Share

Istri Paruh Waktu
Istri Paruh Waktu
Author: Berri Storey

Bab 1

Author: Berri Storey
last update publish date: 2026-05-07 15:38:14

Namanya Joanna Nathalie, gadis berusia 22 tahun yang tahun lalu resmi mendapatkan gelar sarjananya. Si sulung yang nekat merantau ke ibukota untuk menghidupi keluarganya. Namun, ekspektasi tak seindah realita, bukan? 

Sudah hampir setahun Joanna merantau, tapi sampai saat ini belum ada satu pun balasan untuk surat lamaran yang dia kirim ke puluhan perusahaan. Alhasil, Joanna menganggur cukup lama.Kenapa Joanna tidak pulang ke kampung halamannya? Alasannya, Joanna malu. Joanna malu kepada ibunya karena belum bisa memberikan timbal balik, setelah semua yang ibunya berikan untuk Joanna melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. 

Selama setahun ini Joanna hanya bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Bukan kafe terkenal, hanya kafe biasa yang letaknya di depan gedung perusahaan besar. Tak jarang Joanna menyalahkan dirinya sendiri tiap kali melihat para pekerja kantoran berlalu lalang di depan kafe tempatnya bekerja. 

Kenapa Joanna tidak bisa seperti mereka? Apa yang salah dengan dirinya? Itu yang selalu terpikir di benak Joanna. 

"Kerja, Mbak, jangan ngelamun mulu!" Suara bariton yang tidak asing lagi di telinga Joanna membuat gadis itu terlonjak kaget. 

Joanna berdecak, seraya meraih gelas kotor yang ada di atas meja. "Ngapain sih ke sini terus setiap hari? Lo nggak punya kerjaan lain apa?" dengus Joanna kepada Harris, temannya sejak mereka masih berstatus mahasiswa baru. 

"Lah, gue kan emang pengacara," sahut Harris seraya duduk di salah satu kursi. "Pengangguran banyak acara maksudnya," imbuh Harris, lalu tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi. 

"Enak ya jadi anak orang kaya kayak lo, kerja nggak kerja duit tetap ngalir," monolog Joanna seraya mengelap meja. 

"Mulai …. Udah deh jangan adu nasib mulu, semua orang di dunia ini punya masalah mereka sendiri," tutur Harris. "Mendingan lo duduk dulu di sini, ada yang mau gue omongin ke lo," ujar Harris seraya menarik lengan Joanna dan membuat gadis itu duduk di hadapannya. 

"Apa?" tanya Joanna malas-malasan. "Kalau lo mau curhat soal cewek-cewek lo yang bejibun itu, nggak dulu deh. Masih ada hal penting yang harus gue lakuin—"

"Gue punya tawaran kerjaan buat lo," sambar Harris, lalu tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan kedua alisnya. 

Kedua mata Joanna langsung terbelalak ketika mendengar ucapan Harris. Gadis itu seketika terlihat sangat antusias. "Gue mau, please! Apa pun itu, asal gue punya gaji tetap dan bisa biayain ibu sama adek gue!" 

Harris sontak melipat kedua lengannya di depan dada. "Kerjaannya gampang," cetus Harris. 

"Apa tuh?" 

Harris perlahan memajukan wajahnya, seraya meminta Joanna untuk mendekat. "Jadi istri," bisik Harris. 

Joanna terdiam sejenak, sambil mencerna ucapan Harris. Setelah tersadar, dia berkata, "Lo ngibulin gue ya?!" 

Harris spontan menjauhkan wajahnya dari Joanna ketika melihat tangan gadis itu terangkat, sudah siap memberinya jeweran maut andalannya. "Dengerin gue dulu makanya," ujar Harris. 

"Ris, soal kerjaan gue nggak minat bercanda, sumpah," kata Joanna. "Gue bener-bener se-hopeless itu. Gue butuh kerjaan yang gajinya bisa menghidupi ibu sama adek gue." 

"Bisa banget!" seru Harris. "Kerjaannya gampang juga—"

"Lo kalau mau bohong pinteran dikit dong, jadi istri itu bukan kerjaan!" sambar Joanna sambil menginjak kaki Harris yang ada di bawah meja. "Udah deh, gue mau lanjut kerja!" 

