Se connecterBeberapa Hari SebelumnyaMuyin dan Ruyin duduk di taman. Ruyin menyulam sapu tangannya sendiri untuk pernikahannya bersama Jenderal Li, sedangkan Muyin memperbaiki kipas yang manik-maniknya copot.“Setelah menikah nanti, kau boleh datang ke kediaman kami, meimei,” ucap Ruyin pada adiknya.“Aku tidak berpikir untuk menikah, Jiejie. Aku hanya ingin lepas dari tempat ini,” jawab Muyin dengan rasa malas.“Jangan begitu, kau harus menikah, punya anak dan memiliki keluarga sendiri. Sebagai kakak, aku rela menukar seluruh kehidupanku agar kau bahagia. Aku tak pernah bisa berbuat banyak untuk kebahagiaanmu.”“Jiejie, jangan bicara seperti itu, tak lama lagi kau akan menikah, kau harus bahagia, soal hidupku biar aku sendiri yang akan memutuskan bagimana.” Secara tak sengaja jemari Muyin tertusuk jarum.“Hati-hati, tanganmu sampai berdarah.” Ruyin membersihkan darah adiknya. “Memangnya setelah aku menikah kau akan ke mana?”“Aku akan jadi biksuni supaya hidupku tak harus terus-terusan diatur or
“Kakak Ipar, buka pintunya!” Keyi menggedor-gedor pintu dengan kuat. Tabib Xu kemudian mendekatinya.“Biarkan saja, dia perlu ruang dan waktu untuk meluapkan perasaannya,” ucap lelaki tua itu.“Apa yang terjadi sebenarnya, Guru?”“Nyonya Muda membuka kenangan lama yang seharusnya ia lupakan dan tentu saja rasanya sakit. Mungkin saja ada kenangan dengan ibunya yang sangat menyakitkan. Sudahlah kita pergi saja kerjakan yang lain.” Tabib Xu menarik tangan Keyi.“Tapi tangisan Kakak Ipar sampai sesenggukan begitu, Guru, aku tidak bisa tenang.”“Ya, namanya orang menangis memang menyedihkan. Nanti juga Nyonya Muda akan kembali tenang. Ayo cepat aku akan mengajarimu cara memanah burung dengan tepat di lehernya.“Tapi ...” Tangan Keyi terus ditarik menjauh dari ruangan di mana Muyin masih menangis tersedu-sedu.“Ini tidak mungkin, tidak mungkin terjadi.” Wanita dengan lesung pipi itu terus menangis. Setelah ia diam sejenak dan menghapus air matanya, ia menangis lagi.“Seharusnya aku melupaka
Muyin bergegas ke halaman samping. Tanpa perlu bertanya lagi, tangan Muyin dengan cekatan memilah tanaman yang dimaksud.Ia tahu persis kebiasaan gurunya, jika Tabib Xu meminta herbal saat sedang menumbuk sesuatu yang berbau tajam, biasanya ia membutuhkan tanaman penyeimbang. Namun, sekarang instruksi Tabib Xu lebih mendalam."Ambilkan tiga bunga Yang Jin Hua (Kecubung) yang kelopaknya baru mekar setengah, lalu gali akar Shi Chang Pu yang tumbuh di dekat aliran air," perintah lelaki tua itu lagi.Muyin tertegun sejenak. Yang Jin Hua dikenal sebagai tanaman pembius yang kuat, bahkan beracun jika salah takaran. Sementara Shi Chang Pu biasanya digunakan untuk menenangkan pikiran dan membuka panca indra. Kombinasi yang aneh dan mematikan.Setelah membersihkan akar dan membawa bunga berbentuk terompet putih itu ke meja medis, Muyin melihat Tabib Xu sedang menyiapkan sebuah tungku kecil dengan api biru yang menyala dengan tenang."Duduklah," perintah Tabib Xu serius. "Hari ini kita tidak be
Kabut tipis masih menyelimuti kaki Gunung Barat, dan memperpendek jarang pandang di halaman Paviliun Pengobatan. Ayam jantan bahkan belum berkokok, tapi mata Bai Muyin sudah terbuka lebar.Udara pagi di pegunungan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang. Namun, Muyin tidak lagi menggigil seperti hari pertama ia tiba.Tubuhnya mulai beradaptasi dengan kerasnya alam, sama seperti tekadnya yang semakin menguat. Ia membasuh wajahnya dengan air sumur yang dingin dan membiarkan rasa beku itu mencubit kesadaran dan menghalau sisa kantuk dari wajahnya.Tanpa membangunkan Keyi yang masih mendengkur dalam balutan selimut lusuh, Muyin melangkah keluar menuju kebun herbal.Muyin berjongkok di antara petak-petak tanaman, memejamkan mata, dan menarik napas dalam-dalam. Tabib Xu melarangnya dengan keras mengenali tanaman menggunakan penglihatan di pagi hari."Mata bisa ditipu oleh bentuk dan warna, tapi hidungmu tidak akan pernah berbohong tentang aroma sebuah tanaman." Begitu kata gurunya.Hidung
Luo Ying mengunyah roti kering yang ia bawa sebagai perbekalan. Ia sedang mengintai Wisma Bayangan yang berada di dalam Paviliun tanaman beracun milik Pangeran Rui.Pola kunci yang ada di pintu sangat rumit hingga hanya orang-orang kepercayaan Yan Zhelan saja yang bisa membukanya, dan gadis bermata monolid itu menunggunya dengan sabar.Mo Yan datang dan membuka kunci dengan pola rahasia itu. Pintu batu kuno dengan ukiran bunga peony putih itu terangkat perlahan. Luo Ying menaikkan alisnya. Ia heran mengapa sekelas pangeran pendosa bisa memiliki ruang rahasia demikian tebalnya.Mo Yan—ajudan dengan sebelah mata terluka itu lekas masuk dan pintu turun perlahan. Tak mau membuang kesempatan Luo Ying berguling perlahan hingga sedikit lagi tubuhnya hampir saja ditindih oleh pintu batu itu. Dengan cepat ia sembunyi dan ketika Mo Yan menoleh ia tak melihat apa-apa.Ruang arsip bawah tanah di Wisma Bunga Ungu sangat sunyi, hanya diterangi oleh satu lentera minyak yang dibawa oleh Mo Yan.Pria
“Berhenti, kita istirahat malam ini dan lanjutkan besok pagi,” ucap Li Fenglan sambil membuat simbol khusus dari tangannya. Mojin kemudian membalikkan arah kuda dan memberikan isyarat tambahan pada 50.000 pasukan Gagak Hitam di bawah kepemimpinan Li Fenglan.Pasukan itu membuat barisan yang rapi, bubar secara teratur dan mulai membuat tenda, membentuk api unggun kecil dan mencari sumber air. Kuda-kuda ditambatkan dan senjata dijaga bergantian. Semuanya bergerak dengan teratur sesuai arahan Lei Jun dan Han Yu.Li Fenglan sendiri memasuki tenda cukup besar yang baru saja selesai dibuat oleh Mojin. Ia membuka zirah besi dan mengaitkan pada tiang penyangga zirah, lalu terisa baju dalam hitam yang dibuka kemudian tersisa lapisan putih untuk digunakan tidur.“Jenderal, air untuk mandinya sudah siap, segarkan tubuhmu dulu sebelum tidur,” ucap Mojin dari luar tenda.“Ya, baiklah, aku segera datang.” Fenglan melemaskan kepalanya yang menggunakan helm besi seharian. Ia menguap cukup lebar tapi






