MasukMendengar itu, maura menarik sedotannya kasar, sampai membuat suara nyaring yang kentara sekali dipaksakan demi meluapkan emosinya.Dia manyun. Membuang muka. Dengan suasana yang begitu, mereka tampak seperti pasangan yang sungguhan, bukan dosen dan mahasiswa lagi. Tangan kirinya kini merambat turun, dengan leluasa mengambil jemari lentik istrinya di atas konsol tengah, lalu mengecup punggung tangan itu sekilas sembari tetap fokus mengemudi."Udah belum, marahnya?" Goda Bumi.Maura langsung menarik tangannya, "iicchh...!" Dia membuang muka lagi."Niatku baik lho, Sayang," lanjut Bumi, sama sekali tak terpengaruh oleh gerakan menyentak dari istrinya. Dosen kaku yang biasanya pelit kata itu mendadak berubah jadi pembicara paling aktif di dalam mobil. "Istriku sendirian di bawah pohon, panas-panasan. Ya refleks aja turun, bukain pintu. Mana tega aku kan?"Maura yang tadinya sibuk membuang muka ke arah jendela langsung menoleh patah-patah. Matanya melotot sinis."Refleks?!" pekik Maura ge
Motornya melaju ke arah terminal. Tapi sebelum sampai ke terminal, dia berbelok sedikit ke area parkiran umum di sampingnya.Tempat itu tidak bisa dibilang sepi, tapi yang ramai bukan orangnya, tapi lautan sepeda motor yang terparkir rapat bagai keju parut di martabak manis. Debu tipis mengepul samar tertimpa terik matahari, bercampur suara deru mesin bus terminal dan denting mangkok abang bakso di samping parkiran.Setelah mengurusi administrasi kilat dengan tukang parkir berrompi oranye, Maura buru-buru menyingkir. Dia memilih berdiri di bawah naungan pohon rindang yang agak ke samping, tepat di perbatasan parkiran dan terminal. Tempatnya lumayan teduh, tapi tidak cukup teduh untuk menyelamatkan mentalnya dari guncangan panik.Masalah utamanya sederhana, lokasi ini terlalu dekat dengan kampus.Lautan mahasiswa ber-almamater berlalu-lalang di sekitarnya. Sialnya, ada beberapa wajah yang Maura kenal betul! diantara mereka.Maura mendadak makin cemas. Keringat dingin merembet halus di
Melihat reaksi istrinya yang salah tingkah, Bumi malah terkekeh. Suara kekehannya yang dalam bergetar tepat di celah udara yang sempit di antara wajah mereka. "Udah nggak tahan, gimana dong, Sayang?" kata Bumi manja. "Di rumah kan bisa, ini di kamp-" "Di rumah beda lagi, Sayang," potong Bumi cepat, tak membiarkan Maura menyelesaikan protesnya. Dia makin menunduk, berniat meraup kembali bibir Maura yang ranum. "Disini sensasinya lain," "Katanya mau ke kantor!" pekik Maura tertahan, setengah menjerit tepat di depan wajah suaminya. Dan kata itulah yang menghentikan gerakan Bumi. Pria itu beku langsung, persis seperti komputer mahal yang mendadak hang gara-gara disiram air es. Kedipan matanya melambat. Seolah kata 'kantor' baru saja menyetrum jiwanya kembali dari alam ghaib menuju kenyataan duniawi. Bumi menghela napas panjang. Dis memejamkan mata sejenak sambil menyandarkan dahinya di perpotongan leher Maura, pasrah. "Ah... kantor ya?" gumam Bumi merana, seolah urusan kantor ada
Tak henti dia memperhatikan istrinya sambil menyungging senyum. Jemari panjangnya mengusap lembut helaian rambut Maura yang berantakan, menikmati momen langka melihat wajah galak mahasiswi kesayangannya itu tampak begitu polos dan damai saat tertidur."Maaf ya, Sayang," desis Bumi lirih, suaranya sarat akan rasa bersalah yang mendalam. "Gara-gara aku kamu jadi banyak pikiran."Dengan gerakan teramat hati-hati, Bumi meraih jemari Maura yang terkulai di atas dada. Pria itu menunduk, mendaratkan kecupan hangat beruntun di punggung tangan dan tiap ruas jari istrinya.Tatapan mata Bumi perlahan naik, mengabsen setiap jengkal bagian wajah istrinya. Dari mata yang biasanya menatapnya sewot kalau diberi tugas tambahan, hidung mungil yang suka kempas-kempis saat menahan kesal, hingga bibir Maura. Bibir yang cenderung agak pucat, tapi entah kenapa selalu terlihat sangat seksi di matanya. Bibir yang semalam membuatnya lupa diri dan bertindak kelewat buas di atas ranjang.Sorot matanya kian mered
