LOGIN"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna.
Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya.
Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir.
"Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?"
Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?"
"Kamu udah ketemu keluarganya?"
Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka nerima Jo."
Mendengar penuturan sang anak, Laras sontak merasa lega. Ya setidaknya Joanna tidak akan dipandang sebelah mata karena bukan berasal dari keluarga terpandang. "Kamu udah dari kapan pacaran sama Nak Tama? Kok nggak pernah cerita ke ibu?"
"Hm … baru sebentar sih, Bu. Mas Tama itu sepupunya Harris, terus waktu itu kita ketemu di acara ulang tahunnya Harris, eh Mas Tama ternyata naksir Jo dan minta comblangin ke Harris," jelas Joanna. Tentunya itu hanya karangan, Joanna dan Tama sepakat menjawab seperti itu ketika ditanya tentang awal hubungan mereka.
"Nak Tama naksir duluan?" Joanna berdeham. "Ternyata ibu salah menilai calon suami kamu. Ibu pikir Nak Tama orangnya dingin, soalnya kelihatan dari raut wajahnya. Ternyata—"
Bruk!
Ucapan Laras terhenti ketika mendengar suara ribut dari arah kamar Devan. Kamar Devan sedang digunakan oleh Tama untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian, sebab rencananya malam ini Joanna dan Tama akan menginap karena hari sudah sangat larut.
Joanna dan ibunya saling memandang, kemudian dua perempuan itu kompak beranjak dan berjalan menuju kamar Devan. Di depan kamar Devan sudah ada Tama, sedang berdiri di depan pintu kamar yang tertutup rapat.
"Ada apa, Mas?" tanya Joanna panik.
Tama menoleh. "K-kecoa," jawab Tama.
Joanna mengerjap ketika melihat Tama dengan wajahnya yang polos menunjuk pintu kamar Devan yang tertutup. Kemudian tak lama setelahnya dia terbahak. "Hahahaha! Saya pikir ada apa, ternyata cuma kecoa?"
Tama terdiam. Cuma? Batinnya.
Laras sontak menepuk lengan Joanna untuk menghentikan tawa anak sulungnya itu, sebab Laras sadar Tama merasa malu. "Nggak boleh ngetawain, mendingan kamu keluarin kecoanya dari sana," titah Laras.
Joanna spontan merapatkan bibir, kemudian melirik sang ibu. Setelahnya dia berjalan mendekati pintu kamar, membuat Tama refleks mundur karena takut kecoa tiba-tiba muncul begitu Joanna membuka pintu kamar.
Melihat tingkah Tama tersebut membuat Joanna mengulum senyum. Ternyata benar, tidak ada yang sempurna di dunia ini. Tama yang tampan dan kaya raya pun memiliki kekurangan, yaitu takut kecoa.
"Tenang aja, Mas, kecoanya nggak akan tiba-tiba loncat terus hinggap di muka Mas Tama kok," goda Joanna ketika melihat Tama mundur semakin jauh.
Tama berdehem canggung seraya memalingkan wajah. Dia malu.
***
Malam ini Joanna tidak bisa tidur, dia terus-terusan memikirkan Tama yang sedang beristirahat di ruang keluarga. Karena hanya ada tiga kamar di rumahnya, dan Devan enggan meminjamkan kamarnya untuk Tama, alhasil Tama tidur di ruang keluarga.
"Aduh, Mas Tama nyaman nggak ya," gumam Joanna sembari memiringkan posisi tubuhnya ke kanan. "Gimana kalau badannya sakit gara-gara tidur di sofa?" imbuh Joanna.
Tak tahan, akhirnya Joanna bangkit untuk memastikan keadaan Tama. Gadis itu menyingkap selimutnya, kemudian keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang keluarga.
Joanna dapat melihat Tama yang tengah duduk di depan laptopnya, kelihatannya lelaki itu sedang mengerjakan sesuatu. "Kenapa belum tidur, Mas?" tanya Joanna, membuat Tama sontak menoleh ke arahnya.
"Ada kerjaan," jawab Tama, lalu kembali fokus ke laptopnya.
Joanna manggut-manggut, lalu duduk di sofa tunggal yang ada di samping Tama. Gadis itu mengintip sebentar ke layar laptop Tama, kemudian menatap lurus ke depan.
"Nggak tidur?" tanya Tama.
Joanna menggeleng. "Nggak bisa tidur," katanya.
Tama melirik jam di sudut layar laptop. "Sudah tengah malam, kamu harus tidur."
"Kalo gitu Mas Tama juga harus tidur dong," balas Joanna.
"Masih ada kerjaan."
"Emangnya nggak bisa ditunda dulu?" cicit Joanna. "Besok kan kita pulang pagi, emangnya Mas nggak akan kecapean? Kecuali Mas kasih saya izin buat nyetir besok, baru deh Mas Tama boleh ngelanjutin kerjaannya malem ini. Saya masih muda lho, Mas, belum siap mati."
"Nggak ada yang mau bunuh kamu."
Joanna mengerjap. "Y-ya … maksudnya saya takut terjadi hal yang tidak diinginkan karena Mas Tama begadang gitu."
Tama bergeming.
"Ayo Mas, tidur. Kalo besok nyetir sambil nahan ngantuk karena begadang kan bahaya, mendingan sekarang Mas istirahat. Mas nggak capek apa? Abis kerja seharian, terus langsung nyetir Jakarta-Bandung, malemnya kerja lagi. Mas itu manusia, bukan robot," omel Joanna.
Jari-jari Tama yang tadinya bergerak cepat di atas papan ketik kini berhenti, lelaki itu menoleh dan menatap Joanna, membuat Joanna gelagapan karena ini pertama kalinya Tama menatap dirinya dengan cara seperti ini. "Ternyata kamu cerewet ya," celetuk Tama.
"Emang, baru tau ya?" sahut Joanna sambil mengibaskan rambut.
Tama tersenyum simpul ketika melihat respons Joanna.
Joanna yang melihat senyuman tipis muncul di bibir Tama langsung membelalakkan mata. "Mas Tama senyum?!" Joanna heboh.
Tama buru-buru menurunkan kedua sudut bibirnya, kemudian membuang muka.
"Ini pertama kalinya lho saya lihat Mas Tama senyum," ujar Joanna yang masih heboh. "Ternyata Mas Tama nggak sekaku itu ya. Jujur pas pertama kali ketemu sama Mas Tama, saya ngebatin ngatain Mas Tama kayak patung karena mukanya datar terus. Ternyata Mas Tama bisa senyum toh, saya baru tau."
Tama tidak menggubris celotehan Joanna.
"Syukurlah Mas Tama bisa senyum, seenggaknya saya jadi lebih tenang. Saya nggak akan mikir Mas Tama penjahat lagi."
Tama menaikkan sebelah alis dan menatap Joanna. "Kamu pikir saya penjahat?"
Dengan santainya Joanna mengangguk. "Soalnya tampang Mas Tama kayak penjahat."
Tama terdiam, dia kehabisan kata-kata untuk merespons ucapan Joanna yang terlalu jujur.
"Tapi tenang aja, Mas, sekarang saya udah nggak mikir kayak gitu setelah lihat Mas Tama senyum. Makanya Mas Tama harus banyakin senyum, lagi pula kan senyum itu ibadah," celoteh Joanna.
"Kamu nggak mau pergi? Saya mau lanjut kerja," usir Tama.
"Jangan kerja terus, Mas. Malem itu waktunya istirahat, bukan waktunya kerja," cakap Joanna. Gadis itu meraih tangan Tama, kemudian menjauhkannya dari laptop. "Nah, sekarang tutup laptopnya, terus tidur."
Tama menatap kedua mata Joanna. Dia tidak percaya gadis di depannya ini berani menyentuhnya, padahal ini baru pertemuan ketiga mereka. Beberapa jam yang lalu Joanna masih bersikap kalem, tapi malam ini gadis itu mulai melangkah maju dan menunjukkan sifat aslinya di depan Tama. "Joanna," panggil Tama.
Joanna mengangkat kedua alisnya. "Kenapa, Mas?"
Tama tidak menjawab. Lelaki itu justru menatap Joanna dengan intens, sambil berpikir kenapa Joanna bisa dengan santai berbicara dengannya, di saat orang lain perlu waktu berbulan-bulan untuk menyesuaikan diri dengan Tama.
"Kenapa sih, Mas? Saya penasaran nih!" dengus Joanna, membuat Tama tersadar dari lamunannya.
"Kamu perempuan pertama," celetuk Tama.
Joanna mengerutkan kening. "Perempuan pertama apanya sih?"
"Kamu perempuan pertama yang berbicara dengan santai di depan saya," jelas Tama. Lelaki itu kembali terdiam, kepalanya tiba-tiba memutar ingatan masa lalunya. Bayangan wanita itu tergambar dengan jelas di kepala Tama, beserta dengan suaranya yang mengisi telinga Tama.
Nggak akan ada orang yang sanggup hidup sama kamu, Tama. Mereka pasti ninggalin kamu, semua orang muak sama kamu.
