공유

Bab 5

작가: Berri Storey
last update 게시일: 2026-05-07 15:53:12

Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. 

Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. 

"Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano

Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? "

"Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"

Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih tau Ibu dan adik gue? Ungkap Joanna yang langsung mendapat jitakan kecil di kepalanya. Joanna meringis memegang kepalanya.

"Jangan lah!" seru Harris. "Nyokap sama adek lo pasti kaget banget kalo lo ngasih taunya mepet-mepet gitu, mendingan dari sekarang. Sekalian lo ajak Bang Tama ketemu sama mereka." 

"Aduh, emangnya dia mau nemuin keluarga gue? Dia kan sibuk, mana mau dia ikut ke Bandung buat nemuin ibu sama adek gue," desis Joanna.

Harris berdecak. "Harus mau lah. Meskipun lo cuma jadi istri paruh waktu, tapi kan keluarga lo sama Bang Tama taunya kalian nikah beneran kayak pasangan pada umumnya," ujar Harris seraya meraih ponsel, kemudian menghubungi satu kontak yang ada di ponselnya. 

"Iya sih, tapi gue nggak enak aja sama Mas Tama kalo—"

"Halo, Bang Tama!" sapa Harris sumringah, membuat Joanna membelalakkan kedua matanya. Harris menaikkan kedua alisnya kala menatap Joanna, seakan meyakinkan Joanna untuk menyerahkan masalah ini kepadanya. "Bang, Joanna mau ke Bandung buat nemuin ibu sama adeknya. Lo mau sekalian ikut ke sana nggak? Ya … sekalian memperkenalkan diri gitu ke mereka, kan kalian mau nikah." 

Joanna melotot, tak habis pikir dengan Harris. Joanna bahkan belum menghubungi Tama lagi sejak terakhir kali mereka datang ke kediaman keluarga Tama. 

"Oh, lo mau, Bang?" 

Joanna menaikkan alis. "Dia mau?" tanyanya berbisik, dan langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Harris. 

"Anjir, hari ini banget?!" Harris melirik Joanna. "Oh, oke deh Bang gue kasih tau ke anaknya dulu." Setelahnya Harris mengakhiri sambungan telepon, kemudian meletakkan ponsel di atas meja. 

"Gimana? Apa katanya?" tanya Joanna. 

"Dia setuju buat ikut lo balik ke Bandung, tapi dia bisanya hari ini," cakap Harris. "Soalnya lusa dia ada kerjaan ke luar kota sampe dua minggu, kalo ketemu keluarga lo dua minggu lagi itu terlalu mepet, kesannya nggak sopan. Jadi dia minta lo buat siap-siap, terus nanti sore lo sama Bang Tama langsung berangkat ke Bandung." 

Joanna melotot. "Gila, sepupu lo kenapa sat set sat set banget sih?! Gue belum bilang ke ibu sama adek mau balik hari ini!"

"Ya makanya bilang sekarang, kan masih ada waktu," ujar Harris. 

Joanna membuang napas pelan, kemudian meraih ponsel untuk menghubungi adik dan ibunya. 

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Istri Paruh Waktu   Bab 7

    "Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 6

    Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih

  • Istri Paruh Waktu   Bab 5

    Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih

  • Istri Paruh Waktu   Bab 4

    Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,

  • Istri Paruh Waktu   Bab 3

    Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,

  • Istri Paruh Waktu   Bab 2

    "Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status