Masuk"Ada satu lokasi yang Mas minat, tapi nggak tahu kamu suka atau enggak," tutur Bumi tenang. "Ada empat kamar. Yang satu khusus buat Ragil, rencanaku.""Aku?" Ragil menunjuk dadanya sendiri dengan sendok, matanya melotot kaget sampai suapan nasinya tertunda di udara."Iya, siapa lagi," kata Bumi lempeng, menatap adik iparnya itu tanpa kedipan. "Tapi syaratnya kuliah yang bener.""Aku mau ngekos aja kalau udah kerja, Mas. Mana bisa aku ngerusuh terus di rumah Mas Bumi," kata Ragil sungkan, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.Bumi menaruh sendoknya perlahan. "Kamu bantuin Mbakmu. Mbakmu sebentar lagi mau lahiran, dan dia enggak mau nyari ART yang menetap, cuma mau cari baby sitter. Kamu bisa bantuin Mbakmu masak atau ngapain gitu di rumah. Nggak kasihan kamu sama Mbakmu?" kata Bumi panjang lebar, suaranya tenang namun sarat penekanan yang tak bisa dibantah."Tapi..." Ragil linglung, menoleh menatap Maura dan Bumi bergantian dengan raut serba salah.Maura yang dari tadi asyik mengunyah
Suara denting piring beradu dengan kompor yang menyala di area dapur menjadi musik latar malam itu. Di meja makan berlantai marmer, Bumi dan Ragil duduk bersisian, meghadao ke dapur, ke arah Maura. Ragil melipat kedua tangannya di atas meja dengan posisi duduk super tegap dan pandangan lurus ke depan, dan Bumi santai menyandarkan punggungnya.Keduanya sama-sama bungkam, sibuk mendengarkan omelan Maura yang tak kunjung surut sejak sepuluh menit lalu."Kamu tuh bener-bener ya, Gil! Gimana bisa dari sana sampe sini sendirian, kalau kenapa-kenapa dijalan gimana mbak ngomong ke ibu!" cerocos Maura sembari membolak-balik emping mlonjo di atas wajan. Ya, oleh-oleh itu langsung dia goreng sedikit, karena penasaran rasanya. "Udah untung nggak tipu orang!""Kan sampai ke kantor Mas Bumi dengan selamat, Mbak..." cicit Ragil pelan, matanya melirik takut-takut."Diem! Mbak belum selesai ngomong!" potong Maura menunjuk adiknya dengan sodet kayu.Ia lalu berbalik, menatap suaminya dengan mata mendel
Deretan kendaraan bermotor berdesakan memenuhi jalanan ibu kota yang mulai dipadati arus pulang kerja. Cahaya jingga senja memantul indah di kaca depan sedan hitam milik Bumi, rencanapulang di canangkan siang tadi molor satu setengah jam. Dengung halus AC dan alunan musik instrumental lembut menjadi latar belakang perjalanan mereka menuju rumah.Bumi mengemudi dengan satu tangan di lingkar kemudi, mata tegapnya sesekali melirik Ragil yang duduk di kursi penumpang sampingnya. Remaja jangkung itu masih sibuk memandangi jajaran gedung tinggi dan hiruk-pikuk kota dari balik kaca mobil dengan binar mata takjub."Kamu ke sini cuma bawa tas itu?" tanya Bumi memecah keheningan, mengode tas ransel kusam yang tergeletak di bawah kaki Ragil."Iya, Mas," jawab Ragil polos menoleh cepat. "Di dalamnya cuma ada baju dua potong. Selebihnya bingkisan yang dibuat Ibu untuk Mbak Maura.""Apa?" tanya Bumi menaikkan sebelah alisnya penasaran."Sambel pecel, ada sambel gado-gado, ada krecek rambak, ada e
Lift khusus eksekutif meluncur mulus tanpa getaran menuju lantai tertinggi gedung Arkatama Group. Di dalam ruangan berlapis kaca tebal itu, Ragil tak henti-hentinya menempelkan wajah ke kaca, memandangi panorama hamparan gedung pencakar langit Jakarta yang mendadak terlihat cilik di bawah sana."Ya Tuhan mas Bumi... Mas Bumi! Ini mah tinggi banget! Berasa lagi naik helikopter!" seru Ragil dengan mata membelalak lebar, penuh takjub."Emang kamu udah pernah naik helikopter," balas Bumi yang berdiri santai di sampingnya, masih menyelempangkan tas ransel lusuh Ragil di pundaknya. "Jangan terlalu dekat ke kaca. Nanti bekas hidungmu nempel di sana." canda Bumi"Ya habisnya keren banget, Mas!" cengir Ragil langsung mundur, menganggapnya serius.Pintu lift terbuka pelan, menyambut mereka dengan hamparan karpet tebal yang meredam setiap derap langkah. Begitu masuk ke dalam ruang kerjanya yang megah, luas, dan berdesain interior modern minimalis, mulut Ragil makin menganga lebar. Matanya meneli
