MasukRuang makan dipenuhi aroma teh hangat dan hidangan mewah dan beragam. Cangkir porselen putih berjejer, uap tipis mengepul pelan. Bai Muyin duduk dengan punggung tegak di sisi Li Fenglan, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia masih belum terbiasa dengan suasana keluarga besar ini.
Kemudian Nyonya Tua mengangkat cangkir tehnya, menyesap perlahan, lalu menyipitkan mata ke arah cucunya.
“Fenglan,” ucap Nyonya Tua.
Li Fenglan langsung meletakkan sumpitnya. “Iya, Nek, kenapa.”
Muyin melirik. Ada sesuatu yang aneh dari cara Nyonya Tua memanggil nama Fenglan.
“Dudukmu terlalu tegak. Seperti sedang di medan perang,” lanjut Nyonya Mu Ran. “Ini meja makan, bukan ruang strategi.”
Fenglan terdiam. “Aku akan memperbaikinya, ehm.”
Agak malu Fenglan ditegur di depan istrinya. Namun, siapa yang berani melawan titah Nyonya Tua. Penguasa tertinggi di kediaman Jenderal Li, meski lelaki itu yang menang di medan pertempuran.
“Hm, yang perlu kau perbaiki bukan hanya cara duduk.” Nyonya Tua tersenyum lagi, kali ini gigi emasnya terlihat. Muyin takjub sekaligus harap-harap cemas.
Nyonya Tuan Mu Ran menoleh ke cucu menantunya, senyumnya tiba-tiba berubah lebih lembut. “Ruyin, sudah minum teh?”
“Su—sudah, Nenek,” jawab Muyin cepat.
“Bagus. Kalau cucuku membuatmu tidak nyaman, katakan. Nenek ini sudah tua, tapi telingaku masih tajam untuk mendengar bisik-bisik di balik tembok batu.”
Fenglan mengangkat alis. “Nenek.”
“Diam.” Nyonya Tua terlihat marah pada Fenglan.
Suasana langsung senyap, bahkan para pelayan menundukkan kepala. Nyonya Tua Mu Ran meletakkan cangkir tehnya dengan pelan, lalu menatap Fenglan dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kau pikir nenek tidak tahu apa yang terjadi saat malam pertama?”
Muyin hampir tersedak tehnya. Ia takut rahasianya terbongkar.
Fenglan kembali menegakkan punggungnya. “Itu urusan kami, Nek”
“Urusanmu?” Nyonya Tua tertawa bahkan sambil menggebrak meja dan membuat teh Muyin sampai tumpah. “Anak bodoh. Sejak kapan pernikahan hanya urusan satu orang?”
Muyin tak jadi minum teh. Pelayan ingin menuangkan ulang tapi ia menolak dan mengusirnya secara halus.
“Kau ini jenderal besar, tapi soal hati perempuan kau masih seperti anak kecil yang baru belajar berjalan,” lanjut Nyonya Mu Ran. “Terlalu kaku. Terlalu terburu-buru. Terlalu keras, perempuan itu harus diperlakukan dengan lembut.”
“Aku tidak menyakitinya,” jawab Fenglan dengan ekspresi lucu.
“Pembohong!” Nyonya Mu Ran mendekat sedikit, matanya menyipit. “Kalau begitu, kenapa istrimu duduk seperti kelinci ketakutan?”
Muyin ingin membantah, tapi kata-kata Nyonya Tua tidak sepenuhnya salah. Fenglan melirik Muyin sekilas dan ia tidak menyangkal.
Nyonya Mu Ran menghela napas panjang. “Dalam hidup ini, hal paling berharga tidak bisa dipaksa. Beras perlu direndam, teh perlu diseduh, hati manusia perlu ditunggu.”
Ia menunjuk Fenglan dengan ujung tongkat kayunya. “Kau ini terlalu cepat memulainya. Padahal kalau kau bersabar, hasilnya bisa luar biasa.”
Fenglan terdiam lama.
“Dan sebagai hukuman—” Tiba-tiba, Nyonya Tua meraih pipi Fenglan dan mencubitnya keras sekali.
“Nenek, sakit!” Fenglan memegang pipinya. Muyin hanya tersenyum.
“Cubitan kecil saja! Supaya kau ingat kau masih cucuku, bukan patung penjaga gerbang!”
