Masuk
Namanya Joanna Nathalie, gadis berusia 22 tahun yang tahun lalu resmi mendapatkan gelar sarjananya. Si sulung yang nekat merantau ke ibukota untuk menghidupi keluarganya. Namun, ekspektasi tak seindah realita, bukan?
Sudah hampir setahun Joanna merantau, tapi sampai saat ini belum ada satu pun balasan untuk surat lamaran yang dia kirim ke puluhan perusahaan. Alhasil, Joanna menganggur cukup lama.Kenapa Joanna tidak pulang ke kampung halamannya? Alasannya, Joanna malu. Joanna malu kepada ibunya karena belum bisa memberikan timbal balik, setelah semua yang ibunya berikan untuk Joanna melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Selama setahun ini Joanna hanya bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Bukan kafe terkenal, hanya kafe biasa yang letaknya di depan gedung perusahaan besar. Tak jarang Joanna menyalahkan dirinya sendiri tiap kali melihat para pekerja kantoran berlalu lalang di depan kafe tempatnya bekerja.
Kenapa Joanna tidak bisa seperti mereka? Apa yang salah dengan dirinya? Itu yang selalu terpikir di benak Joanna.
"Kerja, Mbak, jangan ngelamun mulu!" Suara bariton yang tidak asing lagi di telinga Joanna membuat gadis itu terlonjak kaget.
Joanna berdecak, seraya meraih gelas kotor yang ada di atas meja. "Ngapain sih ke sini terus setiap hari? Lo nggak punya kerjaan lain apa?" dengus Joanna kepada Harris, temannya sejak mereka masih berstatus mahasiswa baru.
"Lah, gue kan emang pengacara," sahut Harris seraya duduk di salah satu kursi. "Pengangguran banyak acara maksudnya," imbuh Harris, lalu tersenyum lebar hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi.
"Enak ya jadi anak orang kaya kayak lo, kerja nggak kerja duit tetap ngalir," monolog Joanna seraya mengelap meja.
"Mulai …. Udah deh jangan adu nasib mulu, semua orang di dunia ini punya masalah mereka sendiri," tutur Harris. "Mendingan lo duduk dulu di sini, ada yang mau gue omongin ke lo," ujar Harris seraya menarik lengan Joanna dan membuat gadis itu duduk di hadapannya.
"Apa?" tanya Joanna malas-malasan. "Kalau lo mau curhat soal cewek-cewek lo yang bejibun itu, nggak dulu deh. Masih ada hal penting yang harus gue lakuin—"
"Gue punya tawaran kerjaan buat lo," sambar Harris, lalu tersenyum penuh arti sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Kedua mata Joanna langsung terbelalak ketika mendengar ucapan Harris. Gadis itu seketika terlihat sangat antusias. "Gue mau, please! Apa pun itu, asal gue punya gaji tetap dan bisa biayain ibu sama adek gue!"
Harris sontak melipat kedua lengannya di depan dada. "Kerjaannya gampang," cetus Harris.
"Apa tuh?"
Harris perlahan memajukan wajahnya, seraya meminta Joanna untuk mendekat. "Jadi istri," bisik Harris.
Joanna terdiam sejenak, sambil mencerna ucapan Harris. Setelah tersadar, dia berkata, "Lo ngibulin gue ya?!"
Harris spontan menjauhkan wajahnya dari Joanna ketika melihat tangan gadis itu terangkat, sudah siap memberinya jeweran maut andalannya. "Dengerin gue dulu makanya," ujar Harris.
"Ris, soal kerjaan gue nggak minat bercanda, sumpah," kata Joanna. "Gue bener-bener se-hopeless itu. Gue butuh kerjaan yang gajinya bisa menghidupi ibu sama adek gue."
"Bisa banget!" seru Harris. "Kerjaannya gampang juga—"
"Lo kalau mau bohong pinteran dikit dong, jadi istri itu bukan kerjaan!" sambar Joanna sambil menginjak kaki Harris yang ada di bawah meja. "Udah deh, gue mau lanjut kerja!"
"Tunggu dulu!" Harris menahan pergelangan tangan Joanna agar tidak pergi. Ekspresinya seketika berubah, seakan ingin meyakinkan Joanna bahwa dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. "Jadi gini, sepupu gue lagi nyari istri. Tapi yang harus ditekankan di sini, dia cari istri paruh waktu."
Joanna mengerutkan kening, kebingungan. Saking random-nya, Jonna sampai bingung apakah Harris sedang serius atau bercanda. "Istri paruh waktu?"
Harris mengangguk. "Sepupu gue ini berani bayar lo perbulan dengan nominal berapapun yang lo mau, tentunya syarat dan ketentuan berlaku."
"Tunggu." Joanna makin bingung. "Lo lagi bercanda, kan?"
Harris menghela napas panjang. "Terserah lah, gue tawarin kerjaan ini ke cewek lain aja!"
"Eh, tunggu dulu!" sergah Joanna. "Coba jelasin yang bener. Apa alasan sepupu lo cari istri, dan kenapa dia cari istri paruh waktu?"
Harris mengedikkan bahu. "Gue nggak tau, yang jelas dia bilang ke gue kayak gitu."
Joanna memicingkan kedua mata. "Jangan-jangan … sepupu lo gay, dan dia cari istri buat menyembunyikan itu?!" terka Joanna.
"Sembarangan lo! Nggak lah! Sepupu gue itu normal, dia masih suka cewek!" sanggah Harris.
"Terus kenapa dia cari istri paruh waktu coba? Logikanya kalau dia normal, dia pasti cari istri sendiri sesuai kemauannya dia."
"Udah nggak usah mikir alasannya, yang penting sekarang lo mau atau nggak?"
Joanna terdiam, dia bimbang. Sejujurnya pekerjaan yang ditawarkan Harris ini sangat tidak masuk akal. Istri paruh waktu? Sangat tidak masuk akal. Namun, di sisi lain Joanna juga butuh pekerjaan, dan tawaran Harris sangat menggiurkan. "Syarat dan ketentuannya apa?" tanya Joanna.
Harris mengedikkan bahu. "Kalau lo berminat, lo bisa temui sepupu gue dulu."
"Umur sepupu lo berapa?" tanya Joanna.
"Tahun depan tiga puluh tahun."
Joanna melotot. "Tua banget?!"
Harris mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri. "Eitt … jangan salah, meskipun umurnya segitu tapi visual dia masih keliatan muda. Sepupu gue tuh ganteng banget, kayak anime, badannya juga bagus banget kayak model. Lagian tiga puluh belum tua-tua amat, standar lah perbedaan usia delapan tahun itu."
"Tapi lo tau sendiri, gue nggak suka cowok yang lebih tua. Maksimal lebih tua tiga tahun, nggak lebih," cakap Joanna.
"Yaudah, jadi lo mau duit apa nggak?" tanya Harris dongkol.
"Ya … mau. Tapi …."
"Nggak usah banyak nawar," pungkas Harris, sembari mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. "Ini kartu nama sepupu gue. Kalau lo minat, lo bisa kirim dia email. Abis itu, dia bakalan menghubungi lo."
Joanna menatap kartu nama yang ada di atas meja, lalu perlahan meraihnya. Diamatinya kartu nama yang terlihat sederhana, tapi elegan itu. Kemudian tatapan Joanna jatuh kepada sebuah nama yang tertera di sana.
Arkatama Dewangga.
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua







