Masuk"Bisa diem nggak sih?!" Maura meringis pasrah, berusaha sekuat tenaga menepis jemari panjang suaminya yang bergerak makin liar. Namun bukannya kapok, pria tegap itu malah makin sengaja merapatkan tubuhnya, memenjarakan pinggang Maura hingga tidak ada lagi celah di antara mereka.Bumi menundukkan kepala, membiarkan deru napas hangatnya berembus tepat di ceruk leher, menyapu kulit halus istrinya hingga membuat sang istri meremang seketika."Kan tadi Mas bilang, ini buat melancarkan sirkulasi darah, Sayang. Apalagi bagian yang tegang-tegang gini... harus sering diusap biar ototnya rileks," bisik Bumi rendah, suaranya yang berat dan serak bergetar tepat di samping telinga Maura.Bumi sengaja menyentuhkan ujung hidungnya ke kulit leher, menyesap aroma harum khas istrinya yang selalu berhasil melumpuhkan logika.Bibirnya yang hangat mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di sana, merambat perlahan menuju rahang lalu berhenti tepat di sudut bibir Maura."Udah... ak-""Mas berniat negosiasi?
Bumi memimpin jalan menaiki tangga pelan-pelan, dengan sebelah tangannya yang kokoh tak pernah lepas menopang pinggang Maura, memastikan langkah istrinya stabil di tiap anak tangga. Koper mereka sudah naik daritadi dibawa pak Supri."Nggak usah lebai, ah... Aku bisa." rengek Maura, berusaha mendorong Bumi mejauh, tapi gagal."Mas nggak tega." Balas Bumi.Sampi diatas, koper sudah berdiri manis di sebelah pintu bernomor 204. Begitu kunci diputar dan pintu kamar terbuka, aroma wewangian menyengat langsung menyambut mereka.Kamar itu memang tidak semewah hotel bintang lima, tapi tak buruk-buruk amat. Kecil memang, tapi cukup untuk mereka berdua.Sat masuk mereka sudah disambut pintu kamar mandi yang memang berhadapan dengan pintu masuk. Ranjang ada di sisi kiri kamar mandi itu. Tidak buruk, karena ranjang king size, hampir sama kayak di hotel biasanya mereka meginap. Sprei putih dan terlihat sangat empuk. Ada AC, ada TV, ada minuman beberapa botol, tisu, dan handuk di atas meja rias."Lu
Dua jam berlalu sejak mobil MPV hitam yang dikemudikan Pak Supri meninggalkan jalan tol. Pepohonan makin lebat, dan papan penunjuk jalan di pinggir jalan raya menandakan bahwa mereka akhirnya resmi memasuki tugu batas kota kecil yang menjadi tujuan utama mereka.Maura yang sempat tertidur ayam di dada Bumi perlahan membuka mata. Ia menegakkan posisi duduknya, menempelkan hidungnya ke kaca jendela mobil yang agak berembun karena hawa dingin di luar. Manik matanya menatap berkeliling dengan raut takjub sekaligus bingung.Mereka berada di daerahh pegunungan. Entah pegunungan apa. Yang jelas, suasana di sekitar mereka berubah drastis dari hiruk-pikuk kota.Tidak ada lagi deretan pencakar langit berbahan kaca yang menjulang membelah langit, apalagi mall mewah di setiap sudut jalan. Sebagai gantinya, deretan ruko-ruko kecil beratap seng, warung kelontong sederhana, dan baliho kampanye caleg lokal yang gambarnya sudah agak pudar menjadi pemandangan utama. Jalanan kotanya cenderung semrawut k
Panggilan untuk memasuki kabin pesawat berkumandang di seluruh penjuru ruang tunggu. Bumi beranjak siaga, mengambil alih seluruh barang bawaan di tangan tanpa menyisakan beban sedikit pun untuk Maura. Dengan gerakan yang penuh kehati-hatian, tangan kokohnya senantiasa menuntun dan menjaga Maura melewati lorong garbarata, memastikan istrinya melangkah aman hingga tiba di kursi penerbangan.Bumi membantu Maura duduk nyaman di kursi dekat jendela, memastikannya mendapat posisi terbaik agar bisa menikmati pemandangan di luar. Saat Bumi baru saja menyandarkan punggungnya di kursi tengah, sebuah suara lantang memecah keheningan antara mereka."Loh? Pak Bumi?!"Bumi menoleh. Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dan bersetelan kemeja formal baru saja berhenti di lorong barisan kursi mereka. Wajah pria itu dipenuhi keterkejutan yang nyata.Pria itu adalah Pak Seno, salah satu direktur utama dari perusahaan mitra besar yang baru beberapa. hari lalu menggelar mmeeting hingga larut malam ber
Butuh waktu setengah jam lebih untuk mencapai bandara karena jalan macet.Mobil papa akhirnya berhenti mulus di area drop-off keberangkatan domestik Bandara. Suasana pagi itu cukup ramai dengan lalu lalang calon penumpang yang sibuk menyeret koper.Sebelum Papa sempat keluar untuk membukakan pintu, Bumi sudah melangkah cepat mengitari mobil. Pria tegap itu membukakan pintu belakang, lalu mengulurkan tangannya yang hangat untuk menyambut Maura."Pelan-pelan," bisik Bumi lembut. Tangannya yang satu sigap menahan bagian atas pintu mobil agar kepala istrinya tidak terbentur, sementara tangan satunya lagi menggenggam jemari Maura erat-erat, menuntunnya keluar dari kabin.Papa mau tak mau yang kebagian menurunkan dua koper. Tentu sambil menyunggingkan senyum, menggeleng kecil melihat kelakuan menantunya."Suami kamu potektif bener, Rw." goda Papa sambil menepuk bahu Bumi."Perutnya makin besar, Pa. Nggak tega saya," jawab Bumi datar, sama sekali tak merasa terganggu dengan godaan mertuanya.
Pagi yang dinanti itu akhirnya tiba. Langit masih dihiasi semburat oranye tipis saat sebuah mobil sedan hitam berhenti mulus di teras rumah. Papa turun dari kursi kemudi, mengenakan kemeja santai namun tetap memancarkan wibawa khas pria paruh baya yang tenang.Bumi dengan luwes mengangkut dua koper l ke dalam bagasi. Langkahnya mantap, meski kemeja kasualnya sedikit terlipat di bagian lengan akibat membawa beban berat. Maura sendiri berdiri di samping pintu depan, mengenakan gaun hamil warna pastel dan jaket rajut, sibuk memeluk Mama dan menimang Kiara untuk terakhir kalinya sebelum berangkat.Rumah mereka memang di titipkan ke mama dan papa Maura."Ingat pesan Mama ya, Ra. Jangan makan sembarangan, vitaminnya di minum rutin. Jangan nahan lapar," bisik Mama lembut sambil mengelus pipi Maura yang makin berisi."Iya, Ma. Kiara jangan kangen Tante ya..!" seru Maura gemas, mencium pipi gembul keponakannya yang malah asyik mengunyah ujung empengnya.Setelah acara pamitan yang penuh kehanga
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