"Mas Tama, ada apa sih?" Suara Joanna yang disertai dengan guncangan di bahu Tama membuat lelaki itu tersadar dari ingatan kelamnya.
Tama menepis tangan Joanna dari bahunya. "Pergi," usir Tama.
Joanna mengerutkan kening. "Mas, yakin—"
"Pergi," sambar Tama dingin, sembari melayangkan tatapan tajam kepada Joanna.
Joanna perlahan bangkit, dan pergi meninggalkan Tama sendirian dengan puluhan pertanyaan di kepalanya.
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Pak Tama : Saya sudah sampai. Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya. Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini." "Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu." Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu keluarganya bahwa dia akan segera menikah. Ibu dan adik Joanna pasti terkejut ketika mendengar bahwa Joanna akan menikah, sebab selama ini Joanna tidak pernah membahas tentang hubungan asmara di depan mereka. "Jadi kapan lo mau ngasih tau nyokap sama adek lo kalau lo mau nikah?" Suara Harris menyadarkan Joanna dari lamunannya, lelaki itu menarik kursi dan duduk di depan Joanna sembari meletakkan dua gelas ice americano. Joanna menghela napas pelan. "Nggak tau, gue bingung. Apa gue kasih tau nanti aja pas deket-deket hari pernikahan? ""Gila, masa orang tua sendiri gak dikasih tahu berita penting gini, sih?"Joanna mengetuk meja sambil berpikir dalam. "Ris, apa H-1 acara aja kali ya gue kasih
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ … aduh, gue lupa, abis itu apa ya? Batin Joanna, sembari mengingat skenarionya. "Oh!" Joanna tiba-tiba berseru setelah mengingat semuanya, membuat Tama yang tengah menyetir melirik ke arahnya. "Ada apa?" tanya Tama. Joanna menggeleng. "Nggak, Pak, gapapa." Tama melirik Joanna lagi, kali ini sedikit lebih lama. Lelaki itu berdehem pelan sebelum berucap, "Panggil saya Mas aja." Joanna menatap Tama dengan sebelah alis terangkat. "M-Mas? Kenapa? Buat apa?" Joanna kebingungan. "Kita akan menikah," cakap Tama. "Kalau kamu panggil saya Pak, nanti keluarga saya curiga. Memangnya ada calon istri yang bicara dengan formal kepada calon suaminya?" "Ah … iya," desis Joanna. "Tapi Bapak—maksud saya,
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang duduk di sana terlihat sangat lebar. Posisi tubuhnya saat duduk begitu tegap, membuat Joanna sedikit ragu untuk menghampiri. "Permisi," ucap Joanna begitu dia tiba di dekat meja nomor 23.Lelaki itu langsung mengangkat kepala dan menatap Joanna dengan matanya tajam. "Joanna Nathalie?" gumam lelaki itu. Joanna mengangguk seraya tersenyum kikuk. Sejenak dia terkagum oleh visual lelaki di depannya ini. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, tatapan matanya tajam, serta rahangnya tegas. Harris benar, sepupunya ini tampak seperti kartun hidup. "Dengan Pak Tama?" Joanna balik bertanya dengan ragu. Tama mengangguk, lalu mempersilakan Joanna untuk duduk di hadapannya. Tak ingin berbasa-basi,
"Tam, lo masih nyari istri?" Arkatama, atau yang sering dipanggil Tama itu menoleh ketika temannya bertanya. Tama hanya berdeham pelan sebagai jawaban, membuat senyuman temannya seketika mengembang. Justin, teman Tama itu duduk di depan Tama yang sedang menyantap makan siangnya. "Gue ada nih, barangkali lo minat," cakap Justin seraya mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto seorang gadis kepada Tama. Sebelah alis Tama refleks terangkat ketika melihat foto gadis itu. "Roseanne?" gumam Tama. "Lo masih inget?!" Tama mengangguk. "Wah, gue pikir Tama si ansos ini nggak bakalan inget siapapun di kampus." "Jangan dia," kata Tama. "Kenapa?" "Orang tuanya kaya, jelas tujuan dia nikah bukan karena uang," jelas Tama, lalu menyuapkan sesendok kuah soto ke dalam mulutnya. "Ya mana ada orang nikah tujuannya buat uang," cicit Justin. "Lo aneh, jalan pikir lo nggak bisa diikuti manusia normal." Tama bungkam. "Serius, Tam. Lo nikah tujuannya buat apa sih?" Tama masih bungkam. "Daripada bua







