Mag-log inPak Tama : Saya sudah sampai.
Joanna langsung bangkit dari duduknya dan menyambar ransel yang ada di atas meja, gadis itu buru-buru keluar dari kamar kos-nya dan segera menghampiri Tama setelah mengunci pintu kamar. Sesuai rencana, sore ini Joanna dan Tama akan berangkat ke kampung halaman Joanna untuk menemui ibu dan adiknya di sana.
Begitu Joanna membuka pagar kos-kosannya, Joanna langsung bisa melihat mobil Tama yang parkir tak jauh dari sana. Dia langsung masuk ke dalam mobil Tama. "Sore, Mas," sapa Joanna.
Tama berdehem pelan. "Sore," sahutnya.
Joanna menaruh ransel di jok belakang, kemudian memakai seatbelt. "Maaf ya, Mas, jadi ngerepotin gini."
"Tidak," kata Tama. "Saya calon suami kamu, sudah sepatutnya saya menemui keluarga kamu."
Joanna tersenyum simpul. Sampai sekarang Joanna masih bertanya-tanya, apa sebenarnya alasan Tama mencari istri paruh waktu. Padahal Tama adalah lelaki yang hampir sempurna, pasti banyak perempuan yang bersedia menikah dengannya. Namun, alih-alih menikah dengan perempuan yang mencintainya, Tama justru rela mengeluarkan biaya untuk menikah dengan gadis asing seperti Joanna.
"Ada apa?" tanya Tama yang merasa diperhatikan oleh Joanna.
Joanna gelagapan. "H-hah? Oh, itu, anu … Mas Tama kalo capek nyetir gantian aja sama saya, saya bisa nyetir mobil kok, dan saya juga udah punya SIM."
"Nggak perlu," kata Tama.
Joanna mengerucutkan bibir. "O-oke deh," cicitnya, lalu menatap lurus ke jalanan di depan.
"Kamu anak ke berapa?" tanya Tama tiba-tiba, membuat Joanna kembali menoleh ke arahnya.
"Anak pertama, Mas," jawab Joanna.
Tama manggut-manggut. "Punya adek?"
Joanna mengangguk. "Punya, satu adek cowok. Tahun ini dia lulus SMA, beda empat tahun sama saya," jelas Joanna. "Oh iya, Mas, saya mau bilang kalo adek saya itu pendiem banget. Jadi, maaf kalo nanti dia kesannya jutek ke Mas Tama."
"Gapapa," kata Tama. "Ayah dan ibu kamu orangnya seperti apa?"
Joanna terdiam sejenak. "Hm … ibu saya orangnya kalem, Mas. Ibu tuh ramah banget sama orang lain, jadi Mas nggak perlu khawatir, Mas Tama pasti diterima sama ibu," tutur Joanna. "Kalau ayah … saya udah lama nggak ketemu sama ayah, dia kabur dari rumah waktu ibu ngelahirin adek saya. Sejak saat itu kami tinggal bertiga."
Tama melirik Joanna. "Saya minta maaf," cicitnya, merasa bersalah karena sudah membuat Joanna menceritakan hal itu.
Joanna tersenyum simpul. "Gapapa, Mas, santai aja." Joanna kembali menatap ke depan.
Setelahnya tidak ada percakapan lagi di antara Joanna dan Tama, keduanya hanya diam karena sama-sama tidak tahu harus membicarakan apa. Baik Joanna maupun Tama sama-sama membatasi diri mereka satu sama lain, agar tidak bergantung kepada satu sama lain.
Pernikahan mereka tetaplah menjadi bisnis, jangan sampai tumbuh perasaan yang akan memperumit hubungan mereka.
"Kamu istirahat aja," titah Tama seraya melirik Joanna.
Joanna menggeleng. "Gapapa, Mas," tolaknya. Bagaimanapun juga, Tama pasti lebih lelah karena langsung bepergian setelah pulang bekerja, jadi Joanna tahu diri dengan tidak tidur sepanjang perjalanan agar Tama tidak jenuh.
Tama berdehem pelan. Ternyata, dia tidak salah memilih istri. Awalnya Tama sempat meremehkan Joanna, dan menganggap Joanna adalah gadis yang sulit diatur karena perbedaan usia mereka yang cukup jauh.
Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, mereka akhirnya tiba di kampung halaman Joanna saat matahari sudah terbenam.
"Eh, Mas, itu ranselnya biar saya aja yang bawa," ucap Joanna ketika Tama tiba-tiba mengambil ranselnya.
"Saya aja." Tanpa menunggu jawaban Joanna, Tama langsung menyampirkan ransel Joanna ke bahunya. Sebagai anak perempuan pertama yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah, perlakuan Tama membuat Joanna terkesima. "Ayo," kata Tama, sebab Joanna tidak bergerak sedikit pun.
"Oh, iya!" Joanna buru-buru menyadarkan dirinya, kemudian melangkah masuk menuju pekarangan rumah. Ketika Joanna hendak mengetuk pintu, pintu rumah tiba-tiba terbuka dari dalam dan menampilkan seorang lelaki yang masih mengenakan seragam putih abu.
Itu Devan, adik Joanna.
"Devan, adikku sayang!" seru Joanna heboh, sambil memeluk sang adik dengan erat.
Devan tidak membalas pelukan Joanna, lelaki itu justru menatap Tama yang berdiri di belakang sang kakak dengan wajahnya yang datar. "Itu siapa?" tanya Devan, melepaskan pelukan Joanna.
Joanna melirik Tama. "Oh, kenalin. Ini Mas Tama, c-calon suami kakak."
Tama tersenyum tipis. Sangat tipis, hingga terkesan tidak ikhlas.
"Mas Tama, ini Devan, adik saya."
Devan melirik sang kakak, kemudian kembali menatap Tama dengan tatapan yang sulit diartikan. Tidak ada kalimat sapaan atau senyuman, wajah Devan sangat datar seakan tidak peduli dengan kehadiran Tama. Tanpa mengatakan apa pun Devan langsung masuk ke dalam rumah, meninggalkan Joanna dan Tama.
Joanna tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuk. "Maaf ya, Mas, dia emang gitu orangnya."
Tama tidak merespons. Sejujurnya ketika melihat Devan, Tama seakan sedang berkaca pada dirinya yang dulu. Ketika masih kuliah dulu sikap Tama sebelas dua belas dengan Devan, sampai-sampai orang lain muak menghadapi dirinya.
Kepribadian Tama yang sangat pendiam itu membuat cinta pertama, sekaligus pacar pertamanya berkhianat dan meninggalkan Tama. Hal itulah yang kemudian membuat Tama trauma dengan hubungan, dan memilih untuk mencari istri paruh waktu untuk memenuhi syarat yang diberikan kakeknya.
Sebab Tama tahu, tidak akan ada perempuan yang sanggup hidup bersamanya.
Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka
Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya
Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan
Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba
"Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain
"Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka
Satu minggu setelah Joanna bertemu dengan keluarga Tama, tanggal pernikahan akhirnya ditetapkan. Keluarga Tama meminta Joanna dan Tama untuk segera menikah, sebab mereka tidak sabar melihat cucu tertua itu melepas masa lajangnya. Akan tetapi, sampai sekarang ini Joanna bahkan belum memberitahu kelu
Pak Tama : Meja nomor 23. Joanna yang baru saja menginjakkan kakinya di kafe tempatnya bertemu dengan Tama langsung berjalan menuju meja nomor 23, di sana ada seorang lelaki yang mengenakan kemeja setelan formal tengah duduk membelakangi Joanna. Dilihat dari belakang punggung dan bahu lelaki yang
Joanna tak henti komat-kamit sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Tama, gadis itu sedang sibuk menghafalkan skenario yang Tama buat untuk menghadapi keluarga lelaki itu. Ketemu satu tahun lalu di birthday party-nya Harris, terus Tama naksir gue dan minta dikenalin lewat Harris. Dari situ
Namanya Joanna Nathalie, gadis berusia 22 tahun yang tahun lalu resmi mendapatkan gelar sarjananya. Si sulung yang nekat merantau ke ibukota untuk menghidupi keluarganya. Namun, ekspektasi tak seindah realita, bukan? Sudah hampir setahun Joanna merantau, tapi sampai saat ini belum ada satu pun bal