Muyin reflek menutup mulut, tapi tetap saja ia tak bisa menahan diri. Tawa itu akhirnya keluar. Nyonya Tua dan cucu menantunya terlihat mulai akrab. Li Fenglan diam sejenak dan menikmati momen hangat itu.
“Lihat? Cucu menantuku bisa tertawa. Berarti masalahnya bukan pada istrimu. Masalahnya ada padamu.”
Fenglan mengusap pipinya pelan. “Nenek terlalu kejam.”
“Dan kau terlalu kaku,” balas Nyonya Tua tak mau kalah. “Sekarang makanlah dengan benar. Jangan membuat istrimu merasa sendirian di rumah ini.”
Nyonya Tua menoleh ke arah Muyin. “Cucu menantuku, jangan takut padanya. Kalau dia berani kasar lagi, aku masih punya dua tangan yang kuat.” Nyonya Tua mengangkat tongkatnya.
Muyin mengangguk cepat. “Jenderal Li memperlakukanku dengan baik, Nek. Dia bahkan tidak marah ketika aku menyembunyikan rahasia darinya. Dia tidak kasar padaku.”
“Rahasia apa?” tanya Nyonya Tua ingin tahu.
“Rahasia kamu berdua, sejak kecil kami pendam berdua,” bisik Muyin.
“Oh, iya, lanjutkanlah hubungan kalian yang penuh rahasia itu, ayo makan.” Nyonya Tua memindahkan potongan daging ke mangkuk nasi Muyin.
Fenglan terdiam, hari itu ia kalah oleh dua perempuan yang saling bersekongkol, dan ia tak mau mempermasalahkannya.
***
Langit siang hari berwarna cerah ketika mereka meninggalkan Paviliun Anggrek. Angin musim semi berembus pelan, menggoyangkan tirai bambu yang bergantungan.
Li Fenglan berjalan setengah langkah di depan. Muyin mengikutinya, dengan menjaga jarak yang cukup jauh untuk sepasang suami istri.
“Kita—” Muyin ingin bicara tapi tidak jadi.
Fenglan menoleh. “Kau ingin mengatakan sesuatu?”
“Tidak. Maksudku, mereka masih melihat kita.” Muyin menunjuk ke depan.
Fenglan mengikuti arah pandangnya. Di ujung lorong, dua sepupu Li berpura-pura melihat bunga, padahal jelas memperhatikan mereka. Seorang bibi bahkan berhenti bicara ketika menyadari Fenglan menoleh.
“Mereka belum pergi juga,” gumam Fenglan.
“Kalau kita berjalan terlalu jauh, mereka bisa curiga,” bisik Muyin.
“Kalau terlalu dekat terlihat dibuat-buat,” sahut Fenglan.
Keduanya terdiam, karena sama-sama bingung.
Fenglan memperlambat langkahnya. Muyin ikut-ikutan hingga jarak di antara mereka kini tinggal sejengkal.
“Terlalu dekat?” tanya Fenglan tanpa menoleh.
“Sedikit,” jawab Muyin jujur.
Fenglan menghela napas pelan, lalu dengan kaku mengulurkan lengannya.
Muyin menatapnya. “Untuk apa?”
“Pegang saja, supaya kita terlihat seperti pasangan sungguhan.”
Muyin ragu sesaat, lalu menyelipkan jarinya di lengan Fenglan. Sentuhan itu ringan, hampir tak terasa, tapi cukup untuk membuat bahu Fenglan menegang.
Langkah mereka jadi aneh, kaku canggung, tak serempak, seperti anak kecil kocar-kacir mencari pegangan.
“Kau berjalan seperti sedang mengawal tahanan,” bisik Muyin.
“Wajar, aku seorang jenderal,” balas Fenglan kaku.
“Seorang suami tidak mengawal istrinya seperti itu.”
“Lalu bagaimana seharusnya?”
Muyin berpikir sejenak. “Lebih santai, tidak tegang, lemaskan bahumu.”
Fenglan mencoba melonggarkan otot-ototnya. Hasilnya, ia malah terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit. Muyin menutup mulutnya, bahunya bergetar menahan tawa.
“Kau menertawaiku?”
“Sedikit, tapi setidaknya kau sudah berusaha.”
Fenglan tidak menjawab. Kemudian langkah keduanya mulai terlihat wajar dan serasai sebagai pasangan suami istri.
