ログインJoanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu.
Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Tama.
Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa."
Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja."
Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan.
"Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?"
"Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya, Mas Tama juga jangan kaku gitu dong! Mas Tama nih sadar nggak kalau dari tadi yang bikin suasana jadi kaku tuh Mas Tama?" cerocos Joanna.
"Saya akan improvisasi nanti di pertemuan keluarga," dalih Tama.
"Yakin nih improvisasi? Nggak gampang lho improvisasi." Joanna meragukan, tapi Tama tidak menggubris keraguan gadis itu. "Kalau saya panggil Mas Tama, Mas Tama jangan panggil saya Joanna berarti, kesannya kayak kita nggak ada chemistry."
"Sayang," ucap Tama tiba-tiba. Cara bicaranya mendadak lembut, membuat Joanna terdiam seketika. "Saya akan panggil kamu sayang," imbuh Tama.
"O-oh … oke." Joanna mengalihkan pandangannya ke depan.
Gawat, ini baru kali pertama mereka bertemu, tapi Joanna sudah dibuat salah tingkah oleh Tama. Setelah hampir dua jam bersama, Joanna mulai merasa nyaman berbincang dengan Tama. Meskipun Tama pendiam dan raut wajahnya terlihat galak, tapi entah kenapa Joanna merasa nyaman bersama lelaki itu. Tama tidak banyak bicara, tapi lelaki itu sangat memperhatikan dan selalu mendengarkan apapun yang Joanna bicarakan.
Joanna tiba-tiba tersadar dari pikirannya tentang Tama, dia teringat akan sesuatu yang penting. "Mas Tama ini anak tunggal apa gimana?" tanya Joanna. "Mas belum kasih tau saya soal itu lho."
Tama terdiam sebentar, lalu menjawab, "Saya punya kembaran."
Joanna manggut-manggut. "Nanti ada di pertemuan keluarga juga?"
Tama menggeleng. "Dia tinggal di Jepang," ungkap Tama.
Mendengar itu Joanna lagi-lagi mengangguk. Sejujurnya sampai sekarang Joanna belum bisa menebak bagaimana keluarga Tama. Tama bahkan tidak memberi tahu apa pekerjaannya, dia hanya memberi tahu tempat kerjanya—yang kebetulan perusahaan tempat Tama bekerja letaknya ada di depan kafe tempat Joanna bekerja.
Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di perjalanan, mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Tama. Joanna sangat takjub ketika melihat rumah di depannya, saking takjubnya gadis itu sampai menganga. Rumah di depannya ini sangat besar, bak istana kerajaan. Joanna jadi minder, khawatir kehadirannya tidak diterima di keluarga Tama. Karena bagaimanapun juga, derajat Joanna jauh di bawah Tama.
"Ini beneran saya gapapa jadi istrinya Mas Tama?" tanya Joanna seraya melepas seatbelt.
Tama menoleh, menatap Joanna bingung. "Memangnya kenapa?"
"Ya … saya takut aja gitu ditolak. Nanti kalau keluarganya Mas Tama nanya-nanya soal keluarga saya, gimana? Kan keluarga saya nggak kayak keluarga Mas Tama, pasti nggak akan direstuin kita."
"Tidak perlu khawatir, pernikahan kita pasti direstui." Setelahnya Tama keluar dari mobil, disusul oleh Joanna. Tama berdiri di samping Joanna, kemudian mengulurkan tangan kirinya. "Tangan kamu," pinta Tama.
Joanna menatap telapak tangan Tama yang ada di depannya, kemudian perlahan gadis itu menaruh telapak tangannya di atas tangan Tama. Lalu setelahnya Tama menggenggam tangan Joanna, dan membawa gadis itu masuk ke dalam bangunan mewah di depannya.
"Mas Tama ini pinter sandiwara ya," celetuk Joanna. "Sampe nggak ragu buat gandeng tangan cewek yang baru aja ketemu dua jam lalu."
Tama melirik Joanna. "Kamu kan calon istri saya, nggak mungkin jalannya jauh-jauhan."
"Iya deh, iya, calon ist—"
"Tama, anakku sayang!!!" Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari arah samping kiri, disertai suara ketukan hak sepatu yang menyentuh lantai.
"Itu mama saya," bisik Tama, seolah meminta Joanna untuk bersiap-siap melakukan sandiwara mereka. Joanna yang paham pun langsung bersiap, memasang senyum terbaiknya.
Tak lama setelahnya terlihat seorang wanita yang sangat cantik turun dari tangga. "Masih inget punya orang tua rupanya kamu? Mama pikir kamu udah lupa kalau mama sama papa itu masih hidup," sarkas wanita itu sambil berjalan menghampiri Joanna dan Tama.
Tama sontak melepas genggaman tangannya dengan Joanna, kemudian memeluk wanita yang wajahnya mirip dengannya itu. "Sorry, Ma, Tama sibuk."
"Sibuk terus kamu ini. Nggak kamu, nggak Sena, alasannya sibuk terus." Wanita itu melirik Joanna. "Ini siapa?" tanyanya, lalu kembali menatap Tama.
Tama langsung memeluk pinggang Joanna, membuat gadis itu tersentak. "Calon istri Tama, namanya Joanna."
Joanna tersenyum kikuk. Senyuman terbaik yang sudah dipersiapkan pudar lantaran Tama tiba-tiba memeluk pinggangnya, alhasil yang terlukis di bibir Joanna adalah senyuman yang aneh dan konyol. "H-halo, Tante. Saya Joanna Nathalie, pacarnya Mas Tama."
Ibu Tama mengerjap berkali-kali, lalu menatap Tama dan Joanna bergantian. Setelahnya wanita itu tersenyum lebar. "Nak, akhirnya, kamu mau nikah juga!" serunya heboh, lalu memeluk Tama dengan erat. Setelah puas memeluk sang anak, kini ibu Tama beralih memeluk Joanna.
Dilihat dari ekspresi dan tingkah ibu Tama menggambarkan bahwa dia sangat senang mendengar bahwa anaknya akan menikah. Joanna tersenyum simpul sembari membalas pelukan ibu Tama, entah kenapa dia mendadak merasa bersalah karena membohongi ibu Tama.
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua







