semalam, semua itu kembali terjadi. Namun, yang mengusik pikirannya bukan rasa bersalah atau apapun itu, melainkan harapan agar ucapan perempuan itu benar, bahwa mandul. Ia tidak ingin ada kemungkinan perempuan itu mengandung anaknya. • • Pukul tujuh pagi Anya baru sampai di rumah, tapi suasana di sana kosong dan sunyi serta tampak berantakan. Ia pun melangkah menuju kamar dan begitu dibuka ia melihat suaminya tengah tidur di kasur tanpa ada perempuan yang semalam. Ia pun segera membuka pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi. Pandangannya langsung menatap pantulan dirinya dalam cermin. Melihat sisa-sisa jejak percintaannya dengan laki-laki asing itu di tubuhnya. Ia merasa apa yang ia lakukan salah, tapi semuanya di luar kendalinya. “Anya!” Suara keras Kevin yang memanggil di luar membuat perempuan itu tersentak. Ia mengambil handuk dan segera mengenakannya lalu membuka pintu. “Ada apa, Mas,” tanya Anya sambil berusaha menutupi bagian tubuhnya yang tercipta bercak merah. “Ke mana saja tadi malam?” “Aku hanya memenangkan diriku. Apa Mas khawatir?” Kevin berdecih sinis.”Untuk apa aku mengkhawatirkanmu. Bahkan kamu tidak kembali sekalipun aku tidak akan mencari.” Hati Anya langsung mencelos mendengar itu, wajahnya langsung berubah muram. “Ini, sebaiknya kamu cepat tanda tangani suara perceraian ini.” Kevin menyodorkan selembar kertas dengan pulpen pada Anya.”Aku menunggumu untuk segera menandatangani ini.” Anya menelan kasar ludahnya. Matanya terasa memanas dan kembali menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.”Aku tidak mau cerai. Kalau ini masalah anak, kita masih bisa mengusahakannya.” “Usaha bagaimana Anya Santika, jelas kamu bermasalah dan sudah pasti mandul!” cecar Kevin.”Kamu kira aku tidak butuh anak? Jelas, aku menikahimu untuk anak bukan hanya menginginkanmu. Orang tuaku terus mempertanyakan kamu yang tidak bisa hamil ini!” “Mas, aku tetap tidak mau cerai.” Anya meraih tangan suaminya yang langsung menepis kasar. “Terserahmu. Bila kamu tahan, tapi aku akan tetap berhubungan dengan Yulia, dia cantik dan sudah pasti akan hamil anakku.” Kevin melengos dari hadapan Anya yang kini menangis terisak-isak. Luka basahnya belum kering di hatinya kini ditambah dengan sayatan menyakitkan dari sikap suaminya. Anya mengusap kasar air matanya yang entah sudah berapa banyak keluar. Di tekan disudutkan seperti ini membuatnya tanpa sadar menyalahkan dirinya sendiri dan merasa yakin dengan vonis mandul yang suaminya lontarkan padanya. Meskipun begitu, Anya berusaha menenangkan dirinya dan melakukan apa yang bisa ia lakukan. Mempertahankan rumah tangganya, meskipun tahu suaminya telah bermain api dengan perempuan lain. Namun, cinta dan keterikatan membuatnya sulit melepaskan suaminya.Rayden meringis sambil memegangi kepalanya saat kesadarannya perlahan kembali. Pandangan yang semula buram mulai menajam, disusul aroma obat-obatan. Ia langsung mengenali tempat itu, rumah sakit.Saat menoleh, pintu ruangan terbuka. David muncul dan segera melangkah mendekat, wajahnya jelas dipenuhi kekhawatiran.“Tuan…”David menahan napas begitu melihat kondisi Rayden yang jauh dari kata baik. Luka lecet tampak jelas di kepala dan beberapa bagian tubuhnya.“Bagaimana Tuan bisa mengalami kecelakaan seperti ini?”Rayden tak menjawab, namun ia merasakan sakit disekujur tubuhnya. Namun, kata-kata yang keluar dari mulutnya justru tentang Anya.“Apa kamu sudah menemukan, Anya?” Rayden menatap David penuh harap. Bahkan dalam keadaan seperti ini pikirannya kembali tak tenang.David terdiam sejenak.“Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Saya menemukan posisi Anya sekarang.”Sorot mata Rayden seketika berubah, ada binar penuh harap di sana. “Kalau begitu aku ingin ke sana.” Ia merasa tak sabar in
Ketukan keras di pintu kamar membuat Arum terusik. Wanita paruh baya itu bangkit dari sofa, lalu melangkah membuka pintu.“Ada apa?” tanyanya.Pelayan di hadapannya tampak cemas.“Tuan Muda Rayden mencari, Nyonya.”Kening Arum berkerut. Ia melangkah ke balkon dan mengarahkan pandangannya ke lantai bawah. Seketika matanya melebar. Rayden berdiri di sana dengan aura amarah yang begitu kentara, dan gerak tubuhnya tak mampu menyembunyikan gejolak emosinya.Meskipun begitu tanpa ragu, Arum turun dari lantai atas. Begitu tiba di bawah, ia menghampiri putranya dengan senyum tipis yang terukir di bibirnya.“Akhirnya kamu pulang juga, Nak,” ucap Arum penuh kehangatan.Bukannya membalas dengan sikap yang sama, Rayden terlihat marah dan wajahnya mengeras.“Kenapa Mama tega mengusir Anya?”Sejenak raut wajah Arum membeku. Keterkejutan itu hanya berlangsung sepersekian detik sebelum segera ia tutupi. Ia tertawa sumbang.“Maksudmu apa, Nak? Mama tidak mengerti.”“Mama tidak perlu berpura-pura. Aku t