Saat mereka hampir berbelok, seorang pelayan menghampiri sambil membawa kotak kayu berlapis kain merah.
“Jenderal Li, Nyonya Muda!” Pelayan itu membungkuk. “Ini hadiah dari Bibi Kedua, kain sutra dan ramuan penghangat tubuh.”
Belum sempat mereka menjawab, pelayan lain datang.
“Hadiah dari Paman Ketiga! Sepasang gelang giok untuk pengantin baru!”
“Ini dari Nyonya Tua Mu Ran. Ia berpesan, agar dipakai bersama malam ini. ” Pelayan itu tersenyum penuh arti.
Muyin terdiam dan Fenglan pura-pura batuk.
“Letakkan di kamar.”
“Baik!”
Para pelayan pergi dengan wajah tersenyum dan penuh makna.
“Nenekmu sangat perhatian,” kata Muyin.
“Kadang sedikit kelewatan,” sahut Fenglan.
Mereka berjalan lagi, dengan langkah seiring sejalan.
“Kau menyesal?” tanya Muyin tiba-tiba.
Fenglan menoleh. “Karena?”
“Menikah dalam keadaan seperti ini.”
Fenglan menatap jalan di depan. “Aku tidak menyukai kebohongan, tapi kadang aku bertoleransi pada sebuah alasan yang masuk akal.”
Muyin mengangguk. “Terima kasih.”
Langkah mereka berhenti di depan halaman utama kediaman Jenderal. Tanpa sadar, tangan Muyin masih melingkar di lengan Fenglan.
“Orang-orang masih melihat,” bisik Muyin.
“Biarkan saja.” Fenglan tak mau ambil pusing.
Dari kejauhan, para keluarga hanya melihat satu hal. Sepasang pengantin baru yang terlihat semakin dekat.
Bersambung ...
Beberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or
“Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka
Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be
Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung
Luo Ying mengunyah roti kering yang ia bawa sebagai perbekalan. Ia sedang mengintai Wisma Bayangan yang berada di dalam Paviliun tanaman beracun milik Pangeran Rui.Pola kunci yang ada di pintu sangat rumit hingga hanya orang-orang kepercayaan Yan Zhelan saja yang bisa membukanya, dan gadis bermata monolid itu menunggunya dengan sabar.Mo Yan datang dan membuka kunci dengan pola rahasia itu. Pintu batu kuno dengan ukiran bunga peony putih itu terangkat perlahan. Luo Ying menaikkan alisnya. Ia heran mengapa sekelas pangeran pendosa bisa memiliki ruang rahasia demikian tebalnya.Mo Yan—ajudan dengan sebelah mata terluka itu lekas masuk dan pintu turun perlahan. Tak mau membuang kesempatan Luo Ying berguling perlahan hingga sedikit lagi tubuhnya hampir saja ditindih oleh pintu batu itu. Dengan cepat ia sembunyi dan ketika Mo Yan menoleh ia tak melihat apa-apa.Ruang arsip bawah tanah di Wisma Bunga Ungu sangat sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang dibawa oleh Mo Yan.Pria
“Berhenti, kita istirahat malam ini dan lanjutkan besok pagi,” ucap Li Fenglan sambil membuat simbol khusus dari tangannya. Mojin kemudian membalikkan arah kuda dan memberikan isyarat tambahan pada 50.000 pasukan Gagak Hitam di bawah kepemimpinan Li Fenglan.Pasukan itu membuat barisan yang rapi, bubar secara teratur dan mulai membuat tenda, membentuk api unggun kecil dan mencari sumber air. Kuda-kuda ditambatkan dan senjata dijaga bergantian. Semuanya bergerak dengan teratur sesuai arahan Lei Jun dan Han Yu.Li Fenglan sendiri memasuki tenda cukup besar yang baru saja selesai dibuat oleh Mojin. Ia membuka zirah besi dan mengaitkan pada tiang penyangga zirah, lalu terisa baju dalam hitam yang dibuka kemudian tersisa lapisan putih untuk digunakan tidur.“Jenderal, air untuk mandinya sudah siap, segarkan tubuhmu dulu sebelum tidur,” ucap Mojin dari luar tenda.“Ya, baiklah, aku segera datang.” Fenglan melemaskan kepalanya yang menggunakan helm besi seharian. Ia menguap cukup lebar tapi