Suasana di dalam ruang meeting utama lantai lima belas kantor pusat Arkatama Group terasa begitu dingin dan tegang. Pencahayaan dari lampu gantung modern berpadu dengan siluet gedung-gedung pencakar langit di balik dinding kaca besar. Di ujung meja oval berstruktur kayu jati mahal, Bumi duduk tegap memimpin jalannya meeting direksi tahunan.Sebagai Direktur Utama salah satu konglomerasi properti terbesar, pembawaan Bumi begitu dominan. Kemeja putih terpasang sempurna di tubuh tegapnya. Kacamata minusnya memantulkan grafik pada layar proyektor raksasa."Penurunan pendapatan sebesar empat koma dua persen di kuartal ketiga pada divisi perumahan kelas menengah bukan angka yang bisa ditoleransi begitu saja," ujar Bumi dengan suara baritonnya yang tenang, datar, namun sarat penekanan yang membuat para jajaran direksi menahan napas."B-bahwa hal ini dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga acuan dan penundaan proyek tahap dua, Pak..." sahut Manajer Keuangan dengan nada sedikit gemetar, mengusap
"Gak percaya gimana?!" potong Leon cepat, mulutnya masih penuh nasi hangat dan kuah gule. Ia buru-buru menelan makanannya sebelum menatap Risti sengit. "Gue itu kurang gercep apa coba? Udah tiga tahun kita tengkar mulu kayak kucing sama anjing, masa mau gitu terus sampai berubah jadi fosil?!""Ya tapikan aneh, Yon!" sergah Risti mendelik gemas, menunjuk Leon dengan ujung sendoknya. "Masak gue nikah sama lo?!"Maura seketika menyemburkan tawa ngakak sampai harus memegang perut buncitnya. "Kalian beneran pacaran apa gimana sih! Gue nggak bisa ngebayangin kalian malam pertama.""Kita malam pertama main sodok, mereka main remi sayang." cetus Bumi.Sontak, tawa Maura makin pecah mendengar sahutan ceplos suaminya. Risti sampai hampir tersedak es buah, Leon mendadak melotot dengan muka merah padam, tak menyangka kalimat vulgar bernuansa santai itu bisa meluncur mulus dari mulut mantan dosen mereka yang berwibawa.Maura yang masih kegelian langsung mendekatkan wajahnya ke telinga Bumi, berbis
Matahari Surabaya pagi itu seolah sedang pamer kekuatan. Panasnya tak main-main, sanggup membuat aspal parkiran Fakultas Bahasa dan Sastra terasa seperti panggangan roti.Maura Adhisti turun dari motornya dengan gerakan dramatis, kacamata bulat bertengger di hidung, rambut dikuncir kuda asal-asalan
Maura turun dengan bahu merosot, diikuti Bumi yang berjalan di belakangnya. Atmosfer di ruang tamu masih sama. Suram, menyesakkan, dan bau minyak kayu putih yang menyengat dari arah Papa.Begitu sampai di bawah, Papa langsung mendongak. Matanya yang merah menatap Bumi, seakan pria itu adalah satu-s
“Ng, nggak tahu, Nak,” jawabnya pelan, lalu menoleh ke arah Maura. “Coba kamu cari di kamar kakakmu, Ra.”Maura langsung menghela napas panjang, kepalanya mendongak ke plafon seolah berharap ada jawaban jatuh dari sana. “Capek, Ma,” jawabnya lemas. Suaranya penuh penderitaan versi anak bungsu yang
Pria yang selalu mengagungkan logika dan presisi itu kini kehilangan arah. Bumi, tidak punya rumus untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Seluruh syarafnya menolak percaya pada kenyataan yang baru saja dia baca di secarik kertas itu.Kemarin sore Dira masih duduk di hadapannya di sebuah kafe. T







