FAZER LOGIN“Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati.
Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari.. “Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara. Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati. Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur semalaman di kamar mandi membuat mulut dan telingamu tidak lagi berfungsi?” Nayara terdiam sejenak lalu bangkit dengan serpihan iPad yang memenuhi tangannya. Tanpa aba-aba, serpihan tajam itu ia lempar tepat di wajah Faren yang sama sekali tidak siap. Pria itu terdiam dalam keterkejutan, tidak menyangka Nayara tiba-tiba mendapat keberanian sebesar ini untuk melawannya. Telak, beberapa kepingan tajam dari bekas kaca layar melukai wajah sang pria hingga menimbulkan noda darah kecil. Nayara mengeringai, sementara Faren menatapnya dengan mata yang mulai menyala kelam. “Bagaimana? Kau suka dengan kepingan yang kau hancurkan sendiri dari tanganmu?” Gadis itu akhirnya bersuara, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Faren. “Jangan memancingku untuk berbuat lebih buruk dari ini, Farendra. Aku punya banyak cara untuk lebih dari sekedar melemparkan serpihan sialan ini ke wajahmu.” Nayara mengambil langkah menjauh dengan tatapan yang masih terkunci pada Faren selama beberapa detik. Dengan kepala tegak, gadis itu berjalan melewatinya seolah Faren hanyalah angin lalu. Faren membeku di tempat. Untuk sesaat ia bahkan tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas perkataan Nayara. Tangannya perlahan terangkat menyapu beberapa tetes darah di wajahnya dengan ujung jari. Rasa perih dari goresan kecil itu tidak sebanding dengan gejolak amarah dan rasa terkejut yang menghantam dadanya. Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang berani melukainya. Dan yang lebih mengusik harga dirinya, orang itu adalah perempuan yang seharusnya tunduk dan memohon ampun padanya. “Berani-beraninya kau, Nayara!” desis Faren rendah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap punggung kecil Nayara yang menghilang di balik pintu dengan rahang mengeras. ------------------------------------------------- Nayara mengurung dirinya di kamar sebelah gudang yang dulu menjadi kamar lamanya. Dengan lutut sedikit gemetar, gadis itu bersandar di balik pintu yang tertutup, menghembuskan napas panjang yang telah ia tahan sejak tadi. Meski masih sedih karena iPadnya dihancurkan, ada sedikit kepuasan di dalam hati Nayara karena telah berhasil melukai wajah Faren. Setelah memastikan pria itu benar-benar sudah berangkat kerja, Nayara keluar dari kamar itu dengan perasaan yang jauh lebih baik. Ia kembali ke kamar utama untuk mandi dan bersiap, lalu memeriksa tasnya yang tergeletak di samping meja rias. Gadis itu mengecek dompet dan sebuah amplop berisi uang tunai yang sengaja ia simpan untuk berjaga-jaga. “Syukurlah masih cukup,” gumamnya lega. “Bi Sumi, boleh aku pinjam ponselnya sebentar?” tanya Nayara lembut pada Bi Sumi yang sedang membersihkan area ruang utama. “Non Naya mau kemana?” Bi Sumi menyerahkan ponselnya pada Nayara dengan wajah penasaran. Gadis itu hanya tersenyum tipis tanpa menjawab. Jemarinya lincah memesan layanan taksi online dari aplikasi. Setelah memastikan pesanannya berhasil, Nayara segera mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. “Saya pergi dulu, ya, Bi Sumi. Saya minta tolong rahasiakan ini dari sang tuan rumah,” pamit Nayara. Bi Sumi tidak berani bertanya lebih lanjut selain mengangguk setuju. Wanit paruh baya itu jelas tahu jika tuan dan nonanya sama sekali tidak terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Dalam hati, Bi Sumi hanya berdoa semoga ada keajaiban yang membuat keduanya bias berdamai dan akur seperti seharusnya. ------------------------------------------------- “Nayara?” Gadis itu terlonjak kaget saat sebuah suara yang familiar memanggilnya di tengah keramaian lobi mall mewah yang sedang ia jelajahi. “Kanael?! Kebetulan sekali!” seru Nayara riang dengan mata berbinar seketika. Rasa tegang yang mengekang dadanya sejak tadi pagi seolah menguap begitu saja. Pria bernama Kanael itu berjalan mendekat dengan senyum hangat. Ada rasa bahagia yang membuncah di dadanya karena tidak sengaja bertemu dengan Nayara, seorang teman dekat sekaligus perempuan yang diam-diam ia sukai. Kanael adalah teman satu jurusan