LOGIN"Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.
Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat." "Baik, Mama. Hati-hati di jalan." Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika. Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua. "Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya." "Tapi, Nyo—" "Naya, Bi," potong Nayara tegas namun tetap dengan nada ramah. "Ba-baik, Non Naya." Bi Sumi mengangguk patuh lalu bergegas mengundurkan diri. Nayara melangkah masuk, menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan yang terbilang sangat luas itu. Didominasi oleh tone warna abu-abu monokrom yang dingin, atmosfer kamar tersebut mencerminkan watak sang pemiliknya dengan sempurna. Karena terlalu fokus mengelilingi seisi kamar Faren yang sekarang akan jadi kamarnya juga, gadis itu mulai lupa akan kekesalannya yang gagal mendapat kamar ujung lorong. Pandangan Nayara mendadak terhenti pada sebuah pintu di sudut kamar. Sebuah pintu kayu kecil yang dicat dengan warna baby pink lembut, terlihat sangat kontras dan ganjil di tengah balutan interior kamar yang serba gelap dan maskulin. "Jangan, Non Naya!" Bi Sumi yang rupanya belum sepenuhnya pergi memekik dari ambang pintu, buru-buru mencegah. Nayara yang hampir saja mendorong pintu itu lantas menoleh heran. Rasa penasarannya kian membumbung tinggi melihat gelagat Bi Sumi yang tampak ketakutan. "Kenapa, Bi?" tanya Nayara pelan. Bi Sumi tampak serba salah, wanita paruh baya itu meremas jemarinya cemas dengan pandangan menunduk. "Po-pokoknya jangan, Non. Takut nanti Tuan Faren marah besar," jawab Bi Sumi yang sama sekali tidak menghilangkan rasa penasaran Nayara. Gadis itu akhirnya mengurungkan niat dan menarik tangannya kembali. "Sudah merasa jadi Nyonya Besar, hm?" Suara dingin penuh sindiran itu menyapa pendengaran Nayara ketika malam kian merayap naik. Faren berdiri di ambang pintu dengan kemeja kerja yang sedikit kusut dan jas yang disampirkan asal di lengannya. Nayara yang sedang duduk bersandar di tepi tempat tidur tersenyum tipis. Ia menyesap soft drink di tangannya tanpa beban. "Tentu saja. Bukankah memang begitu kenyataannya?" sahutnya enteng. "Dasar perempuan munafik," desis Faren, melangkah mendekat dengan tatapan jauh dari kata ramah. "Kau pikir aku akan menurut begitu saja hanya karena ibuku ada di pihakmu?" "Mau bagaimana lagi?" balas Nayara santai. "Aku harus apa jika ternyata ibumu sangat menyukai perempuan munafik sepertiku?" Jawaban itu membangkitkan amarah Faren seketika. Tangannya sudah melayang ke udara, namun tepat sebelum telapak tangannya mengenai wajah Nayara, pria itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat dan menahannya di udara. Tidak, belum saatnya. "Ku peringatkan kau, Nayara Renjani Danuwira... sadar diri akan tempatmu!" bisik Faren dengan suara rendah berbahaya. "Kupikir aku sudah memberitahumu tentang pria seperti apa yang sedang kau hadapi!" Tanpa memberi kesempatan pada Nayara untuk membalas perkataannya, Faren melempar jas kerjanya asal dan, sekali lagi, membopong tubuh Nayara paksa. Soft drink di genggaman Nayara terlepas jatuh membentur lantai, sementara gadis itu memberontak dan memukul punggung Faren namun cengkeraman pria itu jauh lebih kokoh. Langkah lebar Faren kali ini tidak mengarah ke koridor luar seperti sebelumnya, melainkan langsung masuk ke dalam kamar mandi mewah yang ada di dalam kamar utama tersebut. "Kau ingin sekali tidur di kamar ini, kan?" Pria itu melemparkan Nayara ke atas lantai marmer yang dingin, lalu bersedekap dengan senyum miring. "Nah, tidurlah di sini. Kamar mandi ini juga masih bagian dari ruangan ini." Brakkk! Pintu tebal itu dihempas keras dan terdengar bunyi kunci yang diputar dari luar. Nayara terkunci rapat di dalam dengan akses komunikasi yang terputus total. iPadnya tertinggal di atas meja samping tempat tidur, sementara handphonenya memang sudah disita sejak awal. "Farendra! Buka pintunya!" Nayara berteriak kencang, mengepalkan jemarinya dan menggedor pintu dengan rasa panik yang mulai merayap. Kakinya yang telanjang menendang berkali-kali, namun pintu itu tak bergeming sedikit pun. Sepertinya, kali ini Nayara benar-benar salah menilai batas nekat seorang Farendra Sutanto. "Oh, dan iPad-mu..." Suara Faren terdengar begitu dingin dari luar, disusul suara gesekan benda keras dari atas meja. "...sayang sekali, benda sialan ini harus aku hancurkan." Prangg! Suara benturan keras alat elektronik yang dihantamkan ke lantai terdengar nyaring dari luar, disusul dengan keheningan yang mencekam. Hancur sudah, semuanya hancur. Nayara meratapi kepingan harapan terakhirnya dengan hati pias akan rasa sakit. Di atas dinginnya lantai kamar mandi yang tertutup rapat, pertahanan Nayara akhirnya runtuh. Gadis itu meremas dadanya yang bergemuruh sesak dengan napasnya tersendat. "Kenapa...?" bisik Nayara pilu di sela isak tangisnya yang mulai pecah. Ia meremas piyamanya sendiri, membiarkan air mata membasahi pipinya yang pucat. ”Apa salahku hingga kau membenciku sebegitu besar?!” Tidak ada jawaban. Hanya kesepian dan rasa dingin memeluk tubuhnya yang mulai meringkuk. Malam itu, Nayara akhirnya menyerah. Ia terbuang dan dijadikan pelampiasan dendam oleh pria yang bahkan tak pernah ia ketahui apa alasan di balik kebenciannya, ditinggalkan sendirian tanpa tahu sampai kapan neraka ini akan berakhir. Sendirian, terbuang dalam jerat isolasi penuh dendam milik pria gila yang sedang menggila.“Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari..“Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara.Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati.Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur s
"Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun
"Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b
Byur!!!"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar. Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi. "Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria. Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah ke
“Suka dengan semua ini, Naya?" Suara berat itu membuat Nayara muak setengah mati. Menatap mata tajam pria di sampingnya, Nayara berusaha keras menyembunyikan getar samar yang merayap di hatinya. "Enyah kau," bisik Nayara pelan penuh penekanan. Gadis itu bergerak hendak menjauh, namun dengan cepat bahunya ditarik kembali oleh suaminya, Farendra Sutanto. "We're married now, Nayara. Officially, saya ini suami kamu. Sangat tidak pantas seorang istri bersikap kasar di hari pertama pernikahan mereka." Nayara mengembuskan napas dalam. Sungguh, jika saja mereka tidak berada di depan ratusan tamu yang menghadiri pesta pernikahan ini, ia sudah pasti sudah lari sejauh mungkin.Tania sialan! umpatnya dalam hati. Andai saja Tania, kakak kandungnya yang sinting itu tidak kabur bersama pacarnya tiga hari sebelum pernikahan, Nayara tidak mungkin akan ‘ditumbalkan’ sebagai istri pengganti hari ini. "Senyum yang manis, Naya," Faren berbisik dengan wajah tenang tanpa cela. "Setidaknya berakting