"Tunggu dulu!" Harris menahan pergelangan tangan Joanna agar tidak pergi. Ekspresinya seketika berubah, seakan ingin meyakinkan Joanna bahwa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Jadi gini, sepupu gue lagi nyari istri. Tapi yang harus ditekankan di sini, dia cari istri paruh waktu." 

Joanna mengerutkan kening, kebingungan. Saking random-nya, Jonna sampai bingung apakah Harris sedang serius atau bercanda. "Istri paruh waktu?" 

Harris mengangguk. "Sepupu gue ini berani bayar lo perbulan dengan nominal berapapun yang lo mau, tentunya syarat dan ketentuan berlaku." 

"Tunggu." Joanna makin bingung. "Lo lagi bercanda, kan?" 

Harris menghela napas panjang. "Terserah lah, gue tawarin kerjaan ini ke cewek lain aja!" 

"Eh, tunggu dulu!" sergah Joanna. "Coba jelasin yang bener. Apa alasan sepupu lo cari istri, dan kenapa dia cari istri paruh waktu?" 

Harris mengedikkan bahu. "Gue nggak tau, yang jelas dia bilang ke gue kayak gitu." 

Joanna memicingkan kedua mata. "Jangan-jangan … sepupu lo gay, dan dia cari istri buat menyembunyikan itu?!" terka Joanna. 

"Sembarangan lo! Nggak lah! Sepupu gue itu normal, dia masih suka cewek!" sanggah Harris. 

"Terus kenapa dia cari istri paruh waktu coba? Logikanya kalau dia normal, dia pasti cari istri sendiri sesuai kemauannya dia." 

"Udah nggak usah mikir alasannya, yang penting sekarang lo mau atau nggak?" 

Joanna terdiam, dia bimbang. Sejujurnya pekerjaan yang ditawarkan Harris ini sangat tidak masuk akal. Istri paruh waktu? Sangat tidak masuk akal. Namun, di sisi lain Joanna juga butuh pekerjaan, dan tawaran Harris sangat menggiurkan. "Syarat dan ketentuannya apa?" tanya Joanna. 

Harris mengedikkan bahu. "Kalau lo berminat, lo bisa temui sepupu gue dulu." 

"Umur sepupu lo berapa?" tanya Joanna. 

"Tahun depan tiga puluh tahun." 

Joanna melotot. "Tua banget?!" 

Harris mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. "Eitt … jangan salah, meskipun umurnya segitu tapi visual dia masih keliatan muda. Sepupu gue tuh ganteng banget, kayak anime, badannya juga bagus banget kayak model. Lagian tiga puluh belum tua-tua amat, standar lah perbedaan usia delapan tahun itu." 

"Tapi lo tau sendiri, gue nggak suka cowok yang lebih tua. Maksimal lebih tua tiga tahun, nggak lebih," cakap Joanna. 

"Yaudah, jadi lo mau duit apa nggak?" tanya Harris dongkol. 

"Ya … mau. Tapi …." 

"Nggak usah banyak nawar," pungkas Harris, sembari mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu nama sepupu gue. Kalau lo minat, lo bisa kirim dia email. Abis itu, dia bakalan menghubungi lo." 

Joanna menatap kartu nama yang ada di atas meja, lalu perlahan meraihnya. Diamatinya kartu nama yang terlihat sederhana, tapi elegan itu. Kemudian tatapan Joanna jatuh kepada sebuah nama yang tertera di sana. 

Arkatama Dewangga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Paruh Waktu   Bab 12

    Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 11

    Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya

  • Istri Paruh Waktu   Bab 10

    Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan

  • Istri Paruh Waktu   Bab 9

    Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba

  • Istri Paruh Waktu   Bab 8

    "Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain

  • Istri Paruh Waktu   Bab 7

    "Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 6

    Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna

  • Istri Paruh Waktu   Bab 5

    Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu kelu

  • Istri Paruh Waktu   Bab 4

    Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ

  • Istri Paruh Waktu   Bab 2

    "Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, bar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status