Share

Bab 7

Author: Berri Storey
last update publish date: 2026-05-07 15:55:35

"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. 

Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. 

Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. 

"Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" 

Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" 

"Kamu udah ketemu keluarganya?" 

Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka nerima Jo." 

Mendengar penuturan sang anak, Laras sontak merasa lega. Ya setidaknya Joanna tidak akan dipandang sebelah mata karena bukan berasal dari keluarga terpandang. "Kamu udah dari kapan pacaran sama Nak Tama? Kok nggak pernah cerita ke ibu?" 

"Hm … baru sebentar sih, Bu. Mas Tama itu sepupunya Harris, terus waktu itu kita ketemu di acara ulang tahunnya Harris, eh Mas Tama ternyata naksir Jo dan minta comblangin ke Harris," jelas Joanna. Tentunya itu hanya karangan, Joanna dan Tama sepakat menjawab seperti itu ketika ditanya tentang awal hubungan mereka. 

"Nak Tama naksir duluan?" Joanna berdeham. "Ternyata ibu salah menilai calon suami kamu. Ibu pikir Nak Tama orangnya dingin, soalnya kelihatan dari raut wajahnya. Ternyata—"

Bruk! 

Ucapan Laras terhenti ketika mendengar suara ribut dari arah kamar Devan. Kamar Devan sedang digunakan oleh Tama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, sebab rencananya malam ini Joanna dan Tama akan menginap karena hari sudah sangat larut. 

Joanna dan ibunya saling memandang, kemudian dua perempuan itu kompak beranjak dan berjalan menuju kamar Devan. Di depan kamar Devan sudah ada Tama, sedang berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat. 

"Ada apa, Mas?" tanya Joanna panik. 

Tama menoleh. "K-kecoa," jawab Tama. 

Joanna mengerjap ketika melihat Tama dengan wajahnya yang polos menunjuk pintu kamar Devan yang tertutup. Kemudian tak lama setelahnya dia terbahak. "Hahahaha! Saya pikir ada apa, ternyata cuma kecoa?" 

Tama terdiam. Cuma? Batinnya. 

Laras sontak menepuk lengan Joanna untuk menghentikan tawa anak sulungnya itu, sebab Laras sadar Tama merasa malu. "Nggak boleh ngetawain, mendingan kamu keluarin kecoanya dari sana," titah Laras. 

Joanna spontan merapatkan bibir, kemudian melirik sang ibu. Setelahnya dia berjalan mendekati pintu kamar, membuat Tama refleks mundur karena takut kecoa tiba-tiba muncul begitu Joanna membuka pintu kamar.

Melihat tingkah Tama tersebut membuat Joanna mengulum senyum. Ternyata benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tama yang tampan dan kaya raya pun memiliki kekurangan, yaitu takut kecoa. 

"Tenang aja, Mas, kecoanya nggak akan tiba-tiba loncat terus hinggap di muka Mas Tama kok," goda Joanna ketika melihat Tama mundur semakin jauh. 

Tama berdehem canggung seraya memalingkan wajah. Dia malu. 

***

Malam ini Joanna tidak bisa tidur, dia terus-terusan memikirkan Tama yang sedang beristirahat di ruang keluarga. Karena hanya ada tiga kamar di rumahnya, dan Devan enggan meminjamkan kamarnya untuk Tama, alhasil Tama tidur di ruang keluarga. 

"Aduh, Mas Tama nyaman nggak ya," gumam Joanna sembari memiringkan posisi tubuhnya ke kanan. "Gimana kalau badannya sakit gara-gara tidur di sofa?" imbuh Joanna. 

Tak tahan, akhirnya Joanna bangkit untuk memastikan keadaan Tama. Gadis itu menyingkap selimutnya, kemudian keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang keluarga. 

Joanna dapat melihat Tama yang tengah duduk di depan laptopnya, kelihatannya lelaki itu sedang mengerjakan sesuatu. "Kenapa belum tidur, Mas?" tanya Joanna, membuat Tama sontak menoleh ke arahnya. 

"Ada kerjaan," jawab Tama, lalu kembali fokus ke laptopnya.

Joanna manggut-manggut, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di samping Tama. Gadis itu mengintip sebentar ke layar laptop Tama, kemudian menatap lurus ke depan.

"Nggak tidur?" tanya Tama. 

Joanna menggeleng. "Nggak bisa tidur," katanya.

Tama melirik jam di sudut layar laptop. "Sudah tengah malam, kamu harus tidur."

"Kalo gitu Mas Tama juga harus tidur dong," balas Joanna. 

"Masih ada kerjaan." 

"Emangnya nggak bisa ditunda dulu?" cicit Joanna. "Besok kan kita pulang pagi, emangnya Mas nggak akan kecapean? Kecuali Mas kasih saya izin buat nyetir besok, baru deh Mas Tama boleh ngelanjutin kerjaannya malem ini. Saya masih muda lho, Mas, belum siap mati." 

"Nggak ada yang mau bunuh kamu." 

Joanna mengerjap. "Y-ya … maksudnya saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan karena Mas Tama begadang gitu." 

Tama bergeming. 

