Share

Bab 4

Author: Berri Storey
last update publish date: 2026-05-07 15:45:59

Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. 

Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. 

"Ada apa?" tanya Tama. 

Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." 

Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." 

Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. 

"Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" 

"Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya, Mas Tama juga jangan kaku gitu dong! Mas Tama nih sadar nggak kalau dari tadi yang bikin suasana jadi kaku tuh Mas Tama?" cerocos Joanna.

"Saya akan improvisasi nanti di pertemuan keluarga," dalih Tama. 

"Yakin nih improvisasi? Nggak gampang lho improvisasi." Joanna meragukan, tapi Tama tidak menggubris keraguan gadis itu. "Kalau saya panggil Mas Tama, Mas Tama jangan panggil saya Joanna berarti, kesannya kayak kita nggak ada chemistry.

"Sayang," ucap Tama tiba-tiba. Cara bicaranya mendadak lembut, membuat Joanna terdiam seketika. "Saya akan panggil kamu sayang," imbuh Tama. 

"O-oh … oke." Joanna mengalihkan pandangannya ke depan. 

Gawat, ini baru kali pertama mereka bertemu, tapi Joanna sudah dibuat salah tingkah oleh Tama. Setelah hampir dua jam bersama, Joanna mulai merasa nyaman berbincang dengan Tama. Meskipun Tama pendiam dan raut wajahnya terlihat galak, tapi entah kenapa Joanna merasa nyaman bersama lelaki itu. Tama tidak banyak bicara, tapi lelaki itu sangat memperhatikan dan selalu mendengarkan apapun yang Joanna bicarakan. 

Joanna tiba-tiba tersadar dari pikirannya tentang Tama, dia teringat akan sesuatu yang penting. "Mas Tama ini anak tunggal apa gimana?" tanya Joanna. "Mas belum kasih tau saya soal itu lho." 

Tama terdiam sebentar, lalu menjawab, "Saya punya kembaran." 

Joanna manggut-manggut. "Nanti ada di pertemuan keluarga juga?" 

Tama menggeleng. "Dia tinggal di Jepang," ungkap Tama. 

Mendengar itu Joanna lagi-lagi mengangguk. Sejujurnya sampai sekarang Joanna belum bisa menebak bagaimana keluarga Tama. Tama bahkan tidak memberi tahu apa pekerjaannya, dia hanya memberi tahu tempat kerjanya—yang kebetulan perusahaan tempat Tama bekerja letaknya ada di depan kafe tempat Joanna bekerja. 

Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam di perjalanan, mereka akhirnya tiba di kediaman keluarga Tama. Joanna sangat takjub ketika melihat rumah di depannya, saking takjubnya gadis itu sampai menganga. Rumah di depannya ini sangat besar, bak istana kerajaan. Joanna jadi minder, khawatir kehadirannya tidak diterima di keluarga Tama. Karena bagaimanapun juga, derajat Joanna jauh di bawah Tama.

"Ini beneran saya gapapa jadi istrinya Mas Tama?" tanya Joanna seraya melepas seatbelt.

Tama menoleh, menatap Joanna bingung. "Memangnya kenapa?" 

"Ya … saya takut aja gitu ditolak. Nanti kalau keluarganya Mas Tama nanya-nanya soal keluarga saya, gimana? Kan keluarga saya nggak kayak keluarga Mas Tama, pasti nggak akan direstuin kita." 

"Tidak perlu khawatir, pernikahan kita pasti direstui." Setelahnya Tama keluar dari mobil, disusul oleh Joanna. Tama berdiri di samping Joanna, kemudian mengulurkan tangan kirinya. "Tangan kamu," pinta Tama. 

Joanna menatap telapak tangan Tama yang ada di depannya, kemudian perlahan gadis itu menaruh telapak tangannya di atas tangan Tama. Lalu setelahnya Tama menggenggam tangan Joanna, dan membawa gadis itu masuk ke dalam bangunan mewah di depannya. 

"Mas Tama ini pinter sandiwara ya," celetuk Joanna. "Sampe nggak ragu buat gandeng tangan cewek yang baru aja ketemu dua jam lalu." 

Tama melirik Joanna. "Kamu kan calon istri saya, nggak mungkin jalannya jauh-jauhan." 

"Iya deh, iya, calon ist—" 

"Tama, anakku sayang!!!" Suara seorang wanita tiba-tiba terdengar dari arah samping kiri, disertai suara ketukan hak sepatu yang menyentuh lantai. 

"Itu mama saya," bisik Tama, seolah meminta Joanna untuk bersiap-siap melakukan sandiwara mereka. Joanna yang paham pun langsung bersiap, memasang senyum terbaiknya. 

Tak lama setelahnya terlihat seorang wanita yang sangat cantik turun dari tangga. "Masih inget punya orang tua rupanya kamu? Mama pikir kamu udah lupa kalau mama sama papa itu masih hidup," sarkas wanita itu sambil berjalan menghampiri Joanna dan Tama. 

Tama sontak melepas genggaman tangannya dengan Joanna, kemudian memeluk wanita yang wajahnya mirip dengannya itu. "Sorry, Ma, Tama sibuk." 

"Sibuk terus kamu ini. Nggak kamu, nggak Sena, alasannya sibuk terus." Wanita itu melirik Joanna. "Ini siapa?" tanyanya, lalu kembali menatap Tama. 

Tama langsung memeluk pinggang Joanna, membuat gadis itu tersentak. "Calon istri Tama, namanya Joanna." 

Joanna tersenyum kikuk. Senyuman terbaik yang sudah dipersiapkan pudar lantaran Tama tiba-tiba memeluk pinggangnya, alhasil yang terlukis di bibir Joanna adalah senyuman yang aneh dan konyol. "H-halo, Tante. Saya Joanna Nathalie, pacarnya Mas Tama." 

Ibu Tama mengerjap berkali-kali, lalu menatap Tama dan Joanna bergantian. Setelahnya wanita itu tersenyum lebar. "Nak, akhirnya, kamu mau nikah juga!" serunya heboh, lalu memeluk Tama dengan erat. Setelah puas memeluk sang anak, kini ibu Tama beralih memeluk Joanna. 

Dilihat dari ekspresi dan tingkah ibu Tama menggambarkan bahwa dia sangat senang mendengar bahwa anaknya akan menikah. Joanna tersenyum simpul sembari membalas pelukan ibu Tama, entah kenapa dia mendadak merasa bersalah karena membohongi ibu Tama.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Paruh Waktu   Bab 12

    Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 11

    Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya

  • Istri Paruh Waktu   Bab 10

    Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan

  • Istri Paruh Waktu   Bab 9

    Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba

  • Istri Paruh Waktu   Bab 8

    "Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain

  • Istri Paruh Waktu   Bab 7

    "Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 6

    Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna

  • Istri Paruh Waktu   Bab 5

    Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu kelu

  • Istri Paruh Waktu   Bab 3

    Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang

  • Istri Paruh Waktu   Bab 2

    "Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, bar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status