Maura mendengus pelan, tapi senyum tipis di bibirnya tak bisa lagi disembunyikan. Dia kembali merebahkan kepalanya di dada tegap Bumi, menghirup aroma yang menenangkan dari tubuh suaminya. "Penyalahguna kekuasaan."Bumi hanya menaikkan satu alisnya lempeng, lalu melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Sudah hampir masuk jam kuliahnya. Enggan, dia melonggarkan pelukan, lalu mengusap rambut Maura yang agak berantakan."Aku kunci dari luar," kata Bumi tegas sambil bangkit dari sofa. Pria itu merapikan kemejanya yang sempat kusut akibat remasan jemari Maura, lalu berjalan menuju pintu ruangannya.Sebelum melangkah keluar, Bumi memutar kunci dari dalam, lalu mencabut kuncinya dan memasukannya ke saku celana. Dia menoleh sekali lagi menatap Maura yang duduk sendirian memeluk bantal kecil."Jangan berisik, jangan buka pintu buat siapa pun," pesan Bumi kelewat protektif. "Kalau ada yang ketok, pura-pura pingsan aja."Bibir Maura langsung tertarik lebar, menjadi salam perpisahan karena Bu
Pria itu langsung berlutut panik. Wajahnya berubah pucat, tangannya secepat dia bisa menyelusup ke punggung Maura, membawa istrinya ke dalam dekapan."Astaga anak itu!" geram Bumi. Suaranya rendah, tapi jelas terdengar penuh amarah yang ditahan. Rahangnya mengeras, matanya masih tertuju pada Maura yang meringis kecil dalam pelukannya."Apanya yang sakit, Sayang?" Panggilan lembut itu kontras sekali dengan ekspresi wajahnya.Tangan Bumi bergetar saat menyapu dan memeriksa setiap sisi tubuh istrinya. Lengannya, dia pastikan tidak ada yang terluka. Lalu pinggangnya, bahu, hingga ke kaki. Dan disanalah dia menemukannya. Di betis sebelah kiri, terlihat bercak darah merah segar yang mulai meresap tipis ke kain."Kenapa ini?" Bumi makin panik. Tanpa ragu, ia menyingkap celana kain yang dikenakan istrinya."Aww!" Maura memekik, refleks menarik sedikit kakinya.Ternyata ada luka goresan yang mengeluarkan darah. Pantas saja, sepatu yang dipakai Dira tadi adalah sepatu dengan ujung depan yang ru
Dibanding lingkungan rumah orang tuanya, rumah ini jauh lebih sunyi. Di sini, suara jangkrik pun seolah ragu untuk berbunyi, takut mengganggu ketenangan para penghuni yang bersembunyi di balik tembok-tembok tinggi dan pagar otomatis. Gadis itu duduk di kursi makan dengan kaki yang ditekuk ke atas,
Pria itu terus melangkah menuju pintu utama meski telinganya panas mendengar celetukan Maura. Dia berhenti tepat di depan panel smart lock, menunggu Maura yang tertatih menyeret koper dan menggendong bonekanya."Sini," panggil Bumi pendek.Maura mendekat, matanya mengikuti arah jari Bumi yang m
Setelah lima belas menit berlalu Bumi sudah menunggu di depan pintu. Sedang di dalam kamar, Maura pontang panting , sampai kakinya tersangkut ujung karpet dan terpeleset. "Aduh! Sialan... meja kampret!" umpatnya. Lengannya membentur tepian meja. Rasa ngilu menjalar, tapi bayangan wajah Bumi ya
Panitia itu tersenyum makin lebar. "Ya, pokoknya lancar aja, Mbak. Kan ini malam pertama."Bumi yang sejak tadi berdiri tenang, akhirnya sedikit menoleh. Tatapannya singkat ke arah panitia, lalu kembali lurus."Semoga sesuai rencana," jawabnya datar."Wah, kalau Mas Bumi sih pasti terencana ya semu







