Share

6. Nyonya Tua

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-12-24 19:15:23

Pedang Fenglan bergetar di tangannya, ia tidak takut, tapi karena amarah yang ditahan. Jika bukan di pusat kota, sudah ia habisi pembunuh itu dari tadi.

“Kau berdarah!” Muyin panik. Ia berusaha mendekati suaminya.

“Jangan bergerak, mundur!” Fenglan tak mau Muyin terlibat.

“Tapi tanganmu—”

“Aku bilang mundur!”

Tegasnya suara Li Fenglan membuat Muyin patuh. Ia mundur selangkah, tetapi matanya tak bisa lepas dari darah yang menetes dari lengan suaminya.

“Jenderal Li Fenglan, ternyata kau bisa terluka juga. Kupikir kau Naga Yanluo yang tak terkalahkan.”

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Fenglan tanpa mengalihkan pandangannya.

“Tidak penting, yang penting istrimu tidak akan hidup sampai pagi nanti.”

“Aku, targetnya aku?” Muyin tersentak.

“Wajahmu memang mirip, tapi kau bukan Ruyin.” Pembunuh itu mengalihkan pandangannya ke arah Muyin. Seketika wanita itu membeku.

“Apa maksudmu?” Fenglan langsung menajamkan sorot matanya.

“Sayang sekali, aku tidak dibayar untuk menjawab pertanyaan.” Pembunuh itu tersenyum miring di balik topengnya. Ia mundur selangkah, lalu tiba-tiba melemparkan belati tajam ke arah Muyin.

“Furen!” Fenglan bergerak lebih cepat dari yang disangka oleh sang pembunuh. Ia memutar tubuh, memeluk Muyin, dan belati itu menancap ke tiang kayu tepat di belakang mereka.

Napas Muyin tercekat. Wajahnya kini benar-benar pucat.

“Dia tahu namaku, dia tahu aku bukan Ruyin,” bisiknya dengan tubuh gemetar.

Fenglan tidak menjawab. Ia hanya menyembunyikan Muyin ke belakangnya.

Satu tangan masih menggenggam pedang, satu tangan lagi menahan tubuh istrinya agar tidak jatuh. Pembunuh itu kemudian melompat ke atap.

“Dia lari!” teriak Muyin.

Fenglan menahan diri. Ia menatap bayangan yang menghilang di kegelapan, lalu menunduk menatap darah di lengannya sendiri.

“Biarkan saja, yang harus kita ketahui adalah siapa yang mengirim dan sangat menginginkan kematianmu,” ucapnya dengan tegas.

Muyin menatapnya dengan mata berkaca-kaca. “Aku tidak pernah berniat menyeretmu ke dalam semua ini.”

“Sekarang kau istriku. Siapa pun yang berani menyentuhmu, berarti menantangku.” Fenglan terlihat bersungguh-sungguh mengucapkan kalimat itu. Muyin terdiam sejenak.

Lampion-lampion bergoyang tertiup angin malam, seolah menyaksikan janji yang baru saja terucap. Muyin menggenggam pakaian Fenglan dengan tangan gemetar.

“Fujun.” Akhirnya Muyin berusaha memanggil suaminya dengan benar. Fenglan menatap ke arah kegelapan pasar malam yang mulai sunyi.

“Permainan ini baru saja dimulai,” ujarnya dingin.

“Aku tahu.”

“Ada yang belum kau beri tahu padaku, aku tahu itu, dan aku akan menunggu.”

“Fujun, kita obati lukamu dulu.” Muyin meraih lengan baju suaminya.

“Tidak usah, ini luka ringan.” Li Fenglan menepis tangan Muyin.

“Sesuatu yang ringan bisa jadi berat jika tidak ditangani dengan baik. Di dekat pasar tadi ada toko ramuan dan obat-obatan. Kita ke sana saja.”

“Tabibnya mungkin sudah pulang, lebih baik di rumah saja,” sahut Fenglan yang masih merasa kuat walau lukanya mulai terasa pedih.

“Luka ini aku bisa mengobatinya, tenang saja aku tidak akan menyakitimu.” Muyin memegang tangan Fenglan dan memaksanya pergi ke toko obat. Jenderal perang itu hanya tersenyum kecil mendengar perkataan Muyin.

“Kau tidak akan bisa menyakitiku.” Sambil berjalan Fenglan memperhatikan pasar yang masih ramai, sambil mengawasi di sekitarnya.

“Aku tidak berniat menyakitimu walaupun aku bisa melakukannya.”

Mereka telah sampai di depan toko obat. Muyin masuk dan meminta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membebat luka goresan pedang. Di sana ia menunjukkan kemampuan dasarnya sebagai tenaga medis.

“Kau seorang tabib?” tanya Fenglan ketika Muyin mengoleskan obat bubuk ke lukanya.

“Aku hanya tahu sedikit, ah maaf.” Muyin tak sengaja menekan luka Fenglan.

“Kenapa hanya tahu sedikit? Bukankah lebih baik kau tekuni saja?”

“Panjang ceritanya.” Muyin mulai menutup luka Fenglan dengan kasa.

“Aku punya banyak waktu untuk mendengarkan.”

“Bukankah dua hari lagi kau harus berangkat.” Muyin menatap mata Fenglan, tetapi hanya sebentar kemudian berpaling.

“Hmmmh, kau mengingatnya sangat baik. Baiklah, saat aku pulang nanti kau harus menceritakan semuanya padaku.”

“Sudah selesai, lukamu sudah aku obati.”

“Apa ini, tidak terasa sama sekali.” Fenglan tak paham mengapa tiba-tiba saja Muyin sudah selesai mengobatinya.

“Aku menebus obat dulu untuk diminum agar lukamu cepat sembuh.”

“Eh, tidak usah, aku sudah biasa, nanti juga sembuh sendiri.” Fenglan bicara lebih kuat, tapi Muyin tidak mau mendengarkannya. Tetap saja istrinya menebus obat yang dibutuhkan dan terlihat cukup banyak.

Sepanjang perjalanan pulang, Fenglan terlihat mengawasi atap-atap tempat usaha masyarakat. Khawatir pembunuh itu masih mengintai Muyin.

Saat sampai di depan gerbang kediaman rumahnya, ia mengantar Muyin sampai ke depan kamar kemudian kembali ke ruang pertemuan yang megah dan segera bertemu dengan orang-orang kepercayaannya, Han Yu dan Lei Jun.

“Mojin sedang aku minta urusan lain, sekarang kalian cari tahu siapa yang berani menyerang Nyonya Muda saat di pasar tadi!” perintah Fenglan.

“Ha, Nyonya Muda diserang, kapan?” tanya keduanya kompak.

“Baru saja, ini hasil bebatnya.” Li Fenglan menunjukkan lukanya yang diperban. Kedua ajudannya mengintip dengan rasa ingin tahu.

“Jenderal kita sudah berbeda, biasanya luka sekecil itu dia tidak akan peduli,” celetuk Han Yu.

“Sekarang sudah beda, sudah ada istri,” sikut Lei Jun.

“Hei, cepat kalian pergi!” tunjuk Li Fenglan ke wajah ajudannya.

“Siap, Jenderal. Sebaiknya Jenderal juga istirahat, di luar sangat dingin, dan kedua pipimu memerah, seperti orang yang malu-malu.” Usai mengucapkan itu Han Yu langsung lari secepatnya disusul oleh Lei Jun dan lemparan kayu dari Fenglan tak mengenai keduanya.

“Benarkan wajahku memerah.” Fenglan memegang pipinya. “Tapi memang di luar sangat dingin, sebaiknya aku berisitirahat.” Dengan langkat tegap, Li Fenglan berjalan ke kamarnya. Awalnya ia ingin membuka pintu begitu saja, tapi ia lupa ada Muyin di dalam. Fenglan mengetuk pintu.

“Kau sudah tidur?”

Muyin yang mendengar suara suaminya langsung menutup diri dengan selimut. Entah kenapa ia takut kalau menghadapi Fenglan empat mata.

“Aku buka pintunya.” Karena tak ada jawaban, Fenglan mendorong pintu. Ia melangkah perlahan dan masuk ke ruang tidur. Di sana Muyin terlihat memunggunginya dengan napas teratur.

“Kau sudah tidur?” ulangnya pelan sekali. Tidak ada jawaban, Muyin hanya mengulum bibir saja.

“Terima kasih karena telah mengobatiku,” ucap Fenglan dengan tulus.

“Sama-sama,” jawab Muyin pelan sekali, sampai semut pun tak bisa mendengarnya.

“Istirahatlah yang nyenyak, aku di ruang belajar, kalau kau takut bangunkan aku.” Fenglan melangkah ke ruangan yang penuh buku dan peta penting.

Muyin mengembuskan napas lega. Ia diam sejenak, ingin tidur tapi matanya tak bisa terpejam.

Setiap kali ingin terlelap, bayangan Ruyin dan pembunuh bayaran tadi benar-benar menghantuinya. Sampai matahari hampir terbit baru ia bangun setelah dikejutkan oleh Fenglan.

“Hari ini nenek ingin minum teh denganmu, bangun dan bersiaplah, sekalian kita makan bersama.”

“Maaf, aku bangun kesiangan, tidak biasanya aku begini.” Muyin langsung berdiri dari tidurnya dengan wajah panik.

“Tidak masalah, semua orang mengerti.” Fenglan berdehem, “cepatlah.” Lelaki itu berlalu. Seperti ada yang disembunyikan dari Muyin.

“Maksudnya apa, semua orang mengerti?” tanya Muyin pada Shuqing. Pelayannya hanya menggeleng saja.

Usai bersiap dengan rambut gaya baru yang disanggul, diberi perhiasan giok dan emas, serta warna baju cerah, Muyin berjalan beriringan dengan Fenglan. Di paviliun anggrek, Nyonya Tua Mu Ran telah menunggu dengan aneka teh dan makanan lezat. Sepasang suami istri itu memberi hormat lalu duduk bersama.

“Aiyah, kau cantik sekali, pantas cucuku tak mau dekat dengan wanita lain.” Nyonya Tua memegang tangan Muyin. “Aku sudah tua, mudah lupa orang, aku bahkan lupa namamu?”

“Bai Ru Yin,” jawab keduanya bersamaan, seolah telah terlatih dalam sandiwara yang apik.

“Bukan Bai Mu Yin?” Nyonya Tua mengerutkan kening.

“Iy—“

“Bukan.” Fenglan menyela sebelum Muyin kelepasan.

“Ah, iya, aku lupa-lupa ingat, kalian kakak adik punya nama yang mirip. Sudahlah ayo minum tehnya, aku terlalu banyak bicara.” Nyonya Tua meminta pelayan menghidangkan teh.

“Bagaimana malam pertama kalian? Pasti panas sekali ya,” celetuk Nyonya Tua. Keduanya diam sejenak, untung saja tidak menyemburkan teh.

“Aiiyaah, aku tahu anak muda tenaganya luar biasa, jadi wajar kalau sangat menggebu-gebu, jadinya bangun siang. Tapi tidak apa-apa, aku membuatkan teh untuk menambah tenaga untuk kalian, bahan-bahannya aku yang pilih langsung, jadi nanti malam kalian akan kuat lagi untuk memberiku cicit sesegera mungkin.”

Fenglan dan Muyin malu-malu karena para pelayan yang mendengar kata Nyonya Tua jadi senyum-senyum sendiri. Keduanya tidak memiliki malam pertama, karena masih memutuskan untuk menunda dan tak tahu sampai kapan.

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    26. Menukar Kebahagiaan

    Beberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    25. Trauma

    “Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    24. Luka Hati

    Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    23. Jiwa yang Baru

    Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    22. Wisma Bunga Ungu

    Luo Ying mengunyah roti kering yang ia bawa sebagai perbekalan. Ia sedang mengintai Wisma Bayangan yang berada di dalam Paviliun tanaman beracun milik Pangeran Rui.Pola kunci yang ada di pintu sangat rumit hingga hanya orang-orang kepercayaan Yan Zhelan saja yang bisa membukanya, dan gadis bermata monolid itu menunggunya dengan sabar.Mo Yan datang dan membuka kunci dengan pola rahasia itu. Pintu batu kuno dengan ukiran bunga peony putih itu terangkat perlahan. Luo Ying menaikkan alisnya. Ia heran mengapa sekelas pangeran pendosa bisa memiliki ruang rahasia demikian tebalnya.Mo Yan—ajudan dengan sebelah mata terluka itu lekas masuk dan pintu turun perlahan. Tak mau membuang kesempatan Luo Ying berguling perlahan hingga sedikit lagi tubuhnya hampir saja ditindih oleh pintu batu itu. Dengan cepat ia sembunyi dan ketika Mo Yan menoleh ia tak melihat apa-apa.Ruang arsip bawah tanah di Wisma Bunga Ungu sangat sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang dibawa oleh Mo Yan.Pria

  • Istri Pengganti Untuk Jenderal Li    21. Kedekatan yang Terlalu Dekat

    “Berhenti, kita istirahat malam ini dan lanjutkan besok pagi,” ucap Li Fenglan sambil membuat simbol khusus dari tangannya. Mojin kemudian membalikkan arah kuda dan memberikan isyarat tambahan pada 50.000 pasukan Gagak Hitam di bawah kepemimpinan Li Fenglan.Pasukan itu membuat barisan yang rapi, bubar secara teratur dan mulai membuat tenda, membentuk api unggun kecil dan mencari sumber air. Kuda-kuda ditambatkan dan senjata dijaga bergantian. Semuanya bergerak dengan teratur sesuai arahan Lei Jun dan Han Yu.Li Fenglan sendiri memasuki tenda cukup besar yang baru saja selesai dibuat oleh Mojin. Ia membuka zirah besi dan mengaitkan pada tiang penyangga zirah, lalu terisa baju dalam hitam yang dibuka kemudian tersisa lapisan putih untuk digunakan tidur.“Jenderal, air untuk mandinya sudah siap, segarkan tubuhmu dulu sebelum tidur,” ucap Mojin dari luar tenda.“Ya, baiklah, aku segera datang.” Fenglan melemaskan kepalanya yang menggunakan helm besi seharian. Ia menguap cukup lebar tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status