Rayden dilanda kepanikan yang nyaris tak terkendali. Napasnya memburu, pikirannya kacau. Semua terjadi terlalu cepat, terlalu mendadak, hingga ia tak sempat menyiapkan diri atas tindakan nekat yang Anya lakukan. Situasi ini jelas di luar dugaannya.Di sisi lain, Jumi berdiri terpaku. Tubuhnya kaku, matanya menatap sang majikan yang kehilangan kendali. Rasa takut mencengkeram dadanya, namun anehnya, ada kelegaan kecil yang menyelinap di sela kecemasan itu. Berhari-hari ia dihantui rasa bersalah karna gagal menjalankan perintah Rayden dengan sempurna.Rayden segera menekan layar ponselnya. Ia menghubungi David, berharap bisa segera menemukan Anya. “Ya, Tuan.” Terdengar suara David dari seberang sana.“Kamu cepat ke apartemen sekarang, ada hal penting.”“Maaf, Tuan. Tapi hari ini saya harus menghadiri rapat, untuk menggantikan Anda.” Dengan hati-hati David berucap.“Lupakan dengan rapat itu. Ini lebih penting. Cepat segera ke sini.” Tanpa menerima bantahan apapun, Rayden langsung menu
Anya hanya bisa pasrah, terdiam tanpa suara. Pijatan lembut di perutnya, dibalur minyak kayu putih yang hangat, perlahan meresap dan menenangkan. Gejolak yang sejak tadi mengaduk perutnya pun berangsur mereda.“Kamu kenapa tidak bilang kalau sedang hamil?” ucap Hanum menatap lembut pada Anya.”Apa mantan suamimu tahu?”Anya memalingkan wajahnya, enggan menjawab. Namun, wajah yang penuh kesedihan menyelimuti tanpa bisa disembunyikan.“Anya, kenapa diam? Apa pertanyaan Ibu melukai hatimu?”Perlahan Anya kembali menatap Hanum. Dengan lidah yang terasa berat ia berucap.”Ini bukan anak mantan suamiku. Ini anak laki-laki lain.”Hanum langsung terdiam membisu mendengar itu. Anya langsung meraih tangannya dan menggenggam erat.”Aku tahu ini kesalahan fatal yang telah aku lakukan, Bu. Aku tidak sengaja berhubungan dengan laki-laki lain. Aku pun tidak ingin menggugurkannya, dua tahun ini aku sangat menunggu kehadiran seorang anak.”Anya menangis terisak-isak. Antar sedih dan takut Hanum akan mara
Anya meneguk teh yang diberikan, cukup membuat tenggorokannya lebih hangat. Perlahan ia meletakkan cangkir itu ke meja.“Selama ini kamu ke mana saja, Nak? Kamu benar-benar menghilang tanpa ada kabar,” ucap wanita paruh baya bernama Hanum itu.“Maafkan aku, Bu. Aku sebenarnya pindah ke kota lain, dan…” Anya tampak sulit melanjutkan ucapannya.”Aku sudah menikah.”Mata Hanum melebar, jelas terkejut. Ia menggenggam tangan Anya.”Kapan kamu menikah? Lalu, di mana suamimu?”“Aku sudah menikah dua tahun yang lalu, Bu. Saat aku pindah kota, aku bertemu dengan dia dan kami mulai hubungan sampai akhirnya menikah. Tapi… aku bercerai darinya.”Anya tak dapat mengendalikan air matanya yang kembali membanjir.”Aku benar-benar sangat hancur, Bu. Dia sudah berkhianat.”Hanum memeluk Anya, berusaha memberikan ketenangan pada perempuan itu. Tangannya dengan lembut menepuk punggung Anya. Merasa sangat iba.“Aku… aku merasa bersalah dengan Ibu. Andai aku tidak nekat pergi ke kota dan–”“Tidak perlu menyes
“Saya mohon, Mbak Anya jangan pergi.” Jumi terus memohon-mohon ketika Anya memasukkan semua pakaiannya ke dalam tas. Entah pilihannya sudah tepat atau tidak.Namun, kebencian dan ketidaksudian Arum atas kehadirannya akhirnya membuat Anya memilih pergi. Ia tak ingin terus bertahan di tempat yang hanya memberinya luka dan harapan semu. Bertahan hanya akan membuat hatinya kian remuk.“Ini pilihanku, Bi,” ucap Anya dengan suara serak.“Aku sadar, sejak awal aku memang tidak seharusnya berada di sini.”Jumi menggeleng.“Lalu… bagaimana jika pak Rayden marah? Beliau meminta saya menjaga Mbak Anya.”Anya tersenyum tipis, senyuman yang lebih mirip upaya terakhir untuk tetap kuat. “Jangan sampaikan apapun pada pak Rayden. Bibi tidak perlu merasa bertanggung jawab. Keputusan ini murni keinginanku.”Kalimat itu justru membuat Jumi runtuh. Ia menundukkan kepala, bahunya terguncang oleh isak tangis yang tak mampu lagi ditahan. Rasa bersalah menyesakkan dadanya, meski Anya berusaha meringankan rasa b