Nayara di universitas. Sebagai sesama mahasiswa Desain Grafis, dulu hampir tiap hari mereka menghabiskan waktu bersama, mengerjakan tugas, berdiskusi, atau sekedar mengobrol ringan. “Long time no see, Nayara,” ucap Kanael lembut. Tatapannya penuh arti, seolah ingin menyampaikan betapa ia merindukan perempuan di hadapannya. “Long time no see, Kanael. Bagaimana kabarmu?” Nayara tersenyum manis memamerkan deretan giginya yang rapi. Sebuah senyuman lepas yang sudah lama tak menghiasi wajah cantiknya. “Kabarku sangat baik, Naya. Harusnya aku lah yang bertanya demikian,” jawab Kanael pelan. “Apa kau baik-baik saja? Aku kehilangan kabarmu setelah pesta pernikahanmu dua minggu lalu. Aku tidak menyangka kita akan bertemu secara tidak sengaja di sini.” Tatapan pria itu menyapu wajah Nayara yang pucat meski dipoles dengan riasan tipis. Nayara tersenyum kecil. “Aku baik-baik saja, Nael. Hanya sedikit lelah.” “Apa kau… bahagia dengan pernikahanmu?” tanya Kanael hati-hati. Kata ‘lelah’ yang digunakan oleh Nayara sedikit agak mengganggu pikirannya. Menyadari tatapan Kanael yang agak khawatir, Nayara segera tersenyum menenangkan sembari berkata, “aku benar-benar baik-baik saja, Nael. Maksudku, ya, aku kan baru menikah jadi masih harus banyak beradaptasi dengan kehidupanku yang baru.” “Benarkah?” Pria di hadapannya masih kelihatan tidak yakin. “Benar, Kanael." Jawab Nayara seraya menunjukkan ekspresi lucu khasnya yang biasanya hanya ia perlihatkan pada Kanael. “Anyway, aku sebenarnya sedang mencari sesuatu.” “Apa itu?” “iPad.” Kanael mengangkat alis. Seingatnya iPad lama Nayara kondisinya masih sangat bagus. “Memang ada apa dengan iPad lamamu?” tanyanya penasaran. Nayara terdiam dengan tatapan menunduk. Ia tentu tidak mungkin menceritakan bahwa iPad kesayangannya telah hancur berkeping-keping akibat ulah suaminya sendiri. “Anggap saja ada sedikit masalah. Jadi aku butuh yang baru,” jawab Nayara akhirnya. “Baiklah. Mau kutemani? Kebetulan aku juga ingin membeli beberapa barang.” Nayara mengangguk setuju walau sempat ragu. Namun, melihat ketulusan Kanael, gadis itu akhirnya merasa lega karena tidak harus berkeliling sendirian di tengah luasnya mall. Tanpa dua sejoli itu ketahui, di sudut keramaian yang luput dari jangkauan mereka, ada sepasang mata yang sejak tadi diam-diam mengawasi. Sosok itu beranjak menjauh setelah berhasil mengabadikan beberapa foto dari sudut yang paling sempurna, bersiap memantik api yang akan membakar konflik menjadi jauh lebih besar. “Kelihatannya kamu sangat menikmati waktumu, Nayara Renjani Danuwira…” seringai sosok itu dingin, menatap hasil jepretan di ponselnya. “…mari kita lihat seberapa murka Farendra Sutanto saat melihat semua ini.”“Selamat pagi, Nayara Danuwira. Kuharap tidurmu nyenyak semalam.” Pagi-pagi sekali, Faren membuka pintu kamar mandi dengan wajah menyeringai remeh. Begitu melihat keadaan Nayara dengan mata sembab dan berantakan, hatinya puas setengah mati. Gadis itu melengos dan melewati tubuh besar Faren dengan tatapan dingin. Kebenciannya kian membuncah seiring dengan sikap Faren yang semakin kejam dari hari ke hari..“Bagaimana? Kau suka dengan interior kamar mandi itu?” Belum puas, Faren kembali mencoba memprovokasi Nayara.Gadis yang sedang mengumpulkan serpihan iPadnya yang hancur itu masih setia dengan keheningan. Keping demi keping ia kumpulkan dengan hati yang perih, mengingat dari iPad inilah sumber semua penghasilannya selama ini. Rasa takut dan khawatir yang selama ini menggerogoti hatinya mendadak luruh bersamaan dengan hancurnya barang kesayangan yang selama ini ia jaga setengah mati.Dengan kasar, Faren menendang bahu Nayara yang masih jongkok membelakanginya. “Kau tuli?! Apa tidur s
"Mau Naya antar ke bandara, Ma?" tawar Nayara halus tatkala mendampingi sang mertua berdiri di ambang pintu utama.Mama Sofia tersenyum hangat, lalu mengelus pipi Nayara dengan penuh kasih sayang. "Tidak perlu, Sayang. Kamu diam saja di rumah dan beristirahat.""Baik, Mama. Hati-hati di jalan."Mama Sofia melambaikan tangan dari balik kaca seiring laju mobil yang perlahan meluncur pergi. Nayara terus mengumbar senyum manis sampai mobil itu benar-benar menghilang di balik gerbang. Begitu bayangan mobil tak lagi terlihat, senyum ramah di wajah Nayara menguap seketika.Gadis itu memutar tubuhnya, setengah berlari menaiki tangga menuju lantai dua."Semua barang di kamar bawah sudah saya pindahkan ke sini, Nyonya," ucap Bi Sumi yang tiba-tiba muncul dari koridor sembari membawa tas punggung Nayara yang hanya berisi sebuah buku sketsa. "Terima kasih, Bi," jawab Nayara cepat. "Oh ya, jangan panggil saya ‘Nyonya'. Panggil saja Naya.""Tapi, Nyo—""Naya, Bi," potong Nayara tegas namun
