로그인"Tam, lo masih nyari istri?"
Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang.
Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama.
Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama.
"Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus."
"Jangan dia," kata Tama.
"Kenapa?"
"Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya.
"Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal."
Tama bungkam.
"Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?"
Tama masih bungkam.
"Daripada buang-buang duit buat cari istri paruh waktu yang nggak masuk akal itu, mendingan lo coba deh naksir sama cewek terus ajakin dia ke jenjang yang lebih serius. Duit lo nggak kebuang, dan lo punya pasangan hidup," usul Justin.
"Mendingan lo ngomong ke diri lo sendiri dulu sih, Tin," celetuk seseorang yang tiba-tiba muncul di belakang Justin. "Daripada lo nasehatin si Tama, mendingan lo mulai kembali ke jalan yang lurus. Kurang-kurangin dah jajan cewek, mendingan duitnya lo tabung buat nikah."
Tama tersenyum simpul ketika mendengar celotehan Yordan, teman Tama yang lain.
"Nantian dulu dah, gue masih pengen bebas," kata Justin. "Sekarang yang paling penting gimana caranya menyadarkan si Tama, kalau idenya soal istri paruh waktu itu ide yang paling konyol."
Yordan kini menatap Tama. "Lagian kenapa sih lo nyari istri paruh waktu segala? Drama banget hidup lo."
Tama menatap Yordan sebentar, kemudian menatap Justin. "Gue punya alasan."
"Ya iya, maksudnya alasannya apaan?" sahut Justin geregetan.
"Mungkin Tama pengen ada yang bikinin kopi tiap pagi? Atau dapet ucapan 'Good Morning' sayang," timpal Yordan yang tidak direspon oleh Tama.
"Biar ada temen pelukan kali?" celetuk Justin.
"Itumah kepengen lo kali, Tin," sahut Yordan
Tama tidak menjawab, lelaki itu justru beranjak setelah membereskan bekas makanannya. "Jam istirahat udah abis, buruan balik ke kantor. Kalau telat, potong gaji." Setelahnya Tama berlalu.
"Songong banget lu, bos juga bukan," sungut Justin.
"Tapi dia calon bos, nyuk," sahut Yordan.
Sementara itu, Tama yang hendak melangkah keluar dari restoran tiba-tiba terinterupsi oleh getaran dari ponselnya. Lelaki itu lantas mengeluarkan ponsel, kemudian membuka sebuah email yang masuk ke akun email-nya.
Joanna Nathalie
joannanathalie@ymail.com
Selamat siang, Pak. Mohon maaf mengganggu waktunya. Perkenalkan nama saya Joanna Nathalie, saya sahabatnya Harris. Dia bilang bahwa Bapak sedang mencari istri paruh waktu, dan saya berminat untuk mencoba pekerjaan itu, Pak. Berikut saya lampirkan CV saya, barangkali Bapak bersedia untuk membukanya dan mempertimbangkan lamaran saya. Terima kasih.
Sejenak, Tama terdiam. Tama tidak tahu harus bereaksi apa ketika melihat email dari seseorang bernama Joanna Nathalie tersebut, lampiran daftar riwayat hidup (Curriculum Vitae) yang ada di bagian bawah isi email membuat Tama benar-benar kehabisan kata-kata, sebab baru kali ini ada gadis yang melamar pekerjaan istri paruh waktu sampai mengirimkan daftar riwayat hidupnya.
Joanna Nathalie … lumayan juga.
Dia unik.
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua







