로그인Pak Tama : Meja nomor 23.
Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna.
Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri.
"Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.
Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu.
Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu.
Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi, Tama langsung meraih tablet miliknya dan membuka daftar riwayat hidup milik Joanna. "Umur kamu dua puluh dua tahun, benar?" tanya Tama.
"Iya, Pak, benar," jawab Joanna. Gawat, sekarang dia gugup. Padahal Joanna sudah sering melakukan wawancara kerja, tapi kenapa kali ini dia sangat gugup?
"Apa alasan kamu bersedia untuk menjadi istri paruh waktu saya?" Tama menatap Joanna tepat di kedua mata gadis itu, membuat Joanna refleks meneguk saliva.
"Jujur, karena … uang, Pak," jawab Joanna. Orang normal mungkin akan menilai Joanna sebagai gadis matre, alias mata duitan. Namun, lain dengan Tama yang justru menilai Joanna adalah perempuan yang pantas untuk menikah dengannya.
"Jadi, kapan kamu bisa menikah dengan saya?" Tama menutup tablet dan meletakkannya di atas meja, sedangkan Joanna tidak menjawab karena masih mencerna ucapan Tama.
"Hah? G-gimana, Pak?" beo Joanna.
"Jika kamu tidak keberatan, saya ingin kita menikah secepatnya," ucap Tama, membuat Joanna mengerjapkan mata berkali-kali. "Mungkin … dua bulan lagi?"
"Tunggu, jadi ini saya diterima?" tanya Joanna yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Tama. "Nggak ada pertanyaan lain dulu gitu, Pak?"
Tama menggeleng. "Tidak," pungkasnya.
Joanna tak bisa berkata-kata. Di satu sisi dia senang karena akhirnya dia punya pekerjaan—meskipun pekerjaan konyol, tapi di sisi lain Joanna juga merasa semua ini berjalan terlalu lancar. Joanna berdehem untuk membuat dirinya fokus kembali.
"Harris bilang akan ada syarat dan ketentuan, saya ingin tahu syarat dan ketentuan apa yang harus saya penuhi," ujar Joanna. Meskipun dia sangat membutuhkan pekerjaan ini, tapi Joanna tidak ingin sekonyong-konyong setuju untuk menikah. Bagaimanapun juga, Joanna dan Tama tidak saling mengenal.
"Saya sudah mengirim file-nya ke email kamu, di sana juga ada perjanjian pernikahan. Yang jelas, pernikahan ini akan menjadi simbiosis mutualisme untuk kita berdua," tutur Tama penuh penekanan. "Kamu hanya perlu bersikap sebagai istri yang baik di depan keluarga saya, di luar itu kamu bebas melakukan apa pun tanpa harus terbebani status kamu."
Joanna menaikkan sebelah alis. Berapa kali dipikirkan pun, ini terasa sangat konyol. Akan tetapi, Joanna tidak punya pilihan lain, Joanna harus mencoba pekerjaan istri paruh waktu ini. "Saya … dibayar berapa nanti?" Joanna bertanya dengan nada ragu.
"Dua puluh juta, di luar kebutuhan kamu sehari-hari," kata Tama tegas.
Joanna melotot. Gila, batinnya. Nominal itu lebih besar daripada gaji fresh graduate di perusahaan terkenal. Joanna tidak boleh melewatkan kesempatan ini, dia benar-benar harus mengambil pekerjaan istri paruh waktu ini.
"Baik," sahut Joanna santai. Sejujurnya Joanna ingin berteriak, tapi dia harus menjaga image-nya di depan Tama. "Saya setuju."
"Kalau begitu, mari ikut saya," cakap Tama.
Joanna mengerutkan kening. "Ke mana?"
"Bertemu keluarga saya."
Joanna melotot. "Sekarang?!"
"Iya, sekarang."
Joanna terdiam. Tunggu, tidakkah ini … terlalu cepat? Ini bahkan baru pertemuan pertama mereka, dan Joanna belum mengenal Tama dengan baik.
"Tidak perlu khawatir. Kamu tinggal mengikuti instruksi saya," ucap Tama yang menyadari kekhawatiran Joanna. "Di CV kamu tertulis bahwa kamu pernah menjadi pemain utama di teater kampus, itu artinya kamu pintar bersandiwara. Gunakan kemampuan akting kamu itu saat bertemu dengan keluarga saya nanti."
***
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua







