Share

Bab 11

Penulis: Berri Storey
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 21:31:04

Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar.

Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ket
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Paruh Waktu   Bab 12

    Hari ini Joanna tidak berniat untuk keluar dari kasur barang satu langkah. Persetan dengan weekend, Joanna hanya ingin menghabiskan hari Sabtu dengan tidur dan tidur. Tidak peduli apa itu mandi, toh, hari ini dia tidak akan keluar dari kosan. Energinya terkuras habis, ditambah teguran dari atasan yang dia terima, padahal itu bukan kesalahan dia. Memikirkannya saja membuat Joanna muak. Joanna menarik selimutnya kembali, tidak tahu berapa jam dia sudah tidur sampai beberapa nada dering mengusik agenda tidurnya. Dia melanjutkan kembali tidurnya, sampai sebelum akhirnya terdengar ketukan keras dari pintu kamar kos. Tok..tok..toktok...tok..tokTidak ada jawaban dari sang pemilik kamar."Kak Joanna?" panggilan pertama dari seorang perempuan yang terus mengetuk pintu kamarnya."Kak Joanna ada di dalam?" panggilan kedua dengan nada yang cukup kencang dan ketukan di pintu yang semakin keras.Sampai pada panggilan ketiga, cukup membuat Joanna tersadar, "Kak Joanna di depan ada calon suami Ka

  • Istri Paruh Waktu   Bab 11

    Setelah fitting tadi, Joanna sejujurnya sangat malu kepada Tama, perutnya tiba-tiba berbunyi ketika dia menolak ajakan Tama untuk makan terlebih dahulu. Masalahnya, disana bukan hanya ada Tama saja, tapi beberapa staff yang membantu fitting tadi ikut mendengar suara berisik dari cacing-cacing penghuni lambung Joanna. Jujur saja, rasanya Joanna ingin kabur dari mereka. Karena sudah merasa 'sok' tidak lapar padahal kenyataannya dia sangat lapar. Suasana sore Jakarta tidak ada bedanya, hangat ketika sore menyapa berbeda ketika siang tadi. Kini Joanna dan Tama sedang berada di Blok M. Sesuai request Joanna ketika tadi Tama bertanya kepada Joanna ingin makan apa. Joanna hanya menjawab Blok M, jelas itu bukan makanan tapi tempat. Untungnya Tama tidak mempersalahkan itu, karena mungkin Tama sudah tahu maksud dari ucapan Joanna. Blok M surganya kuliner. "Woahhh... Gak ada di Bandung tau Mas, Blok M!" Seru Joanna ketika mereka sampai di area Blok M. Matanya berbinar bahagia ketika akhirnya

  • Istri Paruh Waktu   Bab 10

    Joanna memilih pulang dari kafe ke kosan dengan berjalan kaki, karena jarak antara kosan dan kafe dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 15 menit. Meski begitu, 15 menit cukup membuat Joanna seperti telah berlari 3 putaran di Gasibu. Kenapa Joanna tidak memilih untuk pesan ojek online atau naik transportasi umum? Alasannya, meski biaya tersebut tidak seberapa bagi sebagian orang, tapi bagi Joanna, dengan gaji imutnya, dia harus pintar-pintar mengelola keuangannya dengan baik. Meski Joanna harus mengeluh setiap kali matahari Jakarta yang selalu menyengat seperti gigitan tawon. Untungnya hari ini dia dapat kopi gratis yang menjadi penyelamat di tengah panasnya Jakarta, karena kafe tadi sedang trial menu baru. Joanna berniat meminum kopi tersebut setelah dia sampai di kosnya.Dari radius 400 meter, Joanna melihat mobil SUV berwarna hitam yang telah terparkir di depan kosnya. Artinya, Tama memang sudah sampai sedari tadi dan dia tetap disana, meski Joanna telah menyuruh Tama untuk pulan

  • Istri Paruh Waktu   Bab 9

    Melihat kondisi kafe yang cukup ramai dikarenakan jam makan siang sudah tiba, Joanna merasa tidak salah ambil keputusan untuk tetap masuk shift pagi setelah sebelumnya dia izin untuk masuk shift malam. Tadi pagi, dia mendapat kabar dari Tama bahwa agenda fitting dimundurkan menjadi jam 15.30, satu jam lebih setelah waktu kerjanya selesai. Tentu Joanna sempat kesal karena merasa tidak enak kepada Naya yang telah bersedia untuk bergantian shift.“Untung lo masuk hari ini Jo, gak kebayang gue handle berdua sama Farhan, pingsan gue yang ada.” Imbuh Naya di sela-sela tangannya yang sibuk meracik matcha latte.Joanna terkekeh dibalik face shield yang dia kenakan. Tau maksud dari ucapan Naya karena rekan satunya lagi, yaitu Sasa, sering mangkir dari pekerjaannya, “Sibuk kali?” terka Joanna.“Sibuk ngejar cowo sampe lupa kalo dia sebenernya dimanfaatin doang, brengsek bukan? Udah tau gak baik, masih aja di pertahanin.” Gerutu Naya.Farhan keluar dari balik dapur dengan tangan penuh membawa ba

  • Istri Paruh Waktu   Bab 8

    "Sepupu lo tuh niat nikah nggak sih?" Suara Joanna yang memekik mengisi keheningan di living room apartemen Harris. Si pemilik apartemen yang sedang memasak di dapur sontak menoleh singkat ke belakang. "Kenapa lagi emangnya?" tanya Harris. Joanna menghela napas panjang, seraya menyibak rambut panjangnya ke belakang. "Gini, waktu di Bandung itu kan gue sama Mas Tama sempat ngobrol malem-malem tuh. Nah, gue rasa obrolan kita waktu itu mulai sedikit intens dan nggak begitu kaku, dan gue juga liat Mas Tama senyum. Tapi—""Tunggu, Bang Tama senyum?!" pekik Harris, menyela kalimat Joanna. Joanna mengangguk. "Iya, dia senyum. Emangnya kenapa?" Harris langsung mematikan kompor, kemudian berjalan terburu-buru untuk menghampiri Joanna. Masakan bukan prioritasnya sekarang, Harris ingin mendengarkan cerita tentang Tama yang sulit dipercaya. Seorang Arkatama Dewangga, si kulkas berjalan tersenyum?! "Kenapa sih?" tanya Joanna sinis ketika Harris tiba-tiba duduk di sampingnya. "Coba ceritain

  • Istri Paruh Waktu   Bab 7

    "Kamu serius mau nikah sama Nak Tama, Jo?" tanya Laras, ibu Joanna. Joanna yang tengah memasak mie instan sontak menoleh ke arah ibunya. "Kenapa emangnya, Bu?" Joanna kembali bertanya. Laras menghela napas pelan. Sejujurnya wanita itu terkejut ketika Joanna pulang bersama seorang lelaki yang tidak pernah Laras temui sebelumnya, dan semakin terkejut kala anak sulungnya itu memperkenalkan lelaki tersebut sebagai calon suaminya. Pasalnya Joanna tidak pernah menceritakan apa pun tentang hubungan asmaranya, karena itu Laras sedikit khawatir. "Ibu cuma ngerasa ini terlalu mendadak aja," jawab Laras seraya menatap punggung sang anak. "Kamu sama Nak Tama betul-betul saling mencintai, kan?" Joanna terdiam sejenak. Gadis itu tersenyum simpul dan menjawab, "Iya dong, Bu. Kalau nggak saling cinta ngapain kita nikah?" "Kamu udah ketemu keluarganya?" Joanna mengangguk. "Udah, Bu. Keluarganya baik banget sama Jo. Awalnya juga Jo mikir keluarganya Mas Tama bakalan nolak Jo, tapi ternyata mereka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status