LOGINSatu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah.
Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka.
"Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano.
Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? "
"Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"
Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih tau Ibu dan adik gue? Ungkap Joanna yang langsung mendapat jitakan kecil di kepalanya. Joanna meringis memegang kepalanya.
"Jangan lah!" seru Harris. "Nyokap sama adek lo pasti kaget banget kalo lo ngasih taunya mepet-mepet gitu, mendingan dari sekarang. Sekalian lo ajak Bang Tama ketemu sama mereka."
"Aduh, emangnya dia mau nemuin keluarga gue? Dia kan sibuk, mana mau dia ikut ke Bandung buat nemuin ibu sama adek gue," desis Joanna.
Harris berdecak. "Harus mau lah. Meskipun lo cuma jadi istri paruh waktu, tapi kan keluarga lo sama Bang Tama taunya kalian nikah beneran kayak pasangan pada umumnya," ujar Harris seraya meraih ponsel, kemudian menghubungi satu kontak yang ada di ponselnya.
"Iya sih, tapi gue nggak enak aja sama Mas Tama kalo—"
"Halo, Bang Tama!" sapa Harris sumringah, membuat Joanna membelalakkan kedua matanya. Harris menaikkan kedua alisnya kala menatap Joanna, seakan meyakinkan Joanna untuk menyerahkan masalah ini kepadanya. "Bang, Joanna mau ke Bandung buat nemuin ibu sama adeknya. Lo mau sekalian ikut ke sana nggak? Ya … sekalian memperkenalkan diri gitu ke mereka, kan kalian mau nikah."
Joanna melotot, tak habis pikir dengan Harris. Joanna bahkan belum menghubungi Tama lagi sejak terakhir kali mereka datang ke kediaman keluarga Tama.
"Oh, lo mau, Bang?"
Joanna menaikkan alis. "Dia mau?" tanyanya berbisik, dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Harris.
"Anjir, hari ini banget?!" Harris melirik Joanna. "Oh, oke deh Bang gue kasih tau ke anaknya dulu." Setelahnya Harris mengakhiri sambungan telepon, kemudian meletakkan ponsel di atas meja.
"Gimana? Apa katanya?" tanya Joanna.
"Dia setuju buat ikut lo balik ke Bandung, tapi dia bisanya hari ini," cakap Harris. "Soalnya lusa dia ada kerjaan ke luar kota sampe dua minggu, kalo ketemu keluarga lo dua minggu lagi itu terlalu mepet, kesannya nggak sopan. Jadi dia minta lo buat siap-siap, terus nanti sore lo sama Bang Tama langsung berangkat ke Bandung."
Joanna melotot. "Gila, sepupu lo kenapa sat set sat set banget sih?! Gue belum bilang ke ibu sama adek mau balik hari ini!"
"Ya makanya bilang sekarang, kan masih ada waktu," ujar Harris.
Joanna membuang napas pelan, kemudian meraih ponsel untuk menghubungi adik dan ibunya.
Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka
Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya
Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan
Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba
"Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, bar