"Pertunjukan yang sangat menarik."Suara berat dan dingin itu membuat jantung Nayara mencelos. Di ambang pintu kamar yang terbuka separuh, Faren berdiri bersedekap dada. Pria itu mengenakan kemeja hitam dengan jas rapi, bersiap untuk berangkat kerja. Faren sudah berada di sana sejak awal. Mendengar setiap kalimat makian, setiap keputusasaan yang berubah menjadi amarah, dan fakta bahwa penyitaan ponselnya kemarin sama sekali tidak menghentikan Nayara untuk terhubung dengan dunia luar.Gadis itu menutup draft desain yang belum sempat dikirim, lalu dengan cepat menguasai diri. Benda pipih yang menjadi tumpuan terakhirnya itu diletakkan di atas dada dengan posisi bersedekap waspada. Dalam hati Nayara agak khawatir kalau saja Faren akan menyita iPadnya juga. “Apa yang membawamu ke tempat yang pengap lagi sempit ini, wahai tuan rumah yang sangat berkuasa?” sindir Nayara pelan, berusaha menyembunyikan rasa cemas yang mulai merayap.“Ah, aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu,” jawab Fare
"Bukankah sudah kubilang jangan pernah menyentuh lantai dua?!" Suara Faren menggelegar hebat hingga memantul di langit-langit rumah. Pria itu baru saja memasuki ruang tengah sekembalinya dari gedung pusat perkantoran untuk menemui seseorang bernama Sebastian.Di ujung lorong lantai dua, Nayara tampak santai memegang sapu di ambang pintu sebuah kamar. Kamar terbesar di ujung lorong dengan pencahayaan paling terang karena berhadapan langsung dengan arah matahari terbit."Oh, kau sudah pulang?" Nayara menoleh dan tersenyum tipis. Tindakan itu seolah menegaskan bahwa teriakan Faren barusan sama sekali tidak memengaruhi mentalnya.Napas Faren menderu cepat. "Nayara Renjani Danuwira, bukankah sudah ku peringatkan kau—" "Kupikir area pribadimu hanya kamar di tengah sana," potong Nayara santai. "Lagipula, bukankah ujung lorong ini lumayan jauh dari kamar pribadimu? Aku janji tidak akan pernah mengusik ketenanganmu.”"Faren kehabisan kata-kata. Amarahnya pasca bertemu Sebastian belum b
Byur!!!"Ngghhh!" Nayara terperanjat hebat tatkala segelas air dingin membasahi seluruh wajah dan piyamanya yang lumayan tipis. Sensasi dingin yang menusuk tulang memaksa mata hazelnya yang sembap terbuka lebar. Di hadapannya, Faren berdiri menjulang dengan setelan jas yang sudah rapi. "Dasar kerbau! Bahkan lantai sedingin ini mampu membuatmu tidur selelap itu, ya?" Faren menatapnya remeh dari atas sembari meletakkan gelas kosong di tangannya ke atas meja rias. "Cepat bangun. Pagi ini kita harus segera berkemas dan pulang."“Pulang saja sendiri!” Nayara menjawab ketus untuk kemudian mendapat lirikan tajam dari sang pria. Gadis itu berusaha bangkit dengan tubuh kaku dan pegal. Napasnya memburu, jemarinya mengepal kuat menahan luapan emosi yang menyesakkan dadanya. "Tidak usah terlalu pintar membantah, Nayara. Aku tunggu kau di lobby dalam waktu sepuluh menit. Jangan buat aku kehilangan kesabaran,” tekan Faren dingin. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah ke
“Suka dengan semua ini, Naya?" Suara berat itu membuat Nayara muak setengah mati. Menatap mata tajam pria di sampingnya, Nayara berusaha keras menyembunyikan getar samar yang merayap di hatinya. "Enyah kau," bisik Nayara pelan penuh penekanan. Gadis itu bergerak hendak menjauh, namun dengan cepat bahunya ditarik kembali oleh suaminya, Farendra Sutanto. "We're married now, Nayara. Officially, saya ini suami kamu. Sangat tidak pantas seorang istri bersikap kasar di hari pertama pernikahan mereka." Nayara mengembuskan napas dalam. Sungguh, jika saja mereka tidak berada di depan ratusan tamu yang menghadiri pesta pernikahan ini, ia sudah pasti sudah lari sejauh mungkin.Tania sialan! umpatnya dalam hati. Andai saja Tania, kakak kandungnya yang sinting itu tidak kabur bersama pacarnya tiga hari sebelum pernikahan, Nayara tidak mungkin akan ‘ditumbalkan’ sebagai istri pengganti hari ini. "Senyum yang manis, Naya," Faren berbisik dengan wajah tenang tanpa cela. "Setidaknya berakting