"Ayo Mas, tidur. Kalo besok nyetir sambil nahan ngantuk karena begadang kan bahaya, mendingan sekarang Mas istirahat. Mas nggak capek apa? Abis kerja seharian, terus langsung nyetir Jakarta-Bandung, malemnya kerja lagi. Mas itu manusia, bukan robot," omel Joanna. 

Jari-jari Tama yang tadinya bergerak cepat di atas papan ketik kini berhenti, lelaki itu menoleh dan menatap Joanna, membuat Joanna gelagapan karena ini pertama kalinya Tama menatap dirinya dengan cara seperti ini. "Ternyata kamu cerewet ya," celetuk Tama. 

"Emang, baru tau ya?" sahut Joanna sambil mengibaskan rambut. 

Tama tersenyum simpul ketika melihat respons Joanna. 

Joanna yang melihat senyuman tipis muncul di bibir Tama langsung membelalakkan mata. "Mas Tama senyum?!" Joanna heboh. 

Tama buru-buru menurunkan kedua sudut bibirnya, kemudian membuang muka. 

"Ini pertama kalinya lho saya lihat Mas Tama senyum," ujar Joanna yang masih heboh. "Ternyata Mas Tama nggak sekaku itu ya. Jujur pas pertama kali ketemu sama Mas Tama, saya ngebatin ngatain Mas Tama kayak patung karena mukanya datar terus. Ternyata Mas Tama bisa senyum toh, saya baru tau." 

Tama tidak menggubris celotehan Joanna. 

"Syukurlah Mas Tama bisa senyum, seenggaknya saya jadi lebih tenang. Saya nggak akan mikir Mas Tama penjahat lagi."

Tama menaikkan sebelah alis dan menatap Joanna. "Kamu pikir saya penjahat?" 

Dengan santainya Joanna mengangguk. "Soalnya tampang Mas Tama kayak penjahat." 

Tama terdiam, dia kehabisan kata-kata untuk merespons ucapan Joanna yang terlalu jujur. 

"Tapi tenang aja, Mas, sekarang saya udah nggak mikir kayak gitu setelah lihat Mas Tama senyum. Makanya Mas Tama harus banyakin senyum, lagi pula kan senyum itu ibadah," celoteh Joanna. 

"Kamu nggak mau pergi? Saya mau lanjut kerja," usir Tama. 

"Jangan kerja terus, Mas. Malem itu waktunya istirahat, bukan waktunya kerja," cakap Joanna. Gadis itu meraih tangan Tama, kemudian menjauhkannya dari laptop. "Nah, sekarang tutup laptopnya, terus tidur." 

Tama menatap kedua mata Joanna. Dia tidak percaya gadis di depannya ini berani menyentuhnya, padahal ini baru pertemuan ketiga mereka. Beberapa jam yang lalu Joanna masih bersikap kalem, tapi malam ini gadis itu mulai melangkah maju dan menunjukkan sifat aslinya di depan Tama. "Joanna," panggil Tama. 

Joanna mengangkat kedua alisnya. "Kenapa, Mas?" 

Tama tidak menjawab. Lelaki itu justru menatap Joanna dengan intens, sambil berpikir kenapa Joanna bisa dengan santai berbicara dengannya, di saat orang lain perlu waktu berbulan-bulan untuk menyesuaikan diri dengan Tama. 

"Kenapa sih, Mas? Saya penasaran nih!" dengus Joanna, membuat Tama tersadar dari lamunannya. 

"Kamu perempuan pertama," celetuk Tama. 

Joanna mengerutkan kening. "Perempuan pertama apanya sih?" 

"Kamu perempuan pertama yang berbicara dengan santai di depan saya," jelas Tama. Lelaki itu kembali terdiam, kepalanya tiba-tiba memutar ingatan masa lalunya. Bayangan wanita itu tergambar dengan jelas di kepala Tama, beserta dengan suaranya yang mengisi telinga Tama. 

Nggak akan ada orang yang sanggup hidup sama kamu, Tama. Mereka pasti ninggalin kamu, semua orang muak sama kamu. 

"Mas Tama, ada apa sih?" Suara Joanna yang disertai dengan guncangan di bahu Tama membuat lelaki itu tersadar dari ingatan kelamnya. 

Tama menepis tangan Joanna dari bahunya. "Pergi," usir Tama. 

Joanna mengerutkan kening. "Mas, yakin—"

"Pergi," sambar Tama dingin, sembari melayangkan tatapan tajam kepada Joanna. 

Joanna perlahan bangkit, dan pergi meninggalkan Tama sendirian dengan puluhan pertanyaan di kepalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Paruh Waktu   Bab 12

    Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 11

    Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya

  • Istri Paruh Waktu   Bab 10

    Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan

  • Istri Paruh Waktu   Bab 9

    Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba

  • Istri Paruh Waktu   Bab 8

    "Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain

  • Istri Paruh Waktu   Bab 7

    "Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 6

    Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna

  • Istri Paruh Waktu   Bab 5

    Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu kelu

  • Istri Paruh Waktu   Bab 4

    Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ

  • Istri Paruh Waktu   Bab 3

    Